Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh Sumur-2
Jantung Arkan masih berdegub kencang. Tetapi ia tak punya waktu untuk menurutkan rasa takutnya. Ia bergegas membawa kendi berisi air dan menuju ke sumur keempat.
Arkan menatap langit malam. "Aku harus segera mendapatkannya. Tidak boleh terdahului fajar," gumamnya dengan nafas yang tersengal.
Ia berjalan menuju hutan yang rimbun, dan sesekali kakinya harus terperosok di dalam tanah gambut yang basah.
Traaaak!
"Aaaarrgh!"
Pekiknya. Dan hampir saja air dalam kendi tertumpah. Ia meletakkan kendi diatas tanah dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Kemudian ia berusaha mencabut kakinya yang masuk ke dalam tanah gambut basah.
Nafasnya kian tersengal, dan saat ia mencabut kakinya, aroma busuk dari kayu mati tercium sangat menyengat.
Ia kembali berjalan terpincang menyusuri hutan, dan menggendong kendi tersebut dengan cukup erat.
Sumur keempat berada di tepi hutan, dan dekat dengan batu yang berukuran sangat besar.
Sumur tersebut di jaga anjing berwarna hitam, dan matanya merah menyala. Sedangkan bagian bulunya berdiri.
Setelah jauh berjalan, akhirnya Arkan tiba di depan sumur. Ia berhenti dari jarak sepuluh meter.
Anjing itu menatapnya dengan tajam, sembari menggeram. Ia tidak menggonggong kepada Arkan, tetapi memberi signal jika tidak siapapun diininkan untuk mengambilnya.
Arkan masih tetap berdiri, dan tidak mencoba untuk lari. Ia duduk bersujud dan meletakkan kendi.
“Bismillah... Aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya mau menolong.”
Anjing itu mendekatinya. Kemudian mencium kendi. Lalu... Ikut duduk. Ekornya mengibas sekali.
Arkan merasa lega. Ia beranjak bangkit, lalu menimba. Airnya terasa sangat dingin sekali. Sampai tangannya berasa kebas.
Setelah berhasil mendapatkannya, ia menoleh ke arah sang Anjing Penjaga. "Terimakasih, sudah mengijinkanku," ucap Arkan.
Anjing itu hanya menggeram, dan Arkan tersenyum tipis.
Air keempat sudah ia dapatkan. Kini ia harus mencari tujuh sumur tua lainnya.
Kali ini, Arkan sedang menuju sumur kelima, yaitu sumur di rumah betang milik Damang Jaya.
Sumur ini sangat berbahaya, sebab rumah betang masih sangat terjaga.
Arkan merangkak lewat belakang. Begitu ia mengambil timba, tiba-tiba saja lampu di bagian dapur menyala.
"Siapa di sana?!" teriak suara serak yang mirip dengan seseorang, dan Arkan merasa dejavu.
Arkan menahan nafas. Bersembunyi di balik batang pohon ulin.
Dari dalam rumah, bayangan seoeang gadis berambut panjang, yqng tak lain adalah Dayang Sari sedang berjalan menuju ke sumur.
Ia memegangi lehernya yang sakit. Tampaknya ia ingin minum dari sumur, sebab rasa haus yang tak kunjung hilang.
"Sakit, haus.... Erangnya," ia sangat ingin minum darah. Tetapi kepalanya tak dapat terlepas, karena minyak merah itu di curi Arkan.
Mata Dayang terlihat merah. Hidungnya mengendus-endus. Mencari sesuatu yang mencurigakan.
Ia menimba air, meminumnya berulang kali. Tetapi rasa hausnya tak kunjung hilang.
Arkan berdoa dalam hati. Keringat dingin bercucuran. Ia menatap langit, berharap jika masih di beri waktu untuk mendapatkan air kelima.
Kraaak!
Arkan menginjak ranting kering, dan membuat Dayang Sari merasa curiga.
Dayang Sari berjalan menghampiri pohon ulin. Setiap langkahnya, membuat Arkan semakin berkeringat dingin.
"Siapa?!" tanya Dayang Sari dengan suara serak.
Arkan diam membisu, dan membekap mulutnya sendiri. Degupan jantungnya memburu, dan tiba-tiba Dayang Sari meraskan perih pada lehernya. Ia berlari masuk kembali ke dapur.
Arkan menatapnya dengan hati yang begitu tersayat. Ia mendengar suara sang gadis merintih kesakitan di dalam kamar.
"Maafin aku, Dayang," ucapnya dengan wajah sedih.
Kemudian ia buru-buru menimba airnya dan mengisi kendi. Lalu bergegas pergi meninggalkan rumah betang milik Damang Jaya.
Saat ia menerobos jalanan setapak, sosok kepala terbang dalam wujud tak asap hitam sedang mengejarnya dari arah belakang.
Desiran angin berhawa panas terasa cukup kuat datang menderu.
Arkan yang menyadari hal tersebut, langsung berjongkok, meletakkan kendi diatas rerumputan. Ia mencabut mandau pemberian Atok Guri yang terselip di pinggangnya.
Saat serangan asap hitam itu menyerangnya dari arah belakang, ia mengayunkannya dengan cepat, dan menebas sosok asap hitam tersebut.
Craaassh!
Tebasannya berhasil mengenai usus sosok asap hitam tersebut.
Suara pekikan terdengar melengking, membuat lolongan anjing di tepi Sungai Mahakam saling bersahutan.
Nafas Arkan terasa berat. Ia terlihat tersengal, dan bergegas mengangkut kendinya, lalu beranjak pergi menuju makam tua.
Arkan mempercepat langkahnya. Ia tak peduli dengan onak berduri yang menggores lengannya. Ia terus menerobos kegelapan malam dan juga semak belukar.
"Huh, hih, huh," suara nafasnya yang cukup berat dan keringat mengalir di pelipis menjadi saksi perjuangannya.
Ia tiba di depan makam tua yang tampak sangat semak.
Kali ini, tantangan jauh lebih besar.
Sumur ini berada di tengah kuburan tua. Nisan-nisannya sudah tampak miring. Dan usia makam sudah mencapai ratusan tahun.
Arkan menghampiri sumur. Ia mengambil gayung yang terbuat dari batok kelapa, dan mulai mengambil air.
Akan tetapi, saat gayung baru saja menyentuh air, seluruh kuburan bergetar.
Tanah mengalami retak. Dari tiga tua tersebut, keluar tangan-tangan yang hanya tulang belulang.
"Hah!" Arkan tersentak kaget. Belum semoat ia berlari, tangan itu sudah mencakar kakinya dengan cakaran yang tajam.
“Berikan tubuhmu....” suara-suara beeat ratusan tahun menggema di langit malam.
Arkan dikerumuni. Mandau ditangannya ia tebas ke kiri dan ke kanan. Tetapi tangan tulang terlalu banyak mengeroyoknya.
Salah satu tangan mencengkeram kakinya yang terluka. Menariknya ke dalam tanah.
Arkan menjerit kesakitan. Akan tetapi, ia mengingat doa dari Atok Guro.
“YA QAHHAR... YA JABBAR... PUTUSKAN IKATAN DARAH DENGAN DARAH!”
Ia menghantam telapak tangannya ke atas tanah.
DUG!
Cahaya putih menyambar dari tanah. Tangan-tangan tulang terbakar jadi abu.
Arkan sempoyongan. Nafasnya kembali tersengal. Dengan menahan rasa sakit, ia mengambil air dengan sisa tenaganya.
Nafasnya terasa pega, saat ia berhasil mengambil air keenam.
"Tinggal air ketujuh," gumamnya, sembari mengusap cairan pekat darah yang mengalir di bagian luka pergelangan kakinya.
Ia kembali berjalan menuju sumur ketujuh, dan itu terdapat di dekat rawa yang banyak dengan hewan penghisap darahnya.
Saat ditengah perjalanan, ia terpeleset. Kendi hampir saja terjatuh. Ia menggigit tali pengikat leher kendi yang terbuat dari akar, bergelantungan dengan satu tangan di dahan pohon.
Di atas mulut sumur, sudah menunggu para binatang pacet berukuran raksasa, dengan mulut terbuka bagaikan vakum cleaner dan siap menelan tubuh Arkan.
Arkan bergidik ngeri, dan ia berusaha untuk mengambil garam dinsaku pakaiannya dengan menggunakan satu tangannya, dan dengan cepat menaburkannya ke arah para pacat raksasa.
Ceeeeesssh!
Para pacat langsung mati, dan membuat Arkan melompat dari dahan pohon.,
Arkan dengan gerakan cepat menimba. Air di sumur ini berkilau seperti perak dan terasa cukup dingin, tetapi bersifat tenang.
Air ketujuh ia dapatkan, dan ia mengusap keringat yang mengalir di wajahnya.
Begitu kendi penuh, langit menggelegar. Petir menyambar dengan cukup kuat.
Duuuuuaar!
Kilatannya menghantam dahan pohon, dan terbakar.
Arkan menunduk. Kendi dipeluknya dengan cukup erat.
Duaaar!
Petir kembali menyambar, dan membuat Arkan memilih untuk berlari. Malam semakin beranjak, ia tidak ingin terlambat tiba di pondok.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺