Indonesia
NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Bab 22: Penempaan Oakhaven, Amarah Pedang Kegelapan, dan Kelahiran Penguasa Masa Depan

​Hari-hari di Desa Oakhaven bergulir dengan irama yang penuh semangat transformatif. Di bawah naungan matahari Benua Beastia yang bersinar terik, Ren (Wiliam) memfokuskan seluruh perhatiannya untuk menempa para penduduk desa yang tadinya lemah dan tertindas menjadi barisan pejuang yang mandiri.

​Pagi hingga siang hari dihabiskan sepenuhnya di lapangan terbuka luas di perbatasan desa. Ren berdiri di atas panggung kayu rendah, mengawasi ratusan warga desa—pria, wanita, hingga para remaja bertelinga hewan—yang berbaris rapi melakukan latihan fisik dan pembentukan jaringan mana.

​"Dengar semuanya!" suara Ren mendominasi lapangan latihan, bergema hingga ke celah-celah pohon purba. "Mana tidak hanya mengalir di udara atau di dalam tubuh para pengguna sihir bangsawan! Setiap makhluk hidup memiliki jalur mana di dalam sistem sarafnya! Fokuskan pikiran kalian, rasakan riak hangat di perut bagian bawah kalian, lalu alirkan energi itu ke seluruh otot tangan dan kaki kalian!"

​Ren memperagakan gerakan dasar manipulasi mana. Dengan dorongan telapak tangan yang tenang, pendar mana tanah terkendali membungkus tinju Ren, memancarkan tekanan angin yang menghantam tiang kayu latihan hingga bergetar hebat.

​"Luar biasa...!" gumam Garo yang berdiri di barisan depan, matanya membelalak penuh kekaguman. "Jadi begini cara memusatkan mana tanpa memerlukan mantra rumit?!"

​"Benar, Garo," ujar Ren seraya menghampiri pemuda bertelinga serigala itu dan membetulkan posisi kuda-kudanya. "Ras Manusia Binatang (Beastkin) memiliki fisik alami yang jauh lebih tangguh dibanding Manusia biasa. Jika kalian memadukan kekuatan fisik itu dengan manipulasi mana elemen dasar—seperti angin untuk menambah kecepatan, atau tanah untuk memperkuat pertahanan—kalian bisa menandingi prajurit terlatih mana pun!"

​Tidak hanya manipulasi mana dan elemen dasar, Ren juga mengajarkan dasar-dasar ilmu pedang murni. Ia membagikan pedang-pedang kayu yang dibuat secara swadaya oleh para tukang kayu desa. Ren melatih mereka teknik tebasan dasar, tangkisan presisi, dan pola pergerakan kaki (footwork) yang efisien.

​Malam harinya, di saat seluruh penduduk desa telah tertidur lelap setelah seharian berlatih keras, Ren duduk di dalam kamar panggungnya yang sunyi. Di bawah pendar cahaya lilin minyak, Ren menggunakan bulu unggas dan tinta buatan untuk menulis di atas gulungan kertas kulit tebal.

​Ren sedang mencetak karya besar: Buku Panduan Dasar Ilmu Pedang Murni dan Manipulasi Mana Rasa Beastkin—sebuah kitab panduan yang ia ciptakan dan susun sendiri berdasarkan pengalamannya bertarung di berbagai medan tempur. Kitab itu dirancang secara khusus agar mudah dipahami oleh generasi muda Oakhaven bahkan setelah ia pergi meninggalkan desa tersebut kelak.

​Tidak berhenti pada penempaan militer, di waktu senggang sore hari, Ren secara langsung turun tangan membantu warga bercocok tanam. Dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang struktur tanah dan sihir elemen, Ren membantu merancang sistem irigasi baru dari sungai hutan menuju ladang gandum desa. Ia juga bahu-membahu bersama para pria dewasa mengangkut kayu-kayu tebal dari hutan untuk membangun ulang rumah-rumah panggung kayu yang telah lapuk menjadi hunian yang kokoh dan tahan dingin.

​Kehangatan, persaudaraan, dan tawa bersahaja menyelimuti Desa Oakhaven yang perlahan-lahan mulai bangkit dari keterpurukan.

​Namun, kedamaian di pemukiman yang mulai berkembang itu mendadak robek oleh badai petaka.

​Pada suatu pagi yang cerah, Ren sedang menuntun belasan pemuda terbaik desa—termasuk Garo—masuk jauh ke dalam kedalaman Hutan Belantara Purba untuk melakukan perburuan berkala sekaligus menguji hasil latihan pertempuran nyata mereka melawan monster hutan.

​Di saat Ren dan rombongan pemburu berada kilometer jauhnya di tengah hutan—

​BOOM! CRASH!

​Suara ledakan sihir mendadak menghantam gerbang utama Desa Oakhaven!

​Sesosok pria bertubuh gemuk bersirah emas kemerahan menunggangi seekor kadal raksasa bermata merah, memimpin lebih dari lima ratus prajurit bersenjata lengkap. Pria itu adalah Baron Kaelen—bangsawan kejam dari Suku Harimau yang menguasai distrik perbatasan!

​"Bakar tempat ini! Hancurkan semua bangunan baru mereka!" jerit Baron Kaelen dengan suara nyaring yang dipenuhi kemarahan mendidih. "Mana bajingan bernama Ren itu?! Berani-beraninya dia mengancamku dan melukai prajuritku! Sampaikan padanya untuk keluar dan berlutut di hadapanku!"

​Para prajurit Baron Kaelen bergerak mengamuk bagaikan kawanan serangga pemakan bangkai. Mereka merobohkan tiang-tiang irigasi baru, meratakan ladang gandum yang mulai menghijau, membakar rumah-rumah panggung, dan menyeret para wanita, anak-anak, serta orang tua ke tengah lapangan desa!

​Kepala Desa Boran yang berusaha melindungi warga dilempar keras ke tanah hingga mukanya berdarah.

​"Ampun, Baron Kaelen... ampunkan warga kami..." ratap Boran seraya memegangi kaki sang Baron.

​SPIT!

​Baron Kaelen meludah tepat ke wajah tua Boran, lalu menginjak dada sang Kepala Desa dengan sepatu besi tebalnya. "Diam, Tua Bangkai! Jika Manusia perusuh itu tidak menyerahkan dirinya dalam sepuluh menit, aku akan memotong kepala seluruh penduduk desa ini satu per satu!"

​Para warga disandera dalam formasi lingkaran di bawah ancaman ratusan mata tombak tajam. Tangisan histeris anak-anak kecil bergema di tengah asap hitam yang membumbung tinggi dari bangunan desa yang terbakar.

​Sementara itu, di sebuah bukit di tengah hutan...

​Ren sedang duduk bersila di atas batu flat, memandangi para pemuda desa yang sedang menguliti hasil buruan rusa kristal.

​Mendadak—

​HURRY! HURRY!

​Langkah kaki mungil yang terengah-engah berlari kencang memecah semak belantik. Seorang anak laki-laki Beastkin bertelinga kelinci berusia delapan tahun muncul dengan derai air mata dan nafas memburu penuh kepanikan.

​"T-Tuan Ren...! Tuan Ren!" jerit anak kecil itu seraya jatuh tersungkur di hadapan Ren.

​Ren seketika berdiri tegak, merengkuh tubuh anak itu. "Ada apa?! Apa yang terjadi di desa?!"

​"B-Baron Kaelen... Dia datang bersama ratusan prajurit jahat!" tangis anak itu histeris seraya menunjuk ke arah asap hitam yang membumbung di kejauhan. "R-Rumah-rumah dibakar... Kepala Desa Boran dipukuli... Mereka menyandera semua orang dan mencari Tuan Ren!"

​Mendengar hal itu, mata para pemuda desa termasuk Garo seketika membelalak kaget dan marah!

​"Sialan Baron Kaelen itu!" teriak Garo seraya menggenggam tombaknya. "Tuan Ren, kita harus kembali sekarang!"

​Namun, Ren tidak mengucapkan sepatah kata pun.

​Sensasi dingin yang teramat sangat mendadak merayap dari dalam dada Ren. Janjinya untuk melindungi warga lemah yang telah ia anggap seperti keluarganya sendiri baru saja diinjak-injak secara kasar.

​SWOOSH!

​Tanpa menunggu para pemuda desa, wujud Ren melenyap seketika dari pandangan mereka, melesat menembus pepohonan hutan dengan kecepatan yang membelah udara!

​Di tengah lapangan Desa Oakhaven yang setengah hancur...

​Baron Kaelen tampak tertawa terbahak-bahak seraya memainkan pedang emasnya di atas kepala salah satu anak Beastkin yang menangis ketakutan. "Waktu kalian hampir habis, Sampah-sampah! Tampaknya pahlawan kalian itu hanyalah seorang penakut yang telah kabur meninggalkan kalian!"

​CRASH!

​Mendadak, sebuah gelombang tekanan angin yang sangat dahsyat menghantam gerbang desa dari arah hutan! Debu dan puing-puing kayu terlempar ke udara!

​Dari balik gulungan asap dan debu, sesosok pemuda berambut perak melangkah keluar secara perlahan.

​Ren berdiri di sana. Pakaian pengembaranya melambai pelan, namun seluruh tubuhnya diselimuti oleh aura keheningan yang amat mencekam.

​Baron Kaelen terbelalak sejenak, lalu menyunggingkan senyuman cemoohan yang sangat lebar seraya menunjuk Ren dengan pedang emasnya.

​"Oho! Jadi kau yang bernama Ren?!" pekik Baron Kaelen dengan nada menghina. "Kau yang berani mengancam akan memotong kepalaku?! Lihat dirimu! Kau datang sendirian! Kau pikir aku akan takut dengan gertakan kosongmu itu?! Lihatlah... kau tidak ada bedanya dengan sampah-sampah desa ini yang sedang berada di bawah pijakan kakiku!"

​HAHAHAHA!

​Ratusan prajurit Baron Kaelen tertawa bersahut-sahutan, mengejek Ren yang berdiri sendirian di tengah hancurnya fasilitas desa.

​Namun—

​Momen tawa mengejek itu mendadak terhenti secara instan.

​RUMBLE... RUMBLE...

​Udara di seluruh arena Desa Oakhaven mendadak terasa sangat berat—bagaikan gunung batu raksasa yang dijatuhkan dari langit! Suhu udara merosot tajam hingga membekukan keringat di kulit.

​Dari dalam tubuh Ren, meluap keluar Aura Kegelapan Hati Iblis Murni yang berwarna hitam pekat bercampur pendar keperakan!

​Aura kegelapan itu membumbung tinggi melingkupi langit desa, menciptakan tekanan intimidasi tingkat Demigod yang teramat sangat mengerikan! Ratusan prajurit Baron Kaelen seketika berlutut terjerembab ke tanah, memegangi leher mereka seraya terengah-engah kesusahan untuk menarik napas!

​"Ghh... A-Apa ini...?! Kenapa... kenapa aku tidak bisa bernapas...?!" jerit para prajurit histeris.

​Lebih mengerikan lagi, sepasang mata kelabu absolut milik Ren perlahan-lahan berubah total. Pupil matanya menyempit tajam menjadi Pupil Predatory Vertikal milik Penguasa Iblis Purba—memancarkan haus darah murni yang menyapu seluruh keberadaan di lapangan tersebut!

​Baron Kaelen yang menyaksikan perubahan wujud dan aura monster di hadapannya seketika pucat pasi, ketakutan hingga ke sumsum tulang belakangnya!

​"S-SERANG DIA! BANTU AKU! BUNUH MANUSIA IBLIS ITU SEKARANG JUGA!" jerit Baron Kaelen dengan suara melengking panik dari atas kadal raksasanya!

​Lebih dari tiga puluh prajurit elit Baron Kaelen yang masih sanggup menahan tekanan aura merangsak maju dengan nekat, mengayunkan senjata besi mereka ke arah Ren!

​Namun—

​FLASH!

​Ren melenyap dari pandangan mereka sepenuhnya.

​Sebelum prajurit terdepan sempat berkedip, Ren telah muncul tepat di hadapannya!

​Tanpa menggunakan pedangnya, tanpa menggunakan mantra sihir... Ren mengayunkan tangan kosongnya dengan kecepatan dan kekuatan fisik brutal!

​CRACK-BANG!

​Tangan kosong Ren menghantam langsung kepala prajurit tersebut, menghancurkan tengkoraknya menjadi serpihan berdarah secara sadis dalam satu pukulan! Mayat tanpa kepala itu ambruk seketika!

​SWOOSH-BANG! CRASH! THUD!

​Pembantaian absolut dimulai! Ren bergerak bagaikan malaikat pencabut nyawa yang mengamuk. Dengan tangan kosongnya, Ren mencengkeram wajah prajurit kedua dan meremukkannya ke atas batu, mematahkan leher prajurit ketiga dengan satu remasan jari, dan meninju dada prajurit keempat hingga zirahnya tembus ke belakang!

​Darah segar dan jeritan histeris memenuhi lapangan desa! Cara bertarung Ren yang sangat sadis dan tanpa ampun meruntuhkan seluruh moral pertempuran pasukan Baron Kaelen dalam hitungan sepuluh detik!

​"M-MONSTER! DIA BUKAN MANUSIA! DIA IBLIS!"

"LARI! LARI UNTUK SLAMATKAN NYAWA KALIAN!"

​Ketakutan hebat melumpuhkan sisa tentara! Ratusan prajurit Baron Kaelen membuang senjata mereka, berhamburan lari keluar dari desa dengan histeris, meninggalkan tuan mereka sendirian tanpa memedulikan perintahnya lagi!

​Baron Kaelen terduduk gemetaran di atas kadal raksasanya. Seluruh keberanian dan keangkuhan sang bangsawan musnah tak berbekas. Begitu hebatnya rasa takut yang menghantam jiwanya saat mata predator Ren menatap lurus ke arahnya... Baron Kaelen bahkan mengompol di dalam celana zirahnya, membasahi sadel kadalnya!

​Ren melangkah perlahan mendekati Baron Kaelen.

​SWOOSH!

​Dengan satu gerakan cepat, Ren mencengkeram leher Baron Kaelen kencang-kencang, menariknya turun dari atas kadal dan membanting tubuh gemuknya secara keras ke atas tanah keras!

​BOOM!

​"Guaaakh!" Baron Kaelen memuntahkan sekantong darah, tulang rusuknya patah seketika.

​Ren menindih dada Baron Kaelen, lalu mengangkat kepalan tangan kosongnya. Mata predator Ren tidak memancarkan rasa kasihan sedikit pun.

​"T-Tolong... Ampun... Uang! Aku akan memberimu uang dan kekuasaan—"

​BANG!

​Pukulan pertama Ren menghantam pipi Baron Kaelen dengan suara ledakan yang sangat keras! Gigi dan tulang rahang sang Baron hancur berkeping-keping!

​BANG! BANG! BANG! BANG!

​Ren tidak memberikan kesempatan bernapas atau berbicara sedikit pun! Pukulan bertubi-tubi dari tangan kosong Ren menghantam wajah Baron Kaelen secara brutal dan konstan! Setiap hantaman menciptakan dentuman keras yang menggetarkan tanah di sekeliling mereka!

​Darah memercik ke mana-mana, membasahi pakaian pengembara Ren. Hukuman mati atas kesombongan dan penindasan yang dilakukan Baron Kaelen dieksekusi secara instan di depan mata seluruh warga desa.

​Hingga akhirnya, setelah belasan pukulan brutal bergema di lapangan... Baron Kaelen tewas secara tragis dengan kepala yang hancur total, mengakhiri riwayat penindas kejam distrik perbatasan tersebut selamanya.

​Setelah kedatangan dan kematian Baron Kaelen, atmosfer ketakutan perlahan-lahan mereda. Ren mengusap darah di tangannya, memadamkan aura iblis dan memulihkan pupil matanya menjadi mata kelabu yang hangat kembali.

​Warga desa, meskipun sempat terpana oleh kekuatan mengerikan Ren, tidak merasa takut padanya. Bagi mereka, Ren adalah pelindung sejati yang telah membalaskan penderitaan mereka dan memusnahkan monster penindas yang sebenarnya.

​Hari-hari berikutnya dihabiskan oleh Ren dan seluruh warga desa untuk bahu-membahu membangun ulang Desa Oakhaven.

​Dengan harta simpanan Baron Kaelen yang disita dari istananya, desa tersebut tidak lagi mengalami kesulitan finansial. Mereka membeli bahan bangunan berkualitas, memperluas area pertanian, dan membangun benteng kayu tebal di sekeliling desa.

​Aktivitas kehidupan sehari-hari kembali berjalan dengan riang, damai, dan penuh harapan baru.

​...

​Satu Tahun Kemudian...

​Sebuah transformasi luar biasa telah terjadi pada pemukiman terasing ini.

​Desa Oakhaven tidak lagi dapat disebut sebagai "desa kecil miskin". Pemukiman itu telah berkembang pesat meluas menjadi sebuah Kota Mandiri Oakhaven yang makmur dan sejahtera! Rumah-rumah kayu kokoh berdiri rapi, jalan-jalan berbatu terhiasi oleh kedai-kedai makanan ramah, dan ladang pertanian membentang luas menghasilkan bahan pangan melimpah.

​Yang paling menakjubkan adalah perkembangan para penduduknya.

​Di lapangan latihan utama kota yang luas, ratusan pejuang Beastkin—pria dan wanita—sedang bertarung sengit memperagakan ilmu pedang. Tebasan pedang mereka dipenuhi oleh aliran mana elemen yang presisi, gerakan kaki mereka sangat lincah, dan rata-rata kekuatan para penduduk Oakhaven kini telah menembus Level 5 sampai Level 6!

​Garo, yang kini menjadi Komandan Pasukan Keamanan Oakhaven, melangkah menghampiri Ren yang berdiri di atas benteng kota seraya memandangi latihan para warga.

​"Tuan Ren!" panggil Garo seraya memberikan hormat pedang yang sangat sempurna. "Sesuai dengan instruksi Anda, patroli wilayah perbatasan telah diselesaikan. Tidak ada lagi ancaman perampok atau monster yang berani mendekati Oakhaven!"

​Ren memandangi Garo yang kini memancarkan aura ksatria tangguh, lalu menatap seluruh warga desa yang tertawa bahagia di bawah sana.

​Sebuah rasa lega dan kepuasan yang mendalam memenuhi dada Ren. Wiliam menyadari bahwa tugasnya di tempat ini telah usai. Pemukiman ini tidak lagi memerlukan perlindungannya; mereka telah memiliki "pancingan" dan kekuatan untuk berdiri tegak di kaki mereka sendiri.

​Ren tersenyum hangat, menepuk bahu Garo. "Kerja bagus, Garo. Kalian semua telah menjadi sangat kuat..."

​Ren menatap ke arah garis cakrawala laut di kejauhan. "Sudah waktunya bagiku... untuk melanjutkan perjalananku menyeberangi benua ini."

​Sementara Ren bersiap melanjutkan perjalanannya di Benua Beastia, di tempat yang sangat jauh—di dalam Domain Suci Tersembunyi yang terisolasi dari garisan takdir...

​Sebuah peristiwa paling monumental dan membahagiakan dalam sejarah kehidupan Anastasia (Anya) dan Wiliam akhirnya tiba.

​Di dalam kamar peraduan istana pualam yang dipenuhi oleh harum bunga es murni dan pendar sihir kehidupan...

​UWEAAAHHH! UWEAAAHHH!

​Suara tangisan ganda dari bayi yang baru lahir membumbung nyaring, memecah keheningan domain tersembunyi!

​Anya terbaring lemas di atas pembaringan sutra, peluh membasahi dahi dan rambut peraknya. Namun, paras cantiknya memancarkan rona kebahagiaan paling luar biasa yang pernah ada.

​Elina sang pelayan setia, dengan mata berkaca-kaca penuh air mata haru, dengan cepat membungkus dua bayi mungil menggunakan kain sutra hangat dan meletakkannya dengan lembut di dalam pelukan dada Anya.

​"S-Selamat... Nona Suci Anastasia..." bisik Elina dengan suara gemetaran bahagia. "Selamat... Anda telah melahirkan sepasang Bayi Kembar Laki-laki dan Perempuan yang sangat sehat dan sempurna!"

​Anya merengkuh dua buah hatinya ke dalam pelukannya, meneteskan air mata bahagia yang tak terbendung. Ia mencium dahi kecil kedua bayinya bergantian dengan penuh kasih sayang.

​"Anak-anakku... Buah hatiku..." bisik Anya dengan nada suara yang begitu lembut dan penuh haru.

​Kedua bayi kembar itu benar-benar menakjubkan.

​Bayi laki-laki yang lahir lebih dulu memiliki sejumput rambut keperakan halus dan pendar aura hitam pekat bercampur keperakan yang mengalir lembut di sekitar kulitnya—ia mewarisi secara mutlak Kekuatan Kegelapan Hati Iblis dan Demigod dari ayahnya, Wiliam!

​Sedangkan bayi perempuan yang lahir sesudahnya memiliki rambut perak bercampur keemasan, dan kulitnya memancarkan pendar cahaya sihir suci dan es murni yang sangat hangat—ia mewarisi Kekuatan Cahaya Suci dan Es Murni dari ibunya, Anya!

​Dua kekuatan yang saling bertolak belakang—Kegelapan dan Cahaya—kini berdampingan dengan begitu harmonis di dalam rahim dan pelukan sang Nona Suci Elf!

​SWOOSH! SWOOSH! SWOOSH!

​Mendadak, tiga gelombang retakan dimensi terbuka di dalam kamar!

​Tiga Pilar Terkuat—Alistair, Trigger, dan Solaria—melesat keluar dari portal sihir dengan raut wajah yang penuh dengan kepanikan dan kegembiraan yang luar biasa!

​"Anya! Kami mendengar suara tangisan bayi!" seru Solaria tergesa-gesa seraya melangkah cepat ke samping tempat tidur.

​"Oho! Apakah kedua keponakan kami sudah lahir?!" gelak Trigger seraya berjinjit penasaran di belakang Solaria dengan tubuh raksasanya.

​Alistair melangkah anggun, tersenyum lebar dengan mata berkilat haru. "Selamat, Nona Anastasia. Persalinanmu berjalan dengan sangat lancar."

​Solaria berlutut di samping pembaringan, menatap dua bayi kembar di dalam pelukan Anya dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. "Astaga... Cantik dan tampannya mereka! Lihat bayi laki-laki ini... pendar aura kegelapan di tubuhnya benar-benar persis seperti Wiliam! Dan bayi perempuan ini... cahaya sucinya sangat indah seperti ibunya!"

​Solaria menyentuh pipi mungil bayi perempuan itu dengan jarinya, dan sang bayi membalas dengan menggenggam ujung jari Solaria erat-erat seraya tersenyum menggemaskan!

​"Aww! Dia memegang jariku! Dia menyukaiku!" pekik Solaria gembira bagaikan seorang bibi yang sangat penyayang.

​Trigger terkekeh bangga, menepuk tangannya kencang. "Haha! Gabungan Kegelapan dan Cahaya! Saat mereka tumbuh dewasa kelak, dua anak ini akan menjadi penguasa paling ditakuti dan dihormati di seluruh multiverse ini!"

​Alistair mengelus janggut putihnya, menatap Anya dengan kehangatan seorang ayah tua. "Nona Anastasia... apakah kau sudah menyiapkan nama untuk kedua pangeran dan putri kecil ini?"

​Anya menatap wajah dua buah hatinya yang kini tertidur lelap di dadanya, lalu menyunggingkan senyuman paling manis dan anggun.

​"Ya, Tuan Alistair..." bisik Anya seraya mengelus pipi kedua bayinya.

​"Untuk pangeran kecilku yang mewarisi kegelapan ayahnya... namamu adalah Lucian Pendragon."

​"Dan untuk putri kecilku yang memancarkan cahaya... namamu adalah Aurelia Pendragon."

​Solaria, Trigger, dan Alistair tersenyum hangat mendengarkan nama-nama indah tersebut.

​Anya memeluk Lucian dan Aurelia erat-erat, menatap ke luar jendela dimensi yang dipenuhi oleh pendar bintang-bintang indah. Di dalam hatinya, doa dan kerinduan mendalam kembali dipancarkan kepada sang kekasih yang berkelana jauh.

​'Wiliam...' batin Anya penuh kehangatan. 'Anak-anak kita... Lucian dan Aurelia telah lahir ke dunia ini dengan selamat dan sehat... Di mana pun kau berada saat ini... teruslah melangkah, Sayang. Kami di sini akan selalu menunggumu pulang...'

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!