Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Batuk Asti 5
“Ada apa sebenarnya pak? Sampai saya tidak boleh kerja?” Bapaknya Asti bertanya.
“Di gang sebelah, sudah ada beberapa anak yang sakit juga seperti yang dialami oleh anak bapak, oleh karen itu, kami meminta keluarga dari anak yang terjangkit virus, harus tetap di rumah saja dulu, tidak boleh bertemu dengan orang lain, karena itu berbahaya.
“Tapi anak saya sudah ke Dokter dan Doter bilang kalau dia tidak apa-apa.”
“Justru itu yang menakutkan bukan, pak? Kalau virusnya langka dan cepat menyebar bagaimana?”
“Pak, anak gang sebelah itu main ama anak saya saja tidak pernah, lalu gimana mereka ketularan sama anak saya! Anak saya sudah lama sekali di rumah terus, jadi tidak mungkin ada anak yang tertular karena anak saya!” Bapak Asti kesal sekali, dia harus bekerja karena hidup mereka ditopang oleh gajinya sebagai pegawai negara, kalau pekerjaannya hilang, bagaimana mereka melanjutkan hidup?
“Kemarin ada orang yang menjenguk putri bapak kan? Satu orang wanita dan dua anak kecil, setelah menjenguk, mereka berjalan berkeliling sampai rumah, mungkin virusnya dibawa oleh mereka.”
“Astaga Pak! Mereka bahkan tidak saya izinkan masuk, mereka hanya di ruang tamu ini saja, tidak bertemu dengan Asti sama sekali, saya tahan mereka agar kejadian kayak gini tidak terjadi!” Ibunya Asti rupanya mendengar juga di dalam kamar anaknya, dia lalu keluar dari kamar dan buru-buru membela Ibunya Lira, Lira dan Rani yang kemarin berkunjung, dia tak mau kalau mereka bertiga dituduh yang menyebarkan virus dari Asti.
“Bisa saja kan, mereka tertular dari anda orang tuanya yang sudah bersinggungan dengan Asti!”
“Pak! Kalau memang saya tertular anak saya, kenapa kami sehat, apakah bapak juga sudah cek, kemarin orang yang datang menjenguk apakah sakit juga atau mereka sehat? Kalau kami semua sehat, lalu bagaimana kami menularkan penyakit pada orang lain.
Pak, anak-anak sakit itu wajar, ini bukan hal besar dan bukan hal yang seharusnya membuat kami harus ditawan di rumah kami sendiri.
Bagaimana makan kami, bagaimana kehidupan kami dan pekerjaan suami saya, bagaimana kami bertahan hidup jika ditawan begini? Yang ada kami ini mati bukan karena penyakit tapi karena kelaparan!” Ibunya Asti sudah sangat geram, dia terpaksa harus berkata kasar.
“Kalian hanya jalankan perintah saja, karena kalau kalian sehat, kami pasti akan lepas, untuk makan dan juga pekerjaan, kami akan usahakan kalian tetap dapatkan, kalau pergi bekerja juga rekan bapak pasti tidak suka karena bapak dianggap membawa virus. Cukup patuh pada kami dan semua akan berjalan dengan baik, asal kalian sehat.” Tentara itu tak peduli, dia hanya menjalankan perintah.
“Pak, anak saya juga sebenarnya sudah membaik, lihat saja keadaannya, dia sudah bisa makan dan sudah bisa duduk sendiri!” Ibunya Asti meminta tentara itu untuk melihat.
“Tidak bisa bu, karena saat ini kami pun diminta menjaga jarak agar tidak ada resiko tertular, itu kenapa saya tidak masuk rumah dan di halaman saja, begitu juga dengan para tentara.
Ibu dan bapaknya Asti saling pandang dan mengangguk, tanda kalau mereka sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, yang penting makan mereka sudah dijamin dan pekerjaanya bapaknya Asti takkan terganggung.
Sementara di kediaman lain di waktu siang hari, Lira dan ibunya terkejut karena pintu rumah diketuk oleh beberapa orang yang berseragam, mereka menutup mulut dengan kain yang diikat ke belakan kepala.
“Mereka siapa?” Lira bertanya.
“Apa ini sudah menjadi bencana nasional?” Mamanya Lira khawatir, bukan takut terkena virusnya, tapi lebih takut identitas sebagai penyihir ketahuan, itu akan lebih menggemparkan dibanding ketahuan ketularan sakit.
“Ada apa ya pak?” Ibunya Lira membuka pintu dan bertanya.
Dia tak akan menggunakan sihir apapun dulu saat ini.
“Ini surat ketetapan dari pemerintah setempat agar kalian sekeluarga tidak keluar rumah dulu untuk sementara waktu, kalian adalah orang yang menjenguk Asti kemarin, maka dari itu, untuk mencegah virus tersebar, kalian harus di dalam rumah saja ya, berapa orang di dalam rumah? Kami akan bantu untuk pasok makanan.”
“Ada 3 orang, papa, mama dan Lira. Tapi bisa bantu juga untuk makanan beo kami pak? Kebetulan makanan beo kami habis, jadi tadinya aku mau beli ke pasar, tapi kan bapak pasti nggak bolehin, jadi bisa bantu?” Ibunya Lira bertanya dengan wajah tenang, tak ada rasa takut atau khawatir, dia bisa menghadapinya tanpa siast berlebihan. Kan hanya disuruh di rumah saja, lagi pula, dia suka itu kok, bisa bercengkrama dengan pot-pot tanaman obatnya.
“Kami usahakan, tapi tidak bisa meminta yang khusus.” Tentara itu menyanggupi.
“Oh iya, suami saya masih di luar kerja, nanti siang pulang kok, biasanya dia yang jemput untuk anak saya pulang dari sekolah, tapi tadi anak saya udah disuruh pulang.”
“Baiklah, kita tunggu dia pulang saja.” Tentara itu lalu berjaga di luar rumah, Lira dan mamanya ke belakang rumah.
“Asti dan Rani juga pasti rumahnya dijaga tentara kan ya, ma?” Lira bertanya, dia hanya duduk saja, tidak membantu ibunya memeriksa pot tanaman obat buatanny sendiri.
“Iyalah, tapi tenang saja, ini mah biasa, saat tahu kita nggak sakit, mereka akan pergi dari sini. Yang penting jangan bersikap mencurigakan.”
“Tapi ma, lalu gimana pengobatan Asti, mama kan perlu ke sana lagi untuk memerikasanya?”
“Oh iya ya, aduh umur ini membuatku kadang lupa, untung ada Lira yang ingatkan. Kita tunda saja dulu ya, karena Asti akan membaik selama beberapa hari ini, kan sudah disebar bubuk daun obat ini.”
“Ma, kemarin saat kita keluar lewat pintu belakang dari rumah Asti itu, aku lihat ada kandan kecil di sana, tapi kandangnya terbuka, apakah mereka memelihara sesuatu?”
“Oh ya, mama nggak lihat.”
“Iya, kan kita buru-buru, aku juga lihatnya nggak sengaja. Tapi aku jujur merasa aneh, kandang itu seperti dibuka paksa, karena bagian kunci kandangnya rusak, apakah ada yang mencuri binatangnya? Tapi binatangnya apa ya?”
“Lira, kamu tahu nggak apa kelebihan kamu?” Mamanya bertanya tanpa menanggapi rasa penasaran anaknya.
“Apa memang?”
“Insting yang tajam, jiwa mama dan papa kalau melihat sihir itu segini.” Mamanya Lira meluruskan kedua tangan selebar bahunya, “tapi kalau jiwa Lira melihat sehiri segini.” Mamanay Lira melebarkan kedua tangannya hingga jarak antara satu tangan dan tangan lain hampir semeter, dia ingin anaknya lihat, betapa jangkauan jiwa Lira dalam melihat sihir selalu lebih luas, itu adalah bakat, sebuah insting yang tajam.
“Oh ya? Lalu apa hubungannya dengan masalah yang sedang kita hadapi?” Lira bertanya.
“Dari banyak hal yang Lira lihat di rumah Asti, tapi Lira sangat penasaran pada kandang, maka mungkin di kandang itu ada sesuatu, mama dan papa akan coba cek itu ya, siapa tahu ada petunjuk, lagi pula, kalau keadaan Asti memburuk lagi, mama dan papa akan cari cara supaya bisa ke rumah Asti dan memeriksanya, tapi sementara waktu, kita tenang saja dulu di rumah.”
Kira-kira binatang apa ya yang ada di kandang kosong itu? Kenapa Lira sangat penasaran?