Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Angkanya Tidak Berubah
Ruby hanya perlu mengirim pesan kepada Kakaknya yang berada di perkebunan. Leo baru kembali setengah tahun yang lalu.
Dia beralasan kepada komandannya, jika dia pulang untuk mencari keluarganya. Dan saat ini dia bertugas sebagai ketua penjaga keamanan di perkebunan.
Bukan cuman itu, setiap kali Ruby menyelamatkan orang atau ada bersedia gabung dengannya, maka Leo yang akan datang menjemput bersama dengan beberapa orang lainnya di pinggir kota.
"Kalian kapan pulang?" tanya Leo setelah menyerahkan perbekalan yang dia bawa.
"Kak, aku juga nggak tahu. Tapi mungkin kali ini kami perginya agak lama. Soalnya, perjalanan kami makin lumayan jauh!" jelas Ruby.
"Hmm.. Baiklah, tapi ingat, menolong memang tujuan utama, tapi nyawa kalian juga sangat penting. Jadi, tetaplah berhati-hati!" ucap Leo memberi nasehat kepada mereka berlima.
"Kak! Aku tau batasku, aku juga sayang nyawa loh!"
Leo menggeleng sambil mengusap kepala adiknya. Satu tahun ini adiknya mengalami banyak perubahan, sekarang terlihat sangat pemberani dan tangguh.
"Kalian jangan takut! Ini Kakakku, dia akan membawa kalian semua ke pangkalan, aku nggak bisa ikut!" ujar Ruby kepada penyintas yang kemarin mereka tolong.
"Kami. Akan ikut!" ucap pria yang bertanggung jawab di kelompok tersebut. Dia setuju tanpa ragu, melihat Leo membawa banyak stok perbekalan saja sudah membuatnya tergiur.
"Benar. Kami akan bekerja dengan baik. Asal ada tempat tinggal dan makanan!" sela seorang wanita sambil memeluk anaknya.
"Ya. Kami pasti membunuh zombie sebanyak mungkin untuk ditukar makanan!"
Leo menatapnya dengan raut wajah bingung, tapi bukan saatnya untuk bertanya. "Tenang saja! Kalian nggak perlu membunuh Zombie lagi,"
"Oh. Jadi kami bekerja apa?" tanyanya.
Ruby mengerti kebingungan mereka, karena ada beberapa pangkalan yang baru memberi makanan jika sudah membasmi zombie.
Tapi mereka ini, ada wanita tua dan anak-anak, jika hanya mengandalkan pria dewasa, jatah makan itu tentu tidak cukup.
"Nanti kalian akan tau sendiri. Setelah sampai di sana, kalian bisa memilih untuk tinggal atau pergi!"
"Baik. Kami semua ikut!"
"Bagus. Kita berangkat sekarang!" Leo membawa dua mobil kecil.
Sebelum pergi, dia kembali mengingatkan Ruby dan yang lainnya untuk selalu berhati-hati.
...----------------...
Di Sisi lain kota, sekelompok orang militer sedang beristirahat di sebuah bangunan kosong.
Mereka adalah petugas yang datang menyelamatkan orang-orang yang di atas gedung. Mereka tidak mungkin turun menerobos ribuan zombie.
Jadi terpaksa mengikuti saran dari para petugas untuk turun menggunakan tali, salah satu dari mereka naik mengunakan pengait, dan sisa orang yang dibawa menjaga keadaan.
Orang-orang yang di atas gedung berhasil memblokir pintu menuju atap. Tapi banyak yang berhasil masuk sehingga mereka melepas tembakan.
Dan saat pintu jebol, mereka sudah turun menggunakan tali.
"Kalian belum mengatakan kejadian kemarin! Kenapa membakar daging di atas gedung? Kalian tahu sendirikan itu sangat bahaya, bukan cuman zombie yang terpancing, tapi juga orang-orang jahat di luar sana!"
"Benar. Kalian sengaja atau bagaimana?" tanya Komandan dengan tatapan dingin.
"Itu.. Kami mengira aromanya nggak kecium kalau lokasinya sangat tinggi!" ucapnya dengan mata yang tampak gelisah.
"Hmm.. Saat ini, penciuman orang lebih tajam dari anjing!" katanya dengan sarkas. Dia bukan anak kecil yang bisa percaya begitu saja.
Kelompok itu ada enam orang, semua pria dengan tubuh yang lumayan besar. Mereka menunduk, tidak berani mengeluarkan suara.
"Katakan!"
"Sebenarnya, Kami sedang menjebak seseorang!" ucapnya dengan takut.
"Menjebak? Apa maksudnya?" tanya Kemandan. Meski hukum tidak lagi berlaku, tapi dia masih berusaha untuk mengurangi yang namanya saling membunuh.
Beberapa hari yang lalu, mereka tidak sengaja melihat Ruby dan yang lainnya sedang beristirahat di salah satu gedung kosong.
Mereka melihat, perbekalan mereka sangat banyak. Dan yang membuatnya terkejut adalah Ruby masih memiliki beberapa roti dengan Kamasan yang masih utuh.
Sedangkan makanan seperti itu sudah lama habis. Jikapun masih ada, pasti sudah lama berjamur. Dan bukan cuman itu, ada juga beberapa jenis makanan ringan.
Komandan dan rekan timnya tampak sangat terkejut, tapi mereka tidak langsung percaya begitu saja.
"Jadi kalian sengaja membakar daging untuk memancing zombie. Setelah kelompok itu mati, perbekalan itu untuk kalian.?" tebaknya.
"Eh bukan seperti itu..!" ucapnya membantah. "Setelah mereka kewalahan, kami baru datang untuk membantu, tapi tak disangka kelompok itu sangat kuat!"
"Hahaha sial sekali... Aku paham sekarang,!" salah satu dari mereka tertawa terbahak-bahak setelah mendengarnya.
"Ya. Kami benar-benar sial. Kelompok itu bahkan langsung membalasnya.!" ucapnya dengan nada penyesalan. Dia hanya ingin sedikit makan, ada anak-anak kecil di benteng mereka.
"Jadi maksudnya, mereka yang memancing zombie itu masuk ke dalam gedung?" tanya Komandan.
"Ya. Mereka juga menggunakan daging.!" perutnya langsung keroncongan saat mengingat aroma itu lagi.
"Haah.. Sudahlah... Aku tau, sekarang banyak orang saling membunuh untuk sesuap nasi!" ucap Komandan sambil beranjak. "Kalian berapa orang? Kenapa tidak gabung ke pangakalan?"
"Kami ada sekitar 15 orang! Dulu, kami bertahan di pangkalan. Tapi dua bulan terakhir, perbekalan sudah mulai menipis, kami terkadang nggak kebagian, jadi memutuskan untuk pergi!"
Komandan dan timnya terdiam, di pangakalan militer juga mengalami hal yang sama. Ini baru tahun pertama, tapi mereka sudah mulai kehabisan makanan.
"Kenapa tidak gabung di pangakalan Biru?" tanya Komandan. "Di sana, Masih bisa menyediakan makanan.
"Pangakalan Biru? Kami belum pernah dengar!" ucapnya dengan jujur.
"Di sana aturannya sedikit ketat. Pemimpinnya seorang gadis. Kami dan beberapa tim pernah ditugaskan untuk bertugas di pangkalan tersebut!" ujar salah satu dari petugas.
"Seperti apa aturannya?"
"Jika kalian ingin mendapatkan jatah! Setiap orang harus keluar untuk memburu zombie. Kalian tidak bisa melakukan kecurangan, karena ada yang mengawasi!"
"Ini... Ini sebenarnya sangat sepadan. Lalu, apa ada syarat yang lain?"
"Tidak ada. Jika kalian ingin pergi ke sana, besok ikutlah dengan kami, jalannya kita searah!"
"Baik. Kami akan membicarakannya terlebih dahulu!" Setelah itu, mereka juga harus balik untuk membicarakannya dengan kelompok mereka.
Mereka akhirnya bubar, tapi masih berada dalam satu gedung. Para petugas Militer itu sedang mencari obat-obatan untuk di beberapa pangkalan yang sudah mulai kehabisan stok.
Komandan yang bernama Kai sedang duduk sambil melihat layar hologram di hadapannya. Semenjak dia masuk ke dalam buku, angka 0% sebagai persentasi belum bergerak sama sekali.
Ya. Dia sama seperti Ruby. Tapi dia datang setelah sebulan virus zombie menyebar. Dia terbangun dengan tubuh terluka, mungkin pemilik tubuh tidak selamat dalam sebuah insiden.
Dia saat dirinya masih kebingungan, tiba-tiba layar hologram muncul di hadapannya. Tidak ada suara, hanya sebuah tulisan, yaitu: jika ingin kembali maka dirinya harus membantu seseorang untuk menyelesaikan misi.
"Haaahh... Sebenarnya misi apa? Siapa orang itu? Kenapa kau tidak memberiku petunjuk sedikitpun?" gumamnya dengan lelah.
Kai sempat mengira, pangkalan Biru itulah yang sedang menjalankan misi. Karena harus membunuh zombie untuk mendapatkan jatah makan.
Apalagi, pangkalan tersebut tidak pernah kehabisan stok. Dia mengira, pemimpinnya juga mendapatkan cheat seperti dirinya. Tapi, saat dia bertugas di pangakalan itu presentasinya tidak ada perubahan.
"Jangan-jangan....!"
.
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka