Indonesia
NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Rumah yang Berpindah Arah

“Tak ada yang mengajarkan bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai dipanggil dengan nama yang bukan miliknya.”

--

Beberapa hari usai Keira sadar, rumah sakit mulai terasa seperti rumah kedua bagi mereka. Petugas keamanan di lobi sudah mengenali wajah Hendra. Perawat di lantai tiga tak lagi perlu bertanya siapa Birendra ketika lelaki itu datang membawa kantong obat dari farmasi. Bahkan petugas kantin sudah hafal bahwa setiap sore Alina selalu membeli teh hangat tanpa gula, meski sering kali tehnya dibiarkan dingin begitu saja.

Pagi itu dokter meminta Keira berlatih berjalan lebih jauh dari pada hari sebelumnya. Koridor VIP masih lengang ketika seorang fisioterapis datang membawa walker dan Keira menggeleng pelan.

"Aku nggak mau pakai itu."

“Kenapa?” Keira langsung menoleh ke arah Birendra.

“Mas aja yang pegangin aku.” Ruangan kembali hening. Fisioterapis sempat melirik dokter Arman, lalu mengangguk pelan. Birendra pun akhirnya mendekat, dan menawarkan lengannya, lalu membuat Keira menggenggamnya erat.

"Pelan-pelan." Langkah pertama berhasil, begitu pula dengan langkah kedua. Namun setiap kali keseimbangannya goyah, bibir Keira selalu mengucapkan nama yang sama.

“Mas.” Alina berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Ia ikut menghitung setiap langkah kakaknya, satu langkah, dua langkah, tiga sampai empat langkah, ia berusaha fokus pada keberhasilan Keira, bukan pada siapa yang sedang menopangnya dan sejauh itu ia masih berhasil.

Siang hari usai melakukan latihan, Keira mulai meminta hal-hal kecil seperti meminta bantuan-bantuan atau bisa dibilang bersikap manja pada Birendra yang di anggap Raka olehnya. Mulai dari membuka tutup botol, mengambilkan remote tv, posisi bantal yang minta dimiringkan.

Permintaan-permintaan yang di ajukan sederhana, mungkin tak berarti apa-apa bagi orang lain. Tetapi setiap kali kata mas terdengar, Birendra membutuhkan sepersekian detik untuk mengingat bahwa panggilan itu bukan ditujukan kepada dirinya. Birendra selalu menjawab dengan hati-hati, seolah setiap kata yang keluar harus dipilih agar tidak semakin melukai siapa pun.

Sementara itu, di kantor Adhyaksa Jewellery, gema kesuksesan Aurora mulai menyebar lebih luas dari pada yang mereka bayangkan. Majalah bisnis memuat foto Birendra dan Alina saat berdiri di atas panggung peluncuran, dengan headline "Duo di Balik Cahaya Aurora."

Foto itu memperlihatkan mereka saling menatap dengan senyum tipis di bawah lampu kristal ballroom. Tak ada seorang pun yang melihat foto itu akan menyangka bahwa beberapa jam setelahnya, dunia mereka berubah lagi. Maya membawa satu eksemplar majalah itu ke rumah sakit.

“Mbak Alina.” Alina menerimanya sambil tersenyum kecil. Begitu melihat foto tersebut, jemarinya berhenti di sudut halaman.

"Itu malam terakhir sebelum semuanya berubah." Bisiknya hampir tak terdengar. Birendra yang berdiri di sampingnya ikut melihat foto itu. Tak ada kata-kata, hanya dua orang yang sedang memandangi versi diri mereka beberapa hari lalu.

Menjelang sore, Hendra akhirnya pulang sebentar untuk mengurus beberapa keperluan rumah. Keira tertidur karena obat, dan ruangan mendadak tenang. Alina duduk di sofa dekat jendela sambil membolak-balik majalah Aurora. Birendra keluar sebentar menuju kantin, dan selang beberapa menit kemudian ia kembali membawa sekantong buah.

"Dokter bilang kak Keira boleh makan buah yang lembut." Ia mulai mengupas jeruk, gerakannya cepat dan sudah terbiasa. Tanpa sadar, ia memisahkan satu potong jeruk yang paling rapi lalu menyodorkannya ke arah Alina. “Buat kamu.” Alina menerimanya begitu saja. Keduanya bahkan tidak menyadari bahwa itu adalah kebiasaan lama.

“Manis” Alina tersenyum setelah mencicipinya.

"Makanya aku pilih yang ini." Birendra tertawa kecil, dan untuk beberapa detik mereka kembali seperti dulu seakan tidak ada masalah di antara mereka

Suara pintu yang terbuka membuat keduanya menoleh, dan Keira juga terbangun akan hal itu, tatapannya pun langsung mencari Birendra. “Mas.” Senyumnya muncul dengan hangat. “Lagi ngapain?” Birendra meletakkan sisa jeruk di meja.

“Lagi makan buah.” Keira mengangguk pelan.

“Lain kali kupasin juga ya.” Kalimat itu membuat Alina refleks menatap potongan jeruk di tangannya. Ia tidak berpikir apa-apa atau mungkin belum, namun entah kenapa, ia tiba-tiba menggenggam potongan jeruk itu sedikit lebih erat.

Saat malam tiba, Dokter Arman datang melakukan evaluasi lagi. Setelah memeriksa kondisi Keira, ia mengajak Hendra, Alina, dan Birendra berbicara di luar kamar.

"Perkembangannya cukup baik." Hendra mengembuskan napas lega. "Tapi ada satu hal yang perlu kita perhatikan. Selama dua hari terakhir kami mencatat pola yang sama, pasien lebih kooperatif ketika Pak Birendra berada di ruangan, dan ketika beliau pergi terlalu lama, kecemasan pasien meningkat." Terang dokter Arman yang membuat Birendra menghela napas pelan.

"Apakah itu berarti kondisinya memburuk?"

“Bukan, justru sebaliknya. Artinya otak Keira sudah mulai membentuk rasa aman yang sangat kuat pada figur yang ia yakini sebagai suaminya." Dokter menatap mereka satu per satu, dan kalimat itu membuat udara kembali terasa berat. "Kami masih mengamati. Tapi keluarga perlu mulai mempersiapkan diri, mungkin akan ada penyesuaian yang lebih sulit beberapa hari ke depan."Jelas dokter Arman lagi.

Usai penjelasan itu, tidak ada lagi yang mengajukan pertanyaan pada dokter yang menangani Keira saat ini, karena mereka semua tahu bahwa kalimat yang di ucapkan oleh dokter Arman bukan hanya sekedar penjelasan, melainkan sebuah peringatan.

Malam itu, sebelum pulang mengambil pakaian ganti, Alina berdiri di balkon kecil rumah sakit. Angin malam membawa aroma tanah yang masih basah dan Birendra langsung menghampirinya.

“Ayo aku antar pulang.” Tawar Birendra.

“Sebentar lagi.”

“Alin.” Sang punya nama menoleh dan Birendra langsung membuka kedua tangannya, tanpa ragu Alina melangkah maju dan memeluknya dengan erat. “Capek?” Bisiknya.

“Iya.”

“Aku juga.” Keduanya pun berdiri seperti itu untuk waktu yang cukup lama. Tak ada janji besar maupun kata-kata romantis yang mereka utarakan satu sama lain. Hanya dua orang yang tengah saling menjadi rumah di tengah badai, dan justru karena rumah itu masih utuh malam itu, takdir yang menunggu di depan terasa semakin kejam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!