Indonesia
NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu pagoda

Xuan Han memperhatikannya beberapa saat. Ia ingat beberapa wanita yang dilihatnya dari balik bayangan bulan. Setiap kali melihatnya kepalanya sakit dan beruntung ia tidak mengalaminya sekarang. Apa wanita itu sama dengan wanita yang ada di depannya?

Ingatannya hanya sebagian yang kembali dan ia benar-benar tidak tahu siapa wanita ini. Selain itu, ia terlihat cantik, memiliki aura yang sangat anggun, suci, dan ilahi membuat suasana disekitarnya jauh berbeda.

Tidak lama Xuan Han segera menggeleng.

Wanita itu menarik dua sudut bibirnya untuk tersenyum manis. Kelima jarinya dipetik ke depan dan segera sembilan aura merah melesat ke belakangnya.

Sembilan aura itu perlahan-lahan membentuk sembilan sosok wanita. Satu memegang pedang, busur, tombak, seruling, buku, bunga teratai, zither, ranting bunga persik, dan kuas. Mereka semua berjejer sedikit lebih tinggi di belakangnya dan sembilan aura emas terhubung ke punggung wanita itu.

Lalu wanita itu menjentikkan jarinya dan kelopak bunga teratai terjatuh. Segera itu meledak menjadi butiran emas lalu muncul bunga teratai besar berwarna emas di bawahnya yang melayang-layang.

Xuan Han ingat tentang gadis yang ditemui sebelumnya. Ia jadi penasaran apakah di depannya ini tuan putri yang dimaksud?

Wanita itu bertanya, “Apa kamu mengenal ini?”

Suaranya jernih dan sangat indah terdengar. Wanita itu sekarang seperti seorang dewi. Xuan Han menatapnya lama dan tertegun. Namun, tidak ada ingatan apa pun yang muncul sehingga ia hanya bisa menggeleng.

Wanita itu melambaikan tangannya sekali lagi. Perlahan-lahan sembilan sosok wanita merah itu menyatu menjadi sebuah gumpalan merah yang segera melesat ke dahinya, begitu juga bunga teratai emas. Mereka masuk ke dalamnya dan membentuk tanda teratai emas dengan pinggiran berwarna merah.

“Ya, sepertinya kamu memang tidak ingat.”

“Apa kamu tahu tentang diriku?” Xuan Han bertanya penasaran.

Wanita itu masih melayang-layang sembari bersila. Zither di depannya melayang tenang.

“Tentu saja. Tapi aku tidak mau mengatakannya.”

“Kenapa begitu?”

“Kau akan tahu nanti.”

Xuan Han membenci jawaban itu. Ketika ia ingin bertanya lagi, wanita itu meluruskan kedua kakinya, melambaikan tangannya, dan berbalik. Zither di udara menghilang.

“Saudara Han,” katanya. “Kita akan bertemu lagi nanti.”

Wanita itu segera pergi ke bulan dan perlahan-lahan menghilang. Bulan itu masih ada dan menyinari Xuan Han. Hanya wanita itu yang menghilang.

Xuan Han menghela napas. Ia menatap pagoda besar itu. Tidak lama cahaya emas muncul dari puncaknya lalu menyebar seperti riak air. Segera taman yang hancur dan tanah yang berlubang diperbaiki. Seluruhnya kembali seperti semula dalam hitungan detik.

Pemuda itu berpikir tentang wanita itu sebentar lalu menghela napas dan mulai berjalan. Ia berhenti di depan undakan sebentar lalu mulai melangkah menaikinya.

Ada pintu besar dengan gambar pohon persik di pintu yang berkedip-kedip. Itu terlihat indah dan megah. Xuan Han menatapnya beberapa saat. Ia penasaran dan mulai mendorongnya, tapi pintunya tidak mau terbuka. Mengerutkan keningnya lalu mulai mendorong dengan kedua tangannya, tapi tidak bisa juga. Ia berusaha mendorongnya lagi, namun tetap tidak bisa.

Mundur dan mendongak. Ada puluhan ranting yang terjun dari batang besarnya. Pohon itu tidak jelas bagaimana bentuknya. Kadang-kadang Xuan Han bisa melihat beberapa sosok manusia yang tergantung di ujung dahannya, dan ketika ia memperhatikannya itu berubah menjadi ribuan daun.

“Ini aneh.”

Itu terjadi beberapa kali dan memang sepertinya ada yang aneh dari pintu dan pagoda ini.

“Darah? Apa darah bisa membukanya?”

Menurutnya, dunia kultivasi itu tampaknya memang membutuhkan pengorbanan berbagai hal, termasuk darah. Ia melihat cekungan panjang di depan pintu besar yang seperti kanal yang memanjang. Dari sana ia bisa melihat ribuan bintang-bintang dan galaksi yang megah.

“Sepertinya begitu. Tapi, apa harus benar-benar dilakukan?”

Siapa pun tidak akan mau terluka. Akan jauh bisa diterima jika orang lain melakukannya, dan siapa orang bodoh yang mau menggores tangannya untuk mengeluarkan darah?

Xuan Han menatap telapak tangannya dan mengepalkannya. “Tidak mungkin.” Ia mulai membayangkan perihnya ketika menggoresnya. Ia tidak suka rasa sakit, jadi untuk apa melakukannya? Tetapi, jika ia tidak melakukannya tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Berpikir beberapa saat dan berusaha membuka pintu yang tidak ada hasilnya, ia segera pergi ke halaman untuk mencari apa pun. Namun karena tidak menemukannya, ia berbalik di depan pintu.

Sekarang ia tidak membawa pedang yang diberikan Meng Chahua. Tidak tahu ke mana perginya pedang itu. Segera ia mengulurkan tangannya dan meraih tusuk rambut bunga peony yang ditemukannya. Kelopak-kelopaknya dibuat oleh sesuatu yang keras dan tajam, sepertinya ini bisa ia gunakan. Tetapi menatap telapak tangannya, ia berpikir lagi, apa harus benar-benar dilakukan?

Menghela napas ia segera duduk di undakan sebentar, memandang langit yang penuh bintang seperti luar angkasa. Memujinya dan menganggapnya tidak masuk akal. Ia ingin segera melesat ke langit lagi untuk melihat lonceng dan jantung raksasa itu untuk menemukan cara agar bisa pergi, tapi rasanya hanya pagoda ini yang lebih mudah dipecahkan misterinya.

“Ilusi, ini hanya ilusi bukan?”

Ia berusaha meyakinkan diri sendiri dan pada akhirnya menggertakkan giginya lalu berdiri dan kembali ke depan pintu. Mengulurkan telapak tangannya dan menatap tusuk rambut itu. Tidak ada pilihan. Ia memejamkan matanya, mengertakkan giginya, dan segera menggores telapak tangannya. Rasanya perih dan ia mengepalkan tangannya.

Tetesan darah jatuh ke dalam kanal kecil itu, membentuk riak dan tiba-tiba seluruhnya menjadi merah. Aura merah menyebar dan hawa panas bermunculan menerpa wajah Xuan Han.

Lalu tiba-tiba batang pohon itu berubah merah, terus tumbuh hingga ke cabang-cabang dan daun-daunnya. Pada saat itu terdengar teriakan orang-orang kesakitan yang mengalami penderitaan yang tiada akhir. Wajahnya terasa membeku dan kakinya gemetar. Perlahan-lahan daun-daun pohon itu berubah menjadi manusia yang merangkak lalu melesat ke langit sembari berteriak nyaring. Ada puluhan di antara mereka, baik laki-laki, perempuan, ataupun anak-anak. Suara mereka menyeramkan dan berputar-putar di atas Xuan Han membentuk pusaran. Lalu mereka berubah menjadi aura merah dan membentuk bunga besar di langit, berwarna merah darah dengan beberapa pembuluh darah yang berkedut-kedut ungu.

Xuan Han menelan ludahnya. Ia bertanya-tanya apa ia telah bertindak salah?

Bunga itu mulai berputar-putar lalu melesat ke kanal kecil itu dan hancur menjadi butiran-butiran merah yang meledak seperti kembang api.

Xuan Han dipenuhi butiran-butiran darah itu. Perlahan-lahan butiran-butiran itu menghilang dan angin berhembus. Pagoda itu mengeluarkan suara dengungan yang semakin lama semakin mengecil lalu akhirnya menghilang seiring dengan butiran-butiran darah yang menyebar di langit.

Lalu akhirnya tempat itu menjadi sunyi kembali.

Xuan Han melihat ke sekitar dan bertanya-tanya kenapa pintunya tidak dibuka? Kenapa juga semuanya tidak terjadi apa-apa? Sekarang ia hanya sendirian bersama tangannya yang terasa perih. Perlahan-lahan ia mendekati pintu pagoda dan mengulurkan tangannya untuk mendorong. Pada saat itulah, kepalanya terasa sakit dan pusing. Ia kesulitan menjaga keseimbangannya.

Sementara di satu tangannya ada tusuk bunga peony yang berkedip-kedip lalu muncul seutas cahaya emas yang melesat ke langit. Terus terbang, menembus atmosfer hingga akhirnya melintasi jantung dengan pagoda dan lonceng itu. Bergerak ke atas lagi, akhirnya menembus daging dan keluar dari dada Xuan Han. Cahaya itu menembus gua, langit, lalu melesat jauh ke utara. Melewati rimbun pepohonan hutan, hewan-hewan buas.

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!