"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Suara tamparan itu memecah ruang tamu.
Kepala Jena terlempar ke samping.
Budi membeku. Matanya membesar melihat pipi Jena yang seketika memerah dan ada bekas jari Papanya.
Bu Asri menutup mulutnya dengan tangan. “Mas...” suaranya bergetar.
Pak Andika sendiri tampak terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Namun amarah masih menguasai dirinya.
Jena perlahan mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis. Ia justru menatap ayahnya dengan tatapan penuh luka.
"Pah, aku pernah memohon sama Papa untuk meninggalkan wanita itu, tapi apa jawaban Papa, Papa bilang gak bisa, Papa mencintainya." Jena menangis saat mengatakan itu. Ia masih ingat kejadiannya. "Dan sekarang, jangan minta Jena untuk meninggalkan Budi, karena Jena mencintainya."
"Kamu sedang membalas Papa?"
Jena menggeleng. "Bukan Pah. Bukan aku yang membalas, tapi takdir. "
Budi berdiri. “Pak...”
Pak Andika menoleh tajam.
“Kamu jangan ikut campur.”
Budi terdiam. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia memang datang untuk berpura-pura menjadi calon suami Jena. Tapi melihat wanita itu ditampar tepat di depan matanya, rasanya tidak mungkin ia hanya diam.
“Papa yang dari dulu memaksaku menikah dengan orang yang menurut Papa pantas. Papa bilang aku bukan sebagian dari bisnis, tapi nyatanya, saat aku memilih sendiri calon suamiku, Papa tidak setuju karena menganggap dia tidak menguntungkan dari sisi bisnis. Apa ini, Pah? Aku bagian dari bisnis Papa? Aku salah satu alat tukar bisnis?"
Pak Andika hanya diam.
Budi menatap Jena. Ia melihat seorang anak yang sedang terluka karena ayahnya sendiri.
Dan saat itu Budi sadar...Sandiwara yang mereka buat ternyata sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
Budi masih berdiri di tempatnya.
Ia tahu seharusnya ia tidak terlalu jauh ikut campur. Bagaimanapun, ini adalah urusan keluarga Jena.
Namun setelah melihat tamparan tadi, ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa begitu saja pergi.
Budi menatap Pak Andika dengan hati-hati.
“Pak... boleh saya bicara?”
Andika tidak menjawab.
Namun Budi tetap melanjutkan.
“Bapak berhak marah.”
Jena menoleh kepadanya, Budi mengangguk pelan.
“Serius, Pak. Bapak berhak marah karena Bapak merasa pilihan Jena salah. Bapak merasa saya tidak pantas untuk dia. Saya bisa memahami itu.”
Ia menarik napas.
“Mungkin Bapak benar, saya memang tidak pantas buat Jena kalau ukurannya status sosial, pendidikan, atau harta.”
Andika tetap diam.
“Saya cuma lulusan SMA. Saya jualan roti bakar di pinggir jalan. Sementara Jena...” Budi melirik sekeliling rumah besar itu. “Jena tumbuh di keluarga seperti ini.” Ia tersenyum kecil. “Jadi kalau Bapak melihat kami dari sisi itu, saya bisa mengerti kenapa Bapak menolak.”
Budi kemudian menatap Andika lebih serius.
“Tapi Pak, memukul Jena bukan tindakan yang benar.”
Bu Asri terdiam.
Jena pun tidak menyangka Budi akan mengatakan itu.
“Bapak bisa marah. Bisa menegur. Bisa mengatakan Jena salah. Bisa menjelaskan kenapa Bapak tidak setuju. Bukankah semua itu bisa dibicarakan baik-baik?”
Andika menatapnya tajam, ada salah satu bagian hatinya, yang tidak terima diceramahi anak muda.
Tapi Budi tidak mundur meski ekspresi Pak Andika sedikit membuatnya gemetar. “Saya tidak bermaksud menggurui Bapak. Saya cuma bicara sebagai orang yang kebetulan ada di sini.” Ia menatap Jena sebentar, kemudian kembali kepada Andika. “Coba sekali saja, Pak, lihat masalah ini dari sudut pandang Jena.”
Andika terdiam.
“Jena mungkin tidak memikirkan status sosial. Dia tidak memikirkan berapa banyak harta yang saya punya. Bahkan mungkin dia tidak peduli saya cuma penjual roti bakar.”
Jena menunduk.
Budi melanjutkan dengan suara tenang. “Dia hanya memilih laki-laki yang dia suka. Laki-laki yang menurut dia bisa membuatnya nyaman, aman, dan bahagia.”
Budi tersenyum tipis. “Lalu di mana salahnya?”
Tidak ada yang menjawab, Andika hanya bungkam.
“Bukankah hampir semua orang kalau ditanya ingin punya calon suami seperti itu?” Budi menatap Andika. “Orang ingin dicintai, dihargai, diperlakukan dengan baik, dan merasa aman ketika bersama pasangannya. Menikah itu ibadah terpanjang, bukan sesuatu yang hanya berlaku satu atau dua tahun, tapi seumur hidup. Sangat penting untuk memilih pasangan yang bisa menjadi rumah, yang selalu membuat rindu untuk pulang. Kalau Jena mencari itu, apa salahnya?” Ia menarik nafas panjang.
"Kamu sedang menggurui saya? Punya pengalaman apa kamu soal nikah? Saya jauh lebih berpengalaman daripada kamu." Andika tak mau kalah. "Rumah tangga itu butuh uang, bukan hanya modal cinta."
Budi tersenyum mendengar itu. "Tentu saja itu benar. Kalau soal uang, mungkin saya memang tidak bisa memberi Jena banyak atau berlebih. Tapi kalau cukup, InsyaAllah saya bisa."
"Kamu tahu berapa arti cukup itu? Jangan samakan Jena dengan kamu. Kamu bisa cukup dengan uang 3 sampai 5 juta sebulan, tapi tidak dengan Jena. Uang untuk dia jajan saja, lebih dari itu."
"Aku gak keberatan kok Pah, kalau Budi bisanya ngasih segitu," ujar Jena. "Apa yang dikatakan Budi benar, aku butuh suami yang bisa jadi rumah, bukan jadi bank."
Andika mendengus kesal, wajahnya merah padam.
"Aku belajar dari rumah tangga Papa dan Mama, kalau uang banyak, bukan jaminan rumah tangga akan bahagia."
Andika terdiam, kali ini tak bisa jawab.
"Budi memang tak punya banyak harta, tapi dia punya cinta, punya hati yang tulus, dan dia pekerja keras. Laki-laki seperti itu yang aku mau Pah, bukan laki-laki kaya yang tak pernah ada waktu untukku dan suatu saat," ia tersenyum getir. "Bisa saja menikah lagi karena merasa bisa menafkahi lebih dari satu istri."
Andika salah tingkah, merasa tersindir.
"Pak." Budi kembali bicara. "Menurut saya, seorang ayah boleh berharap anak perempuannya mendapatkan laki-laki terbaik. Tapi jangan sampai karena ingin memberikan yang terbaik, justru membuat anak merasa pilihannya sendiri tidak pernah cukup, selalu salah, bahkan merasa tidak punya hak sama sekali untuk menentukan pilihan dalam hidupnya."
Kalimat terakhir itu membuat ruangan benar-benar sunyi.
Pak Andika menatap Budi lama. Kali ini tidak ada tatapan meremehkan. Ada sesuatu yang lain. Ia merasa Budi terlalu pintar dan terlalu tenang untuk ukuran laki-laki lulusan SMA yang hanya jualan roti bakar di pinggir jalan.
Budi menundukkan kepala.
“Maaf kalau perkataan saya lancang, Pak. Saya tetap menghormati Bapak sebagai orang tua Jena." Kemudian ia melirik Jena. “Tapi saya tidak bisa diam melihat seseorang dipukul hanya karena memilih orang yang dia sukai. Apalagi, orang itu adalah wanita yang saya cintai."
Jena menatap Budi tanpa berkata-kata. Ia merasa, akting laki-laki itu terlalu natural, bahkan terlihat seperti bukan akting. Ia bahkan hampir lupa bahwa Budi adalah pria yang ia bayar untuk berpura-pura menjadi calon suaminya.
bukan karena cerita orang lain tapi dia mengalami sendiri, dan melihat ibunya tersakiti karena perbuatan bapaknya😭
G bakal selingkuh karena dia udah lama suka sama kamu.
Mau g yah si Jenna????