Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelompok Enam

Mata kuliah Pendidikan Pancasila adalah salah satu dari sedikit kelas yang tidak dipisah per jurusan.

Ini semacam kebijakan universitas, katanya biar mahasiswa dari fakultas berbeda bisa saling kenal sejak semester awal, meski dari pengamatanku selama tiga minggu terakhir, kebijakan itu lebih sering menghasilkan orang-orang duduk berkelompok sesuai fakultas asal masing-masing daripada benar-benar membaur. Anak Teknik duduk di blok kiri. Anak Komunikasi dan Psikologi di blok tengah. Anak Ekonomi Bisnis di blok kanan dekat pintu, entah kenapa selalu di dekat pintu, mungkin supaya bisa kabur duluan begitu kelas selesai.

Aku duduk di blok kiri, seperti biasanya, di baris ketiga, karena baris pertama terlalu dekat dengan dosen dan baris paling belakang terlalu jauh untuk bisa dengar jelas tanpa harus fokus ekstra. Cahaya, karena ambil kelas ini dari kuota jurusan Komunikasi, seharusnya duduk di blok tengah. Tapi entah kenapa, sejak minggu pertama, dia selalu menyempatkan diri duduk di sebelahku dulu sebelum kelas dimulai, ngobrol sebentar, baru pindah ke kelompoknya begitu dosen masuk.

Pagi itu, Pak Slamet, dosen Pancasila yang usianya sudah mendekati enam puluh tapi caranya bicara masih penuh energi seperti orang berusia separuh itu, masuk kelas dengan map coklat tebal di tangan.

"Selamat pagi," katanya, meletakkan map di meja depan. "Hari ini kita mulai tugas besar semester ini."

Seluruh kelas, yang tadinya ribut dengan obrolan masing-masing, langsung diam. Bukan diam hormat, tapi diam khas mahasiswa yang mendadak was-was mendengar kata "tugas besar".

"Tugasnya kelompok," lanjut Pak Slamet, membuka map itu, mengeluarkan selembar kertas berisi daftar nama yang sudah dia print sebelumnya. "Saya sudah bagi kelompoknya sendiri, biar adil. Enam orang per kelompok, campuran dari berbagai jurusan."

Terdengar keluhan pelan dari beberapa sudut kelas. Aku sendiri merasakan sesuatu yang mirip perasaan itu, meski tidak sampai mengeluarkan suara, karena "kelompok yang sudah dibagi dosen" biasanya berarti "kelompok yang tidak bisa kamu pilih siapa isinya", dan bagiku itu variabel yang cukup mengkhawatirkan.

"Saya bacakan," kata Pak Slamet, mulai membaca daftar dari kertas itu. "Kelompok satu..."

Aku menunggu, menghitung berapa nama yang harus dibaca sebelum sampai ke namaku, dengan asumsi urutannya alfabetis atau berdasarkan nomor absen, yang keduanya cukup mudah diprediksi.

"Kelompok enam," kata Pak Slamet, setelah membaca lima kelompok sebelumnya. "Rendy Alamsyah."

Aku mengangkat tangan setengah, sekadar konfirmasi kehadiran, meski Pak Slamet sepertinya tidak terlalu memperhatikan siapa yang mengangkat tangan.

"Cahaya Kusuma Dewi."

Aku menoleh ke arah blok tengah, dan Cahaya sudah menatapku balik dengan ekspresi yang campuran antara kaget dan senang, seperti baru saja menang undian kecil yang tidak terlalu penting tapi tetap menyenangkan.

"Bimo Prasetyo."

Bimo, yang duduk di sebelahku, langsung menyikut lenganku pelan. "Kita sekelompok."

"Kayaknya," jawabku, meski aku masih menunggu tiga nama lagi untuk memastikan siapa saja yang akan jadi bagian dari kelompok ini.

"Salsabila Anggraini."

Dari blok tengah, terdengar suara Sasa yang tidak terlalu terkejut, lebih seperti sudah menduga. "Wah, seru nih."

"Kevin Halim."

Nama yang belum aku kenal. Aku mencoba mengingat wajah mana yang biasanya duduk dekat Cahaya, tapi tidak ada yang langsung muncul di kepalaku.

"Amanda Ferisya."

Nama terakhir, juga belum aku kenal, meski aku sempat melihat seseorang di blok tengah mengangkat tangan pelan, seorang perempuan berambut pendek dengan kacamata bulat yang duduknya biasa di dekat Cahaya.

"Itu kelompok enam," kata Pak Slamet, melipat kertasnya. "Silakan kumpul sesuai kelompok, saya kasih waktu sepuluh menit buat kenalan dan bahas topik kalian sebelum saya jelasin detail tugasnya."

Suara kursi bergeser memenuhi ruangan, mahasiswa mulai bergerak mencari kelompok masing-masing, dan aku duduk diam sebentar, mencerna kenyataan bahwa aku baru saja dimasukkan ke kelompok yang isinya mayoritas orang-orang yang aku tidak kenal, minus Cahaya dan Bimo.

Cahaya sampai lebih dulu di sekitar bangkuku, menyeret kursi kosong dari baris belakang dan menaruhnya di sebelahku dengan suara berdecit yang cukup keras.

"Untung banget kita sekelompok," katanya, duduk. "Kirain bakal kena kelompok random yang enggak kenal siapa-siapa."

"Aku juga enggak kenal Kevin sama Amanda."

"Tapi kamu kenal aku." Dia tersenyum, seolah itu jawaban yang cukup untuk semua kekhawatiran yang mungkin ada di kepalaku.

Bimo bergabung tidak lama setelah itu, menyeret kursinya sendiri, dan bertepatan dengan itu, dua orang lain mendekat, seorang cowok berperawakan cukup tinggi dengan rambut disisir rapi ke samping, dan seorang perempuan berkacamata bulat yang tadi kulihat mengangkat tangan.

"Hai," kata cowok itu, tersenyum, mengulurkan tangan ke arahku duluan. "Kevin. Manajemen."

Aku menyalaminya. "Rendy. Informatika."

"Amanda," kata perempuan berkacamata itu, tidak terlalu banyak basa-basi, langsung duduk di kursi kosong terdekat. "Komunikasi, sekelas Cahaya."

"Aku udah tau namanya dari Cahaya sih," kata Kevin, duduk juga, menatapku dengan ekspresi yang cukup ramah. "Katanya kalian temen dari kecil?"

Aku melirik Cahaya sekilas. "Iya."

"Keren banget," kata Kevin, terdengar tulus, bukan basa-basi kosong. "Aku pindah-pindah kota tiga kali waktu SD, jadi enggak ada temen yang bertahan lebih dari dua tahun."

Percakapan itu mengalir cukup natural setelahnya, meski aku lebih banyak diam, mendengarkan, sesekali mengangguk atau menjawab pertanyaan langsung yang diarahkan ke aku. Kevin ternyata cukup ramah dan mudah diajak bicara, tipikal orang yang membuat suasana tetap cair tanpa perlu berusaha keras. Amanda lebih pendiam, tapi bukan pendiam karena canggung, lebih ke arah dia memang hemat bicara dan lebih suka mendengarkan sebelum berkomentar, tipe yang mengingatkanku sedikit pada diriku sendiri, meski caranya menunjukkan itu berbeda dari caraku.

Sasa datang belakangan, membawa map berisi kertas catatan yang entah kenapa sudah dia siapkan sebelum tahu topik tugasnya apa.

"Sori telat," katanya, duduk di sebelah Amanda. "Tadi masih ngobrol sama temen sekelompok kemaren yang ternyata bukan kelompok yang sama lagi sekarang."

"Kamu udah kenal semua di sini?" tanya Kevin.

"Kenal Cahaya sama Rendy doang," jawab Sasa, menatapku sebentar dengan ekspresi yang sedikit menggoda, meski aku belum paham maksudnya apa. "Tapi kayaknya bakal seru."

Pak Slamet menjelaskan detail tugasnya sekitar sepuluh menit kemudian, setelah semua kelompok terbentuk dan suasana kelas kembali cukup tenang untuk didengar.

"Tugasnya," katanya, berdiri di depan, "bikin makalah kelompok tentang implementasi nilai Pancasila di era digital. Bisa ambil sudut pandang apa aja, media sosial, ekonomi digital, pendidikan online, terserah. Dikumpul dalam bentuk makalah plus presentasi, waktunya lima minggu dari sekarang."

Terdengar beberapa keluhan lagi, meski lebih pelan dari sebelumnya, karena lima minggu sebenarnya cukup lama untuk tugas semacam ini.

"Silakan diskusi dulu di kelompok masing-masing," lanjut Pak Slamet. "Tentuin ketua kelompok, pembagian tugas, dan topik spesifik. Kelas hari ini saya kasih waktu penuh buat itu."

Kelompok enam kembali berkumpul, kursi disusun membentuk lingkaran kecil, dan untuk beberapa menit pertama, tidak ada yang benar-benar memulai diskusi serius, lebih banyak celetukan random soal topik apa yang enak diambil.

"Gimana kalo soal Pancasila di gaming?" usul Bimo, setengah bercanda. "Kayak, sila kelima keadilan sosial, tapi diimplementasikan di sistem matchmaking game online."

"Itu bakal susah dibikin serius, Bim," kata Kevin, tertawa kecil.

"Justru itu tantangannya."

"Menurutku," kata Amanda, angkat bicara untuk pertama kalinya sejak diskusi dimulai, suaranya pelan tapi jelas, "kita ambil topik yang lebih mudah dicari sumbernya. Kayak soal hoax dan disinformasi di media sosial, dikaitin sama sila keempat, musyawarah mufakat, gimana algoritma media sosial malah bikin orang makin terpolarisasi, bukan makin sepakat."

Ada jeda sebentar, kelompok mencerna usulan itu.

"Itu bagus," kata Cahaya, mengangguk. "Relevan juga, banyak sumbernya."

"Aku setuju," kata Sasa.

Aku juga setuju, meski aku belum bicara sama sekali sejak diskusi dimulai, lebih memilih mengamati dinamika kelompok dulu sebelum memutuskan kapan waktu yang tepat untuk masuk. Ini pola yang biasa aku lakukan di situasi sosial baru, semacam observasi dulu sebelum berpartisipasi, meski aku sadar itu kadang membuatku terlihat kurang terlibat dari yang sebenarnya aku rasakan.

"Rendy gimana?" tanya Cahaya, tiba-tiba menoleh ke arahku, seolah sadar aku belum berkomentar apa-apa.

Semua mata di kelompok itu ikut menoleh, dan aku merasakan sensasi yang agak tidak nyaman karena tiba-tiba jadi pusat perhatian.

"Setuju," jawabku, singkat.

"Cuma setuju doang?" Cahaya mengangkat alis, jelas tahu aku sedang dalam mode minim kata.

"Topiknya bagus," lanjutku, mencoba memberikan lebih dari sekadar satu kata. "Bisa juga dikaitin sama filter bubble, gimana algoritma bikin orang cuma keliatan pendapat yang sejalan sama mereka aja."

"Nah, itu bagus," kata Amanda, terlihat senang ada yang menambahkan idenya. "Bisa jadi salah satu sub topik."

Percakapan berlanjut, dan meski aku masih lebih banyak diam dibanding yang lain, kontribusiku diterima dengan baik, tidak ada yang membuatku merasa harus bicara lebih dari yang aku nyaman lakukan. Ini berbeda dari yang aku bayangkan sebelumnya, karena aku sempat khawatir kelompok ini akan didominasi obrolan cepat yang sulit aku ikuti, tapi ternyata ritmenya lebih santai dari itu.

Ketua kelompok akhirnya jatuh ke Kevin, karena dia yang paling percaya diri menawarkan diri dan tidak ada yang keberatan.

Pembagian tugas dilakukan setelahnya, dengan Amanda dan Sasa mengambil bagian riset sumber, Cahaya dan Kevin mengambil bagian penulisan draf awal, dan aku diminta membuat slide presentasi karena, kata Bimo tanpa diminta, "Rendy pasti jago desain slide, dia tipe yang detail-detail gitu."

Aku tidak membantah itu, karena memang benar aku cukup nyaman dengan urusan teknis semacam itu, lebih nyaman daripada harus riset dan menulis narasi panjang yang membutuhkan lebih banyak interaksi verbal dengan sumber-sumber yang belum tentu jelas kredibilitasnya.

"Kita perlu ketemu lagi kan buat gabungin semua bagian," kata Kevin, mencatat pembagian tugas di ponselnya. "Gimana kalo minggu depan, di perpus atau di kafe deket kampus?"

"Perpus aja," kata Amanda. "Lebih tenang, ada colokan juga."

"Oke, perpus lantai tiga, area diskusi. Kapan enaknya?"

Diskusi kecil soal jadwal berlangsung beberapa menit, mencocokkan waktu kosong masing-masing, dan akhirnya disepakati Rabu depan jam tiga sore, setelah kelas terakhir semua orang di kelompok itu selesai.

"Ren," kata Cahaya, di sela diskusi jadwal itu, "kamu kelasnya Rabu sampe jam berapa?"

"Jam dua."

"Berarti pas banget, ada waktu satu jam buat istirahat dulu."

"Iya."

Kevin, yang mendengar pertukaran itu, tersenyum kecil, tidak berkomentar apa-apa, tapi aku menangkap ekspresinya sekilas, semacam ekspresi orang yang baru saja mengamati sesuatu dan menyimpannya di kepala tanpa mengucapkannya keras-keras.

Kelas berakhir sekitar setengah jam kemudian, setelah Pak Slamet berkeliling memeriksa progres tiap kelompok dan memberi beberapa masukan umum.

Di luar kelas, kelompok enam masih sempat ngobrol sebentar sebelum bubar, dan di tengah obrolan itu, Kevin mendekat ke arahku, sendirian, sementara yang lain masih sibuk membahas hal lain.

"Rendy," katanya, "boleh nanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kamu sama Cahaya beneran cuma temenan doang?"

Pertanyaan itu, meski sudah bukan pertama kalinya aku dengar dalam berbagai variasi selama tiga minggu terakhir, tetap terasa agak mengagetkan datang dari orang yang baru aku kenal satu jam yang lalu.

"Iya," jawabku. "Dari kecil."

"Oh oke." Kevin mengangguk, terlihat sedikit lega, meski aku tidak sepenuhnya paham kenapa dia perlu merasa lega soal itu. "Soalnya kalian keliatan deket banget, aku pikir mungkin ada sesuatu."

"Enggak ada apa-apa," jawabku, meski entah kenapa kalimat itu terasa sedikit lebih berat diucapkan dibanding biasanya, seperti ada sesuatu yang mengganjal saat aku bilang itu, tapi aku tidak sempat memikirkannya lebih jauh karena Kevin sudah melanjutkan bicara.

"Soalnya aku kepikiran mau deketin dia," lanjutnya, terus terang, dengan nada yang santai tapi jelas serius. "Tapi enggak enak kalo ternyata kalian ada sesuatu, jadi aku mau mastiin dulu."

Aku diam sebentar, mencerna kalimat itu, mencoba mencari respons yang tepat untuk situasi yang, jujur, belum pernah aku hadapi sebelumnya dengan cara sedirect ini.

"Enggak ada sesuatu," ulangku, karena itu memang jawaban paling akurat yang aku punya. "Kita cuma temen."

"Oke, makasih infonya." Kevin tersenyum, menepuk bahuku sekali, gestur yang terasa ramah meski aku tidak sepenuhnya tahu harus merespons dengan ekspresi apa. "Sampai ketemu Rabu ya."

Dia berjalan pergi bergabung dengan yang lain, dan aku berdiri di tempat itu beberapa detik, mencerna percakapan yang baru saja terjadi, dengan perasaan yang aku sendiri kesulitan menamainya. Bukan marah. Bukan juga senang. Lebih ke arah semacam ketidaknyamanan yang tidak jelas asalnya, seperti ada sesuatu yang salah tapi aku tidak bisa menunjuk persis apa itu.

"Kamu ngobrol apa sama Kevin?" tanya Cahaya, begitu aku bergabung lagi dengan kelompok yang mulai bubar menuju arah masing-masing.

"Enggak ada. Soal jadwal doang."

Aku tidak tahu kenapa aku memilih untuk tidak bercerita apa yang sebenarnya dibicarakan Kevin, meski aku juga tidak sepenuhnya bisa menjelaskan kenapa itu terasa seperti informasi yang perlu disembunyikan.

"Oh." Cahaya mengangguk, tidak mendesak lebih jauh, dan kami berjalan bersama menuju gedung selanjutnya, karena kebetulan jadwal kelas kami berikutnya searah untuk sepuluh menit pertama sebelum berpisah arah.

"Kelompoknya lumayan enak ya," katanya, di tengah jalan. "Kevin sama Amanda baik, enggak yang sok atau gimana."

"Iya."

"Kamu tadi diem terus. Nervous?"

"Enggak nervous. Cuma observasi dulu."

"Observasi lagi." Cahaya tertawa kecil, geleng kepala. "Kamu tuh kalo ketemu orang baru selalu gitu. Observasi dulu setengah jam baru mau ngomong."

"Itu strategi yang efektif."

"Efektif buat apa?"

"Buat ngerti dinamika kelompok sebelum ikut campur."

Cahaya menatapku sebentar, ekspresinya sulit dibaca, campuran antara geli dan sesuatu yang lebih dalam yang aku tidak yakin bagaimana mendeskripsikannya. "Kamu ini analitis banget buat urusan pertemanan, Ren."

"Kamu yang terlalu impulsif."

"Aku enggak impulsif. Aku spontan. Beda."

"Sama aja."

"ENGGAK SAMA."

Perdebatan kecil itu berlanjut sampai kami sampai di persimpangan gedung, tempat kami harus berpisah arah, dan Cahaya melambai singkat sebelum berbelok ke gedung Komunikasi, meninggalkan aku dengan pikiran yang masih setengah menempel pada percakapan dengan Kevin tadi.

Sore itu, di kamar, aku duduk di depan laptop, membuka aplikasi presentasi untuk mulai memikirkan template slide yang akan aku pakai untuk tugas kelompok, meski deadline masih lima minggu lagi dan sebenarnya belum ada materi yang perlu dimasukkan.

Aku melakukan ini bukan karena aku terlalu rajin. Lebih karena membuat sesuatu yang teknis dan terstruktur biasanya membantu aku memproses pikiran yang lebih rumit, semacam cara mengalihkan energi mental ke sesuatu yang punya aturan jelas dan hasil yang bisa diprediksi.

Ponselku bergetar. Pesan dari Bimo.

"Eh Ren, tadi Kevin nanya-nanya soal kamu sama Cahaya ke aku juga."

Aku menatap pesan itu, mengetik balasan. "Nanya apa?"

"Sama kayak yang dia tanya ke kamu kayaknya. Apa kalian pacaran, apa dia boleh deketin Cahaya."

"Terus kamu jawab apa?"

"Aku bilang setau aku kalian cuma temenan. Tapi jujur aja Ren, kayaknya banyak orang yang ngeliat kalian dan mikir hal yang sama."

Aku menatap layar itu cukup lama, tidak langsung membalas, karena aku tidak sepenuhnya tahu apa yang ingin aku katakan sebagai respons.

"Emang kenapa emangnya kalo mereka mikir gitu?" tanyaku akhirnya.

Jeda cukup lama sebelum balasan Bimo masuk.

"Enggak kenapa-kenapa sih. Cuma aku penasaran aja gimana perasaan kamu kalo misalnya Kevin beneran deketin Cahaya."

Aku menatap pertanyaan itu lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar membalas chat biasa, mencoba mencari jawaban yang jujur, tapi setiap kali aku mencoba merumuskan sesuatu, yang muncul cuma perasaan campur aduk yang tidak punya bentuk jelas.

"Ya biasa aja," ketikku akhirnya, meski aku sendiri tidak sepenuhnya yakin apakah itu jawaban yang akurat. "Cahaya berhak deket sama siapa aja yang dia mau."

"Oke deh kalo gitu."

Bimo tidak melanjutkan topik itu lebih jauh, dan aku meletakkan ponsel, kembali menatap layar laptop yang masih kosong, template presentasi yang belum aku sentuh sejak lima menit terakhir.

Malam itu, chat rutin dengan Cahaya datang seperti biasa, antara jam delapan dan sembilan, tapi kali ini aku yang memulai lebih dulu, sesuatu yang jarang terjadi karena biasanya dia yang lebih dulu mengirim pesan.

"Cahaya, kamu deket sama Kevin?"

Balasannya datang tidak terlalu lama.

"Lumayan. Dia temen sekelas Komunikasi. Kenapa emangnya?"

Aku berpikir sejenak sebelum mengetik balasan, mencoba merumuskan pertanyaan yang tidak terdengar terlalu mengintervensi urusan pribadinya.

"Enggak, cuma nanya doang."

"Kok tiba-tiba nanya gitu."

"Dia tadi nanya ke aku soal kita. Apa kita pacaran."

Jeda cukup lama sebelum balasan berikutnya masuk, lebih lama dari biasanya.

"Terus kamu jawab apa?"

"Aku bilang kita cuma temenan."

"Oh."

Hanya satu kata itu, tanpa penjelasan tambahan, dan aku menatap layar cukup lama, mencoba menerka apa yang ada di balik satu kata pendek itu, tapi tidak berhasil menyimpulkan apa pun yang pasti.

"Kenapa cuma 'oh'?" tanyaku akhirnya.

"Enggak kenapa-kenapa. Cuma mikir aja."

"Mikir apa?"

"Enggak penting. Udah malem, aku mau tidur duluan ya."

Balasan itu datang lebih cepat dari yang seharusnya diperlukan untuk mengetik kalimat sesingkat itu, dan tanpa stiker penutup seperti biasanya, tanpa "malem, Ren" yang biasa jadi penutup rutin, cuma satu kalimat yang terasa terburu-buru diakhiri.

Aku menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, kenapa percakapan yang dimulai dengan pertanyaan sederhana berakhir dengan nada yang terasa berbeda dari biasanya.

Aku mengetik satu kalimat lagi, mempertimbangkan untuk mengirimnya, lalu menghapusnya, mengetik lagi, menghapusnya lagi.

Akhirnya aku hanya mengirim: "Oke. Malem, Cahaya."

Tidak ada balasan setelah itu.

Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit, memikirkan percakapan tadi dari berbagai sudut, mencoba mencari pola yang masuk akal, tapi setiap kali aku merasa sudah mendekati sesuatu, penjelasan itu terasa tidak cukup lengkap.

Kevin yang bertanya apakah dia boleh mendekati Cahaya. Bimo yang bertanya bagaimana perasaanku kalau itu terjadi. Cahaya yang tiba-tiba mengakhiri chat dengan nada yang berbeda dari biasanya, tanpa penjelasan, tanpa stiker penutup yang biasa jadi tanda semuanya baik-baik saja.

Aku memikirkan jawabanku sendiri ke Bimo tadi sore. Cahaya berhak deket sama siapa aja yang dia mau.

Kalimat itu benar. Aku masih percaya itu benar. Tapi entah kenapa, memikirkannya ulang sekarang, di kamar yang gelap dengan hanya cahaya dari layar ponsel yang sudah mati, kalimat itu terasa seperti jawaban yang aku berikan karena itu jawaban yang terdengar benar, bukan karena itu benar-benar mencerminkan apa yang aku rasakan.

Aku tidak tahu apa yang aku rasakan.

Itu bagian yang paling membingungkan. Bukan karena aku tidak biasa memproses perasaan, tapi karena perasaan ini tidak punya bentuk yang familiar, tidak seperti perasaan senang menonton episode baru anime favorit, atau perasaan kesal waktu deadline tugas mepet, atau perasaan nyaman waktu jalan pulang bareng Cahaya seperti biasa.

Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berat, lebih sulit dinamai, dan muncul justru dari bayangan sederhana: Kevin, yang baru aku kenal satu jam, mendekati Cahaya yang sudah aku kenal belasan tahun.

Aku menutup mata, mencoba tidur, meski pikiran itu masih berputar pelan di kepala, tidak mau benar-benar pergi, dan aku memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh malam itu, karena besok masih ada kelas pagi, dan karena sebagian diriku merasa lebih aman untuk tidak terlalu dalam menggali perasaan yang belum siap aku pahami sepenuhnya.

Tapi sebelum benar-benar tertidur, satu pikiran kecil melintas, singkat tapi cukup jelas untuk kuingat: kenapa aku peduli sebegitunya soal siapa yang mendekati Cahaya, kalau memang benar kami cuma teman.

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

Dan untuk malam ini, aku memutuskan itu cukup, tidak perlu dicari lebih jauh.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!