Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 — Kembali ke Gerbang
Seminggu setelah investigasi selesai, hidup Kaito perlahan balik ke ritme normal, kerja siang, main malem, latihan sama tim, dan sesekali istirahat buat sekadar nge-refresh pikiran. Tapi ada satu hal yang terus ngendep di kepalanya sejak hari itu, sesuatu yang belum sempet dia bahas ke siapa pun.
"Gue mau balik ke gerbang," katanya suatu malem, waktu mereka lagi ngumpul santai di markas.
Rin natap dia, ngerti langsung maksudnya. "Gerbang di lembah timur laut itu?"
"Iya. Udah lama kita nggak ngecek progress-nya. Terakhir kita ke sana, angkanya 41%. Terus naik jadi 49% pas pertandingan sama Absolute Zero. Gue penasaran udah sejauh apa sekarang, apalagi setelah semua yang kejadian minggu ini."
Souma ngangkat tangan. "Gue ikut, tapi kayaknya lebih baik kita nggak bawa rombongan gede. Amagi, Mei, kalian nggak apa-apa kalo kita bertiga aja yang ke sana?"
"Nggak apa-apa, kalian jaga-jaga aja di sana." kata Mei, walau raut wajahnya keliatan dikit kecewa.
"Aku bisa bantu analisis data setelah kalian balik," tambah Amagi dengan tenang seperti biasa.
Perjalanan ke lembah tersembunyi itu kerasa beda dari yang pertama, medan yang dulu keliatan asing dan berbahaya, sekarang udah lumayan familiar buat mereka bertiga, hasil dari level yang udah naik drastis sejak kunjungan terakhir.
Monster-monster yang dulu bikin mereka waspada abis-abisan sekarang tumbang cuma dalam beberapa pukulan, dan medan terjal yang dulu makan waktu berjam-jam buat dilewatin, sekarang bisa mereka lalui dalam waktu kurang dari satu jam.
"Aneh rasanya, dulu ke sini kayak mempertaruhkan nyawa. Sekarang berasa jalan sore biasa." gumam Souma di sepanjang jalan.
"Progress emang kayak gitu, yang dulu keliatan mustahil, lama-lama jadi biasa aja." kata Rin.
Kaito diem mendengarkan obrolan itu, tapi pikirannya udah melayang ke gerbang yang bakal mereka temuin sebentar lagi. Ada semacam firasat yang nggak bisa dia jelasin, campuran antara excited dan waspada, kayak tau sesuatu yang besar bakal kejadian begitu mereka sampe di sana.
Begitu mereka nyampe di ruangan paling dalam kuil, gerbang batu besar itu masih berdiri sama seperti terakhir kali, diam dengan ukiran-ukiran biru pucat yang berkilau lembut di kegelapan.
Kaito ngelangkah maju, ngulurin tangannya ke arah permukaan gerbang, kali ini tanpa ragu sama sekali kayak pertama kali dulu.
Begitu jarinya nyentuh batu itu, cahaya biru langsung menyala terang, jauh lebih terang dari sebelumnya, dan dengung rendah yang khas itu bergema lebih kuat di seluruh ruangan.
Resonansi terdeteksi: 67%
"Enam puluh tujuh persen, itu lompatan besar dari 49%." gumam Rin, matanya melebar.
Tapi belum sempet mereka lega, sesuatu yang beda kejadian. Alih-alih cahaya itu meredup lagi kayak biasanya, kali ini terus menyala makin lama makin terang, sampe seluruh ruangan itu dipenuhi cahaya biru yang hangat, bukan dingin kayak yang mereka bayangin.
Sebuah suara muncul, bukan tulisan di panel kayak biasanya, tapi suara sungguhan, dalem dan tenang, kedengeran dari segala arah sekaligus, kayak bergema langsung dari dalam pikiran mereka bertiga.
"Kau sudah kembali. Dan kali ini, kau tidak sendirian."
Souma refleks mundur, tangannya udah siap di gagang pedang. "I-itu tadi... beneran ngomong?"
Rin walau keliatan tegang, tetep berdiri di tempatnya, matanya nggak lepas dari gerbang yang makin terang itu.
"Jangan takut, aku bukan ancaman. Aku adalah apa yang manusia sebut sebagai keseimbangan, bagian dari sesuatu yang sudah lama tertidur, sebelum kata 'keberuntungan' dan 'kesialan' dipisahkan jadi dua hal yang berbeda." lanjut suara itu.
"Lo... lo yang ngirim pesan-pesan aneh itu ke gue, dari awal gue main." kata Kaito, suaranya gemeteran tapi berusaha tegar.
"Benar, dan aku sudah menunggu lama sekali untuk seseorang sepertimu, seseorang yang telah menyerap begitu banyak ketidakberuntungan sehingga menciptakan ruang kosong yang sangat besar, cukup besar untuk menampung keseimbangan yang sebaliknya."
"Jadi... gue emang beneran 'dipilih'?" tanya Kaito, nggak yakin harus percaya atau enggak.
"Bukan dipilih dalam artian takdir yang sudah ditentukan. Lebih tepatnya, kau adalah wadah yang paling cocok, hasil dari bertahun-tahun ketidakberuntungan yang kau alami tanpa pernah kau minta. Aku tidak memberimu apa pun yang tidak seharusnya kau miliki. Aku hanya membuka jalan yang sudah lama tertutup."
Rin yang dari tadi diem mendengarkan, akhirnya nyeletuk. "Kenapa gerbang ini bereaksi juga sama saya? Bukan cuma Kaito?"
Hening sesaat, sebelum suara itu ngejawab, kali ini dengan nada yang walau tetep tenang, kerasa sedikit lebih personal.
"Karena kau juga membawa resonansi, meski jenis yang berbeda. Kau pernah dekat dengan seseorang yang menyerap sisi lain dari keseimbangan ini, sisi yang menerima ketidakberuntungan alih-alih keberuntungan. Kepedulianmu terhadap orang itu meninggalkan jejak yang meski kecil, tetap bisa kurasakan."
Kaito ngeliat Rin, ngeliat wajahnya yang tiba-tiba berubah pucat, matanya berkaca-kaca sebelum buru-buru dia sembunyiin.
"Partner lama gue, itu artinya... apa yang kejadian ke dia beneran ada hubungannya sama semua ini?" gumam Rin, lebih ke diri sendiri.
"Aku tidak bisa menjawab detail nasibnya. Yang aku tahu, dunia ini menyimpan lebih banyak sistem tersembunyi daripada yang bisa dilihat siapa pun, bahkan oleh mereka yang menciptakan dunia ini. Beberapa orang menyerap sisi baik. Beberapa menyerap sisi buruk. Jarang sekali keduanya bertemu dalam satu perjalanan yang sama."
Ruangan itu diem sejenak, cahaya biru masih menyala stabil, seolah entitas itu ngebiarin mereka nyerna semua informasi yang baru aja dikasih.
"Apa yang lo mau dari gue?" tanya Kaito akhirnya, suaranya lebih mantap.
"Aku tidak menginginkan apa pun darimu secara paksa. Tapi jika kau bersedia, aku ingin kau terus tumbuh, membuktikan bahwa keseimbangan yang telah lama hilang bisa dipulihkan, bukan lewat kekuatan yang direbut paksa, tapi lewat perjalanan yang kau jalani bersama orang-orang di sekitarmu. Gerbang ini akan terbuka penuh ketika resonansimu mencapai keselarasan sempurna, bukan hanya angka tapi juga hati."
"Keselarasan sempurna, itu... maksudnya gimana persisnya?" ulang Rin.
"Kalian akan tahu ketika saatnya tiba. Untuk sekarang, teruslah melangkah. Aku akan menunggu, seperti yang selalu kulakukan."
Cahaya biru itu perlahan meredup, dengungnya berhenti, dan ruangan kembali diam kayak biasa, gerbang batu itu berdiri diam tanpa tanda-tanda pernah "berbicara" sama sekali.
Mereka bertiga berdiri diem cukup lama, ngebiarin beratnya semua informasi itu ngendep.
"Itu tadi... itu tadi beneran kejadian, kan? Bukan gue doang yang denger?" Souma akhirnya buka suara.
"Kita semua denger," kata Rin, suaranya masih agak gemeteran.
Kaito natap Rin, ngerasa berat ngeliat ekspresinya yang masih keliatan terguncang. "Lo oke?"
Rin diem sebentar, terus ngangguk pelan, walau matanya masih berkaca-kaca. "Gue... gue nggak nyangka bakal denger sesuatu yang ada hubungannya sama dia lagi, setelah sekian lama."
Kaito tanpa mikir panjang, ngerangkul pundak Rin pelan, ngasih dukungan tanpa kata-kata yang mungkin nggak bakal cukup buat momen kayak ini.
"Kita bakal cari tau lebih lanjut, bareng-bareng, kayak janji gue dulu." kata Kaito.
Rin natap dia, senyum tipis muncul di wajahnya walau matanya masih basah. "Yeah bareng-bareng."
Di luar kuil, langit senja mulai berubah warna, dan buat pertama kalinya, Kaito ngerasa dia bukan cuma lagi ngejar jawaban buat dirinya sendiri, tapi juga buat seseorang yang udah jadi bagian penting dalam hidupnya, di dunia mana pun itu.
Mereka jalan pulang dalam diam yang beda dari biasanya, bukan diam canggung, tapi diam yang penuh sama pikiran masing-masing, mencerna semua yang baru aja mereka denger. Souma sesekali ngelirik ke arah Kaito sama Rin, keliatan pengen ngomong sesuatu tapi mikir dua kali, akhirnya milih diem juga.
Begitu mereka nyampe lagi di gerbang Vale Aurora, Rin berhenti sejenak, natap Kaito dengan ekspresi yang lebih tenang dari sebelumnya, walau bekas-bekas emosinya masih keliatan di matanya.
"Makasih buat tadi, buat nemenin gue denger semua itu." katanya.
"Nggak perlu makasih, kita tim kan? Apa pun yang berat buat salah satu dari kita, ya berat buat semuanya." kata Kaito.
Rin senyum, senyum yang kali ini beneran sampai ke matanya. "Iya. Tim."
Souma yang jalan beberapa langkah di depan, nengok ke belakang, nyengir jahil ngeliat momen mereka berdua. "Kalo kalian udah selesai momen berdua, ayo cepetan, gue laper."
Kaito sama Rin saling pandang, ketawa kecil, ninggalin sebentar beratnya percakapan tadi buat momen ringan yang entah kenapa, kerasa pas banget buat nutup hari yang penuh sama pengungkapan besar.
Malam itu sebelum logout, Kaito sempet mikir lama soal semua yang baru aja mereka denger, soal keseimbangan, soal wadah, soal keselarasan sempurna yang katanya bakal jadi kunci gerbang itu. Dia nggak tau persis apa artinya, tapi satu hal yang dia yakini: apa pun itu, dia nggak bakal ngejarnya sendirian.