Indonesia
NovelToon NovelToon
Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa pedesaan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.

Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.

Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?

“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AVB 22

“K-kau dat-tang h-hari ini?” sapa seorang pemuda dengan tongkat ketiak (kruk aksila) melangkah perlahan menghampiri Anne dan beberapa anak-anak. 

“Bagaimana kabarmu? Ibu bilang kau suka menggambar sekarang?” balas Anne. 

“Ha-hanya coba-coba,” sambil tersipu si pemuda menjawab pertanyaan gadis merupakan saudara sebapak dengannya. 

Damar Suseno—putra dari Amina, gundik penghancur kebahagian Anne dan ibunya. Sedari lahir Damar mengalami keterbelakangan fisik, kaki tak berfungsi dengan baik, polahnya layaknya bocah meski usianya lebih tua satu bulan dari Anne.

Lewat kebesaran hati Sulastri, bocah tak berdosa itu dititipkan di panti werdha milik madam Helena. Damar yang kala itu datang ke rumah keluarga Van Beek bersama sang nenek—Maesaroh, terpaksa harus segera dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang memprihatinkan. Kekurangan gizi serta kurang perhatian pada kondisi bawaannya mengetuk hati Sulastri untuk menyelamatkan bocah malang itu, melupakan perbuatan terkutuk ibu kandungnya, Amina.  

Anne masih bercengkrama dengan anak-anak panti dan Damar saat nenek tua berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya, dibantu tongkat kayu jati yang mengkilap dimakan usia wanita itu keluar dari kamarnya begitu mendengar kedatangan Anne dari madam Helena. 

Senyum haru menyertai pelukan pada lengan Anne saat nenek tua sudah berada di dekatnya. “Ndoro Ayu, kok ndak kabar-kabar mau berkunjung kemari?”

“Kebetulan sedang lewat sekalian mampir, Nek,” kelit Anne, menahan menyampaikan tujuan utamanya di depan Damar dan anak-anak panti. 

Ia kemudian merunduk sedikit, menyamakan tinggi dengan bocah paling besar di panti, usianya sekitar sembilan tahun. “Tolong bantu mbak Anne keluarkan barang yang ada di mobil, minta bantuan paman penjaga untuk membuka pintu nya.”  

Si bocah langsung mengangguk, lalu mengkode anak lainnya untuk mengikutinya, sedang Anne sendiri masuk ke dalam panti sambil menggandeng nenek tua. 

“Tapi, Ndoro Ayu sehat, ‘kan? Nenek lihat wajah Ndoro ndak sesegar biasanya, lengan tangannya juga agak kecil, opo Ndoro sedang sakit?” Nenek tua langsung mencerca, tangan dengan kulit kendur dan otot menonjol terus memijat lengan Anne. 

“Aku sehat, Nek, cuma sedikit lelah karena sibuk di sawah saja,” jawab Anne seraya mengikuti langkah nenek tua menuju bangku yang berada di tengah bangunan panti, dekat taman bunga mawar dan pohon flamboyan. 

Maesaroh—si nenek tua, menghela napas berat, tatapannya teduh pada wajah ayu gadis yang dulu menyodorkan segelas air dan selimut kala ia datang sambil menggendong Damar. Anne kecil yang memiliki hati dermawan, memaksa sang ibu untuk membantu mereka, ia juga yang menyematkan panggilan nenek tua pada Maesaroh. 

“Nenek, apa Nenek ingat dengan wanita bernama Marni?” tanya Anne begitu mereka sudah duduk di bangku taman. 

“Marni?” Alis nenek tua mengerut, mata sendunya memicing, mencoba menggali memori silam. “Sepertinya nenek pernah dengar, tapi …,” 

Ia berhenti sejenak, namun seketika wajahnya mengeras, gigi bergemeletuk menahan amarah di dada. “Begenggek murahan itu, karena nya Amina jadi gila dan Damar terusir dari Joglo Punjer.” 

Anne membenarkan duduknya untuk menghadap tepat di depan nenek tua, tangannya menggenggam tangan keriput wanita tua itu. “Apa, Nenek ingat, kondisi dia saat datang? Maksudku, apakah dia sudah hamil atau ….” 

“Bapakmu … eh, maaf, maksud nenek, Kartijo menghina habis-habisan Amina di depan begenggek nya yang masih telanjang di atas kasur. Kasur ibumu yang direbut Amina, dan hal sama juga dilakukan oleh Marni, lebih kejamnya, mereka kembali melanjutkan aksi mesum itu tepat di depan mata Amina,” potong nenek tua. 

“Tak selang berapa lama, Kartijo kembali membawa perempuan itu ke rumah, mengatakan dia tengah hamil, dan memaksa Amina keluar dari kamarnya. Sama seperti yang Amina lakukan pada ibumu dan mungkin itu balasan untuknya. Begenggek itu menguasai ruangan pribadi Amina termasuk semua perhiasan juga baju-bajunya, itu yang menyebabkan ibu nya Damar langsung terguncang. Pada dasarnya memang sudah punya bibit sakit jiwa karena gagal jadi penari utama di kesenian janger saat usianya masih tiga belas tahun,” lanjut nenek tua dengan mata berkaca-kaca. 

“Berarti benar, Marni hamil anak laki-laki itu? Lantas, apakah mereka menikah setelahnya?” serbu Anne. 

“Bisa jadi begitu, Ndoro,” jawab nenek tua, ia menunduk sedikit, bibirnya mengulas senyum samar. “Tak ada yang pernah di nikahi baik siri maupun resmi selain daripada ibumu oleh laki-laki itu. Amina pun tak pernah dinikahinya.”  

Anne mengangguk samar, netra nya menatap datar bunga mawar yang mulai bermekaran. “Kalau Kasman? Apa nenek juga mengenalnya?” 

Maesaroh tersentak seketika, cengkraman pada lengan Anne mengencang. 

“Ndoro tau dari mana tentang laki-laki bejat itu?” serunya balik bertanya dengan tatapan waspada. 

“Marni dan Kasman kembali ke desa, membawa serta pemuda yang sepertinya lebih muda dua tahun dariku. Wajahnya mirip dengan lelaki itu, terlebih sorot matanya, sama persis, dengan milikku dan juga Damar,” ucap Anne yang memang memiliki kesamaan dengan Damar pada mata mereka. 

Anne mengetahui tentang ikatan persaudaraan dengan Damar saat usianya delapan tahun, Petter yang mengatakan semuanya, saat mereka mengunjungi panti werdha guna memberi bantuan setelah panen raya tiba, juga mengantarkan hak Damar atas sawah dan kebun yang kini digarap Anne, tinggalan sang bapak kandung—Kartijo Suseno.  

“Jika demikian, itu artinya mereka datang ingin mengambil apa yang mereka anggap milik pemuda bodoh itu,” gumam Anne, sorot matanya mengeras, sudut bibir terangkat tipis. 

“Ndoro ….” panggil Maesaroh pelan, jemarinya meremas pergelangan tangan Anne, napas panjang berhembus dari celah bibir keriputnya. 

“Ada apa, Nek, sepertinya Nenek mengetahui sesuatu?” selidik Anne.

Ragu-ragu wanita tua itu membuka suara, netra tuanya menerawang, menggali ingatan lama. “Sebenarnya, jauh sebelum dengan Kartijo Marni sudah menjalin kasih dengan Kasman. Apa …,” 

“Apa mungkin Argono adalah putra kusir tua itu?” potong Anne. 

“Nenek ndak yakin, Ndoro, tapi nenek pernah mendengar Kasman dan Marni berbicara di kandang kuda, kurang lebih isi pembicaraannya tentang kondisi perut Marni yang semakin membesar sedang hubungannya dengan Kartijo pada saat itu baru berjalan beberapa minggu. Nenek juga sempat mendengar pembicaraan mereka tentang surat tanah dan perhiasan yang masih disimpan Amina di kamarnya. Yang nenek tau, Kasman jugalah yang membawa Marni pergi dari Joglo Punjer,” lanjut Maesaroh. 

Anne tertawa sumbang, pandangannya lurus pada batang flamboyan yang di hinggapi kupu-kupu hitam. “Lelucon macam apa ini? Orang-orang tak tau malu itu datang ingin mengacau milikku yang mereka anggap ada milik mereka di dalamnya?” 

Tatapannya lalu berpindah pada Damar yang asik menggambar di meja kecil berada di dekat tangga menuju lantai dua. 

“Tapi, bagaimana bisa mata kami bertiga mirip, badannya pun persis dengan Damar jika dilihat dari belakang,” lanjutnya masih menatap lekat sang saudara beda ibu, tersenyum sendiri melihat hasil gambarannya. 

“Bisa jadi itu bibit bersama, alias campuran,” sahut Maesaroh. Wanita dulunya seorang dukun yang sering membantu para penari tak sengaja kebobolan tentu paham bagaimana peliknya dunia per selangkangan. 

“Menjijikkan,” dengus Anne seraya beranjak dari duduknya.

“Ndoro Ayu, sampeyan kudu berhati-hati dengan Kasman. Pria itu licik, penuh tipu daya dan pandai berkelit. Nenek takut dia akan berbuat macam-ma—” 

“Nenek lupa aku keturunan siapa?” sergah Anne, wajah ayu nya menyeringai, tatapan memicing tajam. “Aku terlahir dari bibit seorang bajingan, bukankah seharusnya darah bajingan juga mengalir di tubuhku?” 

“Mereka berani mengusik ketenanganku, melempar kotoran pada nama ibu, maka akan ku kembalikan kotoran itu jauh lebih menjijikkan dari yang mereka lemparkan. Pelaku berlagak korban, maka akan ku buat jadi korban yang sesungguhnya,” imbuhnya.

Ia kemudian berjalan menghampiri Damar, air mukanya melunak, tangan lentik mengambil satu pewarna, lalu turut menggoreskan pada kertas gambar. 

“Anne ….”

Bersambung

1
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
aahh , yg benerr saja kau Marni
gundik bekasan bnyak orang
masih ngeyell mau rebut harta kartijo
sull aja ke liang kubur sana
Muhammad Arifin
lagi seru kok d gantung Yo 😆😆😆
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
walaahhh ,
nuduh yg bukan2 tapi
wanita2 itu demen tukar lanangan
kog lucu ,
maling teriak maling
🤣🤣
Linceu thea
jika aku apa??? duh ending mu thor😍😍 lanjut
rama Rasyidin
warga kp y g prnh berubah dr zaman Sulastri smpe anne... bikin senewen...
rama Rasyidin
hati2 ndoro... jika cuacanya sedang tdk menentu. jaga kesehatan
Lylia Yuu
ceritanya makin seruuuuu, Anne top markotop!❤️‍🔥❤️‍🔥
Laila Umroh
bagus Anne, hantam mereka biar terbuka siapa sebenarnya mereka
Cen
WOW.... 👍👍👍/Determined//Determined/
Linceu thea
nah lho bagai mana cah bagus apa masih naksir koe karo mbak yu mu 😄😄😄
nayla tsaqif
Tambah sokorr kowe maria,, negk anne hans di rabek ke,, 🤭
Muhammad Arifin
owalah....Hans kok malah seneng 😆😆😆
Anna: Mayan nggak modal kata Hans 🤣
total 1 replies
Cen
digantung euy.....
Anna: Sudah ada lanjutannya, kakak ....
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
tak habis pikir aku sama maria
cinta segitiga ,mnjdi bumerang bagi nya ....
Anna: Cinta itu buta 😆
total 1 replies
Lylia Yuu
sudah kuduga, siapa lagi yang berani sentuh anne kalo bukan mas will 🤣🤣
Anna: Yaa kali Argono, belum apa-apa udah di banting dulu sama Anne 🤣
total 1 replies
Lylia Yuu
iki mesti anne sedang menyamar 🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
Argono ,sakit hatii krn cemburu
atau menolak kenyataan bahwa
cinta mu tak bersambut
di kira hans nginep di sana
Anna: Lebih sakit saat tau kenyataannya 😆
total 1 replies
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
najisss omonganmu
berbalik arah marnii
rama Rasyidin
ndoro.... momenntttt kesel nya dapet banget ini d akhir bab.... bikin g bs tdr dah
rama Rasyidin: aseeekkkkkkk.... gassken ndoro
total 2 replies
rama Rasyidin
gemessss.... boleh d santet gak itu Marni....
Anna: lagi cari dukun ini
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!