Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumpulan Bukti Rahasia
Langkah mundur yang diambil Dean di halaman kampus hari itu bukan berarti dia membiarkan duniakorporatnya tetap berjalan dalam kepalsuan. Logika Dean mungkin telah lumpuh menghadapi senyuman bahagia Valerie bersama Carlo, namun otak bisnis dan ketelitian hukumnya kembali aktif ke tingkat maksimal begitu roda mobil sedannya menyentuh aspal jalan raya menuju pusat kota. Rasa bersalah yang membakar dadanya kini bertransformasi menjadi sebuah energi dingin yang menuntut keadilan mutlak.
Jika dia harus kehilangan Valerie sebagai hukuman atas kebodohan sikapnya selama ini, maka dia bersumpah tidak akan membiarkan manipulator yang telah menghancurkan hidupnya tetap melangkah bebas tanpa konsekuensi.
Pukul sebelas siang, mobil sedan hitam Dean memasuki pelataran parkir bawah tanah gedung kantor pusat. Dean keluar dari mobil dengan langkah kaki yang konstan, cepat, dan sarat akan aura intimidasi yang pekat. Di tangan kanannya, dia mencengkeram sebuah flashdisk enkripsi hitam yang berisi seluruh salinan laporan forensik digital dari firma independen di luar kota.
"Pak Dean, selamat siang," sapa sekretaris senior meja depan yang baru kembali dari istirahat medis pendeknya.
Dean hanya mengangguk kaku tanpa menghentikan langkah. "Di mana Dania?"
"Mbak Dania sedang berada di ruang arsip lantai tengah untuk mengambil beberapa berkas logistik, Pak," jawab sekretaris senior tersebut dengan sopan.
"Bagus. Jangan beri tahu dia kalau saya sudah kembali," perintah Dean, suaranya sedingin es. "Panggil Doni dari divisi IT untuk menemui saya di ruang kerja pribadi saya dalam dua menit. Bawa perangkat pemindai log lokalnya."
Dua menit kemudian, di dalam ruang kerja CEO yang kedap suara, Doni berdiri dengan tubuh yang gemetar halus di depan meja kerja besar milik Dean. Anak magang IT itu menatap Dean yang sedang duduk tegak dengan tatapan mata elang yang seolah sanggup menguliti setiap kebohongannya.
"Doni," panggil Dean, suaranya sangat rendah namun sarat akan tekanan psikologis yang kuat. "Satu bulan lalu, saat insiden sabotase draf final proyek Singapura terjadi, kamu adalah orang pertama yang mendeteksi adanya kejanggalan dalam log waktu enkripsi server Wi-Fi lokal, bukan?"
Doni menelan ludahnya dengan susah payah, jemarinya meremas ujung kaus seragam magangnya. "I-iya, Pak Dean. Tapi waktu itu... karena hasil pemindaian langsung memunculkan alamat IP perangkat Kak Valerie dan ada bukti fisik di dalam tasnya, saya tidak berani bicara lebih jauh..."
Dean meletakkan flashdisk hitam dari kantongnya ke atas meja kaca dengan bunyi ketukan yang pelan namun tegas. "Hubungkan perangkat pemindaimu ke flashdisk ini. Buka folder enkripsi berlapis di dalamnya. Saya ingin kamu melihat apa yang dilewatkan oleh sistem audit internal kantor kita yang telah disabotase."
Doni segera melangkah maju dengan tangan yang sedikit bergetar. Dia menghubungkan perangkat portabelnya, memasukkan beberapa baris sandi akses, dan sesaat kemudian, deretan grafik serta diagram log digital forensik dari firma independen terpampang nyata di layar. Mata Doni melebar sempurna saat membaca analisis alamat MAC fisik yang tertera di sana.
"Astaga... Alamat MAC ini... ini bukan dari ponsel Kak Valerie, Pak," bisik Doni dengan suara yang tercekat karena terkejut. "Ini adalah alamat perangkat keras milik komputer meja depan yang digunakan oleh Mbak Dania. Dan perintah eksekusi otomatisnya dikirim melalui jaringan nirkabel apartemen Grand Orchid... tempat tinggal Mbak Dania."
"Sekarang kamu paham, Doni?" ucap Dean kaku, matanya berkilat penuh amarah yang tenang namun mematikan. "Sistem log lokal kantor kita telah ditanam skrip manipulasi tiga hari sebelum kedatangan Valerie. Seseorang memanfaatkan kepolosan Valerie yang datang membawa makanan untuk menjadikannya kambing hitam yang sempurna."
Doni mengepalkan tangannya, rasa bersalah karena sempat ikut menyudutkan Valerie tempo hari membuat keberaniannya mendadak bangkit. "Pak Dean... sebenarnya, seminggu setelah kejadian itu, saya sempat melihat Mbak Dania masuk ke ruang server utama pada jam pulang kantor secara diam-diam. Saya ingin melaporkannya pada Kak Timoty, tapi saya takut karena Mbak Dania adalah adik kandungnya sendiri."
Dean menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, wajahnya tampak mengeras seperti batu karang. Logikanya yang presisi telah berhasil mengumpulkan semua kepingan puzzle yang hilang. Dania bukan hanya seorang sekretaris yang ceroboh; dia adalah musuh dalam selimut yang memanfaatkan posisi kakaknya untuk merusak integritas perusahaan demi kepuasan egonya sendiri.
"Doni, ambil seluruh salinan data log asli yang baru saja kamu verifikasi ini. Masukkan ke dalam draf dokumen resmi hukum perusahaan," perintah Dean tanpa bantahan. "Pastikan sistem log digital ini terkunci rapat dan tidak bisa diakses oleh komputer meja depan mana pun sampai saya memberikan aba-aba."
"Baik, Pak Dean. Saya laksanakan sekarang," jawab Doni dengan anggukan mantap sebelum buru-buru keluar dari ruangan membawa perangkatnya.
Setelah Doni keluar, Dean beralih membuka laptop kerjanya. Dia tidak langsung memanggil Dania ke ruangannya. Logika bisnisnya menuntut sebuah eksekusi yang bersih tanpa celah pembelaan sedikit pun. Pria itu membuka folder rahasia yang berisi data investasi, saham gabungan, dan draf kerja sama finansial antara perusahaannya dengan firma logistik milik keluarga Timoty.
Investasi gabungan senilai puluhan miliar rupiah yang ditanamkan Dean di proyek keluarga Timoty adalah pilar utama yang menjaga stabilitas bisnis sahabatnya itu di tengah krisis luar kota. Menarik seluruh investasi tersebut secara mendadak adalah sebuah keputusan yang kejam, namun bagi Dean, profesionalitas dan loyalitas dalam duniabisnis adalah hal yang sakral. Jika keluarga Timoty memelihara seorang manipulator berbahaya seperti Dania di dalam lingkaran terdalam mereka, maka logikanya mengatakan bahwa kerja sama ini sudah tidak lagi aman untuk diteruskan.
Dean mengetik sebuah draf dokumen baru: Surat Pembatalan Kerja Sama Investasi Reksa dan Penarikan Saham Gabungan Efektif Per Hari Ini.
Setiap ketukan jarinya di atas keyboard terasa seperti hantaman palu penghakiman. Ada rasa perih yang samar saat memikirkan persahabatannya dengan Timoty yang mungkin akan merenggang akibat keputusan ini, namun bayangan wajah Valerie yang menangis histeris sebulan lalu di ruangan ini kembali melintas di benaknya, menghapus seluruh keraguan di dalam hati Dean.
Tepat pukul dua siang, pintu ruangan diketuk kembali. Kali ini, Timoty masuk dengan wajah yang tampak lelah namun membawa senyum formalnya yang biasa.
"Dean! Kamu mendadak memanggilku pulang dari rapat luar kota. Ada masalah apa dengan draf kontrak logistik baru?" tanya Timoty, langsung mengambil posisi duduk di kursi depan meja kerja Dean.
Dean meletakkan penanya, menatap lurus ke dalam manik mata sahabatnya dengan pandangan dingin yang membekukan. "Timoty, panggil adiemu, Dania, untuk masuk ke ruangan ini sekarang juga. Bersama seluruh berkas laporan log harian komputernya."
Timoty mengernyitkan keningnya, mendeteksi adanya atmosfer yang sangat tidak bersahabat dari nada suara Dean. "Dania? Ada apa dengannya, Dean? Apakah performa kerjanya minggu ini ada yang kurang?"
"Panggil dia sekarang, Timoty," potong Dean kaku, tanpa memberikan ruang untuk diskusi. "Topeng yang dia pakai selama satu bulan ini sudah selesai, dan hari ini, di depan matamu sendiri, aku akan membongkar seluruh kelicikannya yang telah menghancurkan hidupku."
Melihat kilat amarah yang begitu pekat dan mutlak di mata Dean, Timoty mendadak merasakan firasat buruk yang teramat sangat besar merayap di dadanya. Tanpa banyak bicara lagi, dia merogoh ponselnya dan menghubungi nomor Dania, menyuruh adiknya untuk segera masuk ke ruang kerja CEO dengan membawa dokumen log harian.
Di luar ruangan, Dania yang baru saja kembali dari ruang arsip menerima telepon dari kakaknya dengan senyum manis yang biasa ia pasang. Dia merapikan rok pensil hitamnya, memoles lipstik merah mudanya di depan cermin kecil, lalu melangkah menuju pintu jati tebal ruang kerja Dean dengan penuh rasa percaya diri, tanpa menyadari bahwa di balik pintu tersebut, sebuah badai konfrontasi terbesar dan konsekuensi hitam yang tak terampuni telah disiapkan oleh Dean untuk menghancurkan seluruh karier dan masa depannya dalam hitungan menit.