Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Rencana Jahat Bernard
Bayangan dua pria di balik keremangan ruang klub eksklusif tampak sibuk merancangkan skenario penghancuran saham perusahaan.
Pemandangan itu tidak terjadi di depan mata telanjangku.
Sebuah jendela video holografik melayang transparan tepat di atas meja kerjaku. Rekaman itu adalah hasil intersepsi real-time dari kamera pengawas yang baru saja diretas secara rahasia oleh Sistem A.U.R.A.
[Dekripsi Saluran Komunikasi Tersembunyi Berhasil. Target Pemantauan: Bernard dan Dakhan.]
Teks hijau neon berkedip singkat di sudut mataku, menerangi kegelapan di lantai lima puluh lima gedung Vanguard Corp yang sunyi senyap.
Aku duduk sendirian di kursi asistenku. Pikiranku masih menajam setelah sistem otakku kembali pulih secara mandiri dari kelebihan beban beberapa jam yang lalu.
Di dalam proyeksi video tersebut, Bernard menyesap cerutunya dengan gerakan kasar. Asap tebal mengepul, menutupi sebagian wajah tuanya yang dipenuhi kerutan amarah kebencian.
"Sakti dan asisten rendahan itu telah mempermalukan kita berdua di depan seluruh dewan direksi," desis Bernard. Suaranya tertangkap jernih oleh mikrofon tersembunyi yang disadap oleh sistemku.
Dakhan duduk gelisah di kursi seberangnya. Pria itu tampak sepucat kertas, terus meremas gelas kristal di tangannya.
"Lalu apa rencanamu sekarang, Bernard? Sakti memegang kendali penuh atas sistem keamanan internal. Kita tidak bisa lagi memalsukan laporan keuangan dari dalam," keluh Dakhan dengan nada putus asa.
Bernard tersenyum miring. Senyum yang menyimpan kelicikan luar biasa.
Pria tua itu meletakkan cerutunya perlahan, lalu menekan sebuah tombol interkom di bawah meja.
Pintu ruang VIP klub itu terdorong buka. Seorang pria muda melangkah masuk dengan langkah ringan yang terlampau percaya diri.
Pria itu mengenakan setelan jaket serba hitam. Tudung jaketnya dibiarkan jatuh ke belakang, memperlihatkan wajah yang tajam dengan sorot mata yang mengisyaratkan kejeniusan liar dan tak terkendali.
"Perkenalkan," ucap Bernard, suaranya dipenuhi kemenangan yang arogan. "Ini Valmus."
[Memindai Identitas Wajah. Subjek: Valmus. Profil: Peretas Tingkat Tinggi Bawah Tanah. Tingkat Ancaman Siber: Ekstrem.]
Sistem A.U.R.A merespons seketika di dalam kepalaku. Peringatan merah berdenyut menyakitkan di retinaku.
Bernard dan Dakhan ternyata telah bersekutu untuk merekrut peretas jenius bernama Valmus tersebut.
Tujuan mereka menyewa pria itu hanya satu. Mereka menugaskan Valmus untuk melumpuhkan jaringan siber Vanguard secara total dari luar gedung.
"Aku tidak peduli berapa miliar yang kau minta untuk bayaranmu," ancam Bernard kepada Valmus. "Hancurkan firewall utama Vanguard malam ini juga. Buat harga saham mereka terjun bebas besok pagi, dan aku akan memiliki alasan kuat untuk menggulingkan Sakti dari kursi CEO."
Valmus hanya mendengus pelan. Ia menarik sebuah kursi dan duduk bersandar dengan postur tubuh meremehkan.
"Sistem keamanan korporat kelas atas yang sangat kalian takuti itu hanyalah taman bermain bagiku," jawab Valmus dingin. "Beri aku waktu dua jam. Seluruh pangkalan data Vanguard akan hangus tak bersisa."
Koneksi video mendadak terputus.
Layar holografik di mataku hancur menjadi serpihan piksel hijau sebelum akhirnya memudar ditelan udara kosong.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Udara dari ventilasi pendingin ruangan di atasku terasa semakin menusuk tulang.
Aku menatap lurus ke arah layar monitor komputetku. Semua grafik arus data perusahaan masih terlihat stabil dan bergerak dalam parameter hijau yang normal.
Jam digital di sudut layarku menunjukkan pukul dua dini hari.
Sakti sedang beristirahat di kediamannya malam ini. Pria yang kucintai itu sama sekali tidak menyadari badai besar yang sedang bergerak sunyi menuju infrastruktur perusahaannya.
Aku mencengkeram tepi meja kaca kuat-kuat.
Aku tidak akan membiarkan Bernard menghancurkan perusahaan ini. Aku tidak akan membiarkan posisi Sakti dirampas begitu saja oleh kelicikan para pengkhianat.
[Peringatan Darurat: Lonjakan Lalu Lintas Data Ilegal Terdeteksi di Sektor Pertahanan Sektor Barat.]
Suara mekanis A.U.R.A bergema sangat tajam di dalam tengkorakku, diiringi denyutan nyeri yang seketika menghantam pelipisku.
Warna hijau di pandanganku mendadak berubah menjadi merah darah. Baris-baris kode serangan meluncur turun dengan brutal layaknya badai meteor di dalam pandanganku.
Valmus telah memulai pergerakannya.
Aku segera menarik keyboard mendekat. Jemariku melayang siaga di atas tombol-tombol yang mulai aus karena intensitas kerjaku.
"Mari kita lihat seberapa hebat taman bermain ini untukmu, Valmus," gumamku dengan suara pelan namun penuh determinasi mematikan.
Layar monitorku berkedip liar. Puluhan jendela terminal perintah perlindungan terbuka secara beruntun dalam hitungan milidetik.
Sistem A.U.R.A memompa aliran dopamin dan memacu jaringan sarafku hingga menembus batas maksimal seorang manusia. Kecepatan pemrosesan otakku melesat tajam, menyatu erat dengan perangkat keras di hadapanku.
Valmus meluncurkan serangan DDoS berskala raksasa di menit pertama. Ia membanjiri gerbang utama server Vanguard dengan jutaan permintaan akses palsu untuk membuat sistem kelebihan beban dan hancur.
[Analisis Pola Serangan: Subjek menggunakan penyebaran botnet dari tiga negara berbeda. Estimasi keruntuhan server utama: 45 detik.]
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," desisku tanpa gentar.
Jemariku menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang mustahil diikuti oleh mata biasa. Suara ketukan tombol menggema di ruangan sunyi layaknya rentetan peluru baja.
Aku mengetikkan barisan kode pertahanan baru. Aku menciptakan ratusan simpul server palsu berkapasitas kosong hanya dalam hitungan lima belas detik.
Seluruh serangan masif pembuka Valmus langsung tersedot habis ke dalam ruang hampa yang kubuat. Server utama Vanguard selamat dari kelumpuhan pertama tanpa lecet sedikit pun.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Keheningan napasku tidak berlangsung lama. Peringatan merah kembali meledak di depan mataku.
Valmus segera menyadari bahwa serangan pembukanya telah ditelan habis tanpa sisa. Ia mengubah strateginya dengan kecepatan komputasi yang sangat mengagumkan.
[Peringatan: Upaya Injeksi Malware Terdeteksi. Target Utama: Pangkalan Data Klien VIP Eksekutif.]
Peretas itu menembakkan barisan cacing virus yang dirancang khusus untuk menghapus seluruh rekam jejak finansial klien penting Vanguard.
Aku mengerang pelan menahan sakit. Sensasi panas merayap liar di belakang leherku seiring dengan volume beban logika yang harus segera kuproses.
Aku mengetik algoritma karantina paksa. Aku memisahkan jaringan data klien dari server utama, membungkus cacing virus maut itu di dalam kotak pasir virtual berlapis, dan menghancurkannya berkeping-keping.
Di tempat persembunyiannya yang jauh dari sini, Valmus pasti sedang menggertakkan gigi menahan amarah.
Namun, Valmus akhirnya menyadari sebuah kejanggalan yang sangat mengejutkan egonya.
Pria jenius itu mendapati sebuah fakta bahwa setiap celah serangan yang ia buat selalu berhasil diblokir dengan presisi yang tidak masuk akal.
Blokade sistemku tidak memiliki pola berulang layaknya perangkat lunak pertahanan otomatis korporat pada umumnya.
Pertahanan ini memiliki insting hidup. Pertahanan ini mampu membaca setiap arah pikirannya sebelum serangannya selesai dikirim.
Valmus menelusuri balik jejak IP yang terus mematahkan senjatanya. Ia menyadari bahwa seluruh analisis balasan itu bersumber secara manual dari satu titik mesin.
Bukan berasal dari ruang kendali keamanan tingkat tinggi Vanguard, melainkan bersumber langsung dari komputer kerjaku di atas meja asisten.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Aku sama sekali tidak membiarkan Valmus memiliki waktu untuk memikirkan kejanggalan identitasku.
Kini giliranku untuk mengirimkan pukulan mematikan.
[Memulai Protokol Pelacakan Balik. Target Operasi: Titik IP Address Valmus.]
Sistem A.U.R.A mengirimkan paket data pelacak berukuran mikroskopis yang kubiarkan menempel pada sisa-sisa koneksi Valmus yang terputus.
Aku memaksa masuk menembus tiga lapis firewall pribadi milik peretas itu hanya dengan sepuluh baris kode logika.
Sebuah jendela video kecil tiba-tiba muncul dan terbuka lebar di sudut layar monitorku.
Aku berhasil meretas kamera web dari laptop utama milik Valmus.
Tampilan seorang pria berwajah keras yang disinari pendar cahaya biru dari monitornya tampak sangat jelas. Mata kelabu pria itu membelalak lebar.
Valmus menatap layar komputernya yang kini terkunci penuh akibat retasan balikku. Sebuah pesan peringatan berwarna hijau terang berkedip mengejeknya: "Akses Ditolak Oleh Sistem."
Napas Valmus terdengar memburu kencang. Ia baru saja mengalami kekalahan absolut pertamanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit.
Pria yang disewa dengan harga miliaran rupiah oleh Bernard itu bahkan tidak mampu melewati meja keamanan seorang asisten eksekutif.
Valmus menatap lurus ke arah lensa kameranya yang berkedip merekamnya, seolah ia bisa merasakan tatapan dingin mataku yang sedang mengawasinya dari seberang kota.
Ia mencari nama identitas yang baru saja menghancurkan seluruh harga diri dan karir retasannya malam ini. Layarnya hanya menampilkan satu kata tunggal nama administrator: Tera.
Alih-alih meluapkan amarah yang menggebu atau rasa frustrasi, wajah keras peretas itu justru berubah sangat rileks.
Valmus mengukir senyum tertantang di wajahnya saat bergumam, "Wanita bernama Tera ini... dia lawan yang sangat menarik."
Detik berikutnya, Valmus memutus daya perangkat keras komputernya secara paksa.
Jendela video retasan di layarku berubah menjadi hitam pekat tanpa sinyal.
Pertempuran malam ini telah usai. Aku melepaskan kedua tangan dari keyboard yang terasa sangat panas, membiarkan punggungku bersandar lemas pada bantalan kursi.
Vanguard Corp masih berdiri kokoh malam ini. Dan selama jantungku masih berdetak, aku akan terus menjadi perisai tak tertembus bagi posisi pria yang sangat kucintai.
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?