Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
salah alamat
Langkah kaki Rama dan Putri yang semula tergesa menuju pintu keluar kafe mendadak harus tertahan di dekat koridor tengah. Pintu kaca kedai kembali berayun terbuka, memunculkan dua sosok yang sangat familier bagi masa lalu Rama. Namun ketika mereka mau melangkah untuk menuju pintu keluar, disana masuklah ratna dan tony.
Yah ratna menggandeng mesra pacarnya itu.. Wanita itu berjalan dengan senyum manja yang mengembang, bergelayut di lengan pria yang malam minggu kemarin menjemputnya dengan sedan Eropa. Namun, atmosfer kemenangan yang dibawa Ratna mendadak menguap dalam sekejap. Pandangan ratna kemudian terpaku setelah melihat rama.. Langkah kakinya mendadak terkunci, matanya membelalak menatap sosok pria berambut sebahu yang kini berdiri tegap dalam balutan kemeja tipis mewah, memancarkan karisma yang belum pernah ia lihat selama mereka berpacaran dulu.
Tony yang menyadari perubahan sikap kekasihnya ikut menoleh. Alih-alih merasa canggung, kesombongan instan pria bermodal sedan putih itu langsung mengambil alih. Mereka berdua menghampirinya... melangkah mendekati meja pojok dengan senyum sinis yang menghiasi wajah Tony.
"wah wah," kata tony dengan nada meremehkan yang sangat kentara. "pantas saja kamu melepas ratna... ternyata ada yg baru... hahah," kata tony.. Tawa egoisnya bergema di dalam kedai, mencoba mengintimidasi Rama di depan publik.
Tony kemudian mengalihkan pandangannya sepenuhnya ke arah Putri. Matanya sempat berkilat kagum melihat kecantikan luar biasa dari wanita di sebelah Rama, sebelum akhirnya ia mengeluarkan jurus andalannya untuk merendahkan harga diri saingannya.
"nona cantik... sebaiknya jauhi gembel ini. lebih baik kamu jalan sama aku..." ucap Tony tanpa tahu malu.
Dengan gerakan yang sengaja dibuat dramatis agar dilihat oleh seluruh pengunjung kafe, tony pun memamerkan kunci sedan putih nya.. Ia memutar-mutar gantungan kunci berlogo merek Eropa tersebut di depan wajah Putri, seolah-olah benda itu adalah magnet terkuat yang bisa membeli kehormatan wanita mana pun.
Ratna di sebelahnya hanya diam, tatapannya masih terkunci pada perubahan drastis fisik Rama yang kini terlihat begitu gagah dan tampan. Sementara itu, putri tak marah dengan kelakuan tony.. Wajah cantiknya tetap tenang, memancarkan aura dingin kelas atas yang tak tersentuh oleh provokasi murahan. Ia menoleh sedikit, lalu dia bertanya dengan rama tentang identitas sepasang kekasih yang mendadak menghadang jalan mereka.
"siapa mereka?" tanya Putri pelan.
Rama pun menjawab seadanya.. "Mantan pacarku, dan itu pacar barunya," ucap Rama dengan nada suara yang sangat datar, seolah sedang membicarakan cuaca hari ini. Baginya, nama Ratna sudah benar-benar menjadi sejarah yang tidak memiliki arti apa-apa lagi.
Namun setelah tau siapa sosok di hadapannya, ketenangan Putri mendadak bergeser. Sebagai putri dari klan Antasena yang menjunjung tinggi harga diri, ia tidak akan membiarkan calon suaminya diinjak-injak oleh orang dari kelas bawah seperti Tony.
Putri pun menaikkan nadanya 1 oktaf, membuat suaranya yang jernih terdengar sangat tajam memenuhi ruangan kedai.
"ohhh... ini rupanya yg suka ambil pacar orang..." ujar Putri dengan sindiran yang menusuk langsung ke ulu hati.
Mendengar hal itu, wajah tony langsung berubah... Senyum sinisnya lenyap seketika, digantikan oleh kerutan amarah karena harga dirinya baru saja dipatahkan di depan kekasihnya sendiri.
"jaga bicaramu nona... jngan mentang mentang cantik kau bisa seenaknya!" kata tony dengan suara yang meninggi, mencoba membalas intimidasi verbal tersebut.
Putri melipat kedua tangannya di dada, menatap Tony dengan pandangan meremehkan yang jauh lebih mematikan. "yah aku memang cantik, kau bisa apa?" balas putri.. Sebuah serangan balik yang sangat telak, memanfaatkan keunggulan visualnya untuk membungkam argumen Tony.
Tony yang mulai kehilangan kendali emosinya mendengus kasar, wajahnya memerah karena malu. "yah kamu cantik tapi... kenapa memilih gembel...?" tanya tony tak kalah sengit, menunjuk ke arah Rama yang sejak tadi hanya menyimak dengan ekspresi cueknya.
"urusanku tak perlu kau ikut campur," kata putri... memotong kalimat Tony dengan ketegasan yang mutlak.
Tony tertawa hambar, mencoba mencari celah lain untuk mengembalikan superioritas finansialnya yang ia banggakan sejak malam minggu kemarin. Ia melirik pakaian biasa yang dikenakan Rama dan Putri yang menurutnya tidak mencerminkan kemewahan klan Antasena yang tidak ia ketahui.
"hahaha paling kamu pulang naik taksi," kata tony dengan nada mengejek yang dipaksakan.
"itupun sudah maksimal...!"
Putri hanya tersenyum mendengar hal itu.. Sebuah senyuman penuh kemenangan tersembunyi yang sarat akan ironi, mengingat sebuah supercar Bugatti seharga puluhan miliar rupiah saat ini sedang terparkir manis di luar, menunggu instruksi dari jemari Rama.
Rama yang merasa perdebatan ini sudah membuang-buang waktu berharganya, akhirnya melangkah maju. Ia memegang pundak Putri dengan lembut, memberikan isyarat bahwa tidak ada gunanya melayani kegilaan pria di hadapan mereka.
"sudahlah," kata rama kepada Putri, mengabaikan keberadaan Tony dan Ratna sepenuhnya. "perut kita g kenyang kalo debat sama orang g jelas. sebaiknya kita lanjutkan saja urusan kita yg tertunda," kata rama.
"baiklah," kata putri, ketegangannya langsung mereda begitu mendengar suara tenang Rama.Merekapun berjalan melewati ratna dan tony... Rama melangkah lurus tanpa memberikan satu lirikan pun ke arah Ratna, seolah wanita itu hanyalah udara kosong. Mereka membelah kerumunan pengunjung kafe, berjalan mantap menuju pintu keluar untuk membuktikan kepada dua orang di belakang mereka tentang siapa sebenarnya yang mengendarai gembel dan siapa yang menguasai jalanan kota.
Ratna dan tony masih saja mengejek mereka dari belakang. Suara tawa meremehkan dari mulut Tony terus berdengung di sepanjang koridor kafe, seolah ia baru saja memenangkan sebuah perdebatan besar di depan semua pengunjung. Namun, Rama tidak membalas sepatah kata pun. Langkah kakinya yang kokoh terus menuntun Putri melewati pintu kaca kafe, berjalan santai menuju area pelataran parkir yang panas.
Namun ketika rama memencet tombol yg ada ditangannya, sebuah keajaiban teknologi otomotif langsung terjadi di depan mata semua orang. Di sudut area parkir yang berdebu, sistem kelistrikan supercar seharga puluhan miliar itu mendadak aktif. Maka lampu supercar yg terparkir itu pun berkedip. Bunyi klik pengunci pintu yang khas dan putaran spion otomatis yang membuka anggun seketika memotong habis tawa sombong Tony di belakang mereka.Pemandangan itu membuat semua pengunjung jadi kaget... Suasana di luar kafe mendadak berubah menjadi sangat riuh. Orang-orang yang sejak tadi berdiri berkerumun langsung berbisik heboh dengan mata yang membelalak tidak percaya.
"gila bro itu supercar...!" seru salah seorang pemuda yang sedang nongkrong di teras luar, nyaris tersedak minuman dinginnya.
Bahkan ada juga yg bertanya tentang standar ekonomi yang baru saja mereka saksikan dari konfrontasi di dalam kafe tadi. "jika bawa supercar saja dibilang gembel, lalu gimana lagi ukuran kaya?" dia sambil menggeleng kepalanya, kebingungan setengah mati mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
"ia juga ya..." sahut temannya di sebelah, ikut menatap bodi mengkilap supercar tersebut dengan pandangan kosong.
"he eh gua juga bingung..." timpal yang lainnya lagi, merasa bahwa definisi kemewahan di kepala mereka baru saja diacak-acak oleh kenyataan brutal di depan mata.
Meskipun atmosfer di sekelilingnya sudah berubah menjadi badai syok bagi semua orang, namun tony tak kehabisan akal. Gengsi dan harga dirinya yang terlanjur jatuh di depan Ratna membuatnya menolak untuk percaya pada realita. Dengan wajah yang mulai memerah menahan malu, dia pun mendekati mereka lagi... melangkah terburu-buru menyusul Rama dan Putri yang sudah berdiri di samping pintu mobil sport mewah tersebut.
"hahaha hai gembel! habis brapa kau sewa mobil ini...?" teriak Tony dengan tawa yang dipaksakan, mencoba mencari pembenaran terakhir bahwa semua kemewahan di hadapannya ini hanyalah sebuah sandiwara murah dari Rama untuk membalas dendam patah hatinya.
Mendengar tuduhan konyol yang lahir dari keputusasaan itu, rama hanya tersenyum... Ia membalikkan badannya sedikit, menatap Tony dengan pandangan mata yang sangat santai tanpa ada riak kemarahan.
"jika ada yg nyewain ini tolong kasih tau aku.." kata rama dengan nada suara yang tenang namun sarat akan sindiran telak.
Mendengar argumen sewa-menyewa dari Tony, penonton lain pun berkomentar di antara kerumunan rasa penasaran mereka. "supercar special edisi dibilang sewa?" celetuk salah satu pencinta otomotif yang paham betul betapa langkanya seri mobil yang sedang dikendarai Rama.
"gua malah bingung dimana nyewa nya, hahahahah!" sahut pengunjung lain, menertawakan kebodohan Tony yang tidak tahu bahwa mobil kelas supercar seperti itu tidak akan pernah bisa ditemukan di jasa rental mobil mana pun di dunia.
Melihat kenyataan yang berbalik seratus delapan puluh derajat, mental Ratna yang sejak malam minggu kemarin merasa berada di atas angin mendadak runtuh sepenuhnya. Penyesalan yang sangat besar langsung menghantam dadanya saat menyadari pria yang ia buang demi sedan putih biasa, ternyata adalah pemilik dari sebuah supercar mewah. Namun ratna langsung mendekati rama.. Ia melepaskan gandengan tangan Tony begitu saja, melangkah cepat mendekati mantan kekasihnya dengan wajah penuh harap dan mata yang mulai berkaca-kaca.
"rama... kok kamu g bilang punya mobil..?" tanya Ratna dengan suara yang mendadak melunak, mencoba mencari celah untuk memperbaiki keadaan.
"buat apa" tanya rama pendek, menatap wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu dengan pandangan yang sepenuhnya asing.
"ya klo dari dulu kamu bawa ini, kita g bakal putus..." ucap Ratna tanpa tahu malu, secara tidak langsung menelanjangi sifat materialistisnya sendiri di hadapan publik dan di depan Tony yang kini mematung dengan wajah pucat pasti di belakangnya.
Rama mengembuskan napas pendek, lalu memberikan sebuah jawaban telak yang menghantam langsung ke lubuk hati mantan kekasihnya itu. "hm... kalo dari dulu aku bawa ini, maka sudah pasti kita g bakal kenal," kata rama.
Putri hanya menutup mulut nya karna sedikit tertawa mendengar jawaban taktis rama. Di sudut bibirnya, sebuah senyuman puas mengembang melihat bagaimana calon suami kontraknya mematikan argumen wanita masa lalunya tanpa perlu menggunakan kekerasan atau emosi yang meledak-ledak. Karakter Rama yang dingin dan penuh perhitungan membuat Putri semakin merasa bahwa pilihan ibunya tidak salah.
Tanpa membuang waktu lebih lama untuk melayani orang-orang yang sudah tidak penting lagi dalam hidup mereka, lalu merekapun masuk kemobil menuju arah lain nya. Pintu hidrolik supercar itu menutup dengan halus, mengunci seluruh kebisingan kota di luar. Deru mesin raksasanya kembali menggelegar saat Rama menginjak pedal gas, melesat badai meninggalkan kepulan debu tipis di pelataran parkir kafe, meninggalkan Ratna yang berdiri mematung penuh penyesalan dan Tony yang hancur harga dirinya di bawah tatapan remeh para pengunjung kafe.