Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22_Bayangan Ethan dan Sang Singa yang Menolak Pergi

...BAB 22_Bayangan Ethan dan Sang Singa yang Menolak Pergi...

Meskipun senyum manis dan pelukan erat masih terukir sempurna di tubuh Julian, benak Lea berputar kencang menciptakan skenario terburuk yang bisa menghancurkan seluruh rencana besarnya dalam satu malam.

`Ethan...` batin Lea meringis cemas di balik topeng tenangnya.

Ia sangat mengenal karakter Ethan. Pria itu jauh lebih impulsif, emosional, dan gampang dikuasai api cemburu ketimbang `Liam` yang penurut. Jika Julian sampai mengambil tindakan tegas untuk membungkam atau memutus komunikasi Ethan di Melbourne, pria itu bisa kehilangan akal sehat. Ethan bukanlah tipe orang yang akan duduk manis menerima keadaan; ia sangat mungkin melacak keberadaan Lea, memesan tiket pesawat kelas satu malam itu juga, dan terbang langsung ke Jakarta untuk mencarinya.

Jika hal itu benar-benar terjadi, dan Ethan sampai berpapasan dengan Julian di penthouse ini, maka kehancuran total adalah satu-satunya kepastian yang menanti Lea. Segala penyamaran sebagai 'Alia' di sekolah, intrik balas dendam pada keluarga Ozawa, dan kendali mutlak yang ia bangun di antara para pria simpanannya akan runtuh dalam sekejap. Namanya akan tercemar, dan ia akan terjebak dalam perang antara dua monster pencemburu yang mematikan.

Menyadari situasi gentar yang mengancam nyawanya—secara kiasan maupun harfiah—Lea segera memutar otak mencari cara agar Julian tidak berlama-lama tinggal di apartemennya. Apalagi, ada satu masalah praktis yang sangat krusial: penthouse miliknya hanya memiliki satu fasilitas kamar utama.

Dengan napas tertahan dan keringat dingin yang mulai merayap di punggungnya, Lea mendongak menatap wajah Julian yang masih memandangnya dengan intensitas membakar. Ia mencoba memasang raut wajah paling ragu dan hati-hati. Sebagai pacar pertamanya, Julian memegang tempat khusus sekaligus menduduki takhta tertinggi dalam hal ketakutan di hati Lea. Ada rasa segan yang begitu mendalam, karena berhadapan dengan Julian berarti berhadapan dengan batas kesabaran seorang predator puncak yang tidak pernah mentoleransi penolakan.

`"Sayang... kamu nggak tidur di sini, kan?"` tanya Lea dengan nada hati-hati, mencoba menyamarkan getar cemas di suaranya. `"Apartemen ini... kamarnya cuma ada satu."`

Julian mengerjap sesaat. Alih-alih melunak atau merasa kasihan pada kekasihnya yang kelelahan setelah seharian menghadapi tekanan di sekolah elit Ozawa, sudut bibir pria itu justru terangkat membentuk seringai maut yang amat berbahaya.

`"Kamu mengusirku, sweetheart?"` tanya Julian pelan, namun nadanya langsung berubah drastis menjadi lirih yang sengaja dibuat-buat.

Tanpa diduga dari sosok milyarder sedingin es yang ditakuti dunia korporat internasional, Julian menyandarkan dagunya di bahu Lea, lalu memasang wajah cemberut paling dramatis yang pernah ada. Pria bertubuh tinggi tegap itu merajuk layaknya anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh ibunya.

Sikap kontras antara wajah tegas berwibawa dengan manja yang kekanak-kanakan itu sungguh membuat Lea hampir kehilangan akal sehatnya. Jika para pemegang saham perusahaan multinasional di Australia melihat sisi ini, mereka pasti mengira bos besar mereka sedang mengalami halusinasi tingkat berat.

`"Sayang... kamu membuat aku sedih,"` bisik Julian manja di dekat telinga Lea, napas hangatnya bergesekan dengan kulit leher gadis itu, mengirimkan getaran merinding yang mematikan. `"Aku jauh-jauh terbang berjam-jam melewati ribuan mil samudra, meninggalkan tumpukan kontrak miliaran dolar di Melbourne, hanya untuk menemuimu... dan hal pertama yang kamu katakan justru mengusirku keluar dari apartemenmu?"`

Lea menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. Ia benar-benar tidak berkutik menghadapi sisi posesif bercampur manja dari Julian. Hubungan mereka sudah terjalin cukup lama, dan Julian adalah pria pertama yang membuka mata Lea tentang dunia orang dewasa di luar negeri. Ada ikatan psikologis yang membuat Lea selalu merasa kecil di hadapan pria itu, meskipun di luar sana ia dikenal sebagai gadis yang licik dan manipulatif.

`"Bukannya mengusir, Julian..."` ralat Lea setengah mati mempertahankan kewarasan, jemarinya yang lentik mencengkeram pelan lengan kemeja pria berbalut bahan mahal itu. `"Maksudku, kamu pasti lelah. Perjalanan udara belasan jam bukanlah hal yang mudah. Kamu butuh tempat istirahat yang lebih layak dan luas, hotel bintang lima di pusat kota Jakarta, bukan di apartemen kecilku yang..."`

`"Tempat istirahatku yang paling layak ada di sini. Di sampingmu,"` potong Julian telak, tanpa memberi ruang sedikit pun untuk perdebatan.

Lengan kekar Julian kembali mengeratkan pelukan di pinggang Lea hingga tubuh ramping gadis itu kembali menempel tanpa celah pada dada bidangnya. Detak jantung Julian bergemuruh mantap, menandakan betapa seriusnya pria itu dalam setiap kata yang diucapkannya.

Julian menolak mundur. Sorot mata setajam elang itu kembali menatap lurus manik mata kembar dua Lea dengan intensitas penuh mutlak dan tidak bisa dibantah.

`"Jangan coba-coba menyuruhku tidur di tempat lain, sweetheart,"` bisik Julian dengan suara baritonnya yang berat dan mengintimidasi. `"Malam ini, aku tidur di kamarmu. Titik."`

Jauh ribuan mil dari kemewahan penthouse Jakarta, di sebuah apartemen mewah berlantai tinggi yang menghadap langsung ke panorama malam kota Melbourne, suasana justru jauh dari kata tenang.

Pecahan gelas kaca kristal berserakan di atas lantai marmer. Minuman keras beralkohol tinggi tumpah ruah, membasahi karpet mahal yang terbentang di ruang tengah. Di tengah kekacauan itu, `Ethan` berdiri dengan napas memburu dan dada naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak.

Wajah tampannya yang biasa terlihat rapi kini tampak kusut. Rambut pirangnya berantakan karena terus-menerus ditarik kasar oleh jari-jarinya sendiri. Ponsel cerdas di tangan kanannya bergetar hebat menampilkan layar panggilan yang tak diangkat-angkat, sementara di layar laptop di hadapannya terpampang deretan informasi rahasia tentang pergerakan mencurigakan yang berhasil ia lacak.

`Lea memiliki pria lain.`

Fakta itu berputar-putar di dalam kepala Ethan seperti racun yang membakar setiap sel di tubuhnya. Rasanya baru kemarin ia membelikan tas edisi terbatas untuk gadis itu, memanjakannya dengan segala fasilitas mewah, dan mendengarkan suara lembut Lea yang meyakinkannya bahwa ia adalah satu-satunya pria yang paling berarti.

`“Kamu adalah satu-satunya pria yang aku cintai, Ethan... Satu-satunya yang bisa diandalkan. Satu-satunya yang ada di hatiku. Kamu pahlawanku...”`

Kata-kata manis itu, janji-janji manja itu, desahan lembut yang dulu selalu berhasil meluluhkan seluruh pertahanannya—seketika berubah menjadi belati beracun yang menghujam jantungnya tanpa ampun. Semua itu ternyata adalah kebohongan besar! Pria yang dikenal sebagai sosok emosional dan pencemburu akut itu kini kehilangan kendali atas kewarasannya.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa wanita yang selama ini ia puja setengah mati, wanita yang ia yakini sepenuhnya berada di dalam genggamannya, ternyata membagi hati dan tubuhnya untuk pria lain?

Rasa sakit yang teramat sangat bergesekan hebat dengan rasa terhina yang membakar harga dirinya. Ethan mengepal kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan decihan tertahan bercampur amarah yang siap meledak menjadi kehancuran.

`"Brengsek... sialan!"` geram Ethan penuh kebencian, menendang meja kopi di depannya hingga bergeser nyaring.

Pria itu tidak akan tinggal diam. Ia tidak peduli seberapa jauh jarak antara Melbourne dan Jakarta. Ia tidak peduli jika harus mengacak-acak seluruh kota hanya untuk menemukan persembunyian Lea. Jika wanita itu mengira ia bisa mempermainkannya begitu saja lalu bersenang-senang di belakangnya, maka Lea harus bersiap menghadapi kemurkaan mutlak dari seorang pria yang sudah kehilangan segalanya.

Sambil meraih jaket kulit hitamnya dari sofa, Ethan menyambar kunci mobil sport-nya dengan kasar. Malam ini juga, ia akan terbang ke Jakarta. Ia harus melihat sendiri siapa pria berengsek yang berani merebut apa yang menjadi miliknya.

Kembali ke Jakarta. Malam di penthouse mewah itu berjalan jauh lebih panjang dan melelahkan bagi Lea daripada pertempuran apa pun di sekolah Ozawa School.

Di dalam kamar utama yang temaram, di bawah pengawasan mutlak sang milyarder yang posesif, Lea tidak bisa tidur tenang. Julian memang menepati janjinya untuk tidur di sisinya—bukan sekadar tidur, melainkan mendekap tubuh gadis itu begitu erat seolah takut Lea akan menguap begitu fajar menyingsing. Setiap kali Lea mencoba bergerak sedikit saja, lengan kokoh Julian langsung mengetatkan belenggunya, memastikan sang kekasih tidak punya celah untuk melarikan diri atau meraih ponsel di atas nakas.

Lea menatap langit-langit kamar dalam keheningan malam, sementara pikirannya melompat cemas memikirkan Ethan yang sedang mengamuk di belahan bumi lain.

`Ini baru permulaan.` Malam yang panjang ini tidak hanya menguji ketahanan mental Lea menghadapi Julian yang menuntut perhatian penuh, tetapi juga menjadi hitungan mundur sebelum badai yang lebih besar dari Melbourne menghantam pintu penthouse miliknya.

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!