Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 - Paradoxa (Part 1)

Dulu, saat masa-masa awal menapakkan kaki di dunia perkuliahan, Kinan selalu membayangkan bahwa ia akhirnya akan mengecap hal-hal baru yang belum terjangkau oleh benak lugunya—sesuatu yang tak pernah ia pahami sebelumnya dan hanya sering ia temui di novel atau tontonan drama: tentang cinta yang dewasa, indah, tulus dan apa adanya.

Sebuah lingkungan baru, lingkaran pertemanan yang bertolak belakang dari era sekolah, tanggung jawab yang kian menumpuk, serta amanah besar untuk menjaga kepercayaan sang ibu yang tak jarang malah menjadi beban.

Kala itu, sosok seorang cowok hadir bak pangeran dari negeri dongeng. Cowok itu datang dengan sebuah senyuman manis, mobil mewah, serta deretan kata-kata yang setiap baitnya terdengar layaknya janji manis kehidupan yang penuh bahagia.

Kinan—yang saat itu masih begitu polos dan baru melangkah mengenali dunia luar yang penuh misteri dan teka-teki—terpikat oleh pesona fana yang belum sepenuhnya ia pahami. Namun, seiring berjalannya waktu, segala kemewahan dan kebahagiaan semu itu berbalik menjadi sangkar besi yang mengekang hati dan kebebasannya.

Perlahan tapi pasti, suara hatinya terbungkam, setiap keputusannya menolehkan luka mendalam yang tak lekang oleh waktu, dan keberadaannya hanya dianggap berharga selagi ia patuh tanpa banyak bertanya.

Dari pengalaman yang begitu pahit itulah Kinan menyadari satu hal: cinta sejatinya bukanlah tentang menuruti segalanya. Cinta adalah tentang ketulusan hati, penerimaan, kerelaan memeluk segala kekurangan, serta kesediaan berjalan berdampingan meski dunia sedang tak sempurna.

Akan tetapi, hatinya sudah terlanjur remuk untuk kembali menjadi tempat indah untuk seseorang. Kepercayaannya sudah tertutup untuk kembali ia berikan kepada orang lain. Sebuah luka kelam yang ingin ia enyahkan dari pikiran dan hidupnya.

Siang hari itu, Kinan baru saja melangkah keluar dari ruang kelas di lantai empat usai merampungkan jam kuliah terakhir. Pundaknya terasa pegal luar biasa dan matanya amat lelah setelah berjam-jam menatap layar laptop sejak pagi demi menuntaskan tumpukan tugas.

Ia sempat melirik ke arah anteran lift yang mengular. Sambil menghela napas panjang, Kinan memilih berbalik dan menuruni anak tangga gedung fakultas satu per satu. Sorot matanya menyiratkan kepenatan yang menumpuk di wajahnya. Hari ini jadwal kuliahnya begitu padat, dan kepalanya pun sedang sedang penuh dengan pikiran.

Saat melewati area taman kecil di depan gedung fakultas, langkah kaki Kinan melambat. Matanya tanpa sengaja menangkap pemandangan yang sebenarnya lumrah di lingkungan kampus—beberapa pasangan anak muda tampak duduk berdampingan di bawah pohon, berbagi minuman, tertawa kecil bersama, dan sesekali saling menggenggam tangan seolah dunia hanya milik mereka.

“Hmm.. bisa sebahagia itu, ya, sama orang lain,” gumamnya pelan tanpa sadar, hampir tak terdengar.

Ia sebenarnya tidak merasa iri. Mungkin lebih tepatnya, ada keinginan tersembunyi untuk merasakan kehangatan yang sama—keinginan memiliki tempat untuk bersandar, meluapkan keluh kesah, berbagi tawa, atau sekadar bergeming bersama. Namun, hasrat itu hanya singgah sesaat di alam bawah sadarnya sebelum lekas terkubur oleh kenyataan hidup.

Tak ada pesan manis yang tampak di layar ponselnya. Tak ada pula seseorang yang setia menunggu di sudut taman. Namun, Kinan tersenyum tipis; ia sudah terbiasa dan berdamai dengan kesendirian itu.

Langkah santainya mengantarnya tiba di area parkir kampus yang masih penuh sesak oleh deretan sepeda motor. Kinan bergegas menghampiri motor matic putihnya yang terparkir di jajaran depan. Tangannya mengusap permukaan jok motor yang sedikit berdebu, sebelum akhirnya mengenakan helm dan melaju meninggalkan area parkir.

Motor itu bukanlah keluaran terbaru. Bodi motornya masih relatif mulus, meski terdapat goresan halus di tangkai spion sebelah kanan. Namun bagi Kinan, motor itu adalah monumen cinta paling tulus sang ibu—sosok yang mengerti dirinya melebihi dirinya sendiri.

Ibunya membeli motor itu sebagai hadiah atas perjuangan Kinan menembus jurusan impiannya di kampus negeri, membelinya menggunakan nyaris seluruh tabungan yang sang ibu kumpulkan bertahun-tahun dari peluh keringatnya. Tanpa ada pesta perayaan meriah atau syukuran megah. Hari itu hanya ditandai oleh pelukan hangat dan sebuah bisikan halus, “Ibu percaya kamu pasti bisa.”

Kinan teringat jelas bagaimana hari itu ia berdiri cukup lama di halaman rumah. Tangannya gemetar saat pertama kali menyentuh setang motor tersebut. Ada perasaan haru yang menyesakkan dada. Ia tahu pasti bahwa ini bukan sekadar sebuah motor, melainkan lambang pengorbanan dan kepercayaan dari ibunya.

Ia bahkan sempat menolak berkali-kali di saat menyadari nominal uang yang harus digelontorkan oleh sang ibu. Namun, ibunya saat itu hanya tersenyum, lalu berkata lembut, “Ibu mungkin tidak bisa memberi semua yang Kinan mau. Tapi Ibu ingin Kinan berangkat kuliah dengan semangat, demi menggapai semua cita-cita anak Ibu.”

Hari-hari berlalu dengan ritme dan rutinitas yang mulai bisa Kinan ikuti secara perlahan. Kuliah, tumpukan tugas, berjalan kaki dari satu gedung ke gedung lain, dan sesekali diam-diam memperhatikan sekeliling—terutama ketika mendapati pasangan mahasiswa yang berjalan berdua, saling bercanda, atau sekadar berbagi earphone di bangku taman. Perasaan hampa yang sering kali singgah sekilas mendadak terasa lebih samar. Bukan lantaran telah menguap hilang, melainkan karena Kinan mulai terbiasa mengalihkan perhatiannya.

Siang itu, Kinan duduk bersila di gazebo kayu tak jauh dari gedung fakultasnya. Beberapa buku dan catatan terbuka di depannya, walau fokus matanya sesekali teralih memperhatikan mahasiswa yang lalu-lalang.

“Eh, Nan. Liat tuh, itu Kak Romi,” bisik temannya yang duduk di sebelah sembari menyenggol lengan Kinan dan menunjuk ke arah jalan setapak.

"Siapa?” tanya Kinan pelan, meski tanpa sadar tatapannya mengikuti arah yang ditunjuk.

Seorang cowok berpostur tinggi mengenakan kemeja biru gelap dan celana chino warna krem melangkah dengan penuh percaya diri. Ia sesekali melempar senyum manis ke arah beberapa mahasiswi yang menyapanya. Selama sepersekian detik, pandangan cowok itu menatap tepat ke mata Kinan.

“Kak Romi. Masa kamu gak tau, sih? Dia kakak tingkat di jurusan kita, beda dua tahun di atas kita. Udah kayak seleb kampus! Katanya sih anak orang penting, tapi orangnya ramah dan baik banget. Banyak cewek yang suka sama dia,” tutur temannya terkekeh pelan.

Kinan memilih untuk diam, menunduk kembali menatap bukunya. Meski begitu, benaknya tak sepenuhnya bisa mengabaikan ucapan temannya itu. Tak bisa dipungkiri, secara objektif Kinan pun harus sependapat: cowok itu memang tampan, murah senyum dan tampak seperti sosok cowok idaman banyak orang di kampus.

Romi membuka pintu belakang mobil sedan merah mewah yang mengilat, lalu melangkah masuk dan duduk perlahan di jok kulit yang empuk.

"Siapa cewek itu tadi?" gumamnya lirih, mengarahkan pandangannya menembus kaca mobil tepat ke arah gazebo tempat Kinan duduk.

Perlahan, mobil itu melaju mulus meninggalkan area kampus. Romi bersandar santai di kursi belakang, berdiam diri sembari perlahan memejamkan kedua matanya. Namun, dari balik kelopak matanya, bayangan pikirannya masih tertahan jauh di sana—di gazebo Fakultas Sastra.

Sosok cewek yang tadi sedang membaca buku dengan begitu tenang, entah mengapa, masih tergambar jelas di benaknya. Bukan lantaran makeup yang mencolok, bukan pula karena gaya pakaian yang sengaja mencuri perhatian. Ada aura berbeda… sesuatu yang terasa asing dan menantang rasa ingin tahunya.

"Langsung pulang ke rumah atau ke vila, Mas?” suara sopir dari balik kemudi memecah keheningan.

Romi tak seketika menjawab. Matanya terbuka pelan, menatap ke luar jendela. Sudut bibirnya tertarik tipis, tampak senyum samar. “Hmm... Vila aja.”

“Baik, Mas.”

Beberapa menit kemudian, mobil sedan itu memasuki halaman sebuah vila mewah yang berdiri megah di pinggiran kota. Vila pribadi milik keluarga besarnya yang memang terkenal bergelimang harta dan kuasa. Suasananya begitu asri dan jauh dari hingar-bingar lalu lintas serta riuh kota.

Sementara itu di depan rumahnya…

Kinan baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah. Begitu ia memutar gagang pintu dan melangkah masuk, tampak Ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tamu, mengobrol bersama seorang anak kecil.

"Assalamualaikum, Bu," sapa Kinan sembari melangkah masuk.

"Wa'alaikumsalam," balas ibunya.

"Mbak Kin!" sapa anak kecil itu, mengayun-ayunkan kedua tangan mungilnya ke udara menyambut kedatangan Kinan.

Di atas meja, tepat di hadapan anak itu, terhampar sebuah buku serta wadah alat tulis yang terbuka. Kinan tampak terkejut mengetahui kehadiran anak itu. "Elka? Siang-siang bukanya bobok siang, malah main ke rumah Mbak," goda Kinan sembari mencubit pipi tembem anak itu.

"Sudah dari tadi dia nunggu kamu pulang, Kin. Bahkan tadi sempat ketiduran sebentar di sofa," jelas ibunya.

Kinan duduk di samping Elka, lalu meletakkan tasnya di sudut meja.

"Di rumah gak ada orang, Ibu sama Ayah lagi pergi keluar, makanya aku ke sini aja. Aku ada PR sekolah, bantu kerjain dong, Mbak Kin," ucap Elka, menatap Kinan dengan senyum lebar.

Dalam hati, Kinan hanya bisa meratapi rasa lelahnya. Tubuhnya sudah lesu dibebani urusan kampus. Niat awal langsung pulang ke rumah adalah untuk memejamkan mata dan beristirahat, namun ternyata rencananya tak berjalan mulus.

Sejujurnya, saat ini Kinan sedang sama sekali tidak berada dalam kondisi emosional yang pas untuk mendampingi anak belajar.

"Kenapa gak nanti sore aja, El?" tawar Kinan.

"Soalnya, sore nanti aku mau nonton kartun di TV," jawab Elka polos, kembali tersenyum.

"Ya udah, malemnya aja kalo gitu,"

"Malem ya bobok lah, Mbak Kin!"

Kinan mengembuskan napas panjang secara perlahan, mengurut pangkal hidungnya. Ia tak habis pikir anak kecil di sebelahnya itu selalu saja punya seribu alasan. Elka memang baru beberapa bulan terakhir ini sering ke rumah Kinan hanya untuk meminta bantuan mengerjakan tugas sekolah atau hanya sekadar numpang main.

Kinan sebenarnya merasa senang melihat Elka yang semakin giat belajar dan menunjukan kemajuan akademik yang cukup signifikan. Terlebih lagi, orang tua Elka kerap memberi berbagai bingkisan makanan atau buah ke rumah sebagai bentuk rasa terima kasih karena Kinan sudah telaten meluangkan waktu membimbing anak itu.

"Mbak mau ganti baju dulu kalo gitu. Abis itu Mbak bantu Elka selesein tugasmu," ucap Kinan yang akhirnya mengalah, tak tega menolak permintaan itu.

"Asyik! Oke, Mbak Kin!" balas Elka bersemangat.

Lalu, hampir sejam kemudian...

Elka menutup buku tulis di hadapannya. Matanya tampak mulai lelah seusai mengerjakan semua tugasnya. Di sebelah kanannya, Kinan ikut menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia bahkan sudah tak kuasa menutupi rasa lelah yang mengalir di sekujur tubuhnya.

"Makasih banyak, Mbak Kin. Aku mau pulang dulu," pamit Elka sembari membereskan alat tulisnya dan memeluk bukunya.

Kinan ikut beranjak bangkit. "Sama-sama. Semangat terus belajarnya, ya."

Ia mengantar Elka hingga teras depan rumah. Begitu bayangan anak itu berlalu dan menghilang di tikungan jalan, Kinan segera melangkah cepat kembali ke kamarnya. Ia langsung merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk hingga seketika terlelap dalam tidurnya.

Sementara itu, di sebuah vila mewah…

Hari perlahan menuju sore yang masih tampak begitu cerah. Di halaman belakang, Romi tampak duduk bersantai di kursi tepi kolam renang. Ia mengenakan kaos putih tipis dan celana santai pendek kotak-kotak. Di atas meja kecil di sisinya, sebotol minuman beralkohol berdampingan dengan gelas kristal, serta sebatang rokok yang belum tersulut—terselip di antara jemarinya sebagai bagian dari kebiasaannya.

Tak lama kemudian, muncul seorang cewek berparas cantik. Ia melangkah anggun dari pintu belakang mengenakan kacamata hitam, sepatu high heels, atasan ketat, serta rok mini yang memperjelas siluet tubuhnya.

"Sayang~” sapanya dengan senyum manja. Ia menyibakkan kacamata hitamnya ke atas kepala, lalu perlahan menghampiri tempat duduk Romi.

Romi hanya menoleh sekilas, menyambut kedatangannya dengan anggukan kecil. “Tumben kesini langsung gak ngabarin?”

“Emm... lagi pengen aja. Lagian juga searah sama rumah temen,” ucap cewek itu. Ia melangkah rapat ke belakang kursi Romi, melingkarkan lengan kanannya di leher cowok itu sembari mendaratkan kecupan manis di pipinya. “Emang kamu gak kangen aku? Kita udah tiga hari lho gak ketemu.”

Romi menghela napas pelan, lalu meletakkan rokoknya di atas meja kaca. “Tentu aja kangen dong, Sayang. Tapi kamu yang sibuk terus.”

Cewek itu terkekeh, lalu tanpa ragu duduk di atas pangkuan Romi sembari merogoh ponsel dari tas mewahnya. “Yah, kan kamu juga sama sibuknya. Oh iya, aku udah ada rencana spesial buat malam ini!” tutur cewek itu bersemangat sembari menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan foto sebuah restoran nuansa fancy. “Kita dinner bareng di sini, aku udah reservasi meja khusus buat kita.”

Romi mengangkat sebelah alisnya. “Harus banget malem ini?”

Cewek itu mengangguk cepat. "Iya dong, Sayang! Kan udah lama kita gak makan malem romantis berdua. Terus nanti abis dari sana, kita bisa check-in ke hotel."

“Tapi aku gak bisa kalo malem ini,” sela Romi datar. “Barusan ayahku telepon suruh pulang ke rumah. Katanya ada urusan keluarga nanti malem.”

Mendengar hal itu, raut kecewa seketika terpatri di wajah cewek tersebut. Bibirnya cemberut tipis. “Yaaaaah… Sayang...” rengeknya.

Ia menyandarkan kepalanya ke dada Romi, lalu mulai bergerak menciumi leher Romi sembari berbisik manja. "Kalo gitu, temenin aku sampe kamu pulang, ya?"

"Kamu tuh ya," bisik Romi tersenyum miring, menghembuskan napas pelan.

Romi langsung beranjak berdiri sembari merangkul cewek itu, lalu melumat bibirnya beberapa kali. Tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua melangkah masuk menuju kamar utama di lantai dua vila tersebut.

Pintu kamar terhempas tertutup rapat. Bayangan tentang sosok mahasiswi yang sempat mengusik pikiran Romi siang tadi seketika menguap, tergilas oleh hasrat yang selalu memanjakannya.

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!