Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. Tinta Terakhir dan Angin Kedua
..."Surat pertama menyuruh kami datang, surat kedua menyuruh kami melangkah, surat ketiga menyuruh kami tinggal, maka kami tinggal, karena seorang penjaga tidak pulang sebelum badai benar-benar pergi."...
Pagi hari di Desa Majia dimulai dengan suara yang sudah menjadi lagu baru bagi seluruh bukit, yaitu suara gergaji yang memotong bambu, suara perempuan yang menumbuk padi di lesung, dan suara anak-anak yang berlari membawa genting kecil di kepala sambil tertawa karena atap rumah ketiga sudah selesai dan sore ini sepuluh keluarga akan pindah dari tenda ke rumah yang dindingnya sudah diplester dan lantainya sudah tidak becek lagi.
Jing yue berdiri di atas tangga bambu paling tinggi, mengencangkan ikatan tali di bubungan dengan gigi yang menggigit ujung tali karena kedua tangannya penuh kapur dan lumpur, dan dari atas sana dia bisa melihat seluruh desa yang dulunya hanya tenda dan lumpur kini sudah punya barisan rumah dengan asap dapur yang mengepul lurus ke langit biru yang untuk pertama kalinya dalam sebulan tidak mendung.
Tetua Pertama datang membawa gulungan bambu besar yang di dalamnya ada catatan lengkap selama dua puluh delapan hari, jumlah karung beras yang masuk dan keluar, jumlah orang yang diobati, jumlah rumah yang dibangun, jumlah sumur yang dibersihkan, dan nama-nama kepala keluarga yang kehilangan rumah, semua ditulis dengan tinta yang dibuat sendiri dari jelaga dan getah agar tidak luntur kena hujan.
"Ini laporan terakhir untuk istana," kata Tetua Pertama sambil menyerahkan gulungan itu kepada Jing yue, "setelah ini tugas kita selesai, dan kita bisa pulang ke Gunung Emei sebelum musim dingin."
Jing yue menerima gulungan itu dengan dua tangan, merasakannya berat bukan karena bambu tapi karena di dalamnya ada nama-nama orang yang hampir mati dan sekarang masih hidup, lalu dia mengangguk dan berkata bahwa sore ini juga utusan akan berangkat ke kabupaten untuk mengirimnya ke ibu kota dengan kuda tercepat.
Seluruh perkemahan sibuk mengemas, ada yang mencuci jubah, ada yang memperbaiki sandal, ada yang memisahkan obat sisa untuk ditinggal di Majia agar warga bisa pakai kalau demam datang lagi, dan di tengah kesibukan itu Bai Ling datang membawa semangkuk teh jahe dan berkata bahwa anak kecil yang dulu tidur di pangkuan Jing yue sekarang sudah bisa berlari dan tadi pagi memanggilnya "kakak Jing yue" sambil membawa bunga liar.
Jing yue tersenyum, meneguk teh itu sampai habis, lalu dia berjalan ke rumah pertama yang diberi nama "Rumah Emei" dan menyentuh tiang kayunya untuk terakhir kali, berbisik bahwa dia titip orang-orang di dalamnya kepada tanah dan kepada langit.
Sore harinya, dua utusan dengan kuda terbaik berangkat membawa gulungan itu, dan seluruh desa mengantar sampai ke ujung jalan sambil melempar beras kuning sebagai tanda syukur, dan ketika kuda itu hilang di tikungan, semua orang bertepuk tangan karena mereka merasa bahwa beban berat akhirnya bisa diletakkan.
Malam itu tidak ada rapat, tidak ada rencana, hanya ada api unggun besar di tengah lapangan dan warga memanggang jagung sambil bercerita tentang hari pertama banjir datang dan bagaimana Jing yue datang dengan perahu dan sapu bambu.
Lei Feng duduk agak jauh, memainkan sebatang ranting di api, lalu dia berkata pelan bahwa dia akan kembali ke Gunung Yandang besok, karena tugasnya mengawasi sudah selesai dan dia malu kalau terus tinggal di sini tanpa melakukan apa-apa.
Jing yue mengangguk dan berterima kasih, dan untuk pertama kalinya mereka berdua tertawa bersama mengingat hari pertama mereka bertemu di Qinghe ketika Lei Feng menuduh Emei mencuri beras.
Tidur malam itu adalah tidur paling nyenyak dalam dua puluh sembilan hari, karena tidak ada tangis, tidak ada lonceng darurat, tidak ada orang yang menggigil demam, hanya ada suara jangkrik dan angin yang menggerakkan daun.
Fajar hari berikutnya datang cerah, dan semua orang sudah bersiap untuk upacara perpisahan kecil sebelum rombongan Emei berangkat pulang ke gunung, tetapi tepat ketika matahari baru setinggi pohon, terdengar suara terompet dari kejauhan dan dua orang penunggang kuda lagi muncul dengan bendera kuning yang sama dan wajah yang tidak membawa kabar baik.
Semua orang berhenti, palu jatuh ke tanah, dan Jing yue yang sedang mengikat tali di punggung langsung berdiri dan berjalan maju untuk menerima gulungan baru yang segelnya masih basah dan bertuliskan cap naga kecil milik istana.
Utusan itu tidak banyak bicara, dia hanya berkata bahwa ini jawaban langsung dari ibu kota atas laporan yang dikirim kemarin, dan setelah itu dia memberi hormat lalu pergi tanpa menunggu, meninggalkan debu dan keheningan yang lebih berat daripada hari pertama banjir.
Jing yue membuka gulungan itu di depan semua orang, dan dengan suara yang tidak bergetar dia membaca bahwa Kaisar telah membaca laporan Emei dan sangat memuji kerja keras mereka, bahwa nama Emei akan dicatat dalam buku jasa negara, dan bahwa seribu karung beras tambahan akan dikirim sebagai penghargaan.
Semua orang menghela napas lega, beberapa ibu menangis karena mengira ini adalah akhir, tetapi kalimat berikutnya membuat udara kembali membeku, karena di bawah pujian itu tertulis perintah baru.
"Namun," baca Jing yue, "menurut ramalan ahli astronomi istana dan laporan dari pengamat sungai, musim hujan kedua akan datang lebih cepat dan lebih deras dalam waktu empat puluh hari, dan diprediksi akan menyebabkan banjir susulan yang lebih besar dari sebelumnya, oleh karena itu Sekte Emei diperintahkan untuk tetap tinggal di wilayah Sungai Min selama satu musim lagi, memperkuat tanggul, membangun rumah panggung, dan menjadi garda pertama jika air naik lagi."
Kalimat terakhir berbunyi: "Jika Emei meninggalkan pos sebelum musim selesai maka status sekte resmi akan dicabut dan semua bantuan akan dihentikan."
Tidak ada yang bersorak, tidak ada yang protes, yang ada hanya suara angin yang tiba-tiba terasa dingin meskipun matahari masih tinggi, dan anak kecil yang tadi tertawa kini bersembunyi di belakang ibunya.
Tetua Kedua menghantam tongkatnya ke tanah dan berkata bahwa ini tidak adil, bahwa mereka sudah bekerja sampai tulang, bahwa mereka juga manusia yang rindu rumah, dan bahwa istana seperti menganggap mereka sebagai alat bukan sebagai murid.
Tetua Ketiga duduk di atas batu dan menutup wajah dengan tangan, karena persediaan mereka sudah menipis dan membangun rumah panggung untuk lima desa artinya harus menebang hutan dan itu akan memakan waktu berbulan-bulan.
Jing yue tidak langsung bicara, dia melipat surat itu pelan, memasukkannya ke dalam dada di samping surat pertama dan kedua, lalu dia naik ke atas tumpukan kayu agar semua orang bisa melihatnya.
"Saudara-saudara," katanya, "dua puluh sembilan hari lalu kita datang ke sini karena satu surat menyuruh kita turun, dua puluh lima hari lalu surat kedua menyuruh kita melangkah lebih jauh, dan hari ini surat ketiga menyuruh kita tinggal lebih lama."
"Kalau kita marah, kita berhak marah, kalau kita lelah, kita semua lelah, tapi kalau kita pergi sekarang maka semua rumah yang kita bangun akan hanyut lagi, semua obat yang kita bagi akan sia-sia, dan semua orang yang mulai percaya akan kehilangan tempat bersandar."
Dia lalu berkata bahwa mereka tidak akan pulang dulu, bahwa mereka akan tinggal, bukan karena takut dicoret, tapi karena mereka sudah melihat mata anak-anak yang baru saja mulai berharap.
Keputusan itu diumumkan, dan meskipun ada murid yang menunduk sedih, tidak ada satu pun yang melangkah pergi, karena mereka tahu bahwa meninggalkan sekarang sama dengan meninggalkan keluarga sendiri.
Hari itu juga rencana baru dibuat, bukan lagi membangun rumah biasa, tapi rumah panggung setinggi dua tombak agar aman kalau air naik lagi, dan untuk itu mereka butuh lebih banyak bambu, lebih banyak tali, dan lebih banyak tangan.
Jing yue membagi tugas, meminta Paman Chen mengumpulkan semua tukang di Majia, meminta Tetua Pertama mengirim surat ke Qinghe dan Shuanghe agar mereka mulai menebang bambu, dan meminta Lei Feng kalau dia bersedia tinggal dua minggu lagi untuk membantu mengajari cara membuat ikatan yang kuat.
Lei Feng terdiam lama, lalu dia mengangguk dan berkata bahwa Pedang Langit tidak akan kalah dari Emei dalam hal ketekunan, dan dia akan mengirim surat ke gunungnya untuk minta tambahan orang.
Malam itu tidak ada api unggun, yang ada hanya obor di setiap sudut karena semua orang mulai mengukur tanah, menandai tempat tiang, dan menghitung berapa banyak bambu yang harus dipotong.
Jing yue duduk paling akhir, menulis di bukunya dengan tinta yang hampir habis, dan dia menulis bahwa hari ini dia menerima surat ketiga yang lebih berat dari dua surat sebelumnya, bukan karena isinya, tapi karena surat ini memintanya untuk menunda pulang ke rumah.
Dia menulis bahwa dia rindu Gunung Emei, rindu lonceng pagi, rindu kabut, tapi dia juga menulis bahwa rumah bukan hanya tempat di mana kita lahir, rumah adalah tempat di mana kita memilih untuk tinggal ketika orang lain membutuhkan.
Dia juga menulis bahwa angin kedua akan datang, dan dia tidak tahu seberapa besar, tapi dia tahu bahwa kalau mereka membangun cukup tinggi maka air tidak akan bisa mencapai atap.
Sebelum tidur, dia keluar dan menatap Sungai Min yang kini tenang, airnya jernih dan memantulkan bintang, tapi di dalam kepalanya dia sudah bisa membayangkan bagaimana sungai itu akan mengaum lagi dalam empat puluh hari.
Dia berbisik kepada sungai itu bahwa dia akan siap, bahwa dia dan murid-muridnya akan membangun lebih tinggi, lebih kuat, dan bahwa mereka tidak akan lari lagi.
Ketika dia kembali ke tenda, Bai Ling sudah tertidur dengan kepala di atas karung, dan di luar terdengar suara palu yang mulai lagi, bukan karena ada perintah, tapi karena ada orang yang tidak bisa tidur kalau tahu besok harus kerja.
Jing yue memadamkan lilin, menutup mata, dan dalam gelap dia membayangkan Gunung Emei, membayangkan ibunya, membayangkan hari ketika dia akhirnya bisa pulang, tapi dia juga membayangkan wajah-wajah di Majia yang akan tidur nyenyak malam ini karena ada atap di atas kepala mereka.
Dan di dalam hati dia berjanji bahwa selama satu musim ini dia akan menjadi dinding, menjadi atap, menjadi tangan, sampai air surut untuk kedua kalinya dan sampai tidak ada lagi orang yang harus tidur di atas lumpur.