Indonesia
NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Hutang sang pengemis

Jayengrana tidak mendesak tombaknya turun.

Pengemis Tua berdiri santai sekitar sepuluh langkah di hadapan mereka. Kendinya masih menyampir di pinggang, seolah kedatangannya ke tengah rimba malam ini semata-mata untuk mencari tempat meneguk arak.

"Kemelut apa yang kau maksud?" tanya Jayengrana bergeming.

Pengemis Tua mengibaskan tangannya, menunjuk ke kegelapan di balik punggung Jayengrana. "Bukan ancaman yang baru akan tiba... tapi bahaya yang telah mengekor dari belakang kalian."

Jayengrana menoleh tajam. Suasana hutan tampak sepi membisu. Namun saat ia membangkitkan Mata Pemburu, penglihatannya menembus kepekatan malam.

Di antara kerapatan batang pohon, ia mendeteksi jejak-jejak tapak kaki yang masih basah. Belasan ranting patah berserakan di atas ubin tanah.

"Mereka mengepung kita," desis Jayengrana.

Pengemis Tua mengangguk tipis. "Bagus. Pengamatanmu masih cermat."

"Berapa banyak raga yang mengejar?"

"Belasan perwira. Mungkin lebih," sahut Pengemis Tua seraya menumpahkan seteguk arak ke tenggorokannya. "Dan ada satu sosok yang amat sangat kusarankan untuk tidak kau hadapi malam ini."

Jayengrana langsung menangkap maknanya. "Pria bertopeng kayu itu?"

Pengemis Tua membisu, namun senyum jenakanya perlahan memudar.

Istri Jayengrana berdiri perlahan seraya menahan nyeri. "Siapa gerangan lelaki tua ini?"

"Sosok yang kerap membukakan jalan untuk kita," jawab Jayengrana rendah.

Pengemis Tua terkekeh pelan. "Jangan terburu-buru meletakkan kepercayaan. Aku tak pernah mengklaim diriku sebagai orang bijak."

Jaka justru melangkah mendekati lelaki tua itu tanpa ragu. "Mbah Pengemis..."

Lelaki tua itu menunduk. "Rupanya nyawamu masih merekat kuat, Bocah."

"Aku berhasil keluar," sahut Jaka polos.

Pengemis Tua berpaling menatap Jayengrana, lalu mengunci pandangannya pada sang istri. Raut wajahnya berubah amat serius.

"Kalian bertiga harus segera bergerak menembus sisi timur. Jangan pernah melangkah menuju Kotaraja—seluruh jalur utama di sana telah diblokir rapat."

"Lantas ke mana rute yang aman?"

"Desa Watu Ireng," tegas Pengemis Tua. "Sebuah dusun terpencil di kaki pegunungan. Di sana ada figur yang sanggup menyembunyikan kalian dari buruan kerajaan."

"Siapa sosok itu?"

"Seorang mahaguru silat tua bernama Ki Sura."

Jayengrana mencatat nama itu dalam ingatannya. "Apa yang membuatmu yakin ia bisa dipercaya?"

"Kau tak perlu memusingkan hal itu," sahut Pengemis Tua seraya menyunggingkan senyum tipis. "Cukup sebutkan namaku padanya. Ia pasti paham."

Krek!

Bunyi ranting patah berderak dari jarak dekat.

Pengemis Tua meletakkan kendi araknya ke tanah. "Musuh sudah menginjakkan kaki."

Jayengrana melangkah mundur, menyerahkan perlindungan istrinya kepada Jaka. "Jaga dia baik-baik."

Jaka mengangguk mantap.

Jayengrana mengayunkan langkah ke depan, mengoyak kain pembungkus tombaknya. Mata bilah pusaka itu memantulkan pendar rembulan secara tajam.

Sang istri menatap lekat punggung suaminya dari belakang. "Jayengrana..."

Jayengrana menoleh.

"Jangan biarkan nyawamu terenggut malam ini..."

Jayengrana menyunggingkan senyum hangat. "Aku sudah pernah melintasi ambang maut. Pengalaman itu terlampau menyakitkan untuk diulangi."

Wanita itu tertawa kecil menahan haru, walau genangan air mata masih merebak di pelupuk matanya.

Pengemis Tua terkekeh garing. "Baguslah. Kalian masih sempat bertukar kelakar." Ia menegakkan tubuhnya. "Namun bersiaplah, badai sesungguhnya telah tiba."

Dari kerapatan pepohonan, derap langkah teratur bergema nyaring. Satu... dua... lima... hingga puluhan bayangan manusia mengepung rimba. Para prajurit berzirah berbaris mengapit tombak dan pedang yang terhunus.

Di barisan paling belakang, sesosok raga melangkah anggun. Berbalut jubah hitam pekat, topeng kayu yang misterius, serta tongkat legam di genggamannya.

Sosok itu menyetop langkah di bawah pendar rembulan. Sorot matanya mengunci Jayengrana secara mutlak. Ia mengangkat tangannya, seketika seluruh barisan prajurit berhenti membisu.

"Jayengrana..." gema suaranya membelah malam.

Tubuh istri Jayengrana menegang seketika, sedang Jaka berlindung rapat di balik kain sampingnya. Pengemis Tua pasang posisi di samping Jayengrana.

Pria bertopeng kayu itu tersenyum dari balik ukiran kayu. "Kau menempuh pengembaraan yang teramat panjang semata-mata untuk kembali ke titik awal."

Jayengrana mensejajarkan posisi tombaknya. "Aku tak sedang berputar arah. Aku hadir untuk merebut kembali milikku yang tersisa."

Pria bertopeng memiringkan kepalanya. "Istrimu? Serta bocah asing itu?"

Jayengrana membisu.

Pria bertopeng terkekeh ganjil. "Sangat menggelikan. Kau bahkan tak mengenal silsilah anak itu, namun kau mempertaruhkan nyawa untuk memboyongnya."

"Ia adalah manusia tak berdaya," sahut Jayengrana dingin. "Alasan itu sudah lebih dari cukup."

Keheningan mencengkeram medan rimba. Simpul perjanjian di dada Jayengrana berdenyut hangat, namun Penunggang Perjanjian tak melontarkan bisikan apa pun—tak memberi asupan kesaktian maupun penunjuk jalan.

Jayengrana berdiri kokoh bersama tombaknya. Ia sadar betul bahwa laga malam ini bukan pertaruhan untuk memburu ganjaran gaib, tapi pemenuhan atas keteguhan nuraninya sendiri. Dan ia tak akan pernah menyesali pilihan itu.

Pria bertopeng kayu mengacungkan tongkat hitamnya ke udara. "Kalau begitu... mari kita persaksikan seberapa jauh ketahanan seorang raga biasa ketika seluruh rute pelarian telah dikunci."

Tok!

Ia mengetukkan ujung tongkatnya ke ubin tanah. Ketukan sederhana itu seketika memicu pergolakan alamiah di sekeliling hutan. Angin mendadak berhenti berdesir, satwa malam mendadak bungkam, dan kobaran api mungil menyala di ujung tongkat musuh.

Api itu tidak berwarna jingga, melainkan pendar hitam kemerahan yang pekat.

Pengemis Tua mengernyitkan dahi rapat-rapat. "Jayengrana..."

"Ya?"

"Jangan pernah membiarkan ujung tongkat itu menyentuh kulitmu!"

"Mengapa?"

Pengemis Tua mengunci pandangannya pada kobaran api legam tersebut dengan raut tegang. "Sebab kobarannya tak membakar raga fisikmu... tapi memusnahkan sesuatu di dalam jiwamu yang teramat mustahil untuk dipulihkan."

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!