Indonesia
NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pukul tiga pagi. Langit Jakarta masih dikepung oleh kegelapan yang pekat, seolah enggan memberi jalan bagi fajar. Di dalam ruangan kerja serba kayu jati berukir di lantai dua mansion keluarga Samudra, asap tipis membumbung dari cangkir kopi hitam yang dibiarkan dingin di atas meja.

Alvan berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke halaman belakang. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya, sementara matanya menatap tajam ke luar. Di sebelahnya, Bima sedang memeriksa laporan perjalanan helikopter pribadi dan manifes bandara.

"Elena membatalkan tiket penerbangan subuhnya ke Zurich," Bima bersuara rendah, memecah keheningan ruangan. "Tim intelijen kita melapor bahwa dia menyadari penjagaan di Bandara Soekarno-Hatta tiba-tiba diperketat. Sekarang dia bersembunyi di salah satu properti tersembunyinya di kawasan Sentul, berkemas dalam kepanikan."

Alvan tidak bergeming. Wajahnya yang tegas tampak dihiasi celak hitam tipis di bawah mata, bukti nyata bahwa ia tidak menyentuh tempat tidur sekejap pun sejak kejadian pembunuhan terselubung di ICU malam tadi.

"Dia berpikir dia bisa bersembunyi di balik kekuasaan penyidik lama yang dulu mengurus kasus Roy," kata Alvan, suaranya dingin bagaikan belati es. "Elena merasa aman karena dialah yang menyuap oknum kepolisian sembilan bulan lalu untuk menghentikan otopsi lanjutan dan mengarahkan seluruh tuduhan pada Andira."

TOK! TOK! TOK!

Pintu ruang kerja terketuk tiga kali dengan ketukan berpola khusus. Bima segera melangkah maju dan membuka pintu.

Sosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah masuk. Meskipun rambutnya telah memutih di bagian pelipis dan mengenakan jaket kulit cokelat tua yang tampak sederhana, tatapan matanya sejelas elang yang sedang mengintai mangsa.

Dialah Kombes Purnawirawan Hendra, mantan investigator kepolisian paling disegani yang pensiun dini setelah membongkar puluhan kasus kejahatan kerah putih dan pembunuhan berencana tingkat tinggi.

"Pak Hendra," Alvan menyambut pria tua itu dengan anggukan hormat dan jabat tangan yang mantap. "Terima kasih sudah bersedia datang di jam seperti ini."

"Panggilan dari seorang kakak yang ingin menuntut keadilan untuk adiknya tidak pernah mengenal waktu, Alvan," jawab Detektif Hendra seraya melepas topi pet hitamnya dan meletakkannya di meja. Ia menatap Alvan dengan senyum tipis yang sarat pengalaman. "Bima sudah menceritakan garis besarnya padaku di perjalanan. Berkas otopsi rekayasa, flashdisk terenkripsi, racun infus di ICU malam tadi, dan... rekayasa transaksi palsu yang mengorbankan istrimu."

Alvan mengangguk tajam. "Saya tidak bisa memercayai kepolisian jalur resmi untuk saat ini. Aparat yang menangani TKP kematian Roy sembilan bulan lalu sudah berada di dalam kantong Elena. Saya butuh penyelidikan independen yang bersih, tidak tersentuh hukum publik, dan bergerak seperti bayangan."

Hendra mengambil duduk di kursi kulit di hadapan Alvan. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bergaris dan meletakkannya di atas meja.

"Menyelidiki kembali kasus yang sudah ditutup sembilan bulan lalu bukan perkara mudah, Alvan," kata Hendra dengan nada serius. "Tapi kamu beruntung. Seseorang yang terdesak biasanya meninggalkan jejak karena ketakutan. Elena panik karena aksinya di ICU gagal. Dan saat seseorang panik, benang-benang rahasia yang ia ikat rapi mulai terurai satu per satu."

Hendra membuka lembaran buku catatannya. "Langkah pertama kita bukan menyerang Elena secara langsung dengan flashdisk Roy di pengadilan, melainkan meruntuhkan fondasi kesaksian palsu yang membangun tuduhan atas Andira sembilan bulan lalu. Dan aku sudah menemukan celah pertamanya."

~

Dua jam kemudian, di sebuah kedai kopi remang-remang yang belum buka di kawasan pinggiran Jakarta Barat, lampu gantung redup memancarkan cahaya kekuningan di atas meja kayu yang rapuh.

Alvan, Detektif Hendra, dan Bima duduk di sudut ruangan. Di hadapan mereka, duduk seorang pria berusia empat puluhan dengan jaket lusuh dan wajah yang tampak cemas luar biasa. Matanya terus-menerus bergerak liar melirik ke luar jendela kaca yang berembun, seolah takut ada mobil hitam yang mengintainya.

Pria itu bernama Tatang, mantan komandan regu keamanan di mansion peristirahatan keluarga Samudra pada malam berdarah 14 November lalu.

"Saya... saya tidak mau terlibat lagi, Pak! Demi Allah, saya punya anak dan istri!" bisik Tatang dengan suara gemetar hebat. Tangannya yang menggenggam cangkir teh manis terus bergoyang hingga airnya memercik ke meja. "Nona Elena wanita iblis! Dia bisa membunuh keluarga saya jika dia tahu saya bicara pada Anda!"

"Tatang," sapa Alvan dengan suara rendah namun berwibawa, memajukan tubuhnya ke depan. "Lihat aku."

Tatang mengangkat wajahnya dengan ragu, menatap mata pria yang memegang kekuasaan tertinggi di dinasti Samudra itu.

"Sembilan bulan lalu, kamu mendadak dipecat dari mansion tiga hari setelah kematian Roy," kata Alvan datar. "Kamu diberi uang pesangon fantastis secara tunai, lalu menghilang tanpa jejak. Publik membayarmu untuk diam, tapi aku tahu kamu tidak pernah tidur tenang sejak malam itu."

"Pak Alvan... saya..." Tatang menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat.

Detektif Hendra mengambil alih dengan kelembutan seorang penyidik senior. Ia meletakkan sebuah foto kertas berukuran kecil di depan Tatang, foto almarhum Roy yang sedang tersenyum cerah.

"Kamu kenal Roy sejak dia masih remaja, bukan, Tatang?" tanya Hendra pelan. "Kamu tahu betapa baiknya almarhum padamu dan anak buahmu. Apakah kamu tega membiarkan nama baik anak muda ini terus dicemari oleh cerita palsu bahwa dia tewas di tangan wanita yang dicintainya, sementara pembunuh aslinya melenggang bebas?"

Tatang menatap foto Roy. Air mata merembes keluar dari sudut matanya yang berkerut. Pria itu menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar, lalu menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa bersalah mendalam.

"Malam itu... tanggal 14 November," suara Tatang pecah di antara keheningan kedai kopi. "Nona Andira memang datang ke mansion atas undangan Den Roy. Tapi... tapi setengah jam sebelum Nona Andira tiba, ada mobil lain yang masuk lewat pintu belakang area servisan."

Mata Alvan menyempit tajam. "Mobil siapa?"

"Mobil Mercedes hitam milik Nona Elena," jawab Tatang jujur, membuat udara di ruangan itu terasa membeku seketika. "Nona Elena turun sendiri membawa tas dokumen tebal. Dia menyuruh saya mematikan CCTV area lorong sayap timur dekat ruang kerja Den Roy dengan alasan mereka ingin membahas rahasia bisnis keluarga yang sangat sensitif."

"Kamu mematikan CCTV-nya?" potong Bima cepat.

"Saya terpaksa, Pak! Nona Elena mengancam akan memecat saya saat itu juga jika saya menolak," jawab Tatang panik. "Tapi saya curiga. Jadi dari pos penjagaan belakang, saya diam-diam memperhatikan dari celah jendela luar. Saya melihat Den Roy dan Nona Elena bertengkar hebat di dalam ruangan. Den Roy berteriak, menuduh Nona Elena memeras perusahaan dan memalsukan surat-surat saham."

Alvan mencengkeram tepi meja hingga kayu tua itu berderit. "Lalu apa yang terjadi?"

"Den Roy mendorong Nona Elena menjauh dan mengancam akan menelepon Anda, Pak Alvan," lanjut Tatang dengan napas memburu, teringat kembali pada memori mengerikan itu. "Tapi Nona Elena... dia meraih patung perunggu berat di atas meja kerja dan... dan memukulkannya ke pelipis Den Roy dari belakang saat Den Roy sedang meraih ponselnya!"

CRASH!

Cangkir kopi di tangan Alvan hancur berantakan saat genggamannya meremukkan keramik tebal tersebut. Kopi hitam pekat bercampur dengan tetesan darah merah menyala dari telapak tangan Alvan, namun pria itu bahkan tidak mengedipkan mata karena rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan murka luar biasa yang menghantam dadanya.

Elena. Wanita iblis itu yang memukul Roy!

"Den Roy tersungkur bersimbah darah," bisik Tatang menangis. "Nona Elena panik. Dia mengambil dokumen-dokumen dari meja, lalu berlari keluar lewat pintu belakang. Tepat sepuluh menit kemudian... Nona Andira masuk ke ruangan itu dan menjerit histeris menemukan Den Roy yang sudah tak bernyawa. Nona Elena lalu memanfaatkan kehadiran Nona Andira di TKP untuk memutarbalikkan fakta dan mengancam saya agar tutup mulut!"

Detektif Hendra menatap Alvan yang gemetar menahan amarah, lalu dengan tenang merekam seluruh kesaksian Tatang ke dalam alat perekam suara terenkripsi di saku jaketnya.

"Satu saksi kunci resmi telah kita dapatkan," bisik Detektif Hendra mantap. "Kesaksian Tatang bersama rekaman CCTV yang ia matikan akan menjadi martil yang menghancurkan seluruh narasi kebohongan Elena di hadapan hakim."

Sementara taktik perang di balik layar bergejolak di luar, kedamaian yang asing justru sedang terbangun di dalam dinding-dinding mansion Samudra.

Demi memastikan keselamatan Ibu Rosa dari ancaman pembunuhan lanjutan, Alvan tidak mengembalikan ibunya ke ruang ICU rumah sakit. Sebagai gantinya, paviliun barat mansion, sebuah bangunan terpisah bersuasana asri yang dikelilingi taman bunga mawar, telah disulap menjadi ruang perawatan intensif rahasia.

Fasilitas medis tercanggih, monitor tanda vital, ventilator khusus, hingga dua orang dokter spesialis dan perawat senior pribadi yang disumpah menjaga rahasia ditempatkan di sana dua puluh empat jam.

Namun di antara semua tenaga medis profesional itu, sosok yang paling setia berdiri di samping ranjang Ibu Rosa adalah Andira.

Wanita itu menolak untuk beristirahat di kamar utama meskipun Alvan telah memindahkannya secara resmi.

Andira memilih menghabiskan siang dan malamnya di dalam paviliun, mengganti kain kompres Ibu Rosa, menyapu jemari dingin wanita tua itu dengan minyak terapi, dan membacakan doa-doa lembut di samping telinganya.

"Nona Andira, Anda harus makan sedikit," ujar Suster Maya, perawat senior yang bertugas, seraya menyodorkan nampan berisi bubur hangat dan teh manis. "Sejak kemarin malam Anda belum menyentuh makanan keras. Pak Alvan menginstruksikan kami untuk memastikan Anda tidak jatuh sakit lagi."

Andira mengulas senyum tipis yang tulus, menyapu pelipisnya yang sedikit lelah. "Terima kasih, Suster. Tapi saya ingin memastikan suhu tubuh Ibu Rosa benar-benar turun dulu. Tadi pagi beliau sempat menggigil."

Suster Maya menatap Andira dengan ketakjuban yang tak tertutup. Suster itu tahu persis rumor miring yang selama ini menyudutkan Andira sebagai penyebab penderitaan keluarga ini.

Namun menyaksikan sendiri bagaimana Andira merawat sang ibu mertua dengan kelembutan murni tanpa rasa dendam sedikit pun, runtuhlah sudah seluruh prasangka buruk itu.

"Pak Alvan sangat beruntung memiliki Anda, Nona," bisik Suster Maya tulus sebelum melangkah keluar ruangan untuk memberi ruang pribadi bagi Andira.

Andira duduk di kursi kayu berbusa di samping ranjang. Cahaya matahari sore yang hangat menerobos masuk dari sela-sela tirai tipis, membias emas di atas wajah Ibu Rosa yang tampak tenang dalam tidurnya.

Andira meraih tangan kanan Ibu Rosa yang terasa kaku dan pucat. Ia menggenggamnya lembut dengan kedua tangannya, menyalurkan kehangatan dari jiwanya sendiri.

"Ibu..." bisik Andira pelan, matanya menatap wajah wanita tua yang dulu sangat menyayanginya sebelum fitnah jahat Elena memisahkan mereka. "Maafkan Andira jika kehadiran Andira dulu membawa duka bagi keluarga ini... Tapi Andira berjanji, Andira dan Pak Alvan akan membersihkan nama Roy. Kami akan membongkar semua kejahatan Elena... Ibu harus kuat, ya? Ibu harus sembuh agar bisa melihat keadilan itu tegak."

Andira menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya pada punggung tangan Ibu Rosa yang dingin, membiarkan air mata harunya menetes membasahi kulit keriput wanita tua itu.

Di balik pintu paviliun yang sedikit terbuka, Alvan berdiri mematung.

Pria itu baru saja kembali dari pertemuannya dengan Detektif Hendra dan Tatang. Tangannya yang terbebat kasa putih akibat luka pecahan cangkang kopi menggantung di samping tubuhnya.

Tatapan Alvan yang tadinya sarat akan dendam dan amarah pembunuh, seketika meleleh menjadi kehangatan luar biasa saat melihat sosok istri sahnya yang sedang berdoa di samping ibunya.

Alvan menyandarkan bahunya pada bingkai pintu, menatap Andira dengan kepenuhan cinta yang tumbuh dari puing-puing penyesalan.

Wanita ini adalah korban utama dari kejahatan Elena dan kebodohannya sendiri, namun wanita ini pula yang menjadi satu-satunya malaikat yang memeluk luka keluarganya tanpa membalas dengan kebencian.

'Aku akan melindungimu dengan nyawaku, Andira...' janji Alvan dalam hatinya.

~

Matahari mulai tenggelam sempurna di ufuk barat, mengganti warna langit menjadi keunguan yang hangat.

Alvan melangkah masuk perlahan ke dalam ruangan paviliun. Suara langkah kakinya yang halus membuat Andira mengangkat kepala dan menyapu sisa air mata di pipinya.

"Alvan... kamu sudah pulang?" tanya Andira lembut seraya berdiri dari kursinya. Matanya tertuju pada perban di tangan kanan Alvan. "Tanganmu... kenapa?"

"Hanya kecelakaan kecil saat berdiskusi dengan Detektif Hendra," jawab Alvan halus. Ia mendekati Andira, meraih jemari tangan kiri wanita itu dan mengusapnya penuh kehangatan. "Bagaimana keadaan Ibu sore ini?"

"Suhu tubuhnya sudah stabil di angka 36,8 derajat," terang Andira lega. "Dokter bilang respons refleks sarafnya mulai membaik."

Alvan menatap wajah ibunya yang terlelap, lalu menatap Andira kembali. "Detektif Hendra sudah menemukan saksi kunci malam pembunuhan Roy. Mantan satpam mansion mengonfirmasi bahwa Elena-lah yang memukul Roy dan mematikan CCTV. Kita tinggal mengumpulkan bukti transfer perbankan Elena untuk menyeretnya ke persidangan tanpa ada celah bebas."

Andira menahan napasnya, dadanya bergemuruh oleh kelegaan yang tak terukur. "Tuhan... akhirnya kebenaran itu terungkap..."

Saat ketenangan mulai mengaliri dada mereka berdua, sebuah gerakan halus yang hampir tak terdeteksi terjadi di atas ranjang.

Jemari tangan kanan Ibu Rosa yang berada di atas sprei tiba-tiba bergoyang pelan. Ujung-ujung jarinya yang tadinya kaku mulai menekuk secara perlahan.

Andira yang merasakan getaran itu langsung menoleh kaget. "Alvan... lihat!"

Alvan membeku. Matanya membelalak menatap tangan ibunya.

Jemari keriput Ibu Rosa merambat perlahan di atas sprei, bergerak seperti sedang mencari sesuatu, hingga akhirnya jemari itu menyentuh ujung kain baju yang dikenakan Andira. Dan dengan sisa-sisa tenaga yang terkumpul dari kedalaman komanya, jemari Ibu Rosa secara mengejutkan mencengkeram erat kain baju Andira!

"Ibu?!" seru Alvan panik bercampur haru, melangkah mendekat.

Kelopak mata Ibu Rosa yang bergetar hebat perlahan-lahan mulai terbuka. Pupil matanya yang tadinya kabur mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya remang ruangan.

Mata wanita tua itu akhirnya terfokus sepenuhnya pada satu sosok yang berdiri paling dekat di sampingnya - Andira.

Bibir Ibu Rosa yang kering dan pucat terpisah perlahan. Sebuah bisikan yang sangat lemah, parau, namun teramat jelas lolos dari tenggorokannya.

"An... di... ra..."

DEGGGG!

Dunia di sekitar Alvan dan Andira seolah berhenti berputar seketika.

Andira menutupi mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia meledak seketika dari matanya saat mendengar namanya dipanggil oleh sang ibu mertua.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!