Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 22
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 22 — Saudara yang Tersembunyi
“Aku tahu siapa.”
Suara Adrian terdengar berat.
Clara yang baru saja hendak menaiki tangga langsung berhenti.
Fedro menatap Adrian dengan penuh kewaspadaan.
Raka dan Rafael saling berpandangan.
Sementara Amara terlihat semakin pucat.
Clara perlahan berbalik.
“Papi tahu siapa orang yang paling aku percaya?”
Adrian mengangguk.
“Ya.”
“Siapa?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia justru berjalan mendekati Clara.
Namun baru beberapa langkah, Clara mengangkat tangannya.
“Jangan mendekat dulu.”
Adrian berhenti.
Clara menatap ayahnya dengan mata penuh pertanyaan.
“Sejak awal semua orang menyembunyikan sesuatu dariku.”
“Clara…”
“Papi tahu tentang E-17.”
Adrian terdiam.
“Papi tahu tentang Alena.”
Adrian kembali diam.
“Dan sekarang Papi mengatakan Alena bukan satu-satunya saudaraku.”
Clara menarik napas panjang.
“Berapa banyak sebenarnya rahasia yang Papi simpan?”
Adrian menundukkan kepala.
“Lebih banyak dari yang seharusnya.”
Clara merasa dadanya sesak.
“Kalau begitu sekarang waktunya Papi bicara.”
Adrian menatap putrinya.
“Baik.”
Ia menghela napas.
“Kamu memang memiliki lebih dari satu saudara.”
Clara membeku.
“Berapa?”
Adrian terdiam cukup lama.
“Dua.”
Raka mengerutkan kening.
“Dua saudara?”
Adrian mengangguk.
“Alena adalah anak pertama.”
Clara menatap foto Alena yang masih berada di tangannya.
“Lalu siapa anak kedua?”
Adrian menatap Amara.
Amara memejamkan mata.
Seolah nama itu terlalu berat untuk diucapkan.
“Namanya…” Adrian berhenti.
“Aria.”
Clara langsung mengangkat kepala.
“Aria?”
Rafael tampak terkejut.
“Jadi Aria benar-benar saudara Clara?”
Adrian mengangguk.
“Ya.”
Clara semakin bingung.
“Tapi bukankah Aria selama ini mengatakan bahwa dirinya adalah anak ketiga?”
Adrian menjawab,
“Itulah kebohongannya.”
Rafael langsung maju.
“Jadi selama ini Aria menyembunyikan identitasnya?”
“Bukan.”
Adrian menggeleng.
“Aria bahkan tidak mengetahui kebenaran tentang dirinya sendiri.”
Clara mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Adrian menatap putrinya.
“Karena ketika Aria lahir, keluarga kita sedang berada dalam bahaya.”
Amara mulai menangis.
“Waktu itu kami terpaksa memisahkan anak-anak kami.”
Clara menatap ibunya.
“Mami…”
“Alena dibawa oleh seseorang yang kami percaya.”
“Siapa?”
Amara tidak menjawab.
Adrian melanjutkan.
“Sedangkan Aria…”
Ia berhenti.
“Aria diserahkan kepada keluarga lain.”
Clara terdiam.
“Dan aku?”
Adrian menatapnya.
“Kamu tetap bersama kami.”
“Kenapa?”
“Karena saat itu E-17 sudah aktif.”
Clara menggenggam liontin di lehernya.
“Jadi aku sengaja dipertahankan karena kunci itu?”
“Tidak.”
Adrian langsung menggeleng.
“Kamu dipertahankan karena kami ingin melindungimu.”
Clara menatap ayahnya.
“Lalu kenapa semua orang yang mendekatiku selalu menjadi sasaran?”
Adrian tidak menjawab.
Fedro akhirnya angkat bicara.
“Karena siapa pun yang dekat dengan Clara akan dianggap sebagai bagian dari keluarga Evellyn.”
Adrian mengangguk.
“Benar.”
Clara memandang suaminya.
“Dan itu membuatmu juga menjadi target.”
Fedro tersenyum tipis.
“Aku sudah tahu risikonya sejak memilih berdiri di sisimu.”
Clara menggenggam tangannya.
“Terima kasih.”
Fedro membalas genggaman itu.
Namun suasana kembali tegang ketika ponsel Clara bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Jangan percaya Adrian.
Clara menatap layar.
Wajahnya berubah.
Adrian memperhatikan.
“Apa?”
Clara menunjukkan pesan itu.
Raka segera membaca.
“Nomor tidak dikenal.”
Rafael mengerutkan kening.
“Bisa jadi Damian.”
Amara menggeleng.
“Bukan.”
Semua menatap Amara.
“Kenapa Mami yakin?”
Amara terlihat ragu.
“Karena Damian tidak pernah menggunakan pesan seperti itu.”
“Lalu siapa?”
Amara menatap layar.
“Aku tidak tahu.”
Tiba-tiba pesan kedua masuk.
Alena tidak berada di rumah sakit.
Clara menahan napas.
Pesan ketiga muncul.
Dia berada di tempat pertama kali kalian bertemu.
Clara mengerutkan kening.
“Tempat pertama kali kita bertemu?”
Rafael langsung berkata,
“Pasar lama?”
Raka menggeleng.
“Bukan.”
Fedro berpikir sejenak.
“Clara pertama kali bertemu Alena?”
Clara mencoba mengingat.
Ia terdiam beberapa saat.
“Aku tidak pernah bertemu Alena secara langsung.”
Rafael mengangguk.
“Benar.”
Clara melihat foto di tangannya.
“Kalau begitu maksudnya bukan aku dan Alena.”
Ia menatap Adrian.
“Papi.”
Adrian langsung memahami.
“Tempat pertama kali keluarga Evellyn bertemu Damian.”
Amara menutup mulutnya.
“Gudang lama.”
Rafael mengangguk.
“Gudang tua di kawasan pelabuhan.”
Clara menatap mereka.
“Alena ada di sana?”
Adrian menjawab,
“Kemungkinan besar.”
Fedro langsung mengambil jaketnya.
“Kita berangkat sekarang.”
Raka menghentikannya.
“Tunggu.”
“Apa?”
“Kita tidak boleh bergerak sesuai keinginan musuh.”
Raka menunjuk pesan.
“Kalau pesan ini sengaja dikirim untuk memancing kita ke gudang, kita bisa masuk ke perangkap.”
Clara mengangguk.
“Benar.”
Rafael berkata,
“Kita butuh cara memastikan Alena benar-benar ada di sana.”
Clara menatap ponselnya.
“Aku punya cara.”
Semua melihatnya.
“Aku akan menelepon nomor Alena.”
“Bagaimana kalau tidak diangkat?” tanya Fedro.
“Kalau dia tidak mengangkat, kita tahu ada sesuatu.”
Clara menekan tombol panggil.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Clara hampir memutuskan sambungan ketika terdengar suara.
“Halo?”
Clara membeku.
“Alena?”
Suara di seberang terdengar lemah.
“Clara…”
“Di mana kamu?”
“Jangan datang.”
“Alena, jawab aku!”
Hening.
Kemudian suara Alena terdengar sangat pelan.
“Aku berada di gudang lama.”
Semua orang langsung saling berpandangan.
Clara menutup mulutnya.
“Benar-benar di sana?”
“Ya.”
“Apakah kamu terluka?”
“Tidak parah.”
Clara menarik napas lega.
“Siapa yang bersamamu?”
Alena tidak menjawab.
“Alena?”
Hening.
Kemudian terdengar suara pria di belakangnya.
“Waktumu sudah habis.”
Sambungan langsung terputus.
Clara membeku.
Fedro mengambil ponselnya.
“Sekarang kita tahu dia memang di sana.”
Raka mengangguk.
“Tapi kita tetap harus hati-hati.”
Adrian berjalan menuju pintu.
“Aku ikut.”
Clara menatap ayahnya.
“Papi juga?”
“Ini keluargaku.”
Amara ikut mengambil tasnya.
“Aku juga.”
Adrian menatap istrinya.
“Tidak.”
“Aku tidak akan membiarkan anakku menghadapi ini sendirian.”
Clara menatap kedua orang tuanya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan di mata mereka.
Bukan ketakutan terhadap Damian.
Melainkan ketakutan kehilangan anak lagi.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka tiba di kawasan pelabuhan lama.
Gudang tua itu berdiri dalam kegelapan.
Tidak ada lampu.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada penjaga.
Terlalu sepi.
Raka turun dari mobil lebih dulu.
Ia melihat sekeliling.
“Tidak ada orang.”
Rafael memeriksa sisi bangunan.
“Tidak ada tanda aktivitas.”
Clara turun bersama Fedro.
“Padahal Alena mengatakan dia ada di sini.”
Fedro menggenggam tangannya.
“Jangan jauh dariku.”
Mereka masuk.
Pintu gudang terbuka sedikit.
Raka mengangkat tangannya.
“Berhenti.”
Semua berhenti.
Raka menunjuk lantai.
Ada jejak kaki.
Beberapa di antaranya masih baru.
“Mereka ada di sini.”
Mereka berjalan perlahan.
Semakin dalam, Clara mulai mendengar suara.
Suara perempuan menangis.
“Alena!”
Clara hendak berlari.
Fedro menahannya.
“Pelan.”
Mereka mengikuti suara itu.
Kemudian menemukan sebuah ruangan kecil.
Di sana Alena duduk di kursi.
Tangannya tidak terikat.
Namun di belakangnya berdiri dua orang pria.
Clara langsung maju.
“Alena!”
Alena mengangkat wajah.
“Clara!”
Salah satu pria mengangkat senjata.
“Jangan mendekat.”
Fedro langsung berdiri di depan Clara.
Raka dan Rafael mengangkat tangan mereka.
“Tenang.”
Pria itu tertawa.
“Kalian akhirnya datang.”
Clara menatap Alena.
“Kamu baik-baik saja?”
Alena mengangguk.
“Aku baik.”
“Siapa mereka?”
Alena tidak menjawab.
Ia justru menatap Adrian.
“Papi…”
Adrian langsung maju.
“Alena.”
Clara membeku.
“Papi mengenalnya?”
Adrian mengangguk.
“Tentu.”
Alena tersenyum sedih.
“Sudah lama sekali.”
Clara menatap Adrian.
“Jadi Papi memang pernah bertemu dengannya?”
“Ya.”
“Kenapa Papi tidak pernah mengatakan bahwa Alena masih hidup?”
Adrian terdiam.
Alena menjawab,
“Karena aku sendiri meminta dia merahasiakannya.”
Clara menatap Alena.
“Kenapa?”
“Karena aku sedang menyelidiki seseorang.”
“Siapa?”
Alena menatap salah satu pria di belakangnya.
Kemudian berkata,
“Orang yang selama ini mengendalikan Damian.”
Rafael langsung tegang.
“Siapa?”
Alena menarik napas.
“Aku belum tahu namanya.”
Clara mengerutkan kening.
“Lalu kenapa kamu yakin dia ada di keluarga Evellyn?”
Alena menatap Adrian.
“Karena orang itu memiliki akses ke semua dokumen E-17.”
Adrian langsung membeku.
“Tidak mungkin.”
“Aku menemukan bukti.”
Alena mengeluarkan sebuah flashdisk kecil.
“Semua data ada di sini.”
Raka hendak mengambilnya.
Namun tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan.
Pelan.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Semua menoleh.
Dari sudut gudang muncul seorang pria.
Clara langsung membeku.
Pria itu tersenyum.
“Bagus.”
Damian.
Ia berjalan perlahan.
“Kalian semua berkumpul di sini.”
Fedro berdiri di depan Clara.
Damian menatapnya.
“Selalu menjadi pelindung yang baik.”
Clara berkata,
“Lepaskan Alena.”
Damian tertawa.
“Dia tidak pernah menjadi tahananku.”
Clara mengerutkan kening.
“Apa?”
Alena berdiri.
Dua pria di belakangnya justru mundur.
Damian berkata,
“Alena datang ke sini atas kemauannya sendiri.”
Clara menatap kakaknya.
“Benarkah?”
Alena mengangguk.
“Aku sengaja membuat kalian datang.”
Clara terkejut.
“Kenapa?”
Alena berjalan mendekat.
“Karena ada sesuatu yang harus kamu lihat.”
Ia menyerahkan flashdisk kepada Clara.
“Ini bukan tentang E-17.”
Clara menatap benda itu.
“Lalu?”
Alena menatap Adrian.
“Ini tentang anak ketiga.”
Semua terdiam.
Clara menelan ludah.
“Aria?”
Alena menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
Alena menatap Clara.
“Kamu.”
Clara membeku.
“Apa?”
“Kamu bukan anak ketiga.”
Adrian langsung menutup mata.
Amara mulai menangis.
Clara menatap mereka.
“Papi?”
Alena berkata,
“Urutan kelahiran kita dipalsukan.”
Clara tidak mampu berkata-kata.
Alena melanjutkan,
“Aku lahir pertama.”
“Aria lahir kedua.”
“Kamu lahir…”
Ia berhenti.
Clara menahan napas.
“…sebelum Aria.”
Clara membelalak.
“Jadi aku…”
“Kamu bukan anak ketiga.”
Alena menatapnya penuh kesedihan.
“Kamu adalah anak kedua.”
Clara menoleh kepada Adrian.
“Kalau begitu Aria?”
Adrian akhirnya berkata,
“Aria adalah anak ketiga.”
Clara merasa seluruh dunia berputar.
“Kenapa selama ini aku disebut anak ketiga?”
Adrian menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Karena kami ingin melindungi Aria.”
“Dari siapa?”
Sebelum Adrian menjawab, Damian tertawa kecil.
“Dari orang yang sekarang sedang berdiri di antara kalian.”
Semua langsung waspada.
Clara melihat satu per satu orang di sekitarnya.
Kemudian Damian berkata,
“Pengkhianat itu tidak pernah pergi.”
“Dia ada di sini.”
“Dan selama ini…”
Damian menatap seseorang.
“…dia berhasil membuat kalian percaya bahwa dirinya adalah korban.”
Clara mengikuti arah pandangan Damian.
Wajahnya langsung berubah.
Karena Damian tidak menunjuk Adrian.
Tidak juga Amara.
Bukan Raka.
Bukan Rafael.
Bukan Fedro.
Damian menunjuk ke belakang Clara.
Seseorang berdiri dalam kegelapan.
Seseorang yang baru saja tiba.
Suara perempuan terdengar.
“Damian, cukup.”
Clara perlahan berbalik.
Matanya membesar.
“Aria?”
Aria berdiri di sana.
Namun wajahnya tidak lagi terlihat lembut seperti yang Clara kenal.
Tatapannya dingin.
Sangat dingin.
Ia tersenyum tipis.
“Sudah waktunya kalian mengetahui semuanya.”
Clara mundur satu langkah.
“Aria…”
Aria menatapnya.
“Maaf, Kak.”
Clara membeku.
Itulah pertama kalinya Aria memanggilnya kakak.
Namun sebelum Clara sempat menjawab, Aria mengangkat tangannya.
Lampu gudang tiba-tiba menyala.
Di belakang Aria berdiri puluhan orang.
Semua mengenakan pakaian hitam.
Raka langsung mengangkat senjata.
Fedro menarik Clara ke belakangnya.
Adrian menatap Aria dengan wajah hancur.
“Aria…”
Aria tersenyum.
“Maaf, Ayah.”
Clara membeku.
Ayah?
Aria kemudian berkata,
“Sekarang waktunya keluarga Evellyn membayar semua kesalahan masa lalu.”
Bersambung…