Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.
Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.
Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SpeedRush
Tawa dan canda terdengar dari ruang tamu.
Silvia keluar dari kamarnya dengan headset yang masih menggantung di leher.
Ruang tamu.
Minnie duduk di samping Nelia sambil memegang buku sketsanya. Ia membolak-balik seluruh alur cerita komik dengan teliti, sesekali tertawa, sesekali menunjukkan eskpresi datar.
Silvia mengerdarkan pandangan ke seluruh ruangan, tetapi tidak menemukan Adrian.
Ia pun bertanya heran, “Adrian sudah pulang?”
Tatapannya tanpa sadar jatuh ke arah pintu kamar di sudut ruangan. Minnie perlahan meletakkan buku sketsa itu, lalu menoleh kepada Silvia, “Adrian sudah pergi.”
Silvia masuk ke dapur dan mengambil segelas air. Setelah itu, ia berjalan santai menuju karpet ruang tamu. Kakinya yang jenjang berhenti di samping Nelia.
Nelia langsung bersandar kepadanya. Rambut panjangnya yang halus jatuh dan menyentuh kulit Silvia. Silvia menopang kepalanya dengan satu tangan, lalu mengusap rambut Nelia dengan lembut, “Gambarnya sudah sampai mana?”
Nelia tersenyum sambil mengangkat kedua tangan dan meregangkan tubuh, “Kurang lebih sudah selesai.”
Ia kemudian menoleh kepada Minnie, “Sil, kamu belum tahu. Ternyata Kak Minnie yang kelihatannya dingin itu juga seorang penggemar berat novel!”
Minnie tersenyum tipis, “Aku juga nggak menyangka. Ternyata penulis terkenal Eunshi adalah Nelia yang kelihatannya imut dan menggemaskan.”
Nelia terkekeh sambil mengacak rambutnya yang berantakan, “Hehe.”
“Kruuk—”
Suara geraman pelan tiba-tiba terdengar dari perut Nelia.
“Ya ampun!”
Nelia buru-buru menutup perutnya dengan kedua tangan. Wajahnya langsung memerah. Ia perlahan mengangkat kepala, “Kalian lapar nggak?”
“Hahahahha…”
Minnie langsung memegangi perutnya sambil tertawa sampai tubuhnya hampir terjatuh ke lantai, “Nelia, kenapa kamu bisa selucu ini sih.”
Nelia mengembungkan pipinya dengan kesal, lalu bangkit, “Kak Minnie, jangan ketawain aku lagi lah.”
Namun, ketika berbalik, ia melihat sudut bibir Silvia yang sedikit terangkat. Nelia langsung menghentakkan kakinya di atas karpet, “Silvia, kamu jangan ikut ketawa!”
Ia berjalan menghampiri Silvia, lalu menarik lengannya dan menggoyangkannya ke kiri-kanan.
“Ayo! Ganti baju cepat!”
Pusat perbelanjaan dipenuhi lautan manusia.
Nelia berdiri di tengah-tengah Silvia dan Minnie, satu tangannya menggandeng masing-masing.
Mereka berkeliling, makan, dan bersenang-senang tanpa terasa.
Mata Nelia tiba-tiba berbinar ketika melihat sebuah toko di depan.
“Sil, ayok kita ke sana!”
Silvia mengikuti arah telunjuk kecil Nelia.
Itu adalah sebuah butik khusus pakaian musim dingin. Sebagian besar pakaian yang dijual di sana merupakan koleksi khusus yang dibuat berdasarkan pesanan.
Dulu, seluruh pakaian musim dingin Chris dibuat khusus oleh desainer dari butik ini.
Sebelum Silvia sempat bereaksi, Nelia sudah menariknya masuk ke dalam toko.
Begitu melihat Silvia, manajer toko langsung berjalan menghampiri dengan mata berbinar.
“Nona Silvia, Anda datang.”
Silvia hanya mengangguk kecil.
Nelia yang berdiri di sampingnya justru tidak tahan untuk tidak bertanya. Ia menarik lengan Silvia dan berbisik di telinganya, “Sil, kamu sering ke sini? Aku nggak pernah lihat kamu pakai jaket dari merek ini.”
Minnie berjalan mendekati mereka sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, “Ini merek favorit Chris.”
Nelia baru tersadar, ia menepuk kepalanya sendiri.
Dulu Chris memang pernah membelikan pakaian dari merek ini untuknya. Nelia diam-diam melirik Silvia dengan perasaan bersalah, “Maaf…”
Silvia tersenyum tenang, “Nggak apa-apa. Semuanya sudah berlalu kok.”
Nelia kemudian berjalan menuju sebuah manekin yang mengenakan jaket musim dingin berwarna merah muda pucat. Ia menyentuh permukaan kainnya, “Sil, yang ini kelihatan bagus.”
Manajer di samping mereka langsung menyahut, “Memang bagus. Ini koleksi jaket musim dingin terbaru kami. Bahannya menggunakan material terbaik yang tersedia di pasaran.”
Nelia melirik Silvia yang ternyata sama sekali tidak menolak, “Ambilkan dua ukuran S untuk kami coba.”
Manajer segera memberi isyarat kepada pegawainya. Tak lama kemudian, dua jaket ukuran S dibawa ke hadapan mereka.
Nelia berdiri di depan cermin dan memperhatikan dirinya cukup lama.
Kemudian ia melihat Silvia yang mengenakan jaket dengan model yang sama persis, senyumnya langsung mengembang, “Sil, kita beli yang ini, ya?”
Minnie yang duduk di sofa depan ruang ganti mengangkat pandangan.
“Nelia, kamu juga mau beli?”
“Tentu!”
Nelia melepas jaket tersebut, “Ini jaket couple sahabatku sama Silvia. Nanti kalau aku pergi ke luar negeri buat mengunjunginya, aku bakal pilih pergi pas musim dingin. Kita berdua pakai jaket ini dan jalan-jalan sampai semua orang lihat!”
Silvia menatap wajah Nelia yang penuh tawa. Ujung jarinya tanpa sadar menggenggam bagian bawah jaketnya erat-erat.
Ia tidak pernah memberitahu Nelia—
Kali ini, setelah pergi, bahkan dirinya sendiri tidak tahu kapan bisa kembali.
Ting Su Residence
Nelia langsung ambruk di sofa. Ia memejamkan mata dengan lelah. Bahkan untuk menggerakkan jarinya saja rasanya malas, “Belanja ternyata lebih melelahkan daripada menggambar…”
Silvia menata barang-barang yang baru mereka beli satu per satu, ia menoleh kepada Nelia, “Siapa suruh kamu keliling begitu banyak toko sepanjang sore?”
“Tapi…” Mata Nelia masih terpejam, namun sudut bibirnya perlahan terangkat, “Kita juga nggak tahu kapan lagi bisa beli baju couple sahabatan bareng-bareng…”
Gerakan Silvia terhenti sejenak, ia menunduk melihat kantong belanja di tangannya.
Jaket musim dingin berwarna merah muda pucat terbaring tenang di dalamnya.
Setelah terdiam cukup lama, Silvia baru menjawab pelan,
“Hmm.”
Nelia membalikkan tubuhnya dan membenamkan wajah ke bantal sofa, “Kalau kamu sudah sampai luar negeri, kita harus video call setiap malam.”
“Baik.”
“Pas Tahun Baru Imlek juga harus pulang.”
“…”
Silvia tidak menjawab.
Nelia perlahan membuka matanya, “Sil?”
Silvia menundukkan bulu matanya dan kembali melipat jaket tersebut dengan rapi, “Aku akan berusaha.”
Udara terasa lembap dan hangat.
Silvia mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk. Sebuah laptop yang sudah menyala telah diletakkan di atas meja. Silvia mengetik beberapa kata di halaman web.
Begitu ia menekan tombol enter, halaman tersebut langsung berpindah. Dalam sekejap, layar komputer berubah menjadi hitam.
Detik berikutnya—
Tampilan hitam yang sudah sangat dikenalnya kembali muncul di layar. Di tengah layar, tulisan “SpeedRush” perlahan muncul. Huruf-huruf berwarna hijau mulai bermunculan di layar.
【Pengguna baru terdeteksi sedang masuk…】
【Proses autentikasi identitas…】