Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tertinggal

"Kamu benar-benar sudah gila."

Jauh dari keramaian, mereka bersembunyi dengan sempurna. Ditambah dengan perhatian orang-orang yang terlalu fokus dengan acara yang sedang berlangsung, tentu menguntungkan keduanya.

"Tenanglah sedikit. Aku hanya merindukan adikku." Itu Isabella. Ia berhati-hati berdiri di belakang tiang penyanggah. Mengusahakan agar keberadaannya tidak terlihat.

Di balkon lantai dua, mereka berdua dalam keadaan bersembunyi penuh kehati-hatian, sedang mengawasi keadaan. Isabella Valencia, dari tempat persembunyiannya memperhatikan Aurora dengan sorot dipenuhi kerinduan.

Di sisinya bersiaga seorang pria. Adrian Grey. Pria yang dirumorkan sebagai tersangka yang membawa lari sang pengantin. Kenyataan itu tidak terelakkan karena memang demikian kisahnya. Isabella memang meninggalkan hotel bersama dengan Adrian beberapa jam sebelum pernikahan dimulai.

"Kamu sudah melihatnya. Sekarang mari pergi sebelum mereka benar-benar menyadari kehadiranmu."

Adrian adalah kekasih Isabella. Hubungan yang sudah terjalin jauh hari sebelum rencana pernikahan dengan Rozen Salvadore disepakati. Pernikahan dengan dalih kesepakatan antar dua keluarga yang tidak bisa dielakkan. Satu-satunya cara menghindar dari ikatan yang tidak dikehendaki adalah dengan melarikan diri.

Namun, Isabella sangat tidak menyangka bahwa perbuatannya justru menjadi malapetaka untuk orang lain. Aurora Valencia, wanita yang harus mengisi posisinya di altar.

Semenjak berita pernikahan itu berlangsung, walau bukan dengan dirinya, Isabella tidak pernah sedetik pun tidak menyalakan dirinya sendiri. Terlebih lagi saat dampak dari keputusan nekatnya itu harus dilimpahkan kepada saudari kembarnya seutuhnya. Keputusan yang berubah menjadi sebuah penyesalan yang begitu besar terhadap saudari kembar yang sangat disayanginya.

"Dia akan baik-baik saja, Bella. Pewaris Salvadore itu menjaganya dengan baik." Adrian menyentuh pundak kekasihnya dengan lembut. Tidak tahan menyaksikan bagaimana wanita yang dicintainya bergulat dengan rasa penyesalan seperti itu.

"Aku tidak sedang mengkhawatirkan Rozen Salvadore. Tapi musuh-musuh di belakangnya, terlebih lagi 'orang itu'.

Isabella memperlihatkan bagaimana kekhawatirannya yang begitu besar melalui sorot matanya yang memancarkan kegelisahan. Berurusan dengan keluarga mafia sudah sangat mengkhawatirkan. Ditambah lagi dengan ancaman-ancaman yang mungkin akan membahayakan nyawa adiknya. Isabella tidak menyangka akan menjadi serumit ini.

"Masih memikirkannya?” ucap Adrian dengan lembut.

"Tentu saja! Ingat bagaimana 'orang itu' menyingkirkan aku dari Rozen? Dia sungguh gila, Adrian. Aku khawatir 'orang itu' akan melakukan hal gila lainnya terhadap adikku." Suara Isabella bergetar serupa dengan seseorang yang sedang menahan tangis.

"Jangan khawatir. Kita tidak akan meninggalkan Aurora sendirian. Untuk itulah kita di sini, bukan?"

Isabella mengangguk. "Kamu benar. 'Orang itu' pasti juga ada di sini karena 'dia' begitu menggilai Rozen. Aku tidak akan membiarkan 'dia' menyentuh adikku."

"Maka jangan sampai ketahuan. Baik oleh Rozen maupun 'orang itu'

...***...

Hingga saatnya jamuan itu menyentuh ujung acaranya. Dan malam semakin larut ketika jamuan keluarga akhirnya seutuhnya berakhir.

Ballroom secara perlahan mulai ditinggalkan oleh tamu undangan. Bahkan satu per satu anggota keluarga Salvadore pun melakukan hal yang sama. Suara percakapan yang sejak tadi memenuhi ruangan berangsur menghilang, digantikan langkah para pelayan yang membereskan meja hingga peralatan makan.

Aurora menghela napas lega. Akhirnya wanita itu berhasil melewati malamnya dengan baik, tanpa terlalu merasakan tekanan seperti saat menghadiri jamuan keluarga Salvadore yang pertama.

Tapi tetap saja, Aurora tidak menyangka bahwa satu jamuan makan malam saja begitu menguras tenaganya hingga sebanyak itu.

"Capek?" Suara Rozen terdengar dari samping.

Aurora menoleh lalu memandang wajah tampan pria itu dengan sorot lembut.

"Sedikit."

Rozen mengangguk lantas berkata, "Kalau begitu kita pulang."

Aurora membalas dengan ikut mengangguk hingga mereka berjalan keluar dari ballroom bersama-sama.

Sesaat saja ketika melewati lorong menuju lift, langkah Aurora tiba-tiba berhenti. Rozen yang berjalan di sebelahnya pun turut berhenti.

"Kenapa?"

Aurora masih dengan perasaan penuh waspadanya menatap ke belakang. Entah sejak kapan ia mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang mengganggunya. Aurora merasa bahwa dirinya sedang diawasi dan itu membuatnya terganggu.

Bahkan hari ini pun, saat di jamuan keluarga suaminya, perasaan itu tetap hadir. Keadaan yang membuatnya berpikir bahwa seseorang memang sedang memperhatikannya dari kejauhan.

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa hal itu bukan bersumber dari keluarga Rozen yang masih belum menerima kehadirannya. Tatapan yang Aurora hadapi itu terasa sangat berbeda. Seolah dilakukan dari jauh, dari tempat yang sangat tersembunyi dan dari orang yang tidak pernah Aurora hadapi sejak masuk ke keluarga Salvadore.

"Aku merasa seperti seseorang sedang memperhatikanku."

Kegelisahan Aurora tersalurkan dari getar suaranya yang terdengar takut. Rozen langsung mengetahui bahwa istrinya benar-benar tidak nyaman.

Ekspresi Rozen berubah. Bahkan tatapannya dengan tegas menyapu lorong. Namun kosong. Tidak ada apapun di sana selain beberapa pelayan yang sedang bekerja.

"Di mana?" Rozen bertanya dengan pelan. Pria itu sedang dalam mode waspada namun tidak ingin membuat wanita di sampingnya semakin dilanda panik. Rozen khawatir bahwa kegelisahan istrinya memang bersumber dari musuh dunia gelapnya. Oleh karena itu, Rozen harus fokus dan tetap siaga karena bisa saja serangan datang secara tiba-tiba.

Lantas Aurora menunjuk ke arah balkon lantai dua.

"Di sana," ucapnya singkat.

Rozen mengikuti arah tunjuk Aurora. Setelahnya ekspresi pada wajahnya menjadi dingin. Tidak lama kemudian, Rozen memberi isyarat kepada salah seorang bawahannya yang berdiri tidak jauh dari mereka.

"Periksa lantai dua."

Dengan patuh bawahan yang bekerja sebagai pengawal itu mengangguk dan segera pergi. Berjalan dengan cepat menaiki tangga menuju lantai dua.

Aurora memandang Rozen setelah tidak lagi melihat keberadaan sosok pengawal itu. "Apakah perlu sampai seperti itu?"

"Kalau seseorang benar-benar mengawasimu, berarti perlu." Nada bicara Rozen terdengar datar tetapi bukan dengan maksud tidak peduli. Rozen hanya sedang berada di mode mafia dan suami di saat yang bersamaan. Seorang pria yang sedang berusaha melindungi istrinya.

Aurora terdiam. Sekali lagi, perhatian itu membuat hatinya salah mengartikan sesuatu. Aurora tahu bahwa suaminya mungkin hanya sedang menjalankan tanggung jawab seperti bagaimana biasanya.

Tetapi tetap saja dengan bagaimana cara pria itu langsung bertindak membuat jantung Aurora berdebar tidak karuan.

...***...

Sudah satu jam sejak titah itu dijatuhkan. Rozen dan Aurora menunggu kabar dari sang pengawal di dalam mobil. Apapun hasilnya, Rozen harus siap menerima. Bahaya memang tidak mungkin terpisahkan darinya. Sebagai seorang mafia yang cukup terkenal di kalangannya, menjadi incaran bukan lagi hal baru baginya. Namun berbeda dengan Aurora. Istrinya itu adalah orang biasa. Diincar dan diawasi di tempat terbuka seperti itu tentu akan sangat menakutkan.

Hingga kemunculan sang pengawal membuat mereka bereaksi. Rozen segera turun dari mobil dan memerintahkan agar Aurora tetap menunggu di dalam.

"Bagaimana?” tanya Rozen singkat.

"Tidak ada siapa-siapa, Tuan."

"Yakin?"

Pengawal itu mengangguk yakin. Rozen sudah menduganya bahwa tidak semudah itu menyelidiki. Rozen kemudian menatap Aurora yang patuh duduk manis di dalam mobil, menunggunya kembali. Untuk hari ini, Rozen memilih untuk lebih sabar. Bertindak tergesa-gesa adalah tindakan yang gegabah.

Mungkin nanti saat keadaan mulai tenang kembali, Rozen akan menyelidikinya.

"Kita pulang." Rozen masuk kembali ke dalam mobil. Namun sebelum mobil berjalan, matanya menangkap sesuatu di lantai. Sebuah benda kecil tergeletak di jarak dua meter dari posisi mobil mereka terparkir.

Aurora menyadarinya juga dan turut memperhatikan.

Rozen membuka kembali pintu mobilnya dan turun untuk memastikan benda tersebut.

Setiba di sana, Rozen tidak bereaksi berlebihan setelah menyaksikan bahwa yang ditemukannya adalah sebuah pita rambut warnanya putih.

Tubuh tinggi itu merendah untuk memungut pita itu. Setelah mendapatkannya, Rozen kembali ke mobil.

Dari dalam mobil Aurora memperhatikan bagaimana suaminya memungut hingga membawa benda itu hingga ke mobil. Ia memandang benda tersebut di tangan suaminya dengan dahi berkerut.

"Itu milik siapa?" tanya Aurora penasaran. Namun semakin diperhatikan semakin timbul perasaan yang sulit dijelaskan.

Rozen mengangkat bahu. Artinya ia juga tidak mengetahuinya. "Kupikir milikmu yang terjatuh saat kita menuju mobil tadi."

Baik Rozen dan Aurora, mereka memperhatikan pita tersebut beberapa detik dengan begitu intens. Tidak ada tanda khusus atau sesuatu yang mencurigakan.

"Boleh kulihat?” tanya Aurora kemudian.

Rozen menyerahkan pita itu ke tangan Aurora. Ketika menerimanya, Aurora hanya memandangi benda itu tanpa berkata-kata, seolah ingin menemukan sesuatu dari sana. Tapi Aurora tidak mampu menjelaskan tentang apa yang sebenarnya wanita itu rasakan ketika melihat pita itu. Perasaan aneh yang terasa asing namun juga begitu dekat di waktu yang bersamaan.

Aurora menyerahkan pita itu kembali kepada Rozen setelah ia menyerah pada perasaan tidak berdasar tersebut.

Rozen meraih benda itu lantas memasukkan ke dalam saku jasnya. Tidak ada kata yang menjelaskan maksud dari perbuatannya itu. Semua terjadi begitu saja.

"Kita pergi," titah Rozen kepada supir pribadinya.

Aurora bahkan tidak bertanya tentang apa pun. Rozen dan Aurora, mereka terjebak di dalam buah pikiran mereka masing-masing.

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!