Indonesia
NovelToon NovelToon
PERJALANAN LAKU SPIRITUAL

PERJALANAN LAKU SPIRITUAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi
Popularitas:632
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Hidup bukan sekadar berjalan mengikuti arus dunia, melainkan tentang bagaimana jiwa menemukan jalan pulang kepada Sang Pencipta.
​Fazam Arjuna mengira hari-harinya hanya akan diisi dengan kesederhanaan hidup dan secangkir kopi di rumah bersama keluarga tercinta. Namun, takdir membawanya pada sebuah panggilan batin yang jauh lebih dalam—sebuah perjalanan laku spiritual yang menguji keteguhan hati, kesabaran, dan keikhlasan.
​Di tengah sunyinya jalan setapak pencarian hakikat diri, langkah Fazam tidak berjalan sendirian. Ia ditemani oleh rahasia semesta yang terbentang, pengawalan batin dari sosok harimau putih, hingga bimbingan penuh kearifan dari Eyang Semar yang menuntunnya menembus tirai gaib kehidupan.
​Bagaimana kisah Fazam dalam menyucikan hati dan menemukan cahaya sejati di tengah liku-liku batinnya?
​Ikuti perjalanan penuh hikmah dan misteri batin dalam Perjalanan Laku Spiritual. Temukan jawabannya di setiap lembarnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Obat Nyeleneh yang Menembus Hati

Pagi itu matahari baru naik setinggi galah. Fazam duduk santai di beranda, bersandar malas ke tiang kayu, memutar-mutar sebatang ranting di jari. Wajahnya tenang tapi matanya berkedip-kedip licin — senyum miring khasnya tersungging di bibir. Dia cuma Fazam — pemuda biasa yang kadang kelakuannya bikin orang garuk kepala, tapi hatinya jernih seperti air sumur tua.

Dari kejauhan terdengar langkah berat dan keluhan panjang. Tak lama kemudian datanglah Pak Dullah — tetangga yang terkenal keras kepala dan cepat marah. Kakinya bengkak besar sampai sebesar tempurung kelapa, jalannya tertatih-tatih sambil memegang tembok, wajahnya kerut menahan sakit sampai keringat menetes di dahi. Dia duduk di bangku kayu di depan beranda sambil menghela napas panjang sekali.

Fazam melirik, lalu senyum miring — seakan sudah tahu dari tadi siapa yang datang.

"Le Fazam..." ucap Pak Dullah dengan suara berat dan mendesak, sambil menahan ngilu di kakinya, "Tolonglah aku! Sakit ini makin hari makin parah! Kaki bengkak panas, pegal sampai ke paha! Sudah ke dukun, sudah dibalur ramuan panas, sudah dibacakan mantra — tidak ada yang mempan! Katanya kau dekat dengan Yang Maha Kuasa... tolong lihat dan obati kakiku ini!"

Fazam diam sebentar, lalu bangun pelan-pelan. Dia mendekat ke Pak Dullah, lalu menatap kaki yang bengkak itu — menyentuh perlahan dengan punggung tangannya, tidak pakai jampi-jampi aneh.

"Bapak..." tanya Fazam santai sambil menatap mata Pak Dullah, "Kakinya ini terasa panas dan berat ya?"

"Panas sekali! Seperti terbakar!" omel Pak Dullah sambil menarik kakinya sedikit karena ngilu, "Dan berat seperti dipasangi batu! Kau lihat sendiri kan? Bengkak begini besarnya!"

"Lihat hamba baik-baik ya." jawab Fazam sambil tersenyum miring, lalu dia lakukan pengobatannya — sederhana dan nyeleneh sekali.

Pertama, Fazam ambilkan semangkuk air bersih dari sumur di samping rumah. Dia tuangkan air itu perlahan ke atas kaki Pak Dullah yang bengkak — tidak pakai mantra panjang, cuma berbisik pelan: "Dengan izin-Nya — dingin, ringan, dan sehat kembali."

Kedua, dia ambil daun sirih muda yang tumbuh di pagar rumah, remas-remas sampai keluar airnya, lalu tempelkan satu per satu di bagian yang bengkak sambil menekan lembut dengan telapak tangannya. Gerakannya lembut, hangat, dan tenang — tidak terburu-buru sama sekali.

Ketiga, setelah itu dia tidak menutup dengan kain atau perban. Dia malah duduk di depan Pak Dullah sambil menatapnya lekat-lekat.

"Nah — ini bagian yang paling penting." ucap Fazam sambil menunjuk dada Pak Dullah, "Baluran daun sirih dan air tadi cuma menenangkan badannya. Obat yang sebenarnya ada di sini — di hati Bapak."

Pak Dullah melongo melihat kakinya yang sudah terasa sedikit lebih sejuk. "Kau... kau cuma siram air dan tempel daun? Itu saja?" tanya Pak Dullah bingung setengah kaget.

"Ya — itu saja." sahut Fazam santai sambil tersenyum, "Air dan daun itu cuma alat. Yang menyembuhkan itu Gusti Allah — dan Dia ada di hati Bapak sendiri. Tapi kalau hatinya keras, penuh amarah, dan merasa selalu benar — obat apa pun tidak akan masuk. Karena hati yang berat menekan badan sampai sakit begini."

"Lalu apa harus aku lakukan?" tanya Pak Dullah sambil merasakan kakinya yang sudah tidak terasa panas lagi.

Fazam mendekat, lalu berbicara pelan tapi jelas — kelakuannya mulai nyeleneh sekali.

"Dengarkan baik-baik." ucap Fazam sambil menatap mata Pak Dullah, "Selain daun sirih ini, Bapak ada tugas lain. Besok pagi sebelum matahari muncul, Bapak pergi ke sungai yang airnya jernih itu. Berdiri di pinggir air — dan berteriaklah keras-keras ke arah air: AKU BODOH! AKU BANYAK PIKIRAN TIDAK BERGUNA! — katakan tujuh kali. Setelah itu mandi air sungai, pulang, makan nasi biasa. Lakukan selama tiga hari berturut-turut. Selesai."

"Hah? Berteriak bilang bodoh? Di pinggir sungai?" seru Pak Dullah sampai mulutnya terbuka, "Nanti dikira aku gila sama orang lewat! Dan kakiku ini — kau sudah siram air dan tempel daun, rasanya memang agak enakan... tapi itu saja cukup?"

"Cukup — asal Bapak lakukan dengan tulus." sahut Fazam senyum miring tak hilang, "Daun sirih dan air itu mendinginkan badannya. Tapi berteriak di sungai itu mendinginkan hatinya. Kalau hati sudah turun dan rendah — badannya ikut ringan dan sembuh. Percaya atau tidak — terserah Bapak."

"Tapi... kalau tidak sembuh bagaimana?" tanya Pak Dullah masih garuk kepala bingung, sambil memandangi kakinya yang terasa jauh lebih ringan.

"Kalau tidak sembuh — datang lagi ke sini, marahi hamba sepuas hati, hamba terima tanpa melawan." jawab Fazam santai, "Tapi kalau sembuh — janji jangan keras kepala lagi ya!"

Pak Dullah berdiri perlahan — kakinya masih sedikit kaku, tapi tidak tertatih-tatih seperti tadi. Dia melangkah beberapa langkah sambil merasakan perbedaannya, lalu geleng-geleng kepala sambil berjalan pulang — bingung tapi sudah mulai percaya. Fazam cuma melihat punggungnya menjauh sambil tersenyum sendiri.

 

Keesokan harinya pagi-pagi, Pak Dullah datang lagi — dan kakinya sudah jauh lebih baik. Bengkaknya menyusut banyak, jalannya tegak, wajahnya cerah tidak lagi kerut menahan sakit. Dia duduk di beranda sambil menyeka keringat di dahi.

"Le Fazam..." ucap Pak Dullah pelan dan malu sambil menatap kakinya sendiri, "Aku lakukan seperti kau bilang. Tempel daun sirih, lalu pagi tadi pergi ke sungai, berteriak tujuh kali — malu sekali rasanya... tapi setelah selesai... dadaku terasa lega sekali. Dan lihatlah kakiku — bengkaknya hampir hilang!"

Dia angkat kakinya ke atas, lalu tepuk-tepuk pelan untuk menunjukkan bahwa sudah kuat. Fazam tertawa lebar — senyum sengkleknya kembali muncul.

"Loh — sembuh kan?" tanya Fazam sambil menunjuk kaki Pak Dullah, "Apa Bapak sekarang percaya obat hamba paling ampuh sedunia?"

"Percaya... percaya..." jawab Pak Dullah sambil tertawa malu dan geleng-geleng kepala, "Tapi cara kau memang nyeleneh sekali! Cuma disiram air, ditempel daun sirih, lalu disuruh berteriak di sungai — dan sembuh! Kau pakai ilmu apa sebenarnya?"

Fazam mendekat, lalu menepuk bahu Pak Dullah pelan — kali ini wajahnya lebih tenang dan tulus.

"Tidak ada ilmu gaib, Pak." jawab Fazam lembut sambil menunjuk semak sirih di pinggir rumah, "Daun sirih dan air itu ada di sekeliling kita — anugerah biasa dari-Nya. Bapak marah terus, iri hati, memendam rasa tidak puas — semua itu berat dibawa dan membuat badan sakit. Waktu Bapak merendahkan hati dan mengakui diri sendiri — hati terbuka, dan penyembuhan itu datang. Bukan aku — bukan cara aku — tapi hati Bapak sendiri yang akhirnya terbuka kepada-Nya."

Pak Dullah menatap Fazam lama, lalu mengangguk perlahan sambil tersenyum tulus.

"Kau ini..." ucap Pak Dullah, "Kadang bicara dalam sekali, kadang kelakuanmu seperti anak nakal. Tapi aku paham — kau tidak bermaksud jahat. Kau obati bukan dengan mantra, tapi dengan cara bikin orang sadar dan rendah hati."

"Betul!" sahut Fazam senyum miring kembali muncul, "Hidup ini sudah berat — jangan ditambah dengan hati kaku dan sombong. Tertawalah, rendah hati, dan ingat — di hadapan-Nya kita semua sama. Dan kalau nanti sakit lagi — obatnya tetap sama ya! Daun sirih gratis, air sungai gratis, dan merendahkan hati juga gratis!"

Pak Dullah tertawa sampai air matanya keluar. "Iya, iya — akan aku ingat! Kau memang tidak bisa dilawan!" ucap Pak Dullah sambil berdiri tegak dan berjalan pulang dengan hati ringan serta kaki yang sehat kembali.

 

Sore itu saat matahari mulai turun, Bapak duduk di samping Fazam di beranda sambil tersenyum melihat kelakuan putranya.

"Le..." ucap Bapak lembut, "Kau memang sengklek dan nyeleneh sekali. Orang lain mungkin heran melihat cara kau mengobati tadi."

Fazam menyandarkan punggungnya ke tiang, menatap langit jingga sambil tersenyum santai.

"Biarlah, Pak." jawab Fazam tenang, "Hamba tidak mau jadi orang yang kaku dan serius terus. Hamba obati pakai apa yang ada di depan mata — air, daun sirih, dan hati yang tulus. Yang penting bukan cara — tapi niat yang lurus dan kerendahan hati yang terbuka kepada-Nya."

Dan di dalam sanubarinya — di antara tawa dan kelakar yang sederhana itu — zikir lembut terus mengalir tanpa henti, tenang dan abadi:

"Allah... Allah... Allah..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!