Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai Tiga Puluh
Aiden terus berjalan sampai ruangan hijau dan suara Marcus tertinggal jauh di belakang. Ia tidak mengetahui bentuk lantai tersebut, sehingga hanya mengikuti lorong yang semakin ramai dan berharap tidak berakhir pada jalan buntu.
Air mata masih membasahi pipinya. Aiden menyekanya menggunakan lengan kemeja sampai kulit di bawah mata terasa perih, tetapi napasnya tetap tersendat setiap kali ucapan Marcus kembali muncul di dalam kepala.
Ibunya tidak meninggal karena sakit. Selama lima tahun, Marcus menyimpan gelang Miranda di sakunya dan membiarkan Aiden mempercayai cerita yang tidak pernah terjadi.
Aiden menggigit bagian dalam pipi. Ia mempercepat langkah agar kemarahan dapat mengalahkan rasa ingin berbalik dan mencari ayahnya.
Lorong berakhir pada ruangan depan yang mereka lewati saat pertama memasuki Empire. Suara percakapan, langkah, roda gerobak, dan benda-benda yang dipindahkan segera memenuhi telinganya.
Tidak ada yang menghentikan Aiden ketika ia muncul sendirian. Beberapa orang sempat memandang pakaian kotornya, tetapi kemudian kembali pada pekerjaan masing-masing.
Aiden berjalan menuju tiang besar dekat pintu utama. Dari tempat itu, ia dapat melihat deretan lift tanpa berdiri di tengah jalur orang-orang yang datang dan pergi.
Pintu-pintu logam tersebut masih bergerak seperti sebelumnya. Angka merah di atasnya berubah perlahan, lalu sebuah bunyi pendek terdengar sebelum salah satu pintu membuka.
Sekelompok orang keluar membawa keranjang, gulungan kabel, dan peti perkakas. Kelompok lain segera masuk menggantikan mereka, kemudian pintu tertutup dan menghilangkan semuanya dari pandangan.
Aiden memperhatikan setiap gerakan. Orang-orang yang masuk selalu menghadap sebuah papan kecil pada dinding lift, menyentuh salah satu bagiannya, lalu menunggu sampai pintu menutup.
Ia ingin mengetahui bagaimana benda itu bekerja. Namun, bertanya kepada orang asing berarti mengakui bahwa dirinya belum pernah menaiki lift, dan Aiden tidak ingin kembali dipandangi seperti anak dari permukiman kecil yang tidak mengenal apa pun.
Ketapel masih mencuat dari saku kemejanya. Ia menekannya lebih dalam, walaupun bagian cabangnya tetap terlihat di atas kain.
Lift pertama datang dan pergi tanpa dirinya. Aiden membiarkannya karena terlalu banyak orang berdiri di depan pintu dan seorang penjaga ikut masuk bersama mereka.
Pintu kedua terbuka beberapa saat kemudian. Hanya dua orang keluar, sementara empat orang lain menunggu untuk naik dengan keranjang kosong di tangan.
Aiden meninggalkan tempatnya di dekat tiang. Ia menyelip di belakang seorang pria bertubuh besar, lalu masuk bersama mereka sebelum keberaniannya menghilang.
Bagian dalam lift lebih kecil daripada yang tampak dari luar. Dindingnya terbuat dari logam kusam dan lantainya dilapisi papan, sedangkan sebuah lampu kecil berada di atas kepala dengan jaring pelindung di sekeliling kaca.
Bau minyak mesin bercampur dengan keringat serta kain lembap. Aiden berdiri dekat sudut dan berusaha tidak menyentuh siapa pun ketika orang terakhir masuk.
Di samping pintu terdapat deretan tombol berbentuk bulat. Setiap tombol mempunyai angka, dimulai dari angka paling kecil di bagian bawah dan terus bertambah sampai baris teratas.
Sebagian besar tombol telah dicoret menggunakan tinta merah. Beberapa bahkan disilang berkali-kali sampai angkanya hampir tidak terlihat, dan bekas goresan benda tajam memenuhi logam di sekelilingnya.
Aiden mengikuti susunan angka dengan mata. Tombol tertinggi yang tidak diberi silang merah adalah angka tiga puluh.
Seorang pria menekan angka tiga. Orang lain menyentuh angka lima, sedangkan seorang perempuan membawa keranjang menekan angka sembilan menggunakan ujung jari.
Setiap tombol yang dipilih mengeluarkan cahaya redup dari bagian tengah. Aiden memperhatikan tanpa bergerak dan menyimpan urutan tersebut di dalam kepala.
Pintu menutup dengan gesekan logam. Sesaat kemudian, lantai bergetar di bawah sepatu dan dengung berat muncul dari bagian atas kotak.
Tubuh Aiden terasa ditekan ke bawah ketika lift mulai bergerak. Rasa geli tiba-tiba naik dari perut menuju dada, membuatnya memegang dinding dan mengeluarkan tawa kecil sebelum sempat menahannya.
Bunyinya pendek, tetapi semua orang di dalam lift mendengarnya. Beberapa kepala menoleh dan seorang pria mengangkat alis sambil melihat Aiden dari sepatu hingga rambut.
Aiden langsung menutup mulut. Panas menjalar ke telinga dan pipinya, membuat bekas air mata yang belum kering terasa semakin jelas.
Ia menunduk dan berpura-pura memeriksa ketapel. Orang-orang kembali memandang ke depan, tetapi Aiden tidak berani tertawa lagi meskipun perutnya terus terasa ringan setiap kali lift bertambah cepat.
Bunyi pendek terdengar dari atas pintu. Angka tiga menyala, gerakan lift berhenti, dan tubuh Aiden terdorong sedikit ke depan.
Pintu terbuka pada lorong lain. Pria yang menekan angka tiga keluar membawa peti perkakas, kemudian pintu menutup kembali tanpa menunggu lama.
Lift naik sekali lagi. Kali ini Aiden menekuk lutut sedikit dan berhasil menahan suara saat rasa geli kembali melewati perut.
Angka lima menyala berikutnya. Dua orang keluar bersama keranjang kosong, meninggalkan Aiden dengan perempuan yang akan berhenti di lantai sembilan.
Pada angka sembilan, perempuan tersebut mengangkat keranjangnya dan melangkah keluar. Pintu menutup setelahnya, membuat Aiden berdiri sendirian di dalam kotak logam.
Barulah ia memahami bahwa angka-angka itu menunjukkan lantai tempat lift berhenti. Setiap tombol dapat membawanya ke bagian bangunan yang berbeda tanpa perlu mengetahui letak tangga.
Lift tetap diam karena tidak ada tombol lain yang menyala. Dengung mesinnya melemah, menyisakan getaran halus pada dinding.
Aiden memandang deretan angka. Jarinya bergerak melewati tombol-tombol yang dicoret merah sampai berhenti pada angka tertinggi yang masih diperbolehkan.
Ia menekan angka tiga puluh. Cahaya muncul di tengah tombol, pintu tetap tertutup, dan lift langsung bergerak naik.
Perjalanan kali ini terasa jauh lebih lama. Angka-angka di atas pintu berubah satu demi satu, sementara tali dan roda di balik dinding bekerja dengan dengung yang semakin panjang.
Aiden mencoba menghitung setiap lantai yang terlewati. Ia kehilangan hitungan ketika telinganya terasa penuh dan harus menelan ludah beberapa kali untuk menghilangkan tekanan.
Rasa geli pada perutnya tidak lagi membuatnya malu karena tidak ada seorang pun yang melihat. Ia membiarkan senyum muncul, merentangkan kedua kaki untuk menjaga keseimbangan, dan membayangkan dirinya sedang diangkat oleh tangan raksasa melalui perut gedung.
Angka tiga puluh akhirnya menyala. Lift melambat, berhenti dengan satu sentakan ringan, lalu kedua pintunya terbuka.
Aiden tidak langsung keluar. Ia mengintip lebih dahulu, memastikan tidak ada penjaga atau orang dewasa yang menunggu untuk menanyakan urusannya.
Sebuah koridor panjang berada di hadapannya. Lampu-lampu pada langit-langit menyala, tetapi tempat itu jauh lebih sepi daripada lantai bawah dan sebagian pintunya tertutup rapat.
Aiden melangkah keluar sebelum pintu lift menutup kembali. Ia berdiri beberapa saat dan mendengarkan dengung kotak itu turun menjauhinya.
Udara di lantai tiga puluh terasa lebih dingin. Angin bergerak dari arah ujung koridor dan membawa bau batu lembap, logam, serta tanaman hidup.
Pintu-pintu berdiri pada sisi kiri dan kanan. Sebagian mempunyai nomor, sementara yang lain hanya menyimpan bekas tempat papan nama pernah dipasang.
Aiden tidak mencoba membukanya. Ia berjalan mengikuti datangnya angin sambil memperhatikan setiap belokan agar dapat menemukan jalan kembali menuju lift.
Koridor berakhir pada sebuah pintu kaca yang salah satu bagiannya telah retak. Pintu itu terbuka sedikit dan bergerak pelan setiap kali angin menerobos dari luar.
Aiden mendorongnya. Hembusan udara langsung menghantam wajah, menarik rambut cokelat pendeknya ke belakang, dan membuat ujung kemeja berkibar pada pinggang.
Di balik pintu terdapat sebuah balkon luas dengan pagar logam setinggi dada orang dewasa. Sebagian lantainya telah diperbaiki menggunakan papan dan pelat baja, sedangkan beberapa retakan lama masih terlihat dekat dinding.
Aiden berjalan perlahan menuju pagar. Semakin dekat dirinya dengan tepi, semakin luas dunia yang muncul di hadapannya.
Bangunan-bangunan yang tadi menjulang di atas kepala kini berada di bawah atau hampir sejajar dengan tempatnya berdiri. Jalan berubah menjadi garis gelap yang menyusup di antara atap, sedangkan kendaraan-kendaraan tua tampak tidak lebih besar daripada mainan.
Jauh di bawah, penghalang Empire mengelilingi pintu utama. Orang-orang yang berjaga di sana hanya terlihat sebagai titik kecil yang bergerak di antara bangkai kendaraan dan lembaran logam.
Di luar permukiman, Manhattan membentang ke segala arah. Gedung-gedung yang patah berdiri di antara pepohonan, dan cahaya siang memantul pada ribuan pecahan kaca seperti titik air di atas tanah.
“Wooow....”
Ucapan itu terlepas tanpa disadari Aiden. Angin langsung membawanya pergi sebelum suara tersebut sempat memantul kembali.
Ia menggenggam pagar menggunakan kedua tangan dan mendongak. Puncak Empire State masih menjulang tinggi di atas lantai tiga puluh, membuat Aiden sadar bahwa lift hanya membawanya melalui sebagian kecil bangunan.
Rasa marah kepada Marcus belum hilang. Namun, selama beberapa saat, rasa tersebut terdorong ke belakang oleh ketinggian, angin, dan pemandangan yang tidak pernah dapat diperolehnya dari ujung jalan layang Haven.
Aiden merogoh saku celananya. Jari-jarinya menemukan dua batu kecil, satu kepala baut, dan potongan logam bengkok yang selama ini digunakan sebagai peluru ketapel.
Ia mengambil batu pertama dan memasangnya pada kulit penahan. Kedua kakinya dibuka, tangan kiri mengangkat ketapel melewati pagar, lalu tangan kanan menarik karet sampai terasa tegang pada ujung jari.
Aiden tidak memilih sasaran. Ia mengarahkan ketapel ke ruang kosong di atas deretan atap dan melepaskan batu tersebut.
Karet memukul cabang kayu dengan bunyi tajam. Batu melesat jauh, mengecil menjadi titik, lalu menghilang sebelum Aiden dapat melihat tempatnya jatuh.
Tawa kecil keluar dari mulutnya. Kali ini tidak ada orang di dalam lift yang akan memandang, sehingga Aiden membiarkan bunyinya terbawa angin.
Ia menembakkan kepala baut berikutnya. Benda itu berputar saat melesat dan memantulkan cahaya satu kali sebelum lenyap di antara bangunan.
Potongan logam menyusul setelahnya. Aiden menarik karet sekuat tenaga, mengangkat arah tembakan sedikit lebih tinggi, lalu melepaskannya sampai kedua cabang ketapel bergetar pada telapak.
Peluru terakhir adalah batu yang lebih kecil. Benda itu tidak terbang sejauh yang lain dan mulai jatuh di antara dua atap, tetapi Aiden tetap menyimpannya dalam pandangan selama mungkin.
Setelah sakunya kosong, ia menyelipkan ketapel kembali ke saku kemeja. Kedua lengannya diletakkan di atas pagar dan ia membiarkan angin mendinginkan wajah yang panas akibat menangis.
Aiden bertahan di sana sampai ujung hidung dan telinganya terasa dingin. Ia kemudian meninggalkan balkon, menarik pintu kaca agar tidak terus membentur bingkai, lalu kembali menyusuri koridor.
Ia belum ingin turun. Lift dapat membawanya kembali kapan saja, sedangkan tidak ada orang yang tampak mencarinya di lantai tersebut.
Aiden melewati beberapa pintu tanpa menyentuhnya. Salah satu pintu kehilangan gagang, dua pintu lain dikunci menggunakan rantai, dan sebuah ruangan terbuka hanya berisi meja patah serta tumpukan kain.
Di ujung lorong lain, ia menemukan pintu yang berbeda dari semua pintu sebelumnya. Kayunya berwarna gelap, permukaannya masih halus, dan gagang logamnya telah dipoles sampai tidak menyimpan karat.
Aiden berhenti di depannya. Ia menempelkan telinga pada kayu, tetapi tidak mendengar langkah, napas, atau suara orang berbicara dari dalam.
Tangannya mencoba gagang secara perlahan. Gagang itu berputar tanpa hambatan dan pintu terbuka beberapa jari.
Aiden mengintip melalui celah. Setelah memastikan ruangan tampak kosong, ia mendorong pintu lebih lebar dan melangkah masuk.
Kamar tersebut lebih luas daripada ruangan hijau yang diberikan kepada mereka. Sebuah ranjang ganda berdiri pada sisi kanan dengan selimut tebal dilipat rapi di atasnya, sedangkan lemari besar memenuhi sebagian dinding dekat pintu.
Senjata api dipajang pada salah satu sisi kamar. Senapan panjang, pistol, dan beberapa senjata yang bentuknya tidak dikenali Aiden digantung pada kait logam dalam susunan yang rapi.
Aiden mendekat satu langkah, tetapi tidak menyentuhnya. Ia teringat cara Marcus selalu memastikan senapan tidak mengarah kepada siapa pun bahkan ketika senjata itu belum diisi.
Sisi kamar yang lain terlihat sangat berbeda. Pot-pot tanaman berjajar dekat jendela, dipenuhi daun hijau, bunga kecil, dan batang yang merambat pada rangka kayu.
Bau tanah basah serta bunga memenuhi udara. Aiden langsung teringat aroma tipis pada pakaian Selma dan menduga perempuan itu sering berada di ruangan tersebut.
Sebuah meja berdiri tidak jauh dari ranjang. Di atasnya terdapat sisir, beberapa lembar kertas, kotak kayu, dan sebuah mobil-mobilan berwarna merah.
Perhatian Aiden langsung tertarik kepada mainan itu. Cat merahnya terkelupas pada bagian atap dan kap depan, tetapi keempat rodanya masih terpasang.
Ia mengambil mobil-mobilan menggunakan kedua tangan. Benda itu lebih berat daripada yang diduga karena tubuhnya terbuat dari logam, bukan potongan kayu seperti mainan yang dibuat anak-anak Haven.
Aiden meletakkannya kembali pada meja dan mendorong perlahan. Roda-roda kecil berputar dengan bunyi halus, membawa mobil tersebut melintasi permukaan kayu sampai ia menangkapnya sebelum jatuh dari tepi.
Ia mendorongnya lagi dengan tenaga lebih besar. Mobil merah melaju di antara kotak kayu dan tumpukan kertas, lalu berbelok ketika Aiden menyentuh bagian belakangnya menggunakan satu jari.
Untuk beberapa saat, ia lupa bahwa ruangan itu bukan miliknya. Ia juga tidak mendengar langkah yang berhenti di luar.
Bayangan besar jatuh melalui pintu terbuka dan mencapai meja tanpa disadarinya. Sosok tersebut tetap berdiri di sana sampai suaranya terdengar.
“Tidak sopan memasuki kamar orang lain tanpa meminta izin.”
Aiden tersentak begitu keras sampai mobil-mobilan nyaris terlepas dari tangannya. Ia menangkap benda itu pada tepi meja, kemudian berbalik dengan dada berdegup cepat.
Dmitri berdiri menjulang di ambang pintu. Kemeja hitamnya memenuhi sebagian celah, sedangkan tatapannya tertuju pada mobil merah yang masih berada di tangan Aiden.