Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22. SEBELUM MATAHARI TENGGELAM

BAB 22. Sebelum Matahari Tenggelam

Suasana ruang CEO Arshaka Group kembali dipenuhi kesibukan sejak pagi. Seperti biasa, sekretaris keluar masuk membawa dokumen yang harus ditandatangani, sementara beberapa kepala divisi datang bergantian menyampaikan laporan perkembangan proyek masing-masing. Hagia duduk di meja kerjanya sambil menyusun agenda, memastikan seluruh jadwal Kalandra berjalan sesuai urutan yang telah diperbarui sehari sebelumnya.

Perubahan terbesar terdapat pada jam terakhir. Semua rapat yang sebelumnya sering berlanjut hingga petang kini telah dipindahkan ke pagi atau menjelang siang. Beberapa pembahasan yang tidak mendesak dijadwalkan ulang ke hari lain, sedangkan pekerjaan yang dapat diselesaikan melalui surat elektronik tidak lagi memerlukan pertemuan langsung.

Awalnya Hagia mengira perubahan itu hanya berlaku untuk sehari. Namun, ketika melihat agenda hari itu, ia mulai memahami bahwa Kalandra benar-benar mengubah ritme kerjanya.

"Tuan."

Kalandra mengangkat pandangan dari layar laptop.

"Agenda pukul empat sore sudah kosong."

"Saya tahu."

"Divisi pemasaran tadi meminta tambahan waktu untuk membahas strategi peluncuran."

"Besok pagi."

Jawaban itu singkat. Hagia segera mencatat perubahan tersebut tanpa bertanya lebih jauh. Menjelang siang, rapat evaluasi proyek berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Begitu rapat selesai, Kalandra langsung berpindah ke pembahasan berikutnya tanpa memberi jeda. Cara kerjanya tetap sama seperti biasanya. Cepat, teliti, dan tidak menyisakan pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan hari itu. Perbedaannya hanya satu. Tidak ada lagi agenda baru yang dimasukkan setelah pukul empat sore.

Pukul tiga lewat lima puluh menit, sekretaris utama mengetuk pintu ruang CEO.

"Pak, Direktur Pengadaan ingin bertemu sebentar."

"Besok."

"Beliau bilang hanya lima belas menit."

"Besok pagi."

Sekretaris itu mengangguk, lalu keluar sambil membawa kembali map yang sempat disiapkannya. Hagia memperhatikan semuanya dalam diam. Sejak mulai bekerja bersama Kalandra, baru kali itu ia melihat pria tersebut menolak sebuah pertemuan yang sebenarnya masih sempat dilakukan pada hari yang sama.

Jarum jam perlahan bergerak mendekati pukul empat. Kalandra menutup laptopnya, lalu memasukkan beberapa dokumen ke dalam map kulit berwarna hitam yang selalu dibawanya.

"Kita pulang."

Hagia spontan melirik jam dinding.

Masih tepat pukul empat. Untuk sesaat ia merasa seolah jam di ruangan itu berjalan lebih cepat daripada biasanya. Ia segera merapikan meja kerjanya, mengambil buku agenda dan tablet, lalu berdiri mengikuti langkah Kalandra keluar dari ruang CEO. Koridor lantai eksekutif masih dipenuhi aktivitas. Beberapa karyawan yang berpapasan tampak terkejut melihat Kalandra sudah meninggalkan ruangannya. Bahkan dua orang staf yang baru keluar dari ruang fotokopi sempat menghentikan langkah ketika melihat sang CEO berjalan menuju lift.

"Selamat sore, Pak."

Kalandra membalas dengan anggukan singkat tanpa menghentikan langkah.

Pintu lift eksekutif terbuka beberapa detik kemudian. Begitu keduanya masuk, pintu kembali menutup perlahan, memisahkan mereka dari hiruk-pikuk kantor yang masih jauh dari kata usai. Hagia berdiri di samping Kalandra sambil memandangi angka-angka yang terus berganti pada panel lift.

"Masih terasa aneh?" tanya Kalandra tiba-tiba.

Hagia menoleh. "Sedikit."

"Aneh karena pulang lebih awal?"

"Iya."

Sudut bibir Kalandra nyaris membentuk senyum tipis, meski hanya sesaat. "Nanti juga terbiasa."

Lift terus bergerak turun. Di luar gedung, matahari masih menggantung di langit barat ketika mereka meninggalkan gedung Arshaka Group. Pemandangan yang selama ini hanya sempat dilihat Hagia dari balik jendela ruang CEO, kini menyambutnya secara langsung.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan Kalandra memasuki area parkir rumah sakit. Langit masih menyisakan cahaya keemasan ketika keduanya berjalan berdampingan menuju ruang rawat inap VIP tempat sang kakek dirawat. Seorang perawat yang sedang keluar dari ruang perawatan langsung tersenyum begitu melihat mereka.

"Selamat sore, Pak Kalandra."

"Bagaimana kondisi Kakek hari ini?" tanya Kalandra.

"Jauh lebih baik. Sejak siang beliau malah beberapa kali tanya apa Tuan jadi datang sore ini."

Kalandra mengangguk kecil.

"Terima kasih."

Perawat itu berpamitan, sementara Kalandra dan Hagia melanjutkan langkah. Namun, tiba-tiba mereka berhenti tepat di depan pintu ruang perawatan.

Kalandra belum langsung mendorong gagang pintu. Ia menoleh sekilas ke arah Hagia yang berdiri di sampingnya.

"Satu hal."

Hagia mengangkat pandangan.

"Di depan Kakek, jangan panggil saya 'Tuan'."

Hagia baru menyadari kebiasaannya selama beberapa hari terakhir memang belum berubah.

"Lalu saya harus memanggil Anda apa?"

"Panggil Kalandra, tidak apa-apa."

Hagia tampak ragu. "Itu terdengar aneh."

"Kalau begitu, tidak usah memanggil." Jawaban singkat itu membuat Hagia terkekeh pelan.

"Baik."

Kalandra mengangguk kecil. Sesaat kemudian, tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia mengulurkan tangan. Hagia sempat memandang tangan itu beberapa detik sebelum perlahan meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Kalandra.

Pria itu menggenggamnya dengan tenang. Tidak terlalu erat. Namun, cukup untuk menunjukkan bahwa mereka datang sebagai suami dan istri.

Wajah Kalandra tetap datar seperti biasa, seolah menggandeng tangan Hagia bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Setelah memastikan Hagia telah berada di sisinya, barulah ia mendorong pintu ruang perawatan.

"Ternyata benar kalian datang."

Suara Pak Arshaka langsung menyambut begitu keduanya melangkah masuk. Wajahnya memang masih menyisakan pucat akibat sakit, tetapi sorot matanya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya.

"Kakek." Hagia menghampiri lebih dulu, kemudian membungkukkan badan mencium punggung tangan pria tua itu. "Bagaimana kabarnya hari ini?"

"Kalau kalian datang begini, rasanya semua obat jadi lebih manjur."

Jawaban itu membuat Hagia tersenyum kecil. Sementara itu, Kalandra hanya menarik kursi di samping tempat tidur, lalu duduk tanpa banyak bicara.

Pak Arshaka memandang cucunya bergantian dengan Hagia sebelum akhirnya terkekeh pelan.

"Sepertinya saya tidak salah menyuruh kalian pulang lebih cepat."

"Kakek..."

Nada suara Kalandra terdengar datar, tetapi cukup membuat pria tua itu semakin geli.

"Apa?" balasnya sambil tersenyum. "Memangnya kakek salah?"

"Tidak."

"Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti orang yang dipaksa datang ke rumah sakit?"

"Saya memang datang karena ingin menjenguk Kakek."

"Bagus." Pak Arshaka mengangguk puas. "Jangan cuma perusahaan yang diurus. Orang tua juga perlu ditemui."

Kalandra tidak membalas. Ia sudah terlalu sering mendengar nasihat serupa sejak beberapa hari terakhir. Melihat cucunya memilih diam, Pak Arshaka mengalihkan perhatian kepada Hagia.

"Bagaimana? Anak ini masih menyuruhmu bekerja sampai malam?"

Hagia melirik Kalandra sekilas sebelum menjawab.

"Tidak lagi, Kek."

"Nah." Pak Arshaka menatap Kalandra dengan wajah penuh kemenangan. "Saya bilang juga apa."

"Kakek terlalu banyak berpikir."

"Bukan terlalu banyak berpikir." Pria tua itu tersenyum sambil menggeleng. "Kamu saja yang terlalu banyak bekerja."

Suasana ruangan kembali dipenuhi tawa kecil.

Beberapa saat kemudian, seorang perawat masuk membawa obat untuk pemeriksaan sore. Hagia tanpa diminta langsung membantu mengatur meja kecil di samping tempat tidur agar lebih mudah dijangkau. Ia kemudian menuangkan air hangat ke dalam gelas sebelum menyerahkannya kepada Pak Arshaka.

"Terima kasih."

"Sama-sama, Kek."

Perawat memperhatikan pemandangan itu sambil tersenyum.

"Beliau memang lebih semangat kalau ada yang menemani."

"Kalau begitu, kami akan lebih sering datang," ujar Hagia.

Pak Arshaka langsung mengangguk cepat. "Itu baru cucu kesayangan."

"Kek..." protes Kalandra singkat.

"Lho, memang begitu." Pria tua itu tertawa pelan. "Kamu juga cucu kesayangan. Tapi sekarang saya punya satu lagi."

Kalandra mengembuskan napas pelan, sementara Hagia hanya tersenyum malu. Di tengah percakapan ringan itu, suasana ruang rawat terasa jauh berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada pembicaraan mengenai saham, perusahaan, ataupun wasiat. Untuk beberapa saat, mereka hanya menghabiskan waktu sebagai sebuah keluarga yang sedang saling menemani.

Dan entah sejak kapan, Hagia mulai merasa bahwa ruang rawat itu perlahan menjadi tempat yang selalu ingin ia datangi sebelum hari benar-benar berakhir.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!