Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Sinar matahari pagi menerobos tipis dari balik tirai kamar perawatan VIP, membawa kehangatan yang perlahan membangunkan Nadya dari tidur panjangnya.

Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sempurna.

Pandangannya yang semula kabur perlahan mulai jelas, menangkap sosok Armand yang duduk di samping brangkar.

Pria itu menopang dagu dengan sebelah tangan yang menggenggam erat jemarinya, sementara sorot matanya yang lelah menatap lurus ke arah Nadya.

"M-mas," bisik Nadya lirih. Suaranya masih serak dan bergetar.

Armand menatap wajah istrinya yang baru sadar dari pingsannya.

Tidak ada bentakan atau amarah meledak-ledak, namun raut wajah Armand terpancar kekecewaan yang mendalam—kecewa bukan karena marah, melainkan karena rasa cemas yang teramat sangat dan kepedihan melihat istrinya mempertaruhkan nyawa sendirian.

Nadya melihat raut wajah suaminya yang kecewa. Rasa bersalah seketika membuncah di dalam dadanya, membuat matanya berkaca-kaca.

"Mas, aku minta maaf. Aku salah," ucap Nadya pelan, air mata menetes di sudut matanya.

"Aku tidak seharusnya berbohong dan pergi sendiri."

Armand menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk menetralkan gemuruh emosi di dadanya.

Ia tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata kasar.

Perlahan, Armand mengikis jarak, mengusap lembut air mata di pipi Nadya dengan ibu jarinya, lalu mengecup kening istrinya sangat lama.

"Mas kecewa, Dek," ujar Armand dengan suara rendah dan serak, menatap tepat ke dalam mata Nadya.

"Bukan karena kamu pergi ke sana, tapi karena kamu masih menganggap Mas ini pria lemah yang harus ditutupi dari bahaya. Kamu hampir saja hilang dari hidup Mas cuma karena ingin melindungi Mas sendirian."

Nadya menggeleng pelan, menggenggam erat tangan Armand yang ada di pipinya.

"Nggak, Mas. Aku cuma nggak mau beban proyek seragam dan masalah Sarah mengganggu fokusmu."

"Kita ini suami istri, Nadya," potong Armand lembut namun begitu tegas.

"Susah dan senang, bahaya dan keselamatan, harusnya kita bagi berdua. Jangan pernah sembunyikan hal seperti ini lagi dari Mas. Mas ini suamimu, pelindungmu."

Nadya mengangguk pasrah, mengusap air matanya seraya menyandarkan pipinya pada telapak tangan Armand.

"Iya, Mas. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku."

Armand tersenyum tipis, rasa lega kini sepenuhnya menggantikan ketegangan semalam.

Ia mendekap kepala Nadya dengan penuh kasih sayang.

"Sudah, jangan menangis lagi. Yang penting kamu selamat," bisik Armand hangat.

"Soal Sarah dan Rian, kamu tidak perlu khawatir lagi. Mereka sudah ditangkap polisi semalam dan proses hukum sedang berjalan. Perjuangan licik mereka sudah berakhir."

Tok! Tok! Tok!

Ketukan di pintu kamar perawatan VIP memutus keheningan hangat di antara mereka.

Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Siska yang melangkah masuk dengan raut wajah panik dan napas yang sedikit terengah-engah.

"N-nyonya. Pak Armand." panggil Siska gugup.

"Ada apa, Siska? Kenapa kamu kelihatan panik begitu?" tanya Nadya sambil berusaha duduk di ranjangnya, dibantu oleh Armand yang dengan telaten menyangga punggung sang istri dengan bantal.

Siska menelan salivanya, menatap kedua atasannya dengan rasa bersalah.

"Baru saja saya mendapat kabar dari tim hukum kita di markas kepolisian. Pengacara Rian berhasil mengajukan penangguhan penahanan dan membebaskan Rian beserta Sarah dengan jaminan uang dalam jumlah yang sangat besar."

"Sial!!" umpat Armand keras.

Rahangnya mengeras seketika, dan jemarinya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang sempat mereda kini kembali membakar dadanya.

"Bagaimana bisa polisi melepaskan mereka begitu saja setelah apa yang mereka perbuat padamu?!"

"Pengacara Rian memanfaatkan celah hukum dan koneksi politik keluarganya, Pak. Mereka mengklaim bukti video belum cukup kuat untuk membuktikan unsur kesengajaan racun tersebut," terang Siska dengan suara memelan.

Ruang perawatan itu mendadak diselimuti ketegangan yang pekat.

Namun, alih-alih panik, Nadya justru menarik napas panjang dan menenangkan diri.

Ia meraih jemari Armand yang sedang mengepal erat, menyalurkan kehangatan lewat sentuhannya.

"Mas, sudah, tidak apa-apa," ucap Nadya lembut, menatap suaminya dengan sorot mata yang tetap tenang dan rasional.

"Umpatan tidak akan mengubah keadaan. Yang terpenting sekarang, kita harus ekstra waspada. Kalau mereka sudah bermain sampai sejauh ini, artinya mereka makin nekat."

Armand menatap istrinya, lalu menghembuskan napas berat untuk mengendalikan amarahnya.

Ia sadar, dalam situasi seperti ini, kepala dingin adalah senjata utama mereka.

Armand menganggukkan kepalanya mantap.

"Kamu benar, Dek. Mas tidak akan biarkan mereka menyentuhmu lagi. Mulai detik ini, pengawasan di rumah, kantor, dan proyek seragam akan Mas perketat dua kali lipat."

Pintu kamar VIP kembali terbuka pelan, memutus ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan.

Dua orang perawat berseragam putih melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan.

Perawat pertama membawa stetoskop serta alat pengecek tekanan darah, sementara perawat kedua mendorong meja dorong kecil yang menyajikan nampan berisi semangkuk bubur ayam halus yang masih mengepul dan segelas susu kedelai hangat.

"Selamat pagi, Ibu Nadya, Bapak Armand," sapa perawat pertama lembut.

"Saya periksa sebentar ya Bu, untuk memastikan tekanan darah dan suhu tubuhnya sudah kembali normal."

Nadya mengangguk ramah dan membiarkan perawat tersebut melilitkan manset tensimeter di lengannya.

Armand bergeser sedikit memberi ruang, namun pandangannya tetap mengawasi setiap pergerakan perawat tersebut dengan penuh kewaspadaan.

"Tekanan darahnya sudah bagus, 110/70. Efek obat penenangnya juga dipastikan sudah sepenuhnya menguap," ujar perawat itu seraya mencatat hasil pemeriksaan di papan dokumen.

"Ibu tinggal menghabiskan makanan dan minum obat agar stamina cepat pulih."

Perawat kedua kemudian menata nampan berisi bubur dan susu kedelai hangat di atas meja lipat yang ditarik ke hadapan Nadya.

"Susu kedelainya bagus untuk menetralkan sisa-sisa racun atau obat di dalam lambung, Bu. Mumpung masih hangat, silakan dihabiskan," tambah perawat kedua sebelum keduanya memohon diri dan melangkah keluar dari ruangan.

Aroma gurih bubur dan harum khas susu kedelai kini memenuhi ruangan.

Armand melangkah mendekat, meraih mangkuk bubur tersebut bersama sendoknya.

Ia duduk kembali di samping ranjang dengan raut wajah yang sepenuhnya telah kembali lembut.

"Biar Mas yang suapi ya, Sayang," ujar Armand penuh perhatian.

Ia mengambil sesendok bubur, meniupnya perlahan sampai uap panasnya berkurang, lalu mengarahkannya ke depan bibir Nadya.

Nadya tersenyum menatap perlakuan manis suaminya.

Rasa hangat menyusup ke dadanya, melupakan sejenak ancaman Sarah dan Rian yang masih berkeliaran di luar sana.

Ia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Armand dengan penuh kebahagiaan.

"Mas, terima kasih. Aku beruntung mempunyai suami tampan dan baik hati. Ah, jadi ingat dracin," bisik Nadya dengan mata berbinar, menikmati suapan demi suapan bubur hangat dari tangan suaminya.

Armand tertawa terbahak-bahak di dalam ruang perawatan.

Tawa renyahnya yang lepas seketika mencairkan sisa-sisa sisa aura tegang dan mencekam yang sempat menggantung di ruangan itu.

"Kamu kebanyakan nonton dracin, Dek?" ucap Armand seraya menggeleng-gelengkan kepala dengan sisa tawa di bibirnya.

"Mas ini cuma berusaha jadi suami yang siaga, bukan aktor drama yang suka tebar pesona."

Siska yang ada di sana tertawa kecil, menutup mulutnya dengan telapak tangan agar suaranya tidak terlalu keras.

Namun, melihat kemesraan sepasang suami istri di hadapannya yang begitu lekat, ia akhirnya tak tahan untuk menyindir halus.

"Bu, jangan membuatku seperti nyamuk," ucap Siska yang masih melajang, memutar bola matanya pura-pura menyerah.

"Dua hari berturut-turut saya menonton adegan romantis begini, bisa-bisa saya makin iri dan minta naik gaji untuk biaya terapi kelajangan saya."

Nadya terkekeh pelan, pipinya merona merah mendengar godaan sekretaris kepercayaannya itu.

"Makanya, Siska, cepat cari pasangan. Jangan cuma sibuk mengurusi jadwal meeting-ku saja."

"Wah, cari yang setara Pak Armand itu susah, Bu. standar saya langsung naik kelas tinggi gara-gara melihat perlakuan beliau ke Ibu," balas Siska cepat yang disambut senyuman tipis dari Armand.

Armand menyodorkan segelas susu kedelai hangat kepada Nadya setelah mangkuk buburnya bersih.

"Sudah, jangan menggoda Siska terus. Sekarang minum susunya sampai habis, biar badanmu benar-benar segar."

Nadya meminum susu kedelai itu hingga tandas. Setelah rasa hangat menentramkan pencernaannya, raut wajahnya perlahan kembali serius, meski matanya tetap memancarkan aura keteguhan.

Ia menatap Armand dan Siska bergantian. "Siska, panggil tim pengamanan internal dan koordinasikan dengan detektif kita. Karena Sarah dan Rian bebas jaminan, perketat penjagaan di area konveksi serta rumah. Mas Armand tidak boleh melangkah sendirian di luar tanpa pengawalan."

Armand menggenggam erat tangan Nadya, menyetujui keputusan tegas istrinya.

"Mas siap, Dek. Kali ini, tidak akan ada celah sedikit pun bagi mereka untuk merusak proyek kita maupun rumah tangga kita."

Nadya menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tangan suaminya.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!