Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dari Wall Street
Layar laptop terenkripsi di dalam tas kain Emily berkedip-kedip merah. Di tengah gemerlap lampu remang kedai mamak SS15 dan harumnya kuah kari yang membumbung di udara, keheningan membekukan mendadak menyusup di antara Emily dan Sean.
Emily pelan-pelan menarik laptopnya keluar, membuka portal otorisasi bursa Singapura. Lensa kacamata tipisnya membiaskan cahaya biru temaram monitor.
"Sean..." bisik Emily, suaranya terdengar sangat hati-hati. "Dana warisan rahasia almarhumah Ibumu di Singapura... ada transaksi penarikan paksa sebesar seratus juta dolar dari sebuah konsorsium di New York."
Sean yang sedang memegang cangkir teh tarik mendadak membeku. Jemari tangannya yang panjang meremas permukaan kaca cangkir hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang semula santai berubah pucat kaku.
"Nggak mungkin," desah Sean rendah, suaranya sarat akan rasa tidak percaya. "Rekening itu dikunci pakai dua enkripsi biometrik. Satu-satunya orang yang punya kunci cadangan selain almarhumah Ibuku cuma... paman kandungku di Amerika."
Emily menatap Sean dengan raut cemas. "Arthur Blackwood?"
Sean mengangguk perlahan, matanya menatap kosong ke kegelapan jalanan SS15. "Kakak kandung Ibuku. Pria yang memutus hubungan keluarga dua puluh tahun lalu setelah Ibuku menikah dengan Papaku. Kalau Arthur bertindak... artinya dia nggak cuma mau mengincar harta Anderson, tapi mau mengambil alih seluruh hak waris Ibuku di pasar internasional."
Di tengah keramaian mahasiswa Subang Jaya yang tertawa di meja sebelah, beban berat dari masa lalu keluarga kembali mengincar mereka. Namun kali ini, Emily tidak membiarkan Sean menanggungnya sendirian. Tangannya terulur di atas meja plastik merah, menggenggam erat telapak tangan Sean yang dingin.
"Kita selesaikan ini pelan-pelan, Sean," janji Emily tulus. "Tapi malam ini... kamu harus istirahat. Biar aku yang lacak arus dananya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, pukul 07.15 pagi.
Hujan lokal khas tropis mengguyur kawasan Sunway, meninggalkan bau tanah basah dan hawa sejuk yang menyegarkan. Emily berjalan tergesa-gesa menyusuri canopy walk Kampus Sunway yang terlindung atap kaca.
Pagi ini, ia benar-benar kembali pada identitas resminya sebagai mahasiswi baru. Ia mengenakan kaus oblong abu-abu berlapis sweter rajut longgar warna krem, celana jins gelap, dan sepatu kets yang agak basah di bagian ujungnya akibat genangan air. Di salah satu tangannya, ia memegang termos minum stainless steel berisi kopi buatan rumah, sementara tangan satunya memeluk buku teks Corporate Governance yang tebal.
"Mil! Sini, aku udah booking bangku depan!" teriak Mei Ling dari pintu masuk Gedung Auditorium F.
Emily bernapas lega, berlari kecil menghampiri sahabatnya. "Makasih banyak, Mei! Jalanan dari SS15 macet banget gara-gara hujan."
"Ih, lagian kamu tumben naik bus kampus? Mana cowok ganteng berpakaian hitam yang biasanya nganter kamu pakai sedan mewah itu?" goda Mei Ling seraya berjalan masuk ke ruang kuliah ber-AC dingin.
Emily terkekeh pelan, duduk di kursi busa merah auditorium seraya membetulkan posisi kacamata tipisnya. "Dia lagi ada urusan pekerjaan dari pagi, Mei. Nggak mungkin kan aku manja minta diantar terus."
"Duh, kamu tuh ya... pinter, mandiri, berhemat pula," puji Mei Ling seraya membuka laptopnya. "Padahal kalau aku punya cowok sekaya dan sebucin itu, udah aku minta anterin pakai helikopter tiap hari!"
Tawa renyah lolos dari bibir Emily. Di ruang kuliah yang riuh oleh mahasiswa yang sibuk menghafal materi kuis singkat ini, Emily merasa utuh. Ini adalah dunia yang ia perjuangkan dengan darah dan air mata, dunia tempat ia dipandang murni karena kecerdasan dan usaha kerasnya sendiri, bukan karena status sosial atau intrik politik keluarga.
Saat dosen mulai memaparkan slide tentang tata kelola perusahaan internasional di depan panggung, Emily menyimak dengan tekun. Jemarinya menari lincah di atas buku catatan, merangkum poin-poin penting dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
Namun, di bawah meja lipat kursinya, layar ponsel terenkripsi milik Emily yang diset pada mode getar terus berkedip halus. Di sela-sasa mencatat rumus kuliah, jemari Emily secara tersembunyi mengetikkan skrip perintah pelacakan alamat IP untuk menembus server perbankan Blackwood Capital di New York.
Menjadi mahasiswi biasa sekaligus peretas finansial tingkat tinggi dalam waktu bersamaan adalah dinamika hidup yang gila, namun Emily menjalankannya dengan ketenangan yang luar biasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 12.30 siang. Jam istirahat makan siang.
Setelah menyelesaikan kuis Corporate Governance dengan nilai sempurna, Emily dan Mei Ling berjalan menuju area kantin Student Hub. Hujan telah reda, menyisakan pendaran sinar matahari yang hangat di atas pelataran kampus.
Emily menyeduh iced matcha latte murah seharga empat ringgit di salah satu stik kantin, lalu duduk di bangku taman kayu di bawah naungan pohon rimbun.
"Mil, aku ke toilet sebentar ya," pamit Mei Ling seraya meletakkan tasnya. "Kamu tunggu sini dulu."
"Iya, Mei, santai aja," jawab Emily ramah.
Saat Emily sedang menikmati matcha dinginnya dan membaca jurnal analisis pasar di laptop, aroma parfum floral maskulin yang amat elegan mendadak terendus di udara. Suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang tegas mendekati bangku tamannya.
Emily mendongak pelan.
Seorang wanita muda berusia pertengahan dua puluh tahun berdiri di hadapannya. Wanita itu memilik paras blasteran Asia-Amerika yang amat cantik, berambut hitam bergelombang yang ditata sempurna, dan mengenakan setelan blazer putih buatan perancang kenamaan Wall Street. Di belakangnya, dua orang pengawal pribadi bertubuh tegap berdiri siaga.
Aura dominasi dan kemewahan wanita itu seketika menarik perhatian mahasiswa lain yang sedang melintas di taman kampus.
"Emily Valencia?" suara wanita itu mengalun dalam bahasa Inggris berlogat New York yang sangat tajam dan percaya diri.
Emily menutup laptopnya perlahan, berdiri dengan tenang dari bangku kayu. Ia membetulkan posisi kacamatanya, menatap wanita di hadapannya tanpa ada getaran intimidasi sedikit pun.
"Iya, saya Emily. Anda siapa?" tanya Emily datar.
Wanita itu mengukir senyuman tipis. Ia melepaskan kacamata hitam mewahnya, menatap Emily dari ujung kepala hingga ujung sepatu ketsnya yang agak kusam dengan nada merendahkan.
"Aku Victoria Blackwood," ujar wanita itu memperkenalkan diri. "Sepupu kandung Sean Anderson... sekaligus Managing Director dari Blackwood Global Management New York."
Napas Emily tertahan sejenak, namun wajahnya tetap tenang bagaikan permukaan danau yang membeku. "Ada urusan apa seorang eksekutif dari Wall Street mendatangi mahasiswi tingkat satu di Kuala Lumpur?"
Victoria terkekeh hambar, melangkah satu titik lebih dekat. Aroma parfum mahalnya mendesak udara tropis Sunway.
"Aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak milik keluarga Blackwood," tegas Victoria dengan mata menyala dingin. "Dana warisan seratus juta dolar di Singapura itu... dan sepupuku, Sean Anderson."
Victoria menatap kacamata tipis Emily dengan pandangan mengejek.
"Aku sudah membaca seluruh profilmu, Emily," lanjut Victoria beracun. "Gadis beasiswa dari Zurich yang berpura-pura jadi mahasiswi miskin di kampus ini. Kamu pikir kamu sudah menang hanya karena berhasil merubuhkan keluarga Wijaya di Jakarta? Keluarga Wijaya itu cuma pengusaha daerah yang amat amatir di mata kami."
Victoria menyodorkan selembar dokumen tebal berstempel segel Mahkamah Tinggi New York tepat ke dada Emily.
"Di dalam dokumen ini," bisik Victoria tajam, "tercantum bukti bahwa seluruh aset warisan almarhumah ibu Sean terikat dalam perjanjian obligasi keluarga Blackwood. Jika Sean tidak menyerahkan kunci enkripsi rekening itu kepadaku sebelum akhir minggu ini... Blackwood Global akan menarik seluruh likuiditas Anderson Group di bursa Amerika dan membiarkan perusahaan keluarga Sean hancur tanpa sisa."
Ancaman itu diucapkan dengan nada begitu santai, namun dampak keuangannya sanggup meruntuhkan raksasa bisnis dalam hitungan hari.
Emily menerima dokumen itu dengan jemarinya yang stabil. Ia menatap Victoria lurus-lurus ke dalam iris matanya, menyunggingkan senyum tipis yang tak kalah dingin dan dominan.
"Perjalanan yang sangat jauh dari New York hanya untuk membawakan selembar ancaman, Nona Blackwood," suara Emily mengalun tenang, jernih, dan tajam menyengat. "Tapi Sayangnya... Anda datang ke wilayah yang salah."
Victoria mengerutkan dahinya, agak terkejut dengan keberanian mahasiswi di hadapannya. "Apa katamu?"
"Di Wall Street Anda mungkin dianggap Ratu Finansial," tegas Emily, membetulkan posisi kacamatanya dengan gerakan yang amat anggun. "Tapi di sini... Sean tidak lagi berdiri sendirian. Jika Anda berniat menghancurkan apa yang menjadi milik Sean, maka Anda harus melewati Helios Capital terlebih dahulu."
Suasana taman kampus Sunway yang hangat seketika berubah mencekam oleh benturan aura dua wanita tangguh tersebut.
Tiba-tiba, dari arah lorong taman, suara langkah kaki mantap terdengar mendekat.
Sean melangkah keluar dari balik rimbunan pohon. Ia mengenakan kaus hitam polos dan jins gelapnya, namun matanya yang menyala dingin langsung terkunci pada sosok sepupunya.
"Jauhkan tanganmu dari Emily, Victoria!" bentak Sean dengan suara berat yang menggelegar di taman.
Victoria memutar tubuhnya, mengukir senyum licik saat melihat kedatangan Sean. "Halo, Sepupuku yang malang. Lama tidak berjumpa."
Sean melangkah cepat, memasang tubuh tingginya persis di depan Emily, menyembunyikan gadis itu sepenuhnya di belakang punggung protektifnya. Matanya menatap Victoria dengan kebencian yang mendalam.
"Kembali ke New York sekarang juga, Victoria," pangkas Sean dingin. "Aku tidak akan pernah menyerahkan satu sen pun harta Ibuku pada keluarga pemeras seperti kalian!"
Victoria tertawa melengking, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Pilihan yang sangat konyol, Sean," ujar Victoria seraya memasang kembali kacamata hitamnya. "Kita lihat seberapa bertahan cewek beasiswamu ini saat seluruh jaringan perbankan tempat dana Helios tersimpan... dibekukan oleh Wall Street besok pagi."
Victoria membalikkan badan, melangkah anggun meninggalkan taman kampus bersama pengawalnya, meninggalkan ancaman perang global yang baru saja meledak di tengah kehidupan kuliah Emily.
Bersambung......