Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 AYAH DAN IBU DADAKAN
...BAB 22...
...AYAH DAN IBU DADAKAN...
Amelia masih berdiri di depan pintu apartemen. Bintang berada dalam pelukannya.
Tubuh bayi itu masih panas. Wajahnya memerah, sementara tangisannya terdengar semakin lemah.
Amelia berkali-kali melihat layar ponsel.
22.34.
"Reyga, cepatlah..."
Ia kembali menempelkan telapak tangannya ke dahi Bintang.
"Ya Allah, panasnya masih belum berhenti!" Amelia mulai panik.
Tak lama kemudian, suara kendaraan motor terdengar dari luar. Langkah kaki berlari mendekati pintu. Pintu terbuka.
Reyga muncul dengan napas memburu. "Amelia!"
Amelia langsung menatapnya kesal. "Baru pulang?"
Reyga terdiam melihat wajah Amelia yang terlihat marah. Kemudian pandangannya jatuh pada Bintang.
"Bagaimana kondisinya sekarang?"
"Bintang masih panas."
Reyga langsung mendekat. Tangannya menyentuh dahi Bintang. Wajahnya berubah.
"Kenapa panas banget?"
"Karena kamu kelamaan!"
Reyga menatap Amelia. "Gue minta maaf."
"Tadi katanya cuma sebentar."
"Iya. Gue salah."
"Ini bukan waktunya pesta!"
"Gue tahu." Reyga mengambil tas Bintang. "Ayo kita ke Rumah Sakit sekarang."
Amelia mengangguk cepat. "Pake mobil kantor aku aja!" saran Amelia, yang lekas mengambil kunci mobilnya di atas meja.
Amelia tahu karena satu-satunya kendaraan Reyga hanya motornya. Tidak mau kalau sampai Bintang terkena angin malam.
Setelah Reyga memakaikan jaket tebal untuk Bintang, dia langsung menggendongnya.
"Ya sudah ayo." Mereka berdua bergegas keluar.
Beberapa menit kemudian, mobil Amelia melaju meninggalkan apartemen. Reyga duduk di kursi belakang sambil memangku Bintang. Tangannya terus mengusap kepala bayi itu.
"Tenang ya Nak."
Bintang merengek kecil. Reyga menatap wajahnya dengan cemas.
Amelia melirik melalui kaca spion. Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat Reyga benar-benar panik. Lelaki yang biasanya tenang itu bahkan berkali-kali melihat jam.
"Masih lama?" tanya Reyga.
"Sepuluh menit lagi."
"Sepuluh menit?"
"Iya!"
"Kenapa terasa lama banget?"
Amelia mendengus. "Tadi waktu kamu di pesta nggak terasa lama, kan?"
Reyga terdiam. "Amelia..."
"Apa?"
"Jangan marah dulu."
"Aku nggak marah." Nada suara Amelia justru semakin menunjukkan bahwa dirinya marah.
Reyga menghela napas. "Gue benar-benar minta maaf."
Amelia diam. Beberapa detik kemudian, ia berkata, "Kalau Bintang kenapa-kenapa..."
"Ya itu salah gue." Reyga menunduk. "Gue yang salah."
Amelia tidak menjawab lagi. Begitu sampai rumah sakit, mereka langsung turun.
Reyga menggendong Bintang. Amelia berjalan di sampingnya sambil membawa tas Bintang.
"Dokter!" panggil Amelia.
Seorang perawat segera menghampiri. "Bayinya demam?"
"Iya. Tadi 39,6 derajat," jawab Amelia.
"Baik, mari dedeknya dibawa masuk."
Reyga mengikuti. Amelia ikut masuk.
Seorang dokter memeriksa Bintang. "Sejak kapan demamnya?"
"Baru sekitar satu jam lalu," jawab Reyga.
"Sudah diberi obat?"
"Belum." Amelia dan Reyga menggeleng.
Dokter mengangguk. Setelah memeriksa beberapa bagian tubuh Bintang, dokter kemudian bertanya. "Anaknya sudah berapa bulan?"
Reyga menjawab cepat. "Sembilan bulan."
"Anak pertama?" tanya Dokter itu.
Reyga menelan ludahnya kasar, tanpa basa-basi dia langsung mengangguk saja. "Iya."
Amelia yang berdiri di sampingnya langsung melotot. Anak pertama?! ulangnya dalam hati.
Dokter kemudian melihat Amelia. "Bu, sebelumnya suhu anaknya berapa?"
Amelia membeku. "Eh..."
Reyga meliriknya. Tatapan mereka bertemu. Amelia langsung sadar. Kalau sekarang mereka mengatakan Bintang bukan anak mereka, pertanyaan lain pasti bermunculan.
Bayi siapa? Dari mana? Kenapa bisa bersama mereka?
Akhirnya Amelia menjawab dengan gugup. "Eem, 39,6 derajat, Dok."
Dokter mengangguk. "Baiklah. Untuk sementara tidak perlu terlalu khawatir. Kemungkinan demam akibat infeksi ringan, tapi tetap harus dipantau."
Reyga menghela napas lega. "Syukurlah."
Perawat mengambil Bintang untuk memberikan obat.
Reyga spontan maju. "Hati-hati."
Amelia menahan senyum.
Seorang perawat justru tersenyum melihat mereka. "Papanya kelihatan panik sekali."
Reyga terdiam. Kemudian menjawab singkat.
"Ah. Iya."
Amelia langsung menoleh tajam. IYA?!
Perawat kemudian melihat Amelia. "Ibunya juga tenang sekali."
Amelia hampir tersedak. "Saya..."
Reyga cepat-cepat menyela. "Dia memang begitu."
Amelia menatapnya. "Begitu apanya?"
Reyga berbisik. "Udah."
Perawat tersenyum. "Kalian pasangan muda, ya?"
Keduanya langsung diam. Amelia merasa wajahnya panas.
Reyga justru memasukkan tangannya ke saku. "Iya suster."
Amelia mencubit lengannya pelan.
Reyga meringis. "Aduh!"
Perawat tertawa kecil. "Kelihatannya kalian kompak."
"Kompak dari mana?" bisik Amelia.
"Kalau kita jelasin semuanya, pertanyaannya bisa panjang," balas Reyga pelan.
Amelia menghela napas. "Makanya jangan jawab iya terus!"
"Gue panik."
"Yang panik bukan cuma kamu!"
Bintang tiba-tiba menangis. Keduanya langsung berhenti berdebat.
Amelia maju. "Sudah, sudah Nak..."
Reyga ikut mendekat. "Ayo, Nak."
Perawat yang melihat mereka hanya tersenyum. "Benar-benar seperti ayah dan ibu baru."
Amelia dan Reyga saling pandang. Keduanya sama-sama diam.
Setelah beberapa waktu, kondisi Bintang mulai membaik. Dokter memberikan obat penurun panas dan beberapa instruksi.
"Pastikan dia banyak minum. Kalau demam semakin tinggi atau muncul gejala lain, segera kembali."
Reyga mengangguk serius. "Baik, Dok."
Amelia mencatat semua instruksi di ponselnya. "Obatnya tiga kali sehari?" tanya Amelia.
"Iya."
"Setelah makan?"
"Yang ini obat setelah makan."
Reyga ikut bertanya. "Kalau susah makan Dok?"
"Berikan sedikit-sedikit."
Amelia dan Reyga kembali mengangguk bersamaan.
Dokter tersenyum. "Kelihatannya kalian sudah terbiasa mengurus anak."
Reyga terdiam. Amelia juga diam. Padahal beberapa minggu lalu mereka bahkan masih bingung membedakan ukuran popok.
Mereka akhirnya keluar dari rumah sakit. Bintang tertidur dalam gendongan Reyga.
Amelia berjalan di sampingnya. "Besok jangan lupa berikan obatnya."
"Iya."
"Dan jangan ditinggal sendirian."
"Iya."
"Kalau dia demam lagi—"
"Iya."
Amelia berhenti. "Kenapa jawabnya iya-iya terus?"
Reyga menoleh. "Karena gue tahu gue salah."
Amelia menghela napas. Kemarahannya perlahan mereda. "Bagus kalau sadar."
Mereka berjalan menuju mobil. Namun tiba-tiba Reyga berkata, "Amelia."
"Hm?"
"Terima kasih."
Amelia menatapnya. "Untuk apa?"
"Udah nemenin Bintang. Reyga menatap Bintang yang sedang tertidur. "Kalau nggak ada lo, gue mungkin nggak tahu harus bagaimana."
Amelia tersenyum kecil. "Jangan terlalu memuji. Nanti aku minta bayaran."
Reyga mengangkat alis. "Bayaran?"
"Iya. Aku tadi hampir jantungan."
Reyga tertawa kecil. "Berapa?"
"Seratus juta."
"Rakus sekali."
Amelia ikut tertawa. "Ya sudah, lima puluh."
"Sepuluh."
"Empat puluh."
"Lima."
"Reyga!"
Reyga tertawa.
Untuk beberapa detik, ketegangan malam itu terasa hilang. Di perjalanan pulang, Bintang masih tertidur. Reyga duduk di belakang sambil memangkunya.
Amelia menyetir. Sesekali ia melirik kaca spion. Pemandangan itu terasa aneh.
Reyga yang biasanya dingin, kini begitu hangat, dia sangat hati-hati menggendong Bintang. Sementara dirinya, entah kenapa sudah seperti orang yang ikut bertanggung jawab.
"Reyga."
"Hm?"
"Dokter tadi benar-benar mengira kita suami istri."
Reyga diam sebentar. "Terus?"
"Terus apa?"
"Ya biarin."
Amelia langsung mengerutkan kening. "Enak saja."
Reyga tersenyum tipis. "Yang penting Bintang aman."
Amelia menggeleng. "Dasar."
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di apartemen. Reyga turun lebih dulu. Ia membuka pintu.
Amelia mengambil tas Bintang. Reyga menggendong bayi itu masuk. Mereka kemudian saling pandang.
"Taruh di kamar."
"Iya."
Keduanya berjalan menuju kamar. Tanpa sadar, mereka bergerak seperti pasangan yang sudah sering melakukan hal itu.
Reyga membaringkan Bintang. Amelia membetulkan selimutnya.
Reyga mengecek suhu tubuhnya. Amelia memastikan obat sudah diletakkan di meja kecil dekat tempat tidur.
Setelah selesai, keduanya berdiri di sisi tempat tidur. Bintang tidur dengan pulas.
Amelia tersenyum lega. "Syukurlah panasnya sudah turun."
Reyga mengangguk. Kemudian ia menatap Amelia. "Terima kasih sekali lagi."
Kali ini Amelia hanya tersenyum. "Sama-sama."
Namun ketika mereka keluar dari kamar, keduanya tidak menyadari satu hal.
Di rumah sakit tadi, mereka telah berperan sebagai ayah dan ibu.
*****
Setelah memastikan Bintang tertidur, Amelia melirik jam di dinding.
01.15 dini hari.
Matanya langsung membesar. "Astaga..."
Reyga yang sedang duduk di sofa menoleh. "Kenapa?"
"Sudah jam satu."
Reyga ikut melihat jam. Ia terdiam. "Serius?"
"Iya. Waktu tak terasa banget." Amelia menghela napas panjang. "Aku harus segera pulang."
Reyga langsung menatapnya. "Sendirian?"
Amelia mengangguk.
"Gue antar."
"Kamu?"
Reyga menunjuk dirinya sendiri. "Memangnya siapa lagi?"
Amelia melirik Bintang yang masih tidur di kamar. "Kalau kamu pergi, lalu siapa yang menjaga Bintang?"
Reyga terdiam. Benar juga. Bintang masih demam meskipun suhunya sudah mulai turun.
Amelia mengusap wajah. "Sudahlah. Aku kan bawa mobil sendiri."
"Jam segini? Ini sudah larut Amel." Reyga langsung menggeleng. "Nggak."
"Terus?"
Reyga tampak berpikir. "Lo... bisa menginap di sini."
Amelia langsung menatapnya. "Hah apa?"
"Sampai pagi saja."
"Di sini?"
"Iya."
Amelia terdiam.
Reyga buru-buru menambahkan, "Bukan apa-apa. Maksud gue... Bintang masih sakit. Kalau demamnya naik lagi, gue mungkin butuh bantuan."
Amelia menatapnya beberapa detik. Alasan itu masuk akal.
Terlebih dirinya juga merasa tidak tega meninggalkan Bintang dalam keadaan seperti itu.
"Baiklah."
Reyga terlihat lega.
"Tapi aku harus telepon Ibuku dulu." Amelia mengambil ponselnya. Ia berjalan agak menjauh sebelum menelepon ibunya.
"Bu?"
Suara ibunya terdengar dari seberang.
["Iya, Lia? Kamu di mana? Ini sudah malam."]
Amelia menggigit bibir. "Lia... malam ini mungkin nggak bisa pulang."
["Hah? Kenapa?"]
Amelia melirik ke arah Reyga. Lelaki itu sedang mengambil air minum di dapur.
"Ada pekerjaan mendadak."
["Jam segini?"]
"Iya, Bu. Ada urusan yang harus diselesaikan. "Besok pagi Lia pulang kok?"
"Iya Bu..."
Setelah telepon berakhir, Amelia menghela napas lega.
Namun begitu berbalik, Reyga sudah berdiri di belakangnya. "Lo bohong?"
Amelia melotot. "Bukan urusanmu."
Reyga mengangkat kedua tangan. "Oke."
"Kalau Ibuku tahu aku sebenarnya sedang menjaga bayi misterius bersama pembalap yang keras kepala, bisa panjang ceritanya." sahutnya jengkel.
Reyga menahan tawa. "Pembalap keras kepala?"
"Iya."
"Baru tahu."
Amelia mendengus. "Sudah. Aku mau tidur di sofa."
Reyga menggeleng. "Jangan."
"Kenapa?"
"Lo tadi sudah capek."
"Terus?"
"Kamar Berry masih ada."
Amelia langsung menatapnya. "Kamar Berry?"
"Iya."
"Dia nggak marah kamarnya aku tempati?"
"Orangnya nggak ada di sini."
Amelia tertawa kecil. "Kalau begitu, aku pinjam kamarnya."
Reyga mengangguk. "Ya, tapi ambil selimut sendiri."
"Peliiit."
"Ini apartemen teman gue, bukan hotel."
Amelia menjulurkan lidah. "Dasar."
Reyga berjalan menuju kamar Bintang. Amelia ikut memperhatikan. "Bintang masih panas?"
Reyga menyentuh dahi bayi itu. "Sudah lebih baik."
Amelia ikut mendekat. Mereka berdiri berdampingan di sisi tempat tidur.
Bintang tiba-tiba menggerakkan tangannya. Jarinya mencari-cari sesuatu. Kemudian menggenggam jari Reyga. Reyga terdiam.
Amelia tersenyum. "Dia nyari kamu."
Reyga menatap tangan kecil itu. "Anak ini aneh."
"Kenapa?"
"Kalau sama gue anteng."
Amelia terkekeh. "Berarti dia tahu siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban."
Reyga menatapnya tajam. "Jangan nyindir."
Amelia tertawa pelan.
Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri di sana. Tidak ada pesta. Tidak ada wartawan. Tidak ada kamera. Tidak ada pembalap atau reporter.
Hanya seorang bayi yang sedang tidur dan dua orang dewasa yang kelelahan setelah malam panjang.
Akhirnya Amelia menguap. Reyga langsung menunjuk kamar.
"Udah. Buruan Lo tidur."
"Kamu sendiri?"
"Gue di sini jagain Bintang."
"Jangan sampai kamu malah ketiduran."
"Enggak."
Amelia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. "Reyga."
"Hm?"
"Kalau Bintang demam lagi, bangunin aku."
Reyga tersenyum tipis. "Iya."
Amelia mengangguk lalu masuk ke kamar Berry. Pintu perlahan tertutup.
Reyga kembali duduk di samping tempat tidur Bintang. Ia memandang bayi itu. Kemudian tanpa sadar tersenyum kecil.
Malam ini benar-benar berbeda. Untuk pertama kalinya, apartemen yang biasanya hanya dipenuhi suara dirinya dan Berry kini terasa seperti rumah kecil yang aneh. Terasa nyaman dan hangat.
Reyga menggeleng. "Kenapa gue jadi mikir aneh-aneh?"
Ia segera membaringkan tubuhnya di sofa. Namun belum sempat memejamkan mata...
Bintang merengek kecil. Reyga langsung bangun. "Iya, iya... gue di sini."
Dari dalam kamar, Amelia mendengar suara itu. Ia tersenyum kecil sebelum akhirnya memejamkan mata.
Malam itu mereka memang belum menyadarinya. Tetapi untuk pertama kalinya, mereka bertiga melewati malam yang sama di bawah satu atap.
Bersambung...