"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LINI MASA KEHANCURAN
Raut wajah Yoga menggelap seketika. Harga dirinya sebagai kepala keluarga terasa dicabik-cabik di hadapan ibu dan adiknya sendiri. Melihat Isma dengan tegas mengamankan buku tabungannya kembali ke dalam tas, kemarahan Yoga tak lagi bisa dibendung.
"Ya sudah!" gertak Yoga dengan suara berat dan tajam. "Kalau kamu merasa paling kaya dan tidak mau berbagi dengan keluarga, mulai sekarang uang gaji bulanan dari kantor tidak akan pernah aku berikan lagi satu sen pun padamu! Biar kamu urus dirimu sendiri!"
Ibu Lestari tersenyum puas mendengar gertakan anaknya, sementara Aini mengangguk-angguk mendukung, merasa Isma akhirnya mendapatkan balasan atas "kesombongannya".
Isma menatap Yoga tanpa kedipan sedikit pun. Bukannya panik atau memohon, matanya justru memancarkan ketenangan yang menghujam. Ia maju satu langkah, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.
"Uang gaji itu kan kewajiban kamu sebagai suami, Mas," sahut Isma dengan intonasi halus namun teramat menohok. "Kok bicara seperti itu? Menafkahi istri itu hukumnya wajib, bukan hadiah yang bisa Mas tahan hanya karena Mas iri melihat istrimu punya rezeki sendiri."
Yoga tersentak, bibirnya merapat rapat-rapat. Kata-kata Isma tepat sasaran, membuatnya tak bisa berkutik atau mencari alasan agama maupun hukum untuk membenarkan ancamannya.
"Lagipula..." Isma menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran terselubung, "bukankah gaji Mas dari kantor belakangan ini memang sudah sering menguap entah ke mana? Mas lebih tahu ke mana sebenarnya alokasi uang itu mengalir setiap bulannya."
Mendengar ucapan Isma, tubuh Yoga seketika membeku. Ada kilat kepanikan melintas di matanya—khawatir Isma tahu tentang uang yang sering ia sisihkan secara sembunyi-sembunyi untuk mentraktir Gladis.
Ibu Lestari yang tak paham makna tersirat itu menyambar dengan nada melengking. "Isma! Kamu jangan asal bicara ya! Yoga itu anak berbakti, gajinya buat kebutuhan rumah dan bantu Ibu! Kamu tidak usah sok suci menuduh yang tidak-tidak!"
"Sudah, Bu! Cukup!" potong Yoga cepat dengan nada panik, mencoba menghentikan ibunya sebelum Isma membongkar hal yang lebih jauh. Pria itu mengalihkan pandangannya dari Isma, tak berani lagi menatap mata istrinya yang begitu tajam. "Terserah kamu mau cakap apa, Isma. Yang jelas, malam ini kamu renungkan sikapmu!"
Yoga berbalik dan melangkah lebar keluar dari kamar dengan napas memburu, disusul oleh Ibu Lestari dan Aini yang masih menyisakan decakan kesal.
Pintu kamar tertutup kembali. Isma berdiri sendirian dalam keheningan kamar. Ia mengambil ponsel sekundernya dari celah tas, melihat layar yang menampilkan notifikasi baru dari WhatsApp Yoga: umpan ancaman gaji telah dilontarkan suaminya, persis seperti skenario yang ia duga.
Isma tersenyum dingin. Pria yang merasa gagah dengan menahan nafkah wajibnya itu sama sekali tidak tahu, bahwa tak lama lagi, ia bukan hanya akan kehilangan hak atas harta istrinya, tetapi juga kehilangan seluruh harga diri dan masa depannya.
"Aku sudah muak," bisik Isma pada keheningan kamar yang merayap dingin.
Tidak ada lagi sisa kepura-puraan yang perlu dipertahankan. Kebusukan Yoga, keserakahan Ibu Lestari, dan sikap kekanak-kanakan Aini telah mencapai batas toleransinya. Namun, Isma tidak akan pergi dengan tangan kosong. Ia melangkah dengan strategi yang jauh lebih tajam dan terencana.
Pagi-pagi sekali, tanpa membuang waktu, Isma akan mendatangi diler resmi untuk membeli satu unit mobil baru secara tunai atas namanya sendiri—sebuah kendaraan pribadi yang kokoh untuk menunjang mobilitas dan masa depan barunya. Bersamaan dengan itu, Isma juga telah menyiapkan kamera CCTV mini berspesifikasi tinggi, lengkap dengan perekam suara tajam dan koneksi real-time ke ponsel sekundernya.
Kamera mikro itu tidak akan ia pasang sembarangan. Isma berencana menyelipkannya di sudut tersembunyi interior mobil barunya—posisi yang sangat strategis dan tak akan pernah disadari oleh siapa pun.
Skenario penjebakan pun telah tersusun rapi di kepalanya. Setelah mobil baru itu terparkir di halaman rumah, Isma akan bersikap seolah-olah menjadi istri yang sangat murah hati. Ia akan sengaja mengizinkan Yoga membawa mobil baru tersebut ke kantor, berpura-pura ingin memanjakan suaminya agar tidak perlu lagi memakai mobil bututnya yang sering mogok.
Isma tahu betul tabiat Yoga. Mendapatkan mobil baru yang mewah pasti akan memicu ego dan kepongahannya. Yoga dijamin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memamerkannya di depan Gladis, menjemput selingkuhannya, dan menghabiskan waktu berduaan di dalam kabin.
Di sanalah perangkap Isma bekerja sempurna. Melalui layar ponsel sekundernya, Isma bisa menyaksikan dan merekam setiap detik kebersamaan mereka secara live—mulai dari percakapan intim, perselingkuhan yang terucap, hingga gestur main belakang yang selama ini disembunyikan Yoga rapat-rapat.
Bukti rekaman visual dan audio langsung dari dalam mobil baru itu akan menjadi senjata pamungkas yang tak terbantahkan di Pengadilan Agama kelak.
Isma menyunggingkan senyum dingin di balik kegelapan kamar. Ia hanya tinggal menunggu esok pagi tiba. Setelah kunci mobil berada di tangan dan kamera kecil itu terpasang sempurna, Isma siap menyaksikan pertunjukan kebodohan suaminya dari balik layar, sebelum akhirnya melangkah pergi membawa seluruh kemerdekaannya.