Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22. Liburan yang membuka sisi aslinya arga kepada lisna
Akhirnya minggu tenang tiba—libur panjang semester pertengahan yang dinanti-nantikan seluruh mahasiswa kampus. Gedung fakultas yang biasanya riuh rendah kini sunyi senyap, menyisakan kesunyian yang damai. Dan untuk pertama kalinya sejak kami berjanji menyembunyikan segalanya, kami tak lagi harus berpura-pura. Tak ada lorong yang mengawasi, tak ada teman yang menatap curiga, tak ada aturan yang melarang kami berbicara sebagai dua hati yang saling memiliki.
Pertemuan itu terjadi di sebuah kafe kecil yang tenang di pinggiran kota, tempat yang tak akan diketahui siapa pun dari lingkungan kampus. Aku datang lebih dulu, duduk di sudut dekat jendela, jantungku berdebar kencang—bukan karena takut, melainkan karena ini adalah pertama kalinya kami bertemu bukan sebagai dosen dan mahasiswi, melainkan sebagai Lisna dan Arga.
Saat pintu kafe terbuka dan sosoknya muncul, aku hampir tak mengenalnya. Tak ada kemeja putih rapi, tak ada jas yang berwibawa, tak ada wajah tegas yang selalu ia tampilkan di depan kelas. Ia mengenakan kemeja katun berwarna biru muda yang digulung hingga siku, celana kain santai, dan senyum yang begitu lepas, begitu hangat, begitu berbeda dari senyum tipis yang selalu ia berikan di kampus. Wajahnya terasa lebih muda, lebih tenang, dan matanya bersinar tanpa harus menyembunyikan apa pun.
"Maaf membuatmu menunggu," ucapnya lembut begitu sampai di mejaku, lalu duduk di hadapanku dengan santai. Tak ada jarak, tak ada kecanggungan. Hanya kedekatan yang wajar dan diharapkan.
"Itu tidak apa-apa, Kak..." panggilan itu meluncur begitu saja dari bibirku tanpa kusengaja. Aku sempat tertegun, takut ia keberatan. Namun justru sebaliknya, ia tersenyum lebih lebar, matanya menyipit bahagia.
"Panggil saja begitu, Lisna. Di sini tak ada Pak Arga, tak ada dosen. Hanya Arga. Hanya kita berdua."
Kalimat itu begitu sederhana namun membuat dadaku terasa lega seketika. Beban yang selama ini kupikul—menyembunyikan, menjaga jarak, berpura-pura—seketika luruh. Di sini, di tempat ini, aku bisa menjadi diriku sendiri. Dan ia pun bisa menjadi dirinya yang sesungguhnya.
Sepanjang percakapan sore itu, aku mengenal sisi lain dari dirinya yang tak pernah ia tunjukkan di kampus. Arga yang ternyata memiliki tawa yang renyah dan lepas, bukan senyum tipis yang terkendali. Arga yang suka bercerita dengan antusias, matanya berbinar saat membicarakan hal-hal yang ia sukai. Arga yang ternyata lembut, perhatian, dan penuh kasih sayang—bukan sosok tegas dan dingin yang selama ini dilihat orang lain.
Ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang mimpi-mimpinya, tentang ketakutan dan harapannya yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Dan di setiap kalimat yang keluar dari bibirnya, aku semakin menyadari satu hal: sosok yang berdiri tegas di depan kelas hanyalah salah satu sisi dirinya—sisi yang harus ia tunjukkan demi tanggung jawabnya. Namun sisi aslinya... sisi yang lembut, hangat, tulus, dan penuh kasih sayang... sisi itu hanya ia simpan untukku. Hanya untukku.
"Kau tahu, Lisna..." ucapnya pelan di tengah keheningan yang hangat, "setiap hari di kampus, aku harus menahan diri. Menahan senyum, menahan rindu, menahan keinginan untuk berjalan mendekat dan bertanya kabarmu. Aku harus bersikap tegas bukan hanya untuk menjaga nama baik kita, tapi juga karena aku takut jika aku mulai menunjukkan betapa aku peduli padamu, aku takkan mampu berhenti. Dan itu berbahaya bagi kita berdua saat ini."
Ia meraih tanganku di atas meja, jari-jarinya menyentuh cincin yang tersembunyi selama ini di balik lengan bajuku. Kini lengan bajuku terangkat, cincin itu terlihat jelas, berkilau di bawah cahaya lampu kafe. Dan di jarinya pun, cincin yang sama terpasang dengan bangga, tanpa perlu disembunyikan lagi.
"Namun di sini..." lanjutnya lembut, "di sini aku tak perlu menyembunyikannya. Di sini aku bisa mengatakan padamu betapa setiap hari aku menantikan momen seperti ini. Betapa setiap kali melihatmu masuk ke kelas, hatiku merasa tenang karena kau ada di sana. Betapa setiap kali kita berpapasan di lorong, aku ingin berhenti dan menatapmu lebih lama, namun aku harus melanjutkan langkahku agar tak ada yang curiga."
Air mata bahagia menggenang di pelupuk mataku. Selama ini aku mengira hanya aku yang menahan rindu. Selama ini aku mengira hanya aku yang berat menyembunyikan perasaanku. Ternyata ia pun merasakan hal yang sama. Beban itu dipikulnya juga, sama beratnya, sama lamanya, dan sama sabarnya.
"Terima kasih, Kak..." ucapku pelan, suaraku bergetar karena haru. "Terima kasih sudah menunjukkan sisi aslimu kepadaku. Terima kasih sudah bersabar menunggu saat di mana kita bisa seperti ini."
Arga tersenyum lembut, mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. "Terima kasih sudah mau menungguku, Lisna. Terima kasih sudah mengerti bahwa ketegasan itu bukan ketidakpedulian. Dan percayalah... hari-hari seperti ini akan semakin banyak. Sampai suatu hari nanti, kita tak perlu lagi bersembunyi di kafe kecil seperti ini. Kita bisa berjalan berdampingan di mana saja, tanpa takut siapa pun melihat, tanpa takut rahasia kita terbongkar."
Sore itu berlalu begitu cepat, namun momen itu mengubah segalanya. Aku tak lagi melihatnya hanya sebagai dosenku, atau sekadar calon yang dijanjikan keluarga. Aku melihatnya sebagai pria yang utuh—dengan segala kelebihan, kelemahan, sisi tegas dan sisi lembutnya. Dan liburan singkat itu menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia kami: dunia yang penuh penyembunyian di kampus, dan dunia yang penuh kejujuran di mana kami bisa menjadi diri sendiri.
Saat berpisah di depan pintu rumahku, ia sempat berhenti dan menatapku lekat-lekat. "Ingatlah, Lisna. Di balik sikap tegas yang kau lihat setiap hari, ada sisi asliku yang hanya untukmu. Dan sisi itu... akan selalu ada, menunggumu, mencintaimu, dan menjagamu—baik di tempat yang tahu maupun di tempat yang tak tahu."
Malam itu, sebelum terlelap, aku tersenyum sendiri menatap langit-langit kamarku. Hatiku terasa penuh dan utuh. Karena kini aku tahu—aku tak hanya mencintai sosok yang tegas dan berwibawa di depan kelas. Aku mencintai Arga yang sesungguhnya. Arga yang lembut, tulus, dan penuh kasih sayang. Arga yang hanya terbuka kepadaku. Dan itu adalah hal terindah yang pernah kuterima dalam hidupku.
bersambung...