Indonesia
NovelToon NovelToon
Kutukan Mbah Golok Sakti

Kutukan Mbah Golok Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.

Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.

Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!

Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?

Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Minta Peluk Berakhir Kecebur

"Boleh gue peluk lo sebentar nggak, Ray?"

Mendengar ajakan minta peluk secara mendadak, kedua bola mata Rayi langsung membulat lebar sesenti lagi rasanya mau copot dari soketnya. Ia langsung bangkit berdiri dari tanah dan kedua tangannya disilangkan di depan dada memasang pose defensif darurat.

"Lo... lo beneran masih berstatus normal, kan, Ren? Jangan bilang lo punya kelainan suka sesama jenis terus sekarang mau berbuat macam-macem ya sama aku!"

Reno langsung memberengut kesal di tengah-tengah suara tangisan sesenggukannya. "Tega banget sih lo nuduh gue begitu, Ray! Gue 100% masih normal beneran! Masih doyan sama cewek tulen! Gue di sini cuma lagi kangen berat sama pelukan hangat seorang sahabat, bukan lagi mau ngajak lo nikah di KUA!"

"Tapi tetep aja aku gak mau—"

Hap!

Belum sempat bibir kecil Rayi selesai menyelesaikan kalimat penolakannya, tubuh Reno sudah bergerak agresif menerjang maju dan langsung memeluk erat-erat tubuh kecil Rayi seolah-olah sahabatnya itu adalah pasokan oksigen terakhir yang tersisa di atas bumi.

Reno menangis sesenggukan sejadi-jadinya, menumpahkan segala bentuk rasa kerinduan yang mendalam selama bertahun-tahun langsung di atas pundak kecil Rayi.

Suara sedotan cairan ingus yang ditarik naik-turun terdengar sangat keras dan dramatis, sukses membasahi sebagian kain seragam putih-biru milik Rayi.

"Woy, lepasin gak! Malu tahu kalau sampai ada orang lain yang lihat kita pelukan begini!"

Rayi mulai meronta-ronta panik sebadan-badan. Dengan sisa-sisa tenaga anak kecil yang dimilikinya, ia mendorong kuat-kuat area dada Reno sekuat mungkin agar pelukan maut itu terlepas.

Jengkang!

Karena tenaga dorongan darurat dari Rayi ternyata lumayan kencang, ditambah kondisi tubuh Reno yang saat itu sedang dalam posisi lunglai lemas akibat menangis, tubuh jangkung Reno pun langsung terjungkal ke belakang. Ia berguling-guling pasrah menuruni gundukan tanah bukit, dan...

Byurr!!

Reno sukses tercebur masuk ke dalam air danau, menciptakan sebuah cipratan air berukuran sangat besar ke udara. Wajah Rayi seketika berubah menjadi pucat pasi karena panik.

"Waduh! Maaf banget, Reno! Aku beneran nggak sengaja dorongnya kekencangan!"

Rayi langsung mengambil langkah seribu lari terbirit-birit menuju ke arah mobil sedan mewah untuk memanggil bantuan dari Pak Amir.

Ctak!

Tubuh Reno seketika tersentak bangun. Ia membuka kedua kelopak matanya lebar-lebar dan mendapati kalau kondisi tubuhnya saat ini sama sekali tidak basah kuyup akibat air danau, melainkan ia sedang menatap lurus ke arah plafon langit-langit kamar apartemen mewah milik Adit.

"Selamat wahai anak muda bernama Reno, kamu dinyatakan telah sukses menyelesaikan tugas darurat keempat dan berhak mendapatkan hadiah tambahan uang tunai sebesar 3 juta rupiah. Silakan langsung ambil uangnya di dalam kotak kayu warisan kakekmu." suara gaib dari si kakek Golok Botak kembali menggema pelan di dalam pikirannya, lalu sedetik kemudian lenyap tak berbekas.

"Hwaaa... lo jahat banget sih jadi hantu! Gue kan masih kangen banget mau ngobrol sama temen lama gue! Dasar lo Golok Botak nggak punya perasaan sebadan-badan! Hwaaa!"

Reno malah menangis makin kencang sejadi-jadinya sambil tubuhnya berguling-guling tidak keruan di atas ranjang kasur empuk milik Adit mirip seperti seekor cacing tanah yang kepanasan.

Cklek!

Pintu kamar mandi utama mendadak terbuka dari luar. Adit melangkah keluar dengan kondisi rambut hitam yang masih basah setelah mandi, saat itu ia hanya mengenakan kaos oblong santai dan celana pendek. Ia langsung melongo sempurna dengan wajah cengo melihat pemandangan Reno yang sudah seperti sesosok manusia yang kehilangan arah tujuan hidup di atas kasurnya.

"Kenapa lagi sih lo mendadak menangis histeris kayak bocah TK yang nggak dapet jatah es krim gitu, Ren?" tanya Adit heran bercampur dongkol

Reno mendadak menghentikan suara tangisannya. Dengan sebuah gerakan refleks yang tingkat kejorokannya minta ampun, ia langsung menarik paksa ujung kain selimut mewah milik Adit, lalu...

Srott... Srott...

Reno tanpa rasa bersalah langsung membuang cairan ingus dan menghapus sisa air matanya menggunakan kain selimut mahal tersebut.

Adit seketika langsung mematung kaku di tempat, sepasang matanya hampir saja keluar melompat dari tempatnya akibat syok.

"Eh... sialan bener ya lo, Reno! Itu kain selimut sutra harganya jauh lebih mahal daripada harga diri lo ya! Ada kotak tisu di atas meja nakas, kenapa lo malah nekat pake selimut mewah gue buat buang ingus, hah?!" teriak Adit penuh dengan luapan emosi sekaligus merasa jijik sebadan-badan.

"Sorry banget, Dit... gue beneran lagi sedih banget ini. Gue barusan aja habis 'ketemu' dan ngobrol langsung sama almarhum Rayi," ucap Reno dengan kondisi sepasang mata yang tampak sembab kemerahan.

Adit seketika langsung terdiam seribu bahasa. Kobaran amarahnya yang tadi sempat meledak-ledak mendadak langsung mereda seketika, digantikan oleh rasa simpati yang mendalam sesama sahabat.

"Lo baru aja dapet mimpi buruk tentang dia ya? Lo pasti lagi kangen banget ya sama dia? Hmm... jujur gue juga sama, Ren. Gue pasti bakal ngerasa seneng banget kalau bisa diberi kesempatan ketemu dia lagi, meskipun itu cuma lewat perantara alam mimpi."

Adit berjalan mendekat, lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang kasur sambil tangan kanannya menepuk-nepuk pelan pundak Reno. Ia sama sekali tidak pernah tahu kalau sahabat beban negaranya itu baru saja benar-benar kembali pulang dari sebuah perjalanan melintasi ruang dan waktu yang nyata.

Reno hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, membiarkan rahasia besar tentang "perjalanan ajaib melintasi waktu" itu tetap tersimpan rapat-rapat di dalam lubang hatinya—bersama dengan sisa-sisa noda cairan ingus konyol yang masih menempel ketat di kain selimut sutra milik Adit.

****

Malam harinya, tepat ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam, suasana pemandangan kota Jakarta mulai tampak gemerlap dipenuhi oleh pancaran lampu-lampu jalanan.

Adit akhirnya mengajak Reno untuk pergi bergerak menuju ke arah sebuah kafe elite milik Aji, teman lama mereka sejak zaman putih abu-abu SMA dulu. Sesuai rencana awal, agenda malam ini akan dijadikan sebagai sebuah ajang acara reuni kecil-kecilan bagi formasi anggota geng mereka: Adit, Reno, Rakha, Rahsya, dan Aji selaku pihak sang tuan rumah.

Reno duduk manis di kursi kemudi mobil mewah milik Adit dengan gaya jalan sok bos besar, meskipun status realitasnya malam ini hanyalah sebagai sesosok supir pribadi dadakan tanpa gaji.

Ia terpaksa harus meminjam setelan pakaian jas mahal milik Adit karena baju aslinya sudah berubah wujud jadi kain pel rusak—akibat dari insiden tragis diterkam singa betina di padang savana Afrika tadi siang.

"Kita udah nyampe nih di lokasi, Dit," gumam Reno santai sambil tangannya memutar kemudi memarkirkan mobil mewah itu dengan tingkat presisi yang tinggi di depan area lobi kafe yang suasananya mulai tampak ramai.

Ia melirikkan pandangan matanya ke arah samping kiri, mendapati kalau posisi tubuh Adit ternyata sudah hanyut tertidur pulas ke alam mimpi dengan kondisi mulut yang sedikit terbuka mangap.

Reno menyeringai nakal, lalu berteriak kencang tepat di dekat lubang kuping sahabatnya, "DIT, BURUAN BANGUN, DIT! ADA DISKON PROMO SAHAM INVESTASI BESAR-BESARAN!!!"

1
Ed Troivan
lanjut thor 💪
Ed Troivan
💪💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!