Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Bayang-Bayang Kenyataan
Dua kantong plastik besar berisi belanjaan kini tersimpan rapi di kursi belakang. Gemerlap lampu supermarket besar yang membias di pelataran parkir berlapis gerimis perlahan menghilang saat Fadil dan Aura memasuki kabin mobil sedan hitam yang terasa hangat.
Sentuhan dingin udara luar seketika tergantikan oleh wangi khas sandalwood dan aroma kulit jok yang tebal.
Aura duduk di kursi penumpang samping kemudi. Tangan kanannya masih menyisakan bekas rasa hangat dari jemari Fadil yang menggenggamnya erat sepanjang koridor kasir tadi.
Di dalam benaknya, detik-detik saat Fadil merangkul pinggangnya, memanjakannya di depan rak makanan, hingga tawa renyah yang dilayangkan pria itu terus berputar bagaikan pita kaset yang diputar berulang kali.
Tak bisa dipungkiri, perasaan Aura sebagai seorang perempuan tentunya tersentuh, bahkan terombang-ambing oleh sikap hangat dan perhatian yang belakangan ini ditunjukkan Fadil.
Manusia mana yang tidak akan jatuh hati saat diperlakukan begitu lembut oleh pria yang berstatus sebagai suaminya sendiri?
Namun, ketika pintu mobil ditutup dan bunyi klik kunci otomatis berbunyi melingkupi mereka dalam ruang tertutup yang sunyi, senyap itu seolah meniupkan kebenaran yang pahit.
Aura menatap pantulan dirinya sendiri pada kaca jendela mobil yang tertutup bintik-bintik air hujan. Wajahnya yang semula merona merah mendadak berubah pias, karena kenyataan menghantam kesadarannya.
"Siapa aku sebenarnya di rumah ini?" sebuah bisikan di dasar sanubarinya.
Aura memegang dadanya yang mendadak terasa sesak. Ia adalah pengantin pengganti. Sosok yang hadir di atas panggung pernikahan karena sebuah keretakan tragedi.
Mungkinkah perasaan hangat yang mulai bertunas di hatinya ini boleh terjadi? Pantaskah ia merasakan kebahagiaan ini, sementara ia tau betul bahwa pria yang duduk di samping kemudi ini adalah pria yang menyerahkan seluruh masa lalunya, cinta mewahnya, dan impian masa depannya untuk Kak Keisya?
Bagaimana jika semua kehangatan Fadil malam ini hanyalah bentuk pelampiasan rasa sepi? Atau lebih buruk lagi, bentuk kewajiban moral seorang pria dewasa yang mencoba bersikap baik pada "penghuni" rumahnya?
Bagaimana jika suatu hari nanti Kak Keisya kembali dan menagih tempat yang seharusnya menjadi milik wanita itu?
Rasa bersalah pun merayap dengan pelan, seakan meracuni setiap sudut pikiran Aura. Setiap elusan jemari Fadil di punggung tangannya tadi kini terasa bagaikan sebuah pinjaman yang harus dikembalikan pada pemilik aslinya.
Aura menghela napas panjang dan sangat pelan, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, lalu membuang pandangan lurus ke arah kegelapan jalan di luar.
Sementara di sampingnya, Fadil yang baru saja selesai menyimpan ponselnya di konsol tengah menoleh ke arah Aura.
Pria itu mengulas senyum tipis, dan berniat mengajak istrinya mengobrol tentang menu yang akan disiapkan untuk kedatangan ibunya lusa. Namun, melihat Aura yang melamun dengan raut wajah yang mendadak redup, dahi Fadil berkerut tipis.
Fadil lalu memiringkan tubuhnya, kemudian merapat mendekati posisi duduk Aura.
Aura yang sedang tenggelam dalam pusaran emosinya, kini merasakan bayangan tubuh yang mengikis jarak di antaranya.
Saat ia menoleh dengan mata membelalak, wajah Fadil sudah berada hanya beberapa sentimeter di depan parasnya. Aroma parfum pria itu yang tajam dan hangat menyapu indra penciumannya seketika.
"Mas!" pekik Aura karena kaget, tubuhnya sejajar dan menegang kemudian menyandar makin dalam ke busa kursi.
Tapi Fadil tidak menjauh. Matanya mengunci iris mata Aura selama beberapa detik, menatap kedalaman mata wanita itu yang menyimpan kebingungan dan ketakutan yang tiba-tiba muncul kembali.
Ada desir aneh di hati Fadil saat melihat betapa dekatnya wajah mereka, namun pria itu dengan cepat menguasai dirinya.
Kemudian tangan kiri Fadil terulur melintasi tubuh Aura, dan meraih tali sabuk pengaman yang tergantung di pilar mobil.
"Jangan lupa pakai sabuk pengamannya," ujar Fadil dengan setengah berbisik.
Klik.
Fadil mengancingkan pengait sabuk pengaman ke sarangnya di samping pinggul Aura. Setelah memastikan sabuk itu terpasang sempurna dan aman melingkupi tubuh Aura, Fadil perlahan menarik tubuhnya kembali ke kursi kemudi, lalu menggenggam lingkar setir.
Aura sendiri mematung. Jantungnya bertalu-talu, bukan lagi karena desiran manis asmara seperti di supermarket tadi, melainkan karena rasa cemas dan tamparan ketakutan akan batas-batas diri.
Aura segera berusaha menetralkan perasaannya. Ia menarik napas dalam-dalam dan meneguhkan hatinya dengan keyakinan penuh bahwa ia telah salah bersikap.
Ia terlalu melayang, terlalu cepat terbawa suasana, dan terlalu berbahaya jika terus membiarkan dirinya tenggelam dalam pesona Fadil.
Ia harus menarik garis tegas. Ia tidak boleh bertindak berlebihan atau terlalu dekat dengan Fadil.
BROOMM!!
Mesin sedan hitam itu menderum halus. Mobil pun perlahan bergerak membelah malam yang makin larut dan basah oleh hujan.
"Aura," panggil Fadil, yang membuka suara saat mobil mulai memasuki jalan utama kota.
Sorot matanya fokus pada jalanan di depan, namun senyum tipis masih menghiasi sudut bibirnya. "Lusa untuk menu ikan gurame asam manisnya, kamu butuh beli bumbu tambahan lagi tidak besok pagi? Kalau butuh, aku bisa minta sekretarisku untuk mengirimkannya ke rumah."
Aura tetap menatap lurus ke depan, dan tidak menoleh ke arah pria di sampingnya. Suaranya yang semula hangat dan renyah kini berubah menjadi datar, pelan, dan penuh kehati-hatian.
"Tidak usah, Mas. Bumbu di rumah sudah cukup," jawab Aura singkat.
Fadil agak terkejut mendengar perubahan nada bicara wanita itu. Pria itu pun melirik sekilas melalui sudut matanya. "Oh... begitu. Kalau untuk pudding cokelat Farah? Kamu tidak butuh cetakan tambahan? kamu pernah bilang suka cetakan bentuk bunga."
"Tidak perlu, Mas. Cetakan yang ada di dapur sudah bisa dipakai," sahut Aura lagi, terdengar dingin dan seperlunya.
Keheningan pun merayap masuk ke dalam kabin mobil. Fadil merasa ada gelombang aneh yang mendadak membentang di antara mereka.
Kehangatan, canda tawa, dan godaan manis yang baru saja tercipta beberapa puluh menit lalu di lorong-lorong supermarket menguap begitu saja tanpa bekas, digantikan oleh dinding tak kasat mata yang tebal.
"Ekhem! Aura... kamu mendadak diam. Ada yang salah? Apa kamu kelelahan karena belanja tadi?"
Aura menelan salivanya dengan tenggorokan yang terasa kering. Karena tidak ingin melanjutkan percakapan yang hanya akan makin menyiksa hatinya dan mengundang ketakutan-ketakutan baru, Aura memutuskan untuk menyudahi seluruh interaksi malam itu.
"Aku cuma agak mengantuk, Mas," ujar Aura, dengan nada yang terkesan memutus pembicaraan.
Aura lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Fadil, menempelkan pipinya pada bantal sandaran kepala, lalu memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
Ia berpura-pura tidur, dan berharap kebohongan kecil itu bisa menyembunyikan kerapuhan dan konflik batin yang sedang berkecamuk hebat di dalam hatinya.
Fadil menoleh lagi saat menyadari Aura telah membelakanginya dan menutup mata dan hanya menghela napas seakan kecewa.
Namun, alih-alih marah atau mendesak, Fadil justru mengulurkan tangan kirinya ke panel pendingin udara. Dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, pria itu menurunkan suhu AC mobil agar tidak terlalu dingin dan menembus gaun tipis yang dikenakan Aura.
Pria itu kemudian mengambil sebuah jaket kain miliknya yang terlipat di kursi belakang, lalu membentangkannya secara perlahan di atas tubuh Aura hingga menutupi bahu dan dadanya.
Aura yang sebenarnya sama sekali tidak tidur dan menyadari setiap gerakan lembut suaminya, meremas jemarinya sendiri di balik lipatan jaket tersebut. Air mata hangat pun menetes secara diam-diam di sudut matanya yang tertutup rapat.
"Jangan bersikap semanis ini padaku, Mas Fadil..." bisik hati Aura. "Sebab semakin kamu bersikap manis, semakin sulit bagiku untuk sadar diri bahwa aku hanyalah pengganti di dalam hidupmu."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣