"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — DI BALIK KEDINGINAN ITU
Malam semakin larut, namun suasana di dalam kamar yang luas itu seolah berhenti berputar. Cahaya lampu gantung yang temaram menyinari ruangan itu dengan kehangatan yang lembut, jatuh tepat di atas dua orang yang berdiri berhadapan dalam diam yang panjang dan penuh makna. Wanita itu masih menatap pria di hadapannya dengan pandangan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tidak ada kebencian. Tidak ada penghinaan. Tidak ada kedinginan yang selalu ia pasang seperti perisai tebal selama ini. Yang tersisa hanyalah kebingungan yang mendalam, rasa bersalah yang mulai merambat di dadanya, dan sesuatu yang hangat yang perlahan tumbuh di tempat yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Pria itu berdiri tenang. Tangannya yang tadi menyeka air mata di pipi wanita itu masih terangkat sedikit, seolah takut untuk menariknya kembali secepat itu, takut jika ia menarik tangannya maka kelembutan yang terjadi sesaat ini akan ikut hilang begitu saja. Matanya yang teduh menatap wanita itu dalam-dalam, tanpa amarah, tanpa tuntutan, tanpa pengharapan yang berlebihan. Hanya ketulusan yang begitu dalam hingga membuat hati wanita itu terasa semakin terenyuh dan semakin bingung harus berbuat apa.
"Kenapa..." suara wanita itu terdengar bergetar pelan, matanya masih berkaca-kaca, air mata yang baru saja diseka kembali menumpah sedikit namun kali ini bukan karena kesedihan semata. "Kenapa kau begitu sabar? Kenapa kau tidak pernah marah? Aku telah memperlakukanmu begitu buruk selama ini... aku telah berkata-kata yang menyakitkan kepadamu... aku telah memandangmu seolah kau adalah beban yang paling menyebalkan dalam hidupku... dan bahkan aku belum pernah sekalipun menyapamu dengan baik sejak hari pertama kita berada di rumah yang sama ini..."
Wanita itu berhenti sejenak untuk menarik napas panjang, menahan isak tangis yang hampir lolos. Ia menatap wajah pria itu lekat-lekat, seolah baru kali ini ia benar-benar melihatnya. Wajah yang tampan dan tenang, sorot mata yang tulus dan lembut, raut wajah yang tidak pernah berubah menjadi kasar sekalipun ketika ia memperlakukannya dengan seburuk apa pun. Semakin ia memperhatikannya, semakin ia menyadari betapa butanya ia selama ini. Betapa sempitnya pandangannya selama ini karena menyalahkan pria ini atas segala hal yang sama sekali bukan kesalahannya.
"Kau berhak membenciku..." lanjut wanita itu perlahan, suaranya semakin pelan namun begitu jelas dan terdengar di keheningan malam itu. "Kau berhak meninggalkanku. Kau berhak menuntut agar pernikahan ini dibatalkan. Namun kau tidak pernah melakukannya. Kau tetap diam di sini... tetap bersabar... tetap menjagaku... bahkan saat aku bersikap seolah ingin kau lenyap dari hadapanku..."
Pria itu terdiam sejenak. Ia menatap wanita itu dengan pandangan yang begitu lembut, lalu perlahan mengangkat tangannya dan menyentuh bahu wanita itu dengan sentuhan yang ringan dan penuh kehati-hatian, seolah takut melukainya atau membuatnya merasa tidak nyaman.
"Aku tidak pernah memandang perlakuan burukmu sebagai alasan untuk membencimu," ucapnya pelan, suaranya rendah namun begitu menenangkan, seolah alunan musik lembut yang menyentuh hati wanita itu perlahan. "Aku tahu hatimu sedang terluka. Aku tahu pernikahan ini terjadi bukan atas keinginanmu. Aku tahu kau merasa terpaksa dan terjebak dalam sesuatu yang tak pernah kau minta. Dan aku tidak pernah menyalahkanmu atas perasaan itu."
Wanita itu tertegun mendengar kata-katanya. Matanya membelalak sedikit menatap pria itu, seolah tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Selama ini ia mengira pria itu tetap tinggal karena ia tidak punya pilihan lain, atau karena ia menginginkan kedudukan dan kemewahan yang datang bersamaan dengan pernikahan ini. Namun ternyata... ternyata ia mengerti. Ia mengapa ia bersikap demikian. Ia memahami perasaannya tanpa pernah ia ucapkan sekalipun.
"Kau... mengerti?" tanya wanita itu dengan suara yang hampir tak terdengar.
Pria itu mengangguk pelan.
"Aku mengerti," jawabnya tegas namun lembut. "Jika aku berada di posisimu... jika aku dipaksa menikah dengan seseorang yang belum aku kenal dan belum aku cintai... aku pun mungkin akan merasa marah. Kecewa. Merasa hidupku dirampas paksa. Dan marah itu... wajar sekali. Jadi aku tidak pernah mengharapkanmu untuk menyambutku dengan senyuman sejak hari pertama. Aku hanya berharap... seiring berjalannya waktu... hatimu perlahan bisa menerima kehadiranku. Bukan karena terpaksa... melainkan karena kau mengenalku dan memahamiku sebagaimana aku mengenal dan memahamimu."
Hati wanita itu bergetar hebat mendengar penuturan itu. Kata-kata yang begitu sederhana namun begitu dalam maknanya. Selama ini ia memandang pria ini sebagai orang yang mengambil alih hidupnya tanpa izin. Namun ia lupa... lupa bahwa pria ini pun sama sekali tidak meminta pernikahan ini terjadi. Pria ini pun sama-sama terjebak dalam perjodohan yang dipaksakan oleh kedua keluarga. Dan justru di posisi yang sama persis dengan dirinya... pria ini justru memilih untuk bersabar, untuk memahami, dan untuk menunggu dengan tulus tanpa pernah sekalipun menuntut balas atau menyalahkannya atas apa pun.
"Aku..." wanita itu menelan ludah dengan susah payah, matanya tak kuasa menahan tatapan teduh pria itu lebih lama lagi. Ia membuang wajah ke samping, menatap lantai yang mengkilap di bawah kakinya, merasa semakin malu dan semakin kecil di hadapan ketulusan yang begitu besar ini. "Aku begitu buruk kepadamu... dan kau justru memahamiku... sungguh aku merasa malu sekali..."
Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang begitu meneduhkan hati. Ia perlahan menarik kembali tangannya dari bahu wanita itu, seolah menjaga jarak agar istrinya merasa lebih tenang dan tidak tertekan.
"Tidak perlu malu," ucapnya pelan. "Setiap orang butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Hatimu bukan sakelar yang bisa kau nyalakan dan matikan sesuka hati. Perasaan butuh waktu untuk tumbuh. Dan aku bersedia menunggu. Berapa pun lamanya. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Kalimat itu kembali menghantam hati wanita itu dengan kekuatan yang tak terlukiskan. Berapa pun lamanya. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Janji yang begitu sederhana namun begitu berat untuk ditepati. Dan pria itu mengucapkannya dengan begitu tenang dan begitu yakin, seolah itu adalah hal yang paling wajar dan paling pasti di seluruh dunia.
Wanita itu mengangkat kepalanya perlahan kembali menatap pria itu. Di matanya yang semula penuh kebencian dan kedinginan kini mulai tampak sesuatu yang lain. Rasa hormat. Rasa bersalah. Dan sesuatu yang mulai menyelinap masuk perlahan, memanasi hatinya yang beku begitu lama.
"Kenapa kau melakukan semua ini?" tanyanya kembali, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut dan jauh lebih tulus. "Apa yang membuatmu begitu bersabar? Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa suatu hari nanti aku akan menerimamu?"
Pria itu terdiam sejenak. Ia menatap wanita itu lekat-lekat, lalu perlahan membuka suaranya dengan nada yang begitu dalam dan tulus.
"Karena sejak hari pertama kita bertemu... aku telah melihat sesuatu di dalam dirimu yang tak dilihat orang lain," ucapnya pelan namun tegas. "Orang lain mungkin hanya melihat kecantikanmu, kekayaan keluargamu, atau kedudukanmu yang tinggi. Namun aku melihat sesuatu yang lain. Aku melihat ketulusan hatimu yang tersembunyi di balik dinding dingin yang kau bangun begitu tebal. Aku melihat kelembutanmu yang kau sembunyikan agar tak terluka lagi. Dan aku tahu... wanita yang memiliki hati sebaik dirimu... suatu hari nanti pasti akan bisa membuka hatinya. Dan aku bersedia menunggu hingga hari itu tiba."
Wanita itu terpaku mendengarnya. Selama ini semua orang memandangnya dengan pandangan kagum, iri, atau hormat. Namun tak ada satu pun yang melihat apa yang dikatakan pria ini. Tak ada satu pun yang memahami apa yang selama ini ia rasakan dan sembunyikan. Dan pria yang berdiri di hadapannya ini... justru orang pertama yang menembus segala lapisan pertahanannya dan melihat siapa dirinya sebenarnya.
"Aku..." suara wanita itu tercekat di tenggorokan. Air mata kembali jatuh membasahi pipinya, namun kali ini air mata itu bukan lagi air mata kesedihan atau kebingungan semata. Itu adalah air mata haru. Air mata karena akhirnya ada seseorang yang benar-benar memahaminya. "Aku tak tahu harus berkata apa..."
"Kau tidak perlu berkata apa pun," jawab pria itu lembut. "Cukup kau tahu... selama aku masih bernapas... aku akan menjagamu. Aku takkan pernah memaksamu untuk melakukan apa pun yang belum kau inginkan. Dan pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu. Kapan pun kau siap... aku akan tetap di sini."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, namun kali ini keheningan itu tidak lagi terasa berat dan menyesakkan. Keheningan itu justru terasa hangat dan menenangkan, seolah ada sesuatu yang baru saja terjalin di antara dua orang yang selama ini terpisah jauh oleh dinding tinggi yang dibangun oleh kesalahpahaman dan perasaan yang terluka.
Wanita itu menatap pria itu dalam-dalam. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini terjadi, ia tidak lagi merasa terjebak. Ia tidak lagi merasa dipaksa. Ia justru merasa... merasa dihargai. Dipahami. Dan dijaga dengan tulus tanpa pamrih sedikit pun.
"Terima kasih..." ucapnya pelan, suara yang begitu lembut dan tulus keluar dari bibirnya untuk pertama kalinya kepada pria itu. "Terima kasih telah bersabar... dan terima kasih telah memahamiku..."
Pria itu tersenyum lagi. Senyum yang begitu menenangkan hati siapa pun yang melihatnya.
"Istirahatlah," ucapnya pelan. "Sudah sangat larut. Besok pagi kau harus bangun dan beraktivitas seperti biasa. Jangan sampai tubuhmu lelah."
Wanita itu mengangguk pelan. Ia melihat pria itu berjalan menuju sofa yang terletak di sisi lain ruangan, tempat yang selama ini menjadi tempat tidurnya setiap malam, karena wanita itu tak pernah mengizinkannya tidur di atas tempat tidur yang sama. Selama ini ia merasa senang dan merasa menang karena membuat pria itu tidur di sofa yang jauh lebih kecil dan tidak senyaman tempat tidur besar itu. Namun malam ini... melihat punggung pria itu yang berjalan tenang menuju sofa itu... hatinya justru terasa perih dan sakit.
Ia berdiri mematung di tempatnya cukup lama. Matanya terus menatap punggung pria itu yang kini duduk di atas sofa dan mulai menyelimuti dirinya dengan selimut tipis yang selalu ia gunakan. Hatinya berdebar tak menentu. Sesuatu yang sejak tadi ia rasakan perlahan semakin kuat semakin ia memandang pria itu. Dan di dalam hatinya yang selama ini beku... perlahan namun pasti... sesuatu mulai mencair.
Malam itu wanita itu berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk dan besar. Namun ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah pria itu dan kata-katanya yang begitu tulus terus muncul di kepalanya. Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi lukisan bintang-bintang yang temaram, lalu pandangannya perlahan beralih ke arah sofa di sudut ruangan tempat pria itu beristirahat dengan tenang.
Dalam keheningan malam itu, wanita itu berjanji dalam hatinya sendiri.
Aku akan mencoba... aku akan mencoba mengenalmu... dan aku akan mencoba membuka hatiku perlahan. Maafkan aku karena selama ini telah memperlakukanmu begitu buruk. Dan terima kasih... terima kasih telah menungguku dengan sabar hingga hari ini.
Angin malam bertiup lembut di luar jendela, membawa serta awan yang perlahan menyingkir membiarkan sinar bulan bersinar terang menyinari bumi. Cahaya bulan yang lembut masuk menembus celah tirai, jatuh tepat ke wajah pria yang sedang terlelap tenang di atas sofa itu. Wajahnya tampak begitu damai dan tulus seolah tak pernah ada beban atau kebencian yang tersimpan di dalam hatinya.
Wanita itu menatapnya sekali lagi dalam kegelapan yang temaram itu. Perlahan sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya. Senyum yang begitu lembut dan begitu tulus.
Mungkin... mungkin pernikahan ini bukanlah kesalahan terbesar dalam hidupnya sebagaimana yang ia yakini selama ini. Mungkin... di balik semua keterpaksaan dan kesedihan di awal perjalanan ini... justru tersimpan anugerah terindah yang baru saja mulai ia sadari. Dan pria yang selama ini ia anggap sebagai suami yang tak diinginkan... mungkin justru adalah takdir terbaik yang ditakdirkan Tuhan untuknya.
Pikiran itu membuat hatinya terasa hangat dan tenang. Perlahan ia memejamkan matanya, dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini terjadi... ia terlelap dengan perasaan yang damai dan tenang. Tanpa kebencian. Tanpa kekhawatiran. Dan dengan harapan yang perlahan mulai tumbuh indah di dalam hatinya.
Malam itu menjadi awal dari perubahan yang tak akan pernah ia lupakan. Di balik dinding kedinginan yang ia bangun begitu tebal selama ini... ternyata ada hati yang begitu tulus dan begitu hangat yang siap menyambutnya kapan pun ia siap membuka pintu hatinya. Dan malam itu pula... ia menyadari satu hal yang paling penting di dunia ini: bahwa cinta tak selalu datang dengan rencana. Kadang ia datang dalam keheningan, dalam kesabaran yang panjang, dan dalam ketulusan yang tak pernah menuntut balas. Dan cinta itulah yang perlahan-lahan menyatukan dua hati yang sempat terpisah jauh oleh waktu dan keadaan, menuju masa depan yang penuh harapan dan kebahagiaan yang tak terduga.
salam interaksi thor😉