Indonesia
NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan

"Kalian semua sudah siap?"

"Siap Tuan!"

Lucas menatap para pengawalnya dengan tatapan dingin dan tajam, menyapu satu per satu sosok tegap yang berdiri rapi di hadapannya, rompi anti peluru terpasang ketat di tubuh mereka, senjata tersembunyi rapi di balik jaket, siap digunakan kapan saja.

"Misi kita kali ini menyelamatkan cucu saya," ucapnya tegas, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Lyn."

Di sampingnya, Elea, Vanesa, dan Rio berdiri siap, masing-masing sudah dilengkapi peralatan yang diperlukan.

Lucas kemudian memaparkan rencananya secara singkat, titik masuk, jalur mundur, sinyal komunikasi. Tanpa perlu penjelasan, setiap orang di ruangan itu sudah cukup terlatih untuk memahami instruksinya.

"Bergerak," perintahnya akhirnya.

Iring-iringan mobil segera meninggalkan markas yang terpencil itu, melaju menembus jalanan sepi dari pemukiman warga, menuju vila yang menjadi target mereka.

Satu mobil membawa Lucas, Rio, Vanesa, dan Elea, sementara beberapa mobil pengawal mengikuti dari belakang dengan jarak aman.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil hening, hanya deru mesin yang mengisi kesunyian. Elea duduk kaku, matanya terpejam, bibirnya bergerak pelan merapal doa dalam hati untuk keselamatan putrinya.

Vanesa yang duduk di sampingnya menggenggam erat tangan sahabatnya, memberi kekuatan tanpa perlu banyak kata.

Setelah beberapa saat, Rio mulai memperlambat laju mobil, matanya fokus pada layar navigasi di depannya.

"Kita sudah dekat," gumamnya, lalu menghentikan mobil sepenuhnya di balik gerombolan pepohonan, tak jauh dari vila yang menjadi target mereka. Mobil-mobil pengawal di belakang ikut berhenti serempak, mesin dimatikan dalam diam.

Lucas menatap ke depan, matanya menyipit mengamati bangunan yang berdiri sunyi di kejauhan.

"Bersiaplah," gumamnya pelan.

Beberapa drone kecil melesat ke udara, terbang senyap menuju vila yang tampak sunyi di kejauhan.

"Drone sudah aktif," gumam Rio, matanya terpaku pada tablet di tangannya, jari-jarinya sesekali menggeser layar mengikuti pergerakan kamera.

Vanesa yang ada di belakangnya, ikut mengamati layar seksama. "Berapa penjaga yang kelihatan?"

"Sekitar enam di depan," jawab Rio cepat. "Mungkin lebih banyak di dalam."

Elea mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menatap vila itu dari kejauhan. Setiap detik terasa seperti siksaan, seolah waktu sengaja bergerak lebih lambat untuk mengujinya.

"Siapa pun yang berani menyentuh Lyn, mereka bakal nyesal," desisnya pelan.

Lucas menoleh sekilas, tak berkata apa-apa, hanya memberi anggukan kecil sebagai tanda ia mengerti kegelisahan menantunya.

"Semua turun," perintah Lucas.

Satu per satu mereka keluar dari mobil, berkumpul dan membentuk barisan dalam diam.

"Oke, dengar," ucap Rio, suaranya rendah tapi tegas. "Tim satu, dipimpin Vanesa, tugas kalian masuk dan cari titik Lyn. Ikuti jalur yang udah kita tandai dari drone."

"Siap," sahut Vanesa mantap, mengecek senjatanya sekali lagi.

"Tim dua, dipimpin Nona Elea, alihkan perhatian penjaga depan. Buat mereka fokus ke kalian, biar tim satu bisa masuk tanpa hambatan."

Elea mengangguk tegas. "Beres."

"Saya dan Tuan Besar akan pantau dari sini, koordinasi lewat radio," lanjut Rio, menatap semua orang bergantian. "Kalau ada masalah, langsung lapor. Jangan ambil risiko sendirian."

"Dimengerti," jawab pengawal serempak.

Lucas melangkah maju, menepuk pundak Elea sekilas. "Hati-hati, Nak. Bawa cucu Papa pulang."

Elea menatap mertuanya sejenak, ada keyakinan yang mulai tumbuh di matanya.

"Pasti, Pa."

Rio mengangkat tangannya, memberi aba-aba terakhir. "Siap?"

"Siap!"

"Bergerak!"

••

BRAKH!

Mobil besar berlapis baja itu menerjang pagar vila dengan kekuatan penuh, menghancurkan besi-besi kokoh itu dalam sekejap. Debu dan serpihan logam beterbangan, disusul teriakan panik dari para penjaga yang tadinya bersantai di halaman.

"APA ITU?!"

Elea melompat keluar dari mobil bersama timnya, matanya menyala penuh amarah yang sudah lama tertahan.

"Siapa kalian?!" bentak salah satu penjaga, buru-buru meraih senjatanya.

Elea tak menunggu jawaban. Ia langsung menembak, satu peluru tepat menembus bahu penjaga itu, membuatnya ambruk seketika.

"SERANG!" teriak penjaga lain, dan dalam sekejap, baku tembak, pecah di halaman vila yang tadinya sunyi.

Elea bergerak seperti badai. Ia menembak sambil berlari, berlindung di balik mobil sesaat sebelum kembali maju menyerang.

Setiap kali pelurunya habis, tanpa ragu ia mencabut pisau dari pinggangnya, menghadapi penjaga yang berani mendekat dengan gerakan brutal.

"Kalian pikir bisa lolos, hah?!" teriaknya, menghujamkan pisau ke leher salah satu penjaga yang mencoba menyerang dari samping. Tubuh itu ambruk seketika, darah menyembur membasahi tangannya.

Timnya bergerak sinkron di belakangnya, menyapu bersih penjaga yang tersisa satu per satu. Suara tembakan dan teriakan bersahutan, memenuhi udara yang sebelumnya tenang.

Seorang penjaga mencoba kabur, tapi Elea lebih cepat, ia menembak kakinya, membuatnya jatuh terjerembab. "Pengecut," desisnya dingin.

Sementara itu, di sisi lain vila, Vanesa memimpin timnya bergerak senyap begitu mendengar suara baku tembak mulai pecah di depan.

"Itu tandanya," gumamnya, menoleh sekilas ke arah suara kekacauan yang ditimbulkan Elea. Ia menggeleng kepala pelan, setengah geli setengah ngeri. "Gila, bengis banget sahabat gue."

Tapi tak ada waktu berkomentar lebih lama. Vanesa segera memimpin timnya menyusup lewat pintu samping vila yang nyaris tak terjaga, perhatian semua penjaga sudah teralihkan ke arah Elea.

Baru beberapa langkah masuk, tiga penjaga muncul dari lorong, langsung mengangkat senjata mereka.

"Berhenti!"

Vanesa tak memberi kesempatan. Ia melesat maju, menghindari tembakan pertama, lalu menghantam wajah penjaga terdekat dengan sikunya. Timnya ikut bergerak cepat, melumpuhkan dua penjaga lainnya dalam hitungan detik.

Pertarungan singkat tapi brutal itu meninggalkan darah menetes di lantai keramik vila yang dingin.

"Beres," ucap salah satu anggota tim, napasnya memburu.

Vanesa mengangguk, matanya menyapu koridor. "Ruang kontrol CCTV, di mana?"

"Sebelah sini, Bu," salah satu anggota timnya menunjuk pintu di ujung lorong.

Mereka bergerak cepat, mendobrak pintu itu tanpa aba-aba. Dua orang di dalam ruangan langsung terkejut, mencoba meraih senjata mereka, tapi terlambat.

Vanesa melesat maju, menghindari serangan pertama, membalas dengan pukulan telak ke rahang lawannya.

Pertarungan singkat itu berakhir dengan kedua penjaga tersungkur, tak sadarkan diri.

Vanesa segera duduk di depan deretan monitor, jarinya bergerak cepat menyusuri rekaman kamera satu per satu.

"Ayo... di mana kamu..." gumamnya, matanya menyipit mengamati setiap layar.

Hingga akhirnya, satu layar menampilkan sosok yang ia cari—seorang gadis meringkuk di sudut ruangan sempit, tubuhnya terlihat lemah.

"Dapat," bisik Vanesa, suaranya bergetar antara lega dan tegang. "Lyn..."

Ia segera bangkit, menoleh ke timnya.

"Ketemu. Ruangan paling ujung."

••

Di halaman depan, setelah menghabisi hampir seluruh penjaga, earpiece di telinga Elea tiba-tiba berbunyi.

"Elea," suara Lucas terdengar tegas di ujung sambungan. "Cari keberadaan Cakra. Jangan sampai dia lolos!"

"Baik, Pah," jawab Elea singkat, matanya menyapu bangunan utama vila.

Tanpa membuang waktu, ia bergerak cepat menuju pintu masuk, pisau masih tergenggam erat di tangannya yang berlumuran darah.

••

Di dalam ruangannya, Cakra berdiri mematung menatap latar monitor di hadapannya, rekaman CCTV menunjukkan kekacauan yang terjadi di halaman vila, penjaga-penjaganya bertumbangan satu demi satu, dihajar oleh sosok wanita yang bergerak seperti mesin pembunuh.

"Tidak mungkin..." gumamnya, tak percaya dengan apa yang ia saksikan.

Pintu ruangan terbuka mendadak. Bimo masuk tergesa, wajahnya pucat dan panik.

"Tuan, ada serangan mendadak."

Cakra menatap tajam Bimo.

"Siapa mereka, hah?"

"Dia orang tua gadis itu, Tuan."

"Bagaimana dia bisa tahu tempat ini, hah?!"

Belum sempat Bimo menjawab, sebuah tendangan keras menghantam pintu ruangan itu.

BRAKH!

Pintu terlempar terbuka, engselnya patah menghantam lantai. Elea berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, tubuhnya berlumuran darah. Pisau masih tergenggam erat di tangannya, matanya menyala penuh amarah.

Elea melangkah masuk perlahan, matanya terkunci pada sosok pria yang telah merenggut ketenangannya.

"Cakra Narendra," ucapnya dingin, suaranya bergetar menahan amarah yang nyaris meledak. "Kita bertemu lagi."

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!