Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Aku Istrimu, Bukan Babu Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wirly Pena

perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kenyataan yang menyakitkan

" Maaf, Pak. Ada masalah keluarga yang tidak bisa saya ceritakan. Karena menyangkut aib keluarga saya." Jawabku.

" Iya, Bu. Saya mengerti. Itu tandanya Bu jasmine pasti sudah tahu tentang gosip terpanas mengenai Pak Rama, Bukan?"

Aku menjawab Pak Cahyo dengan anggukan kepala. Aku tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Entah malu, kecewa atau pun marah. Karena pasti semua pegawai di kantor ini sudah mengetahui semua masalah yang di lakukan oleh Mas rama.

" Begini , Bu Jasmine. Saya tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga Ibu dengan Pak Rama. Tapi saya tidak bisa berjanji untuk memenuhi permintaan Bu Jasmine tentang pembekuan gaji. Karena itu akan melewati beberapa prosedur yang sulit dan cukup ketat. Sangat kecil kemungkinan saya dapat membantu. Yang bisa saya lakukan sekarang adalah menolak segala permohonan pinjaman Pak Rama di pembiayaan manapun." Imbuh Pak Cahyo.

" Apakah tidak bisa di usahakan, Pak? Saya sudah tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi supaya gaji suami saya bisa terima secara utuh." Ucapku memohon.

" Memangnya selama ini Bu Jasmine di berikan uang berapa oleh Pak Rama? Maaf kalau saya lancang." Tanya Pak cahyo.

" Setiap seminggu sekali Suami saya memberikan uang 50p ribu, Pak. Suami saya bilang gaji di kantor di banyak dan terpotong untuk cicilan rumah, cicilan kendaraan, dan kebutuhan lainnya. Saya pun percaya apa yang dikatakan suami saya." jawab ku.

" Berarti dalam satu bulan, Bu Jasmine hanya di jatah kurang lebih 2 juta rupiah setiap bulannya? Wahhh,, berarti uang jatah yang di terima Bu Jasmine hanyalah sepersekian dari gaji yang di terima Pak Rama setiap bulannya. Dari 100% gaji Pak Rama, Bu Jasmine hanya menerima 15% saja." Ujar Pak Cahyo yang membuatku kaget tak percaya.

Rasanya sulit sekali mencerna apa yang baru saja ku dengar. Selama ini aku percaya bahwa penghasilan Mas Rama memang tidak seberapa. Aku tidak pernah mempertanyakan ketika dia hanya memberiku 500 ribu setiap minggu. Aku pikir memang itulah kemampuan suamiku. Tapi ternyata aku salah.

" Jadi, maksud Pak Cahyo, selama ini gaji suami saya jauh lebih besar dari yang dia katakan kepada saya, Pak?" Tanyaku dengan suara bergetar.

" Benar, Bu. Saya tidak bisa menyebutkan angka pastinya karena itu termasuk data pribadi karyawan. Tapi dengan posisi Pak Rama sekarang, ditambah tunjangan yang dia terima, bisa di bilang penghasilannya memang besar." Jawab Pak Cahyo.

Aku menundukkan kepala. Selama ini aku mengatur keuangan sehemat mungkin. Aku rela tidak membeli pakaian baru. Aku menunda membeli kebutuhan pribadi. Bahkan untuk anak-anak pun aku selalu berpikir berkali-kali sebelum mengeluarkan uang.

" Astaghfirullah.., maaf Pak, berarti selama ini saya hanya di bohongi dan di bodohi." Ucapku pelan.

" Saya memahami perasaan Bu Jasmine. Maaf jika penjelasan saya membuat Ibu jadi sedih dan kecewa." Ujar Pak Cahyo yang terlihat serba salah.

" Tidak apa-apa, Pak. Saya justru berterima kasih karena Bapak sudah mengatakan apa ada nya."

Tak terasa air mata kembali menetes di pipiku. Sungguh, Mas Rama benar-benar sangat keterlaluan. Selama ini aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Aku tidak pernah banyak menuntut. Bahkan untuk membeli sesuatu yang aku inginkan, aku sering mengurungkan niat karena takut uang belanja tidak cukup untuk kebutuhan rumah dan anak-anak. Namun, ternyata, di belakangku Mas Rama justru menyimpan begitu banyak kebohongan.

" Saran saya, lebih baik Ibu bicarakan baik-baik dengan Pak Rama. Karena kalau untuk pembekuan gaji, saya tidak bisa membantu sepenuhnya. Itu bukan kewenangan saya. Harus ada prosedurnya yang ketat. Maafkan saya kalau saya belum bisa membantu Bu Jasmine." ujar Pak Cahyo.

" Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti. Kalau begitu saya permisi pulang. Dan terimakasih karena Bapak sudah memberikan informasi mengenai suami saya."

" Iya, Bu. Sebenarnya saya juga tidak enak karena belum bisa membantu Bu Jasmine."

" Jangan merasa tidak enak, Pak. Hari ini Bapak sudah membantu saya. Setidaknya sekarang saya bisa lebih menyadari kebodohan saya selama ini. Dan saya mohon, kalau bisa Bapak bersedia menolak jika suami saya mengajukan pinjaman lagi." Ucapku.

" kalau masalah itu, saya siap membantu. Bu Jasmine tenang saja."

" Dan satu lagi, tolong pertemuan ini di rahasiakan dari suami saya. karena saya tidak ingin suami saya tahu kalau saya datang kesini."

" Tentu, Bu. Saya mengerti."

"kalau begitu saya mohon undur diri. Terima kasih atas bantuannya, Pak Cahyo."

" Sama-sama Bu Jasmine. Hati-hati dijalan."

Aku pun menganggukkan kepala, lalu berjalan menuju pintu. Aku berjalan melewati meja sekretaris yang menyambutku tadi. Sekretaris itu menyambutku, namun aku tak menghiraukannya. Karena pikiran ku sudah sangat kacau, hancur hatiku, sakit tak terkira. Ternyata selama ini aku hidup dalam kebohongan yang dibuat oleh orang yang paling kupercaya.

Aku melangkahkan kaki untuk segera keluar dari gedung. Saat tiba di depan meja resepsionis , aku bertanya apakah Mas Rama sudah berada di kantor atau belum.

" Permisi,Mbak. Saya mau tanya. Apa karyawan atas nama Pak Rama sudah datang?" Tanyaku kepada resepsionis itu.

" Maaf, Bu. Hari ini Pak Rama tidak masuk kerja. Tadi istrinya telepon dan mengatakan jika Pak Rama sedang tidak enak badan dan tidak bisa berangkat ke kantor." Jawab Resepsionis itu.

Deg..

Jantung ku , serasa ingin berhenti berdetak. Sekretaris itu bilang istri pak Rama yang mengabari. Astaghfirullah.... Laki-laki macam apa dia. Semakin hancur berkeping-keping perasaanku. Tega, begitu tega Mas Rama kepadaku dan anak-anak.

" Terimakasih banyak atas informasinya, Mbak." Ucap ku

" Sama-sama, Bu." Jawab petugas resepsionis itu.

Dengan langkah lemas aku pun keluar menuju parkiran. hati dan pikiranku sudah benar-benar kacau. Tapi aku harus segera pulang. Aldi dan Aira pasti sudah menungguku. Aku juga tidak mau terlalu lama merepotkan Mbak Rima. Aku sudah terlalu banyak merepotkannya dari kemarin.

Kulajukan motorku perlahan menyusuri jalan. Seperti sudah tidak ada tenaga rasanya. Namun, aku harus tetap kuat,, aku harus bangkit dan membuat Mas Rama serta wanita jalang itu menyesal.

...****************...

Terimakasih sudah membaca..

Jangan lupa follow, yaa 😘

1
partini
habis masuk lobang si jalang masuk lobang istri,,apa ga takut jas banyak penyakit takut kena penyakit kelamin
Wirly Pena: Ikuti terus episode selanjutnya ya kak 😄
total 1 replies
Anonim
Lemah banget jadi cewe ,
Wirly Pena: jangan lupa, ikutin terus ceritanya, ya kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!