Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Pahlawan Datang
BRAAAK!!
Pintu ditendang dari luar dengan secara paksa. Empat orang pria yang berada didalam sana langsung menoleh pada dua pria beda usia yang datang dengan sedikit terlambat itu.
Galih dan Ghazi, Datang hanya berdua saja. Tidak ada siapapun baik anak buah yang lainnya ataupun polisi.. Karena mereka memang sengaja tidak melapor lebih dulu.
Bukan tidak ingin melapor, Semua itu sudah Ghazi dan Galih rencanakan dengan secara matang. Jangan kira dua pria itu akan membiarkan orang-orang itu bebas berkeliaran begitu saja.
Dua pria pelindung Mutiara itu datang. Empat orang pria yang berada disana itu cukup panik namun mereka segera melawan. Termasuk satu pria bertopeng yang memerintahkan tiga anak buahnya.
"KURANG AJAR KALIAN!!!
Galih dan Ghazi, Dua pria beda usia itu mulai menghajar satu persatu pria yang ternyata kekuatannya tidak seberapa.
"Papa..." Lirih Mutiara, Galih mendekati putrinya.
"Sayang? Kamu gapapa?
"Tiara takut...." Kedua tangan pria paruh baya itu terkepal. Tatapannya semakin menajam menatap tiga pria yang sempat ia hajar tadi itu.
Galih, Emosi seorang ayah tersebut memuncak. Mutiara, Putrinya yang selalu ia sayangi dan yang selalu ia lindungi itu dibuat tak berdaya. Bahkan hampir saja dilecehkan oleh tiga pria badjingan ini.
Ayah mana pun tidak bisa menerimanya. Galih menyayangi putrinya dengan setulus hati. Apapun akan pria paruh baya itu lakukan demi seorang Mutiara. Atau bahkan menyerahkan nyawanya pun dia rela asal itu demi Mutiara.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Matilah kalian!
Bugh!
Bugh!
"Inilah hukuman kalian karena telah berani menyentuh putriku!!
BUUGGHH!!
Pukulan demi pukulan Galih berikan pada mereka satu persatu. Kekuatan Galih seakan bertambah dua kali lipat kali ini.
"Akan aku hancurkan kalian yang telah berani menyentuh putriku.. Dia adalah putriku, Putri kesayanganku!
BUGH!!
Tiga orang itu sudah terkapar tak berdaya. Galih menatap tiga orang pria itu dengan dada yang naik turun. Lalu menoleh pada sang putri yang masih menangis..
"Papa....
"Sayang..." Galih langsung melompat didekat putrinya. Dengan cepat pria itu melepas jasnya kemudian memakaikan pada tubuh Mutiara yang pakaian luarnya sudah terlepas.
"Sayang..." Galih peluk erat putrinya, Matanya terpejam dengan air mata yang mengalir. Galih menangis, Dikecuplah wajah Mutiara yang penuh dengan luka itu tamparan itu.
"Tenang ya.. Jangan takut lagi, Ada Papa disini.." Pria itu bergetar, Ia bubuhkan kecupan berkali-kali di pucuk kepala putrinya itu.
"Papa.." Ucapnya lirih sebelum Mutiara terkunci lemas dan tidak sadarkan diri.
Sementara itu, Diluar sana. Ghazi tengah berkelahi dengan pria bertopeng yang sejak tadi juga jago dalam melawannya.
Bugh!
BRAAAK!!
Ghazi berhasil mengunci pergerakan pria bertopeng yang sejak tadi tidak berhasil ia buka itu. Setiap hendak dibuka, Selalu gagal karena lawannya kali ini ilmu beda dirinya cukup handal.
"Aku tidak akan melepaskan mu..
Krek!
"Aaaaarrrrggghh!
Ghazi berhasil mematahkan lengan kiri pria itu. Lalu Ghazi juga tendang pria tersebut membuatnya tersungkur dan terbatuk-batuk.
"Masih ingin menantangku?
Pria bertopeng itu mundur.. Karena sudah kalah akhirnya pria bertopeng itupun berlari pergi.
"Hey! Tunggu!!" Ghazi hendak mengejarnya namun..
"Ghazi!
Pria itu segera berbalik badan. Disana Mutiara tengah berada didalam gendongan Papanya dalam kondisi tidak sadarkan diri.
"Biarkan saja dia pergi.. Kita bawa Tiara kerumah sakit.." Ghazi mengangguk. Tatapan pria itu sendu ke arah gadis yang telah menjadi tunangannya itu.
"Dia terluka?
"Benar.. Makanya kita bawa dia kerumah sakit..
"Baik.."
Mutiara pun akhirnya dibawa kerumah sakit. Gadis itu harus mendapatkan pertolongan, Belum lagi rasa trauma nya yang hampir saja dilecehkan oleh orang-orang yang entah siapa itu. Sudah jelas bahwa semua itu akan membekas.
...****************...
Didalam ruang rawat itu. Galih duduk disebelah brangkar dimana Mutiara berbaring. Gadis itu masih memejamkan matanya dengan tenang.
Kata dokter, Mutiara masih belum sadarkan diri. Tak apa, Biarkan putrinya itu istirahat dulu. Karena jika sudah terbangun nanti bisa jadi Mutiara akan merasa ketakutan. Atau bisa saja akan trauma nanti..
"Tuan.." Galih menoleh, Ghazi masuk membawa sebuah makanan.
"Makan dulu.. Anda belum makan sejak tadi.." Galih tak menjawab. Pria itu menatap sang putri seraya menggenggam tangannya.
"Kau sudah mencari tahu siapa pelakunya.." Ghazi duduk diatas sofa yang tersedia didalam ruangan rawat itu.
"Saya sudah melacak rekaman dikampus tadi.. Ada tiga pria bertopeng masuk kedalam toilet. Tapi untuk rekaman mereka yang membawa Mutiara pergi, Sepertinya cctv nya memang sengaja dirusak sehingga tidak akan meninggalkan jejak apapun." Jelas Ghazi. Masalah yang seperti ini sering Ghazi tuntaskan. Dan sepertinya cameranya memang sengaja dirusak. Bukan hanya cameranya tapi kabelnya pun diputuskan agar tidak terdeteksi.
"Pergi kalian! Jangan mendekat! Pergi!! Jangan sentuh aku!!
Ghazi dan Galih langsung mengalihkan perhatiannya terhadap Mutiara yang mengigau. Gadis itu menangis dengan mata yang masih terpejam. Galih yang hendak menyantap makanannya pun ia urungkan. Pria paruh baya itu kembali meletakkan makanannya lalu segera mendekati sang putri.
"Pergi!! Jangan mendekat!! " Kepala Mutiara menggeleng kesana kemari. Keringat dingin mulai merembes dipelipisnya. Galih genggam tangannya, Ia elus rambut Mutiara dengan lembut.
"Tenang sayang.. Jangan takut, Ini ada Papa disini... Tenang ya?" Mutiara mulai tenang. Lagi, Galih kembali menangis. Pria itu kecup punggung tangan putri yang sangat ia sayangi itu.
"Tenang sayang, Ada Papa disini..
Ghazi mengepalkan kedua tangannya. Karena orang-orang brengsek itu Mutiara jadi seperti ini. Ghazi harus melakukan sesuatu.
Untuk pria bertopeng yang bertarung dengannya tadi. Ghazi seakan merasa tidak asing, Entah siapa itu pasti akan Ghazi cari tahu.
"Siapa pun kalian tidak akan pernah aku lepaskan..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disaat Mutiara berhasil diselamatkan dan kini dirawat dirumah sakit. Fathan, Baru saja memasuki rumah Kendra. Rumah kedua bagi Fathan dimana dia kadang ikut tinggal dirumah kakaknya ini.
"Fathan baru pulang? " Pria itu tersenyum pada Julia, Kakak iparnya.
"Iya.. Tadi mampir makan malam dirumah.. Tapi aku mau tidur disini hehehe. " Julia tersenyum. Tak pernah ia sangka bahwa dia akan punya adik ipar yang seumuran dengan putranya.
"Ohya, Kakak denger tadi katanya Mutiara masuk rumah sakit..
"Masuk rumah sakit? Sakit apa dia? Perasaan tadi pas dikampus dia baik-baik aja.." Kata Fathan yang memang tidak tahu kalau Mutiara masuk kerumah sakit.
"Kakak juga baru denger kok..
"Ada-ada aja.. Mau ujian skripsi eh malah sakit..
"Ya, Namanya juga sakit datang gak ada permisi kan?
"Kakak mau jenguk?
"Sebenarnya iya.. Tapi kata Mas Galih gak perlu..
"Owh, Yaudah kalau gitu.. Ohya, Ken dimana?
"Ken? Dia ada di taman belakang kayaknya deh tadi.. Coba kamu cek disana.. " Fathan pun berlalu pergi taman belakang.
Pria itu hendak memanggil sang keponakan, Akan tetapi semua itu ia urungkan setelah melihat Kendra tengah bicara dengan seseorang di balik telepon.
"Jadi dia berhasil diselamatkan?
Fathan masih diam saja ditempatnya, Entah dengan siapa Kendra berbicara dibalik telepon itu. Seperti serius sekali lagi.
"Tidak apa-apa.. Yang penting kau sudah membuatnya jera. Itu juga lebih dari cukup..
"Apa? Kau terluka?
"Ekheem!!
Fathan berdehem, Kendra yang menyadari akan kehadiran Om nya pun segera mematikan ponselnya.
"Kau sedang telfonan dengan siapa? Dan siapa yang terluka?" Tanya Fathan. Entah kenapa dia merasa sedikit curiga dengan Keponakannnya ini. Kendra tersenyum..
"Tidak ada om.. Tadi aku hanya bicara dengan salah satu karyawan dicafe. Ada salah satu karyawan, Katanya dia terluka.. Jadi aku menyarankan agar membawanya kerumah sakit.." Fathan mengangguk-anggukan kepalanya mencoba untuk percaya dengan ucapan Kendra.
"Tapi semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan Tiara kan?" Kendra terdiam. Ia tersenyum lagi..
" Tentu saja tidak.. Kenapa harus Tiara?
"Tiara masuk rumah sakit.. Mama mu tadi yang bilang.."
"Oh ya.. Kita datang kerumah sakit besok.. Kita jenguk dia.."
"Tidak perlu, Mas Galih tidak mengizinkan siapapun menjenguknya..."
"Owh.. Ya sudah kalau begitu.." Setelah mengatakan itu, Kendra berlalu pergi. Fathan menatap punggung keponakannnya itu hingga menghilang dari pandangan.
"Siapa yang dia hubungi?
•
•
•
TBC