Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.
Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.
"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Belum genap dua bulan sejak pernikahan agung itu, kehidupan Clara perlahan berubah menjadi rutinitas yang luar biasa. Ia terbiasa bangun di pelukan protektif Alexio, terbiasa melihat si kembar membedah anatomi katak virtual di laboratorium baru mereka yang seukuran lapangan basket, dan terbiasa menjadi pusat perhatian ke mana pun ia melangkah.
Malam ini adalah ujian perdananya. Van Der Berg Group mengadakan Gala Dinner amal tahunan yang dihadiri oleh seluruh lapisan bisnis, pejabat negara, dan sosialita papan atas Asia.
Ini adalah debut resmi Clara tampil di hadapan publik elit sebagai istri sah sang penguasa.
Di dalam ballroom hotel berbintang, Clara tampil memesona. Ia tidak mengenakan perhiasan berlebihan.
Hanya gaun malam berwarna sapphire blue rancangannya sendiri yang memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan, dipadukan dengan kalung berlian Tears of the Ocean langka yang dilelang Alexio seharga tiga ratus miliar khusus untuknya.
"Kau gugup, Sayang?" bisik Alexio, merengkuh pinggang Clara saat mereka berdiri di sudut VVIP.
"Sedikit," aku Clara jujur.
"Semua orang menatapku seperti singa kelaparan yang sedang menilai mangsanya."
Alexio tersenyum miring, menempelkan bibirnya di pelipis Clara.
"Biarkan saja. Mereka hanya iri karena mangsa ini milik singa yang paling buas.
Tunggu di sini sebentar, aku harus menyapa Menteri Perdagangan. Bodyguard ada di sekelilingmu."
Begitu Alexio melangkah pergi, para sosialita yang sejak tadi menunggu kesempatan emas itu langsung bergerak mendekat. Dipimpin oleh Helena Wijaya, istri dari CEO Wijaya Corp yang merupakan saingan bisnis Van Der Berg, tiga wanita bergaun mencolok menghampiri Clara dengan senyum sinis yang disembunyikan di balik gelas sampanye.
"Jadi ini Nyonya Van Der Berg yang baru?" sapa Helena dengan nada angkuh, matanya menyapu penampilan Clara dari atas ke bawah.
"Kudengar kau dulunya hanya penjahit baju biasa? Hebat sekali ya, loncatan karirmu dari mesin jahit langsung ke ranjang Tuan Muda Van Der Berg."
Beberapa wanita di belakang Helena tertawa merendahkan. Clara mematung sejenak. Tangannya yang memegang gelas champagne sedikit menegang. Firasatnya benar, dunia konglomerat ini sangat kejam.
Namun, tepat saat Clara hendak membuka mulut, sebuah suara robotik kecil terdengar dari earpiece transparan super mikro yang terpasang di telinga kanannya, sebuah mahakarya ciptaan Ken dan Key yang memaksa ibunya memakainya demi protokol keamanan jarak jauh.
"Mama, detak jantung Mama meningkat. Jangan takut," suara Ken terdengar datar namun tajam dari markas kecilnya di mansion.
"Analisis visual selesai. Wanita di depan Mama adalah Helena Wijaya. Suaminya baru saja kehilangan tender proyek infrastruktur di Kalimantan karena kalah dari perusahaan Papa siang tadi. Dia sedang frustrasi."
"Dan Mama!" giliran suara Key yang ceria namun mematikan menyela.
"Gaun merah norak yang dia pakai itu bukan Haute Couture asli! Itu koleksi gagal musim semi desainer Milan tahun 2023 yang didiskon karena bahan perwarnanya luntur! Serang balik, Ma!"
Mendengar dukungan intelijen real-time dari dua malaikat kecilnya, rasa gugup Clara menguap tak berbekas. Dinding kepolosan wanita itu runtuh, digantikan oleh aura percaya diri yang mulai menyamai suaminya.
Clara tersenyum sangat elegan. Ia menyesap sampanyenya dengan tenang, lalu menatap Helena tepat di mata.
"Terima kasih atas pujiannya, Nyonya Wijaya," balas Clara dengan suara lembut namun setajam silet.
"Menjadi desainer mengajarkan saya banyak hal tentang kualitas dan ketelitian. Sesuatu yang sepertinya luput dari perhatian Anda malam ini."
Kening Helena berkerut tak suka. "Apa maksudmu?"
Clara meletakkan gelasnya, menunjuk ringan ke arah gaun Helena.
"Gaun maroon Anda. Potongan kerahnya memang meniru gaya haute couture Milan, tapi sayang sekali... itu adalah koleksi spring/summer 2023 yang ditarik dari pasaran karena pewarna kainnya tidak memenuhi standar kualitas Eropa. Anda membelinya di pasar gelap atau suami Anda sedang memotong anggaran belanja pakaian Anda karena perusahaannya baru saja kalah tender infrastruktur dari suami saya tadi siang?"
Skakmat.
Suasana di sudut itu mendadak hening. Wanita-wanita di belakang Helena terbelalak kaget, secara refleks melangkah mundur seolah takut tertular kebangkrutan. Wajah Helena seketika memucat pasi, lalu berubah merah padam menahan malu yang tak tertahankan. Rahasianya dibongkar habis-habisan dalam hitungan detik!
"K-kau... beraninya kau anak pungut!" desis Helena kehabisan kata-kata, hendak menyiramkan sampanyenya ke gaun Clara.
Namun, sebelum tangan Helena sempat bergerak, sebuah tangan besar dan kokoh mencengkeram pergelangan wanita itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.
Alexio berdiri di samping Clara, memancarkan aura membunuh yang membuat suhu ruangan terasa anjlok hingga ke titik beku.
"Lakukan, Nyonya Wijaya," desis Alexio dengan suara rendah yang sangat mengerikan.
"Satu tetes saja air itu mengenai istriku, aku pastikan besok pagi Wijaya Corp hanya akan menjadi debu dalam sejarah bursa saham Indonesia."
Helena gemetar hebat. Ia melepaskan gelasnya hingga jatuh pecah berkeping-keping di lantai. Dengan wajah pias dan langkah tertatih, wanita angkuh itu melarikan diri dari ballroom, diikuti tatapan mencemooh dari para tamu lain yang mulai menyadari insiden tersebut.
Alexio mengeluarkan saputangan, mengelap tangannya yang baru saja menyentuh pergelangan Helena seolah wanita itu adalah kuman, lalu membuang saputangan itu ke lantai. Ia menoleh menatap istrinya.
"Kau terluka?" tanyanya posesif, mengecek seluruh tubuh Clara.
Clara tersenyum manis, memeluk lengan suaminya.
"Tidak sama sekali. Aku baru saja mempraktikkan pelajaran pertama menjadi Nyonya Van Der Berg: jangan pernah menunduk pada orang yang lebih bodoh dari kita."
Alexio tertegun sejenak, lalu sebuah tawa rendah dan serak meluncur dari tenggorokannya. Ia menangkup rahang Clara, mencium bibir istrinya dengan bangga di hadapan seluruh awak media dan konglomerat yang menonton.
"Itu baru istriku," bisik Alexio puas.
Dari seberang sana, di dalam ruang monitor mansion Van Der Berg, Ken dan Key melakukan high-five di udara.
Proyek meng-upgrade Mama menjadi ratu yang tak tertandingi telah menunjukkan hasil yang sempurna.
Bersambung...
🤗💞 Assalamualaikum semuanya, semoga sehat selalu dan murah rejekinya, terima kasih banyak atas dukungan kalian semua pada karya ini sejauh ini, jika berkenan review karya ini juga ya. salam sayang dari author 💞😘
semoga cepat hamil lg agar keluarga Alexio semakin ramai 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰
semangat up thourr,, slalu setia menunggu 💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥
semangat thourr,, sehat slalu dan murah rezeki nya Aamiiin 🤲🤲🤲💪💪💪🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥