Indonesia
NovelToon NovelToon
Kenapa Aku Dibedakan

Kenapa Aku Dibedakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Wanita Karir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nerissa ningrum

**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**

Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?

Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.

Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.

Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.

Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?

Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?

Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluar Dari Rumah

Di ruang tengah, Faeyza memutar bola matanya. Melihat adiknya yang begitu marah sama sekali tidak membuat egonya luluh. Sebaliknya, ia justru merasa Haselyn sedang mencari perhatian.

“Paling juga cuma ngancam,” gumamnya sinis. Ia menoleh kepada Mama Mayrah.

“Mana berani dia keluar dari rumah ini?” Faeyza terkekeh pelan. “Paling bentar lagi juga keluar dari kamar, nangis-nangis, terus minta maaf.” Ia menunjuk ke arah lantai atas, tepat ke arah kamar Haselyn yang pintunya masih terbuka dan lampunya menyala. “Tuh, lihat kan, Mah? Dia cuma masuk kamar buat menghindari kita.” Tak seorang pun menyadari bahwa di balik pintu kamar itu, Haselyn tidak sedang menghindar. Ia sedang mengucapkan selamat tinggal pada rumah yang selama ini tak pernah benar-benar menjadi tempat pulang baginya.

Mama Mayrah menoleh perlahan ke arah anggota keluarganya. Entah mengapa, dadanya terasa sesak sejak melihat kemarahan Haselyn barusan. “Perasaan Mama kok jadi nggak enak, ya?” gumamnya pelan.

Untuk pertama kalinya, ia melihat putri bungsunya benar-benar meledak. Biasanya Haselyn hanya membalas beberapa kata, lalu memilih mengalah dan masuk ke kamarnya. Namun kali ini berbeda. Ada luka yang begitu jelas terlihat di mata anaknya.

“Apa… kita terlalu keras sama Hasel?” tanya Mama Mayrah dengan suara penuh keraguan.

“Udahlah, Mah. Biarin saja,” jawab Faeyza acuh. Meski berusaha terlihat tak peduli, sebenarnya ada sedikit kegelisahan yang mulai merayapi hatinya. Hanya saja, egonya terlalu besar untuk mengakuinya.

“Gimana kalau Nisrina ke atas dan bujuk Hasel?” usul Nisrina hati-hati. “Aku takut dia benar-benar kepancing emosi.”

“Nggak usah,” potong Faeyza cepat. “Kalian terlalu memanjakan dia.” Tatapannya bergantian mengarah kepada Mama Mayrah, Ayah Mahendra, dan Nisrina. “Makanya dia jadi berani membentak orang yang lebih tua.”

Nisrina menggeleng pelan. “Tapi Haselyn benar-benar marah kali ini, Kak.” Nada suaranya dipenuhi kekhawatiran.

Faeyza hendak menyahut, tetapi Mama Mayrah lebih dulu berbicara.

“Faeyza… sebenarnya kamu yang salah.”

Faeyza menoleh, wajahnya berubah tidak percaya. “Maksud Mama?”

Mama Mayrah menarik napas panjang. “Adikmu itu nggak manja.” Kalimat itu membuat Faeyza mengerutkan kening.

“Mama tahu Hasel. Dia bukan anak yang suka minta ini dan itu. Bahkan untuk bertemu Mama saja, waktunya sering nggak ada, padahal kami tinggal serumah.” Suara Mama Mayrah terdengar semakin pelan.

“Dan soal dia hura-hura pakai uang Mama … itu nggak mungkin.”

“Karena dia” ada nada ragu dari suara mama Mayrah

“Hasel…” Ucapan Mama Mayrah terhenti begitu saja saat Ayah Mahendra menyerukan nama Haselyn

Semua orang spontan menoleh ke arah tangga. Haselyn berdiri di sana. Di tangan kanannya, sebuah koper besar sudah siap ditarik. Di bahu kirinya tergantung ransel hitam yang tampak penuh berisi barang-barang. Wajahnya pucat, matanya sembab, tetapi sorotnya begitu mantap.

Mama Mayrah langsung bangkit dari duduknya. Rasa tidak tenang yang sejak tadi mengganggu hatinya berubah menjadi kepanikan. “Hasel…” Suaranya bergetar. “Mau ke mana kamu?” untuk pertama kalinya hatinya begitu gusar melihat reaksi anaknya yang terlihat tidak main-main

Haselyn menatap keluarganya satu per satu. Tatapan itu tidak lagi dipenuhi amarah. Yang tersisa hanya kekecewaan yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kata-kata. “Bukannya tadi kalian yang menyuruh aku keluar dari rumah ini?” balas Haselyn datar. Tak ada nada tinggi dalam suaranya. Justru ketenangan itu terdengar jauh lebih menyakitkan.

Haselyn kembali melangkah menuju pintu utama, menarik koper yang sejak tadi berada di sampingnya. Setiap langkah terasa berat, seolah meninggalkan rumah itu berarti mencabut sebagian hidupnya sendiri.

Rumah itu adalah tempat ia dilahirkan. Tempat yang menyimpan enam belas tahun kenangan, tawa, tangis, harapan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

“Hasel…” Mama Mayrah buru-buru menghampirinya. “Jangan bercanda seperti ini. Kamu masih kecil. Kamu masih anak SMA.”

Haselyn menghentikan langkahnya sejenak. Ia menunduk, lalu tersenyum tipis. Senyum yang dipenuhi kepahitan.

Mama Mayrah sama sekali tidak tahu bahwa putri bungsunya sudah menyelesaikan seluruh ujian, menerima pengumuman kelulusan, bahkan menghadiri acara perpisahan di sekolahnya hari ini. Mereka tinggal serumah. Namun mereka tidak tahu apa pun tentang hidup Haselyn.

“Kamu mau apa di luar sendirian?” lanjut Mama Mayrah. Nadanya terdengar khawatir, tetapi wajahnya masih menyimpan gengsi yang sulit dilepaskan.

Haselyn menatap ibunya. “Aku bisa hidup tanpa kalian.” Kalimat itu keluar dengan tegas. Bukan sebagai ancaman. Melainkan sebagai keputusan yang telah lama ia simpan di dalam hati. Ia kembali menarik kopernya.

Ayah Mahendra yang sejak tadi terdiam akhirnya melangkah mendekat. Wajah pria itu tampak jauh lebih tua dalam sekejap. Sebagai seorang ayah, ia tidak sanggup melihat putrinya pergi dengan hati yang penuh luka.

“Hasel…” Suara Ayah Mahendra terdengar lirih. “Jangan sekeras ini, Nak.”

Haselyn menoleh perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata sang ayah yang dipenuhi penyesalan. Untuk sesaat, langkahnya benar-benar terhenti. Karena di balik semua kekecewaannya, ada satu bagian kecil dalam hatinya yang masih berharap seseorang akan menahannya. Bukan dengan amarah. Bukan dengan perintah. Melainkan dengan kasih sayang yang selama ini ia rindukan.

“biarin saja yah” cegah Faeyza kepada ayahnya agar tidak membujuk adiknya yang keras kepala “ biar dia sadar diluar sana gak semudah yang ia kira” ejek Faeyza kepada adiknya yang di rasa tidak akan mampu hidup sendiri di luaran sana

Hasel tak menjawab dan menarik kopernya kembali

“Kalau kamu memang merasa bisa hidup sendiri,” ujar Faeyza dengan senyum meremehkan, “harusnya kamu pergi tanpa membawa apa pun dari rumah ini.” Tatapannya jatuh pada koper dan ransel yang dibawa Haselyn.

“Itu semua dibelikan Mama dan Papa, kan? Jadi kalau kamu masih membawa barang-barang itu, berarti dari awal saja kamu sudah membuktikan kalau kamu nggak mampu hidup tanpa bantuan orang tua.”

Suasana mendadak sunyi.

Haselyn menatap kakaknya beberapa detik, lalu terkekeh pelan. Tawa itu terdengar begitu pahit hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa tidak nyaman.

“Semua barang ini…” Haselyn mengangkat koper di tangannya, lalu menepuk pelan ransel yang tergantung di bahunya.

“…aku beli sendiri.” Ia menatap Faeyza lurus-lurus. “Dengan uangku sendiri.” Setiap katanya diucapkan dengan penuh penekanan.

“Nggak ada satu pun barang yang kubawa ini dibeli memakai uang Ayah atau Mama.” Haselyn mengangkat tangan kanannya, lalu menjentikkan ibu jari dan telunjuknya di depan Faeyza. “Sepeser pun tidak.”

Faeyza mendengus sinis. “Nggak usah bohong.” Ia sama sekali tidak percaya.

“Masih anak SMA saja sudah sok bilang beli pakai uang sendiri.” Nada suaranya penuh ejekan.

“Memangnya kamu dapat uang dari mana? Sekolah saja masih dibiayai orang tua. Jangan sok mandiri kalau kenyataannya masih bergantung sama Mama dan Papa.”

Ucapan itu membuat Haselyn tersenyum tipis. Namun kali ini, senyum itu tidak lagi menyimpan kepahitan. Senyum itu menyimpan kelelahan.

“Kakak benar-benar nggak tahu apa-apa tentang hidupku.” Haselyn menggeleng pelan.

“Lucunya, Kakak begitu yakin menilai hidupku, padahal Kakak bahkan nggak pernah bertanya bagaimana aku bisa bertahan selama ini.” Ia menatap seluruh anggota keluarganya bergantian.

“Selama bertahun-tahun, kalian hidup serumah denganku.” Suaranya bergetar.

“Tapi tak satu pun dari kalian pernah benar-benar mengenalku.” Kalimat itu menggantung di udara, meninggalkan keheningan yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada pertengkaran itu sendiri.

1
Novansyah
bagus kk tapi kalau bisa update jangan cuma 1 bab kk kalau bisa sekali update 4 sampai 5 bab
anggita
dukung like👍, iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!