Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Drap, drap, drap!
Suara derap langkah kaki menghantam permukaan beton yang dingin dan keras, disusul desingan angin kencang yang menyapu atap gedung-gedung pencakar langit. Bayangan-bayangan manusia melesat laksana hantu malam, bergerak dengan kelincahan yang mustahil dimiliki orang biasa. Wajah mereka tertutup rapat, menyisakan celah sempit sekadar untuk bernapas. Aura hitam pekat — gelap, beracun, berbeda jauh dengan pancaran aura murni yang memancar lembut dari para pengguna kekuatan sejati — melilit erat tubuh mereka bagaikan jubah maut. Loncatan demi loncatan dilakukan dengan presisi tanpa celah, dari satu atap ke atap lainnya, menyisakan jejak ketakutan yang samar namun mencekam di angkasa Kota Bandung.
Di sebuah tempat tersembunyi, di antara gedung-gedung yang menjulang dingin, Max berdiri dengan sikap angkuh yang tak tergoyahkan. Punggungnya bersandar santai pada dinding beton; kakinya disilangkan, kedua tangan terselip rapat di dalam saku celana. Ia menunggu. Diam. Tenang. Seolah waktu sendiri tunduk pada kehendaknya.
Detik demi detik berlalu, menegangkan. Hingga akhirnya suara langkah kaki terdengar mendekat — teratur, patuh. Sosok-sosok bayangan itu berhenti serempak di hadapannya, lalu menunduk takzim, seolah menghadap raja.
Leader! We have returned!
"Ketua! Kami kembali!" lapor salah satu dari mereka, suaranya tertahan, bergema datar di balik penutup wajah.
Max tidak bergerak sedikit pun.
How is it going?
"Bagaimana hasilnya?" tanyanya, nada suaranya dingin, datar, seolah urusan nyawa ini bukan hal yang layak dikhawatirkan.
My Lord! The Sixth Sovereign, Rael, is located on the rooftop balcony of the shopping center. And…
"Tuan! Penguasa Keenam, Rael, berada di balkon atap pusat perbelanjaan. Dan…" Suara itu terhenti sejenak, seolah takut menyebutkan fakta mengerikan itu.
The Eagle Eye Ring of Empress Arbella, Rael Efero’s own sister rest now in his hands!
"Cincin Mata Elang milik Kaisar Arbella — adik Rael Efero— kini berada dalam genggamannya!"
Nama itu melayang di udara, dan seketika, topeng ketenangan di wajah Max retak. Ia terpaku. Rael — Penguasa Keenam, sang ahli taktik yang namanya pernah mengguncang seluruh benua di masa kekaisaran terdahulu. Kabar ini jauh lebih berat dari yang ia duga.
Are you certain?
"Kau yakin?" tanyanya tajam, menatap lurus ke arah bawahan itu dengan sorot mata penuh ancaman.
Absolutely, Sir. I confirmed it myself. Three shadows are already placed to watch his every move!
"Sangat yakin, Tuan. Saya memastikannya sendiri. Tiga orang bayangan sudah ditempatkan untuk mengawasi setiap pergerakannya tanpa jeda!"
Max terdiam. Ia membiarkan informasi itu meresap, menimbang bahaya yang mengintai. Keberadaan Rael. Cincin Mata Elang. Fakta bahwa keduanya kini bersatu. Ia harus menyimpan hal ini rapat-rapat, setidaknya untuk saat ini, sebelum melaporkannya kepada sosok misterius yang menjadi tuannya — sosok yang bahkan ia sendiri tak berani menatap matanya.
Very well,
"Baiklah," ucapnya akhirnya, suaranya kembali datar dan berwibawa.
Our task is only to observe. Do not act rash. Wait for further orders.
"Tugas kita hanya memantau. Jangan bertindak gegabah. Satu langkah keliru bisa berakibat fatal. Tunggu perintah lebih lanjut."
Understood! We return now!
"Siap! Kami kembali!"
Wuuusssshhhhh!
Dalam sekejap, sosok-sosok itu lenyap. Menghilang bagaikan asap yang tertiup angin malam, tanpa jejak, tanpa suara.
Namun, tempat itu belum benar-benar sepi.
Sesaat setelah kepergian mereka, sebuah sosok muncul dari kegelapan — berdiri tegak, seolah sudah menanti di sana sejak tadi. Rael menatap lurus ke arah di mana kawanan Max tadi menghilang. Tatapannya dingin, tajam, dan penuh amarah yang tertahan di ubun-ubun.
“Valiants…” gumamnya pelan, hampir tak terdengar, seolah berbisik pada angin malam.
Pelindung aura yang digunakan kawanan itu mungkin mampu mengelabui mata siapa pun, tetapi tidak dirinya. Rael mengenali jejak energi itu — bau busuk kekuasaan yang dijual-belikan. Ia sadar sepenuhnya siapa mereka.
So… you are the ones who have been hiding my sister’s location…
"Jadi… kalianlah yang selama ini menyembunyikan keberadaan adikku…" desisnya pelan, penuh ancaman yang menyesakkan.
Di balik nada dingin itu, tersimpan kesedihan mendalam yang nyaris tak terlihat — luka yang sudah berdarah selama tujuh ratus tahun. Di tangannya, ia mengepal erat, seketika teringat wajah Arbella — adiknya, kaisar yang hilang. Dan cincin itu. Segala sesuatu mulai tersusun menjadi pola yang berbahaya, dan perang besar mungkin tak bisa lagi dihindari.
...****************...
Matahari baru saja terbenam di ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang perlahan ditelan kelam malam. Di dalam rumah kecil yang sederhana ini, suasana justru terasa hangat dan penuh tawa — jauh dari darah dan pertikaian yang menguasai langit-langit di luar sana.
Arien sedari tadi sibuk memandikan Arumie, mengusap tubuh mungil itu dengan lembut bagaikan menyentuh kaca yang rapuh, lalu mengenakan gaun berenda berwarna krem yang membuat putri semata wayangnya tampak bagai bidadari kecil. Tak lupa ia menyemprotkan sedikit parfum beraroma bunga melati ke leher dan pergelangan tangan anaknya, hingga keharuman lembut segera menyelimuti ruangan.
Setelah merawat sang buah hati, giliran Arien sendiri yang bersiap. Ia membersihkan diri, menyisir rambut panjangnya yang masih sedikit lembap, lalu duduk di depan cermin meja rias. Malam ini ia ingin tampak cantik — bukan untuk orang lain, melainkan untuk suaminya, Alan. Hari ini pria itu pulang lebih awal dari biasanya, dan tanpa diduga, ia mengajak mereka berdua berkeliling Festival Kota Bandung. Rencana sederhana itu disambut sukacita yang meluap-luap, seperti anak kecil yang diajak berlibur.
Namun, kesabaran Arumie ternyata setipis kulit bawang. Dari tadi ia mondar-mandir di belakang punggung ibunya, sesekali menghentakkan kakinya pelan karena tak sabar.
Mbuu, hayu… Dangdan téh meni lami-lami teuing! Kaburu wengi atuh!
"Ibu, ayo… Riasannya kok lama sekali! Nanti sudah malam lho!"
Suara renyah anak itu memecah keheningan kamar. Arien tersenyum tipis di depan cermin, namun sebelum sempat menjawab, suara berat Alan terdengar menyusul — penuh nada bercandaan yang membuat Arien menahan napas sebal.
Meh téréh ngadamel alis mah, tos wé gunting lakban hideung samikeun sareng alis! Jadi… napel!
"Biar cepat membuat alisnya, potong saja selotip hitam yang bentuknya mirip alis! Tinggal… tempel!"
Hening sejenak. Lalu tawa meledak. Arumie memukul-mukul lengan ayahnya pelan sambil tertawa terbahak-bahak, sementara Arien memutar kepala menatap keduanya dengan tatapan tak percaya, bibirnya mengerucut menahan gemas.
Kau ini ya… benar-benar minta dipukul! ucapnya dalam hati, namun yang keluar hanya suara lembut yang tetap berusaha terlihat manis di depan suaminya.
Nya… nya, ieu sakedap deui gé beres! Kali-kali atuh, Mbuu ngageulis da teu unggal poé ieu! Sabar atuh…
"Iya… iya, sebentar lagi selesai! Kan Ibu jarang sekali merias diri, tidak setiap hari begini! Sabar sedikit ya…"
Tak lama kemudian, Arien berdiri. Rambutnya tergerai rapi; sisa kelembapan keramas membuatnya tampak berkilau lembut di bawah lampu kamar. Ia mengenakan kaos polos berwarna krem yang dilapisi kardigan cokelat susu, lalu memadukannya dengan celana jeans pendek berpotongan santai. Penampilannya sederhana, namun memancarkan pesona wanita yang tenang dan nyaman dipandang — sederhana, namun memikat hati.
Barang-barang keperluan sudah masuk ke dalam tas kecil. Alan sudah berdiri di ambang pintu sambil menatap jam tangannya, namun senyum di sudut bibirnya tak pernah hilang.
Hayu… tos teu acan, Neng? Tos aya taksi online na, ngantosan!
"Ayo… sudah belum, Sayang? Kendaraannya sudah ada, sedang menunggu!"
Hayu… hayu… Tos ieu!
"Ayo… ayo… Sudah siap!"
Arien menyambar tas, lalu menyusul Alan. Ia menyelipkan tangannya ke lengan suaminya, merapatkan tubuhnya ke sisi pria itu — sebuah kebiasaan kecil yang selalu membuatnya merasa aman. Tangan Alan meremas jemari istrinya lembut saat mereka melangkah keluar menuju kendaraan yang sudah menanti di depan pagar rumah.
Langit malam semakin kelam, lampu-lampu kota mulai berpendar bagaikan bintang yang jatuh ke bumi. Di tengah keramaian yang hangat itu, Arien sama sekali tidak menyadari — bahwa di ketinggian sana, di antara jutaan cahaya lampu kota, ada seseorang yang mencari-cari jejak keberadaannya dengan hati yang teramat gelisah.
^^^Bersambung...^^^
liat gekagatnya arien yg sefrustrasi itu cincin hilang aku jadi ikutan ngeri, takut suaminya galak 😭
tapi ini konteks nya benda sakral .. seharusnya mending di jadiin kalung atau simpen di rumah .. jadi repot kan kalau ilang begini ... beda cerita kalau emng cincinnya yang bisa teleportasi 🤭