Indonesia
NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:68.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dipanggil teman baru : 22

Bungkus dupa tersentuh jari langsung ditarik keluar dan diletakkan di atas meja.

Galih berjongkok membuka pintu lemari paling bawah, mengambil lampu minyak yang tersimpan di sana.

Gerakan suaminya Hamima terlihat terlatih, seakan sudah tidak asing berada ditempat temaram minim cahaya seperti ini.

Lampu minyak dihidupkan, dan tiga lidi dupa dinyalakan. Kedua benda tersebut disimpan dalam nakas yang belum pernah diperiksa oleh Hamima.

Nyala api dari sumbu menciptakan bayangan tenang di dinding, lampu minyak diletakkan dilantai bersebelahan dengan tampah sesaji.

Aroma kayu gaharu, cengkeh mulai tercium. Asap dupa meliuk-liuk membumbung tinggi, dan si pembawa dupa sedang mengelilingi kamar membaui setiap sudut.

Galih membuka pintu di pojokan, lalu masuk ke kamar bayi yang terlihat lebih gelap sebab sedikit ventilasi terpasang di tembok tinggi.

Sepasang netra hitam pekat itu sama sekali tak bergetar, memandang kosong. Dupa digoyangkan agar nyala bara api terus membakar merambat ke bawah.

Tidak ada keanehan yang terjadi saat Galih berada ditempat gelap, sedang melakukan ritual entah apa maksudnya atau dari siapa ajaran itu.

Benda-benda tetap di tempatnya, suara aneh pun enggan berbunyi, sosok menyeramkan tidak muncul.

Namun, pada kamar berpenghuni — bayi yang tertidur pulas tiba-tiba membuka mata, melotot tajam menatap plafon.

Pujiara terduduk. Dia tidak menangis maupun merengek. Melainkan terdiam dengan mulut tertutup rapat. Kepalanya mendongak, seakan ada seseorang mengajaknya bercengkrama.

Sang ibu yang tadi sekuat tenaga menahan kantuk demi menunggu sesuatu atau mendengar suara aneh, dan berencana memergoki suaminya, kini tertidur pulas tanpa mengetahui kedua kaki putrinya menggantung di tepi tempat tidur.

Pujiara hendak turun, tinggi badannya yang masih pendek, membuat kakinya menggantung dengan siku bertumpu di kasur.

Bugh!

Bayi memakai baju tidur itu terjatuh, bokongnya menghantam lantai, tapi dia tidak menangis, langsung merangkak mencapai pintu.

Daun pintu yang tertutup rapat, pelan-pelan terbuka sendiri, dan Pujiara merangkak keluar.

Telapak tangan berlemak memukul lantai, lutut tertutup celana tidur gambar boneka beruang dihentakkan supaya langkahnya lebih cepat.

Terdengar grendel digeser, lalu pintu kayu terhempas tanpa menimbulkan suara. Terbuka sendiri.

Angin berkekuatan sedikit kencang masuk, menerpa rambut keriting Pujiara hingga bergoyang lembut.

Dari pintu belakang yang terbuka lebar, sosok lebih tua dari Ara, bertepuk tangan seolah menyemangati.

Sudut bibir Ara tertarik menyuguhkan senyum dengan mata berbinar cerah.

Ara terus maju, tidak tergoda berbelok arah maupun melihat ke sana kemari.

Sang teman yang sering datang, mengajak bermain — sabar menunggu. Tubuhnya lebih tinggi dari Ara, tetapi badannya kurus. Warna kulitnya pucat, rambut hitam lurus dibawah telinga.

Balita perempuan kurus itu memeluk boneka kain sarung, dia sudah lancar berjalan, melangkah mundur memberi ruang ke Ara yang baru saja keluar dari batas pintu.

Angin berhembus menggoyang dedaunan yang membayang di atas tanah tertimpa sinar rembulan.

Pakaian adiknya Guntur telah kotor, dia duduk sebentar di atas tanah, melihat ke pintu terbuka seolah jiwanya memanggil ibu dan kakaknya. Meminta pertolongan.

Balita mengenakan gaun putih terusan yang bagian dada terus turun hingga lutut terdapat noda merah kehitaman, menoleh ke belakang, kakinya sudah naik ke atas semen mengelilingi sumur.

“Bu, bu ….” panggilan itu lemah. Ara bimbang, tangannya melambai di udara malam hari.

“Ayo cini … main,” suaranya membujuk, merdu, bersahabat. Ia sudah bersandar di buis beton sumur setinggi dadanya.

Ara menggeleng, menangis. Instingnya mengenali bahaya memperingati alam bawah sadar jika sedang berada ditempat tak aman.

Sang sahabat tiba-tiba merubah ekspresi — sepasang mata hitam membalik dan berubah menjadi putih. Urat-urat hitam menyembul di bawah kulit pipi merambat sampai leher.

Boneka kain sarung dilempar kedalam sumur, sedetik kemudian berbunyi air berkecipak.

Suara tangisan Ara melengking, namun dia tidak bergerak menjauh maupun mendekat. Tetap bertahan duduk di atas tanah.

***

Di dalam kamar keramat, Galih masih memutari kamar bayi. Dupa dalam genggaman sudah terbakar separuh.

Sementara itu, pada kamar yang ditempati oleh remaja laki-laki — asap putih keluar dari dalam lemari, meliuk-liuk memasuki raga yang tengah terlelap.

Tubuh Guntur mengejang, ia tersentak duduk di atas tilam. Sorot mata terbuka itu dingin, tajam, deru napasnya teratur.

Sepasang kaki menjejak lantai, seperti patung diberi nyawa — Guntur berjalan keluar kamar, terus melangkah ke belakang.

Pujiara sudah berdiri, berpegangan pada tepian buis cor-coran semen.

Dari dalam sumur — tangan berkulit pucat menarik jemari Ara.

Tumit kaki yang tadi menjejak lantai semen, kini terangkat dan Pujiara berjinjit. Badannya tertarik ke atas sampai siku sudah bertumpu di tepian buis.

Hiks hiks hiks …. “Bu, Bu ….”

Suaranya serak. Pujiara kesulitan bernapas karena dadanya menekan lingkaran keras.

Sang sahabat menyeringai kesenangan, bola mata putihnya berkilat. Dia menarik lebih kencang supaya dalam satu kali hentakan teman barunya terjatuh ke dalam sumur.

Arghhh!

Jeritan menggeram itu memantul di dalam sumur gelap, lalu terdengar tangisan kemarahan, dan sosoknya menghilang.

Guntur tepat waktu menarik badan adiknya sebelum terjatuh masuk ke dalam sumur.

“Mammas ….” Ara memeluk leher sang kakak yang sama sekali tidak merespon seperti biasa.

Dibawanya Ara masuk ke dalam rumah, lalu pintu tertutup dengan sendirinya.

Guntur masuk ke kamar ibunya, membaringkan Ara di atas tempat tidur, membiarkan wanita masih pulas tetap tertidur.

Raga tengah dikuasai sosok tak kasat mata itu berjalan keluar, lalu masuk ke kamar Guntur.

Bugh!

Tubuh Guntur melemas, jatuh di atas lantai dingin, wujud berasap putih sudah keluar dari raganya.

***

Duarr!

Suara ledakan tanpa adanya sesuatu meledak — mengejutkan beberapa orang yang duduk melingkar, mengelilingi bokor tembaga.

Sesaji di atas nampan terletak pada meja persegi, terjatuh dan isinya berserak.

Air dalam wadah kuning tembaga menyembur keluar, menciprat ke wajah-wajah dikuasai amarah.

“BEDEBAH!!!”

.

.

Bersambung.

1
AFPA
setaaaaaaaan
Damn Nwtch
tetap jaga kesehatan Jak biar bisa hadapi dunia nyata dan dunia cerita cerita
Cublik: Terima kasih, Kak 🙏
total 1 replies
Shee_👚
hewan kak tur, atau burung dah jangan bikin ku takut🤭
sryharty
semoga langkah Mima dan guntur di permudah,,
tidak akan terjadi apa2 sama mereka
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
was2 ya takut rosna jahat
Shee_👚
jadi inget cerita kanti yang mau nyelamatin aya
Shee_👚
semoga keputusan terbaik mima
Shee_👚
aduh aku ko ya takut mima sama anak² kenapa². ini harus percaya sama rosna apa gimana ko ya takut di tipu aku
Shee_👚
kamu itu tulus atau hanya pura² baik rosna
AFPA
oke ditunggu..selalu
AFPA
smoga lancar semuanya kak..
jaga kesehatan
AFPA
duh mau ada apa ini..rosna mau ngapain?
apakah rosna berkomplot sama mbah nar?
#enggak nebak tapi bertanya²#
Aprisya
ya Alloh deg degan aku
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
semoga saja Rosna baik ya gak jahat 😏😏🤗
neni nuraeni
hayoo apa ituuuu
Betri Betmawati
moga ja keputusan Mima benar dan bisa mengukap tabir rumah itu
nth apa sebenarnya terjadi
Fitriyazahra
sudah 29 bab dan aq masih menerka meraba🙄
Betri Betmawati
ini Rosna baik apa jahat ya kok mencurigakan ya
bingung menilai dia si Mbah tu jg membingungkan
Kaka Shanum
belum jelas mana kawan mana lawan...masih misteri banget tapi aku curiga galih ngelakuin ritual apa karena yang dikamar nya itu adalah anak istri nya
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Positif thinking saja lah mim, coba kamu cepat2 ke hunian mbh Nar. supaya kamu tahu alasannya, kenapa anak2 kamu selalu saja di gangguin sama penghuni rumah. apa bener ada yang snegaja pingin numbalin anak2 kamu? atau karena mereka terusik dengan kedatangan kamu? tapi kenapa masih jauh2 hari, Guntur sudah di mimpiin perihal rumah itu? Guntur serasa di kejar2 setan, berarti semenjak Galih berada di rumah itu, Galih sudah melakukan Ritual kan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!