Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Ceklek.
Pintu kamar asrama nomor 302 terbuka menampilkan sosok Aldo yang baru saja kembali dari dapur galeri.
Hawa dingin AC langsung menyambut wajahnya yang masih terasa sedikit lelah akibat ketegangan Pressure Test tadi.
Namun suasana di dalam kamar ternyata jauh lebih panas daripada yang dia bayangkan.
Kevin sedang duduk di atas ranjang bawah bersama dua orang peserta pria lainnya yang bernama Leo dan Rio.
Mereka bertiga adalah kelompok peserta yang berasal dari latar belakang keluarga kaya dan lulusan sekolah kuliner luar negeri.
"Wah, pahlawan kluwek kita sudah kembali rupanya," sindir Kevin dengan nada suara yang sangat meremehkan saat melihat Aldo masuk.
Aldo mengabaikan sindiran itu dan langsung berjalan menuju lemarinya untuk mengambil baju ganti.
"Hei gembel, kau pikir kau sudah aman karena lolos dari eliminasi hari ini?" ancam Leo sambil berdiri menghalangi jalan Aldo.
"Minggir, aku mau lewat dan aku ingin istirahat," jawab Aldo singkat dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Kau benar benar membuat malu kelas elit kami di depan para juri siang tadi," tambah Rio ikut memanaskan suasana kamar.
"Kalau kelas elit kalian memang sehebat itu, kenapa kapten kebanggaan kalian menyajikan saus pahit beracun ke depan juri?" balas Aldo tajam.
Wajah Kevin seketika memerah padam mendengar kekalahannya kembali diungkit dengan telak di depan teman temannya.
Brak.
Kevin menendang kaki ranjang besi dengan sangat keras untuk melampiaskan amarahnya yang meledak.
"Dengar baik baik, anak miskin bau selokan," desis Kevin sambil menunjuk tepat ke depan wajah Aldo.
"Mulai besok kami bertiga akan memastikan mentalmu hancur berkeping keping sebelum kau memegang pisau dapurmu."
"Kami punya banyak cara untuk membuatmu menangis dan menyerah keluar dari asrama ini."
Aldo menatap mata Kevin dengan sorot mata yang jauh lebih dingin dan tajam dari bongkahan es di kutub.
"Kalian butuh tiga orang pria dewasa hanya untuk menindas satu orang gembel sepertiku?" tanya Aldo dengan senyum meremehkan.
"Kalian ternyata jauh lebih menyedihkan dan pengecut daripada yang aku bayangkan selama ini."
Aldo menyenggol bahu Leo dengan cukup keras lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh lagi.
Brak.
Pintu kamar mandi ditutup rapat meninggalkan ketiga pemuda kaya itu dalam keadaan menggeram marah dan menahan malu.
"Sialan, kita harus singkirkan dia secepat mungkin sebelum dia jadi ancaman serius di galeri," desis Kevin penuh dendam.
Setengah jam kemudian Aldo berjalan menuju ruang makan asrama untuk mengisi perutnya yang meronta ronta.
Kruyukkk.
Suara perutnya mengingatkan bahwa dia memeras otak habis habisan untuk membuat kaldu rawon tadi siang.
Di sudut ruangan makan, Rina melambaikan tangannya dengan semangat memanggil Aldo yang sedang mengambil piring.
"Aldo, sini cepat! Aku sudah mengambilkan jatah makan malam untukmu," panggil Rina dengan senyum cerianya.
Aldo tersenyum tipis dan berjalan menghampiri meja Rina lalu duduk perlahan di hadapannya.
"Terima kasih banyak Rina, kamu tidak perlu repot repot menunggu dan mengambilkannya untukku."
"Tidak apa apa, anggap saja ini syukuran kecil kecilan karena kita berdua berhasil selamat dari neraka eliminasi hari ini."
Aldo mulai memakan nasi dan sepotong ayam goreng di piringnya dengan sangat lahap dan tenang.
Rina menopang dagunya dengan kedua tangan sambil terus memperhatikan wajah Aldo yang sedang makan.
"Kamu tahu tidak Aldo, banyak anak perempuan di asrama ini yang mulai membicarakan kehebatanmu tadi," ucap Rina bergosip ria.
"Membicarakan kehebatan apa? Aku hanya memasak rawon biasa seperti para penjual di pinggir jalan," jawab Aldo merendah.
"Mereka bilang kamu sangat keren saat berani menjawab omongan galak Chef Arya di podium dengan tenang."
"Itu sama sekali bukan hal yang keren, Rina."
"Aku hanya mencoba bertahan hidup dan membela diri agar tidak langsung diusir dari galeri dengan rasa malu."
Tiba tiba ekspresi wajah Rina berubah menjadi sedikit lebih serius dan kedua alisnya bertaut cemas.
"Tapi kamu harus hati hati dengan Kevin dan geng orang kayanya itu ya Aldo."
"Tadi sore aku melihat mereka berkumpul di lobi sambil terus menatap sinis dan berbisik bisik ke arahmu."
"Mereka sudah menyatakan perang terbuka kepadaku di dalam kamar tadi," jawab Aldo santai sambil terus mengunyah makanannya.
Mata Rina membulat kaget mendengar ucapan kelewat santai dari pemuda di depannya ini.
"Astaga Aldo, mereka itu licik sekali dan bisa melakukan hal curang untuk mensabotase bahanmu di galeri nanti."
"Di dalam galeri kompetisi hanya ada wajan, pisau, dan api kompor, Rina."
"Uang dan kekayaan mereka tidak bisa membuat sayuran terpotong sendiri atau membuat kuah menjadi enak di mulut juri."
Mendengar jawaban yang penuh keyakinan dan logika itu, Rina kembali tersenyum lega.
Dia semakin kagum dengan mental baja yang dimiliki oleh pemuda yatim piatu tersebut.
Kringgg.
Pagi hari kembali menyapa asrama karantina Master Chef dengan sinar mentari yang menembus kaca jendela kamar.
Para peserta sudah kembali berkumpul di ruang tunggu studio utama dengan mengenakan celemek putih kebanggaan mereka masing masing.
Wajah wajah mereka terlihat sedikit lebih tegang dari biasanya karena jumlah peserta kini semakin berkurang dan kompetisi makin ketat.
Teeet.
Pintu ganda galeri terbuka lebar dan mereka berjalan masuk dengan langkah yang berbaris rapi.
Ketiga juri sudah berdiri tegap di atas podium menunggu kedatangan para calon koki masa depan tersebut.
"Selamat pagi semuanya," sapa Chef Bram dengan suara beratnya yang menggema.
"Selamat pagi Chef!" jawab seluruh peserta serempak dengan suara lantang memecah keheningan.
Chef Arya melipat tangannya dan menatap satu per satu wajah peserta dari ujung kiri hingga ke ujung kanan barisan.
"Hari ini kami akan menguji apakah kalian bisa mempercayai orang lain di dapur selain ego kalian sendiri."
"Tantangan hari ini adalah Tag Team Challenge atau tantangan memasak estafet berpasangan," lanjut Chef Renata menjelaskan aturan main.
Suara bisik bisik panik langsung terdengar memenuhi ruangan galeri baja yang luas itu.
Tantangan estafet adalah salah satu tantangan paling dihindari karena mereka tidak akan memasak secara bersamaan.
"Kalian akan dibagi menjadi kelompok yang hanya terdiri dari dua orang," ucap Chef Bram.
"Tapi hanya satu orang yang boleh memasak di dapur dalam satu waktu, sementara rekannya wajib menunggu di luar garis batas."
"Setiap lima belas menit kalian harus bergantian posisi memasak setelah mendengar suara sirine dari kami."
Aldo mengerutkan dahinya dalam dalam mendengar aturan yang sangat menyulitkan alur kerja sistematis sebuah dapur tersebut.
"Ini artinya aku harus membuang egoku dan mengandalkan insting orang lain untuk melanjutkan masakanku," batin Aldo menganalisis cepat.
"Dan untuk pasangan kalian hari ini, kami sudah menentukannya secara mutlak berdasarkan tingkat kemampuan kalian kemarin."
Chef Renata mengambil sebuah tablet dan mulai membacakan daftar nama pasangan peserta satu per satu.
Nama Kevin dipanggil dan dia dipasangkan dengan Leo yang merupakan teman satu gengnya dan sesama lulusan sekolah kuliner.
Keduanya langsung melakukan tos tangan dengan sangat bangga dan tertawa penuh kemenangan menatap peserta lain.
"Ini adalah kemenangan mudah untuk kita, Leo," ucap Kevin dengan gaya sombongnya yang khas.
"Rina Anatasya, kamu berpasangan dengan Danang," panggil Chef Renata membacakan daftar selanjutnya.
Rina langsung menepuk jidatnya dengan lesu saat mendengar nama Danang kembali menghantui hidupnya.
Mantan kapten gagal itu berjalan menghampiri Rina dengan dada membusung seolah dia tidak pernah membuat kesalahan besar kemarin.
"Tenang saja Rina, kali ini aku akan memimpin tim kita dengan resep barat yang benar," ucap Danang sok percaya diri.
"Tolong jangan buat aku pulang menangis hari ini ya Mas Danang," jawab Rina dengan suara memelas penuh keputusasaan.
Kini giliran nama Aldo yang dipanggil oleh dewan juri untuk menemukan pasangannya.
"Aldo Raditya, kamu akan berpasangan dengan Jojo," panggil Chef Bram membacakan tabletnya.
Aldo langsung menoleh ke arah barisan belakang untuk mencari sosok yang bernama Jojo tersebut.
Seorang pemuda sangat kurus berkacamata tebal berjalan menghampiri Aldo dengan tubuh yang gemetar menahan takut.