"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
"Maturnuwun banget ya, Bu Sulastri, Nak Kayla... Ayo, langsung masuk saja ke kamar. Aqil ada di dalam lagi istirahat," ujar Bu Marni ramah, mempersilakan Bu Sulastri dan Kayla melangkah menuju arah kamar.
Namun, sebelum benar-benar berbalik, Bu Marni menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah Abi.
"Bi, kamu urus wanita ini," ucap Bu Marni singkat tapi menohok. "Selesaikan di luar, jangan sampai bikin gaduh dan ganggu anak-anak di dalam."
Tanpa menunggu balasan dari Dinda, Bu Marni langsung membawa Bu Sulastri dan Kayla masuk ke kamar Aqil, meninggalkan Abi dan Dinda yang kini kembali berdiri berhadapan di ruang tamu yang tegang.
Dinda bersedekap dada, menatap pintu kamar yang baru saja tertutup dengan lirikan sinis.
"Siapa mereka, Mas?" tanya Dinda dengan nada menyindir. "Tetangga desa yang sok perhatian? Atau... calon penggantikuh yang baru?"
"Nggak usah bawa-bawa orang lain, Din," potong Abi tegas. "Sekarang, mending kamu pergi dari sini. Anak-anak nggak butuh kamu."
"Mas... tolonglah, Mas. Aku ini ibunya," bisik Dinda dengan suara bergetar.
"Aku jauh-jauh datang dari kota naik mobil jam-jaman cuma mau ketemu sama anak-anakku sendiri. Masa kamu tega banget nggak mengizinkan aku lihat wajah mereka sebentar saja?"
Abi memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas berat. Rasa lelah menghadapi keras kepalanya Dinda membuat dadanya terasa sesak. Namun, ia juga tahu mengusir Dinda dengan emosi hanya akan membuat suasana makin keruh dan mengganggu ketenangan anak-anak di dalam.
"Ya sudah," putus Abi akhirnya dengan nada pasrah dan dingin. "Kamu boleh lihat mereka. Tapi ingat, kalau mereka ndak mau dekat atau takut sama kamu, jangan sekali-kali kamu paksa. Aqil lagi sakit, keningnya habis dijahit dan butuh istirahat."
Dinda yang tadinya hendak tersenyum puas, mendadak menghentikan gerakannya. Keningnya berkerut tajam mendengar kalimat terakhir Abi.
"Apa?! Keningnya dijahit?!" seru Dinda.
"Tuh kan! Kamu itu memang ndak becus jaga anak-anak, Mas! Masa anak kecil sampai luka parah dan dijahit begitu?! Kalau dari dulu mereka ikut aku, ndak bakal ada kejadian mengerikan seperti ini!"
Abi terkekeh sinis, menyilangkan tangan di dada sambil melangkah maju satu tapakan, menatap lurus ke dalam mata mantan istrinya dengan raut wajah penuh cemoohan.
"Ngaca sendiri, Dinda!" tembak Abi telak dengan suara rendah namun menusuk.
"Siapa yang sebenarnya ndak becus jadi orang tua? Saya yang tiap hari ada menjaga dan merawat mereka sampai mereka tumbuh sehat, atau kamu yang tega menelantarkan mereka dari bayi demi kesenanganmu sendiri?!"
Tanpa mempedulikan wajah Dinda yang merah padam karena malu, Abi membalikkan badan dan melangkah menuju kamar tempat Aqil beristirahat. Dinda mengekor dari belakang dengan langkah dihentak-hentakkan, mencoba menutupi rasa canggungnya.
Abi mengetuk pintu kamar pelan sebelum membukanya. "Bu... Dinda mau lihat anak-anak sebentar."
Melangkah masuk dengan dagu terangkat, mencoba menampilkan kesan ibu yang anggun dan penyayang di depan Bu Marni, Bu Sulastri, dan Kayla.
Saat itu, Aqil kebetulan sedang diantar Kayla ke kamar mandi belakang untuk buang air kecil. Di atas kasur, hanya ada Akbar yang sedang duduk menikmati mangkuk sup hangat buatan Kayla.
Dinda yang tidak pernah merawat anak-anaknya sejak bayi, langsung mengumbar senyum paling manis. Tanpa ragu, ia melangkah mendekati Akbar dan merentangkan kedua tangannya.
"Aqil... Sayang! Ini Mamah, Nak!" seru Dinda dengan nada penuh kerinduan yang dibuat-buat. "Kasihan banget anak Mamah keningnya sampai dijahit gini... Sini sama Mamah, Nak!"
Akbar yang sedang memegang sendok seketika tertegun. Ia menghentikan makan, mengerutkan kening dengan raut bingung sekaligus takut.
"Wong edan," desis Bu Marni tajam. "Anak sendiri saja ndak kenal! Yang kamu panggil Aqil itu Akbar! Anak yang dulu kamu lempar waktu masih umur satu tahun!"
Dinda tersentak hebat. Tangannya yang terulur seketika membeku di udara. Wajah mewahnya merona merah padam, menahan malu.
"A-Akbar?" gagap Dinda, mencoba menutupi rasa salahnya dengan mengamati wajah Akbar yang kini tumbuh makin mirip dengan Abi.
"M-maksud Mamah... Mas Akbar..."
Belum sempat Dinda mengoreksi ucapannya, pintu kamar mandi di sudut ruangan terbuka. Kayla keluar sambil menuntun tangan kecil Aqil yang keningnya masih terbalut perban putih.
"Kakak Kayla, Aqil mau tambah supnya lagi..." cicit Aqil polos.
Dinda menoleh patah-patah ke arah pintu kamar mandi, memandangi sosok bocah mungil berperban yang baru saja keluar bersama Kayla. Matanya berkedip ragu, menyadari kekeliruan fatalnya.
Abi melangkah maju, menyilangkan tangan di dada dengan kekehan dingin yang menusuk ulu hati Dinda.
"Hebat ya, kamu," sindir Abi pelan namun penuh penekanan. "Katanya jauh-jauh dari kota karena rindu setengah mati... Tapi bedain mana Akbar mana Aqil saja kamu ndak sanggup."
"M-maksud aku... anak-anak sudah besar, Mas," kilah Dinda gagap.
"Aku... aku kan sudah lama nggak ketemu, wajar kalau lupa mukanya!"
"Lupa muka anak sendiri yang kamu kandung sembilan bulan?!" tembak Bu Marni sengit dari sudut kasur. "Ndak ada ibu di dunia ini yang lupa sama wajah anak kandungnya sendiri, Dinda! Kalau ndak ingat, itu artinya dari awal kamu memang ndak pernah simpan mereka di hatimu!"
"Kakak... Tante itu siapa? Kok marah-marah?" bisik Aqil pelan.
"Nggak apa-apa, Sayang. Tante cuma mau mampir sebentar. Ayo, kita lanjut makan supnya ya."
"Tante ini siapa sih, kok datang-datang langsung marah-marah?" cetus Akbar.
"Akbar ndak suka!".
"Mas Akbar! Ini Mamah, Nak! Lihat muka Mamah!" Dinda setengah berteriak dengan nada mendesak, matanya menatap Akbar lekat-lekat. "Mamah yang melahirkan kamu! Ayo bilang, ini Mamah!"
"Nggak mau! Lepas! Ayah... Tante ini jahat!" teriak Akbar ketakutan, badannya gemetar dan mencoba meronta dari cengkeraman tangan Dinda.
Melihat Dinda yang mulai hilang kendali dan membuat kedua anaknya ketakutan, rahang Abi mengeras seketika. Kesabarannya sudah benar-benar habis.
Dengan gerakan cepat dan sigap, Abi melangkah maju. Tangan kekarnya mencengkeram lengan Dinda, menarik wanita itu berdiri dan menjajarkannya menjauh dari Akbar.
Abi langsung menyeret Dinda keluar dari kamar tanpa ampun. Dinda meronta-ronta sambil memekik marah.
"Mas! Kamu kasar banget sih sama aku?!" pekik Dinda.
Aku ini cuma mau anak-anak kenal sama ibunya!"
Abi tidak membalas dengan bentakan. Ia menghembuskan napas panjang, mencoba meredam emosi yang membakar dadanya.
"Ke mana saja kamu selama ini?"
"Ya salah kamu sendiri, Mas! Kenapa dari kecil kamu ndak pernah mengenalkan aku ke mereka?! Kalau dari dulu kamu cerita tentang ibunya, mereka ndak akan takut dan asing seperti tadi!"
"Kamu lupa, hm?" bisik Abi.
"Dulu saya pernah ngemis-ngemis sama kamu agar kamu mau balik... demi anak-anak. Saya bahkan tutup mata soal kamu selingkuh, cuma demi Akbar sama Aqil punya ibu. Tapi kamu ke mana? Kamu tetap pilih pergi."
Wajah Dinda mulai berubah pias, bibirnya terkatup rapat.
"Bertahun-tahun kamu pergi, kamu bahkan ndak pernah sekalipun datang cuma buat menjenguk mereka," lanjut Abi penuh penekanan. "Dan sekarang lihat apa yang terjadi. Anak-anak ndak kenal sama kamu. Jadi jangan pernah salahkan saya, atau salahkan Akbar sama Aqil... tapi coba tanya ke dirimu sendiri."
Abi menghembuskan napas berat lalu menunjuk ke arah pintu keluar.
"Mending kamu pergi saja sekarang," tegas Abi dingin.
"Anak saya sedang sakit dan kehadiranmu cuma bikin anak-anak saya takut."