Yun Luofeng dikenal sebagai sampah Klan Yun—tak bisa berkultivasi, tergila-gila pada Putra Mahkota, bahkan menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Kekaisaran.
Namun setelah sebuah percobaan bunuh diri, Yun Luofeng yang lama telah tiada.
Kini, di dalam tubuhnya hidup seorang genius medis dari dunia lain, membawa Kitab Dewa Medis dan rahasia yang mampu mengguncang Benua Longxiao.
Mereka bilang dia sampah? Dia akan menjadi kultivator yang membuat para genius menundukkan kepala.
Mereka menghina keluarganya? Dia akan membuat mereka membayar.
Dan Putra Mahkota yang membuangnya?
Maaf, bahkan untuk menjadi pelayannya pun belum tentu memenuhi syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwinanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — SIAPA TABIB YANG SEBENARNYA?
Yun Luofeng berdiri santai di ambang pintu kapal. Tatapan hitamnya menyapu seluruh ruangan, tenang tetapi seolah sedang memandang orang-orang di hadapannya dari tempat yang jauh lebih tinggi.
Entah mengapa, beberapa orang yang sebelumnya paling keras menghinanya mendadak merasa tidak nyaman.
“Kau akhirnya datang.”
Mu Wushuang segera memulihkan ketenangannya. Dengan senyum anggun, dia berkata, “Kau terlambat.”
Yun Luofeng mengangkat alis.
“Menarik. Waktu yang tertulis dalam undangan baru saja tiba. Apa Putra Mahkota sengaja menuliskan waktu yang salah untukku?”
Mu Wushuang membeku sesaat.
Tentu saja dia tahu apa yang terjadi. Waktu dalam undangan itu diam-diam telah diubahnya agar Yun Luofeng datang lebih lambat daripada semua orang.
Namun dia tidak mungkin mengakuinya.
“Mungkin kami yang mengingat waktunya dengan keliru dan datang terlalu awal. Maaf, aku tidak seharusnya langsung menyalahkanmu.”
Gao Ling langsung mengernyit.
“Wushuang, kenapa kau meminta maaf kepadanya?”
Dia menarik Mu Wushuang ke dalam pelukannya.
“Waktu yang kutulis jelas lebih awal. Yun Luofeng yang terlambat, tetapi justru menyalahkanmu!”
Mu Wushuang pura-pura berusaha melepaskan diri.
“Yang Mulia, jangan seperti ini. Banyak orang melihat kita. Lagi pula, Yun Luofeng pernah menjadi tunanganmu.”
Ucapan itu justru membuat Gao Ling memeluknya semakin erat.
“Sebentar lagi kau akan menjadi istriku. Apa yang perlu disembunyikan?”
Tatapannya beralih kepada Yun Luofeng.
“Wushuang adalah genius kebanggaan Longyuan sekaligus murid Jing Lin. Di usia semuda ini, kemampuan medisnya sudah sangat baik. Bagaimana mungkin seseorang sepertimu dibandingkan dengannya?”
Mu Wushuang akhirnya berhenti meronta dan menyandarkan tubuh ke dada Gao Ling dengan wajah memerah.
Yun Luofeng menguap.
“Aku hanya punya satu nasihat untuk kalian.”
Semua orang menatapnya.
“Kalau terlalu suka memamerkan kemesraan, biasanya lebih cepat mendapat masalah.”
Wajah Gao Ling langsung menggelap.
Mu Wushuang buru-buru menahannya sebelum dia meledak.
“Sudahlah, Yang Mulia. Mungkin Yun Luofeng masih belum nyaman melihat kita bersama.”
Kemudian dia menoleh kepada Yun Luofeng.
“Aku mendengar akhir-akhir ini kau mulai tertarik mempelajari pengobatan. Kebetulan aku juga mendalami bidang itu. Bagaimana kalau kita berdiskusi?”
Guan Lin langsung tertawa.
“Nona Mu, bukankah itu terlalu merendahkan dirimu? Anda adalah murid Jing Lin, sedangkan dia hanya membeli tanaman obat untuk bermain-main. Aku bahkan heran belum ada orang yang mati keracunan karena percobaannya.”
Mu Wushuang mengerutkan kening seolah tidak menyukai ucapan tersebut.
“Guan Lin, semua orang memulai dari tidak tahu apa-apa. Setidaknya Yun Luofeng memiliki keinginan untuk belajar.”
Dia kembali menatap Yun Luofeng.
“Kalau seorang pemula belajar sendirian, banyak kesalahan yang akan dilakukan dan tanaman obat akan terbuang sia-sia. Aku bisa memberikan beberapa petunjuk. Mungkin hasilnya lebih berguna daripada membaca buku medis selama sepuluh tahun.”
Mu Wushuang sebenarnya yakin tawarannya akan ditolak.
Dengan sifat Yun Luofeng, mana mungkin gadis itu bersedia menerima bimbingannya di depan banyak orang?
“Baik.”
Jawaban santai itu membuat senyumnya menegang.
Yun Luofeng mengusap dagunya.
“Kebetulan aku punya satu pertanyaan. Bagaimana cara menetralisir Racun Man Luo?”
Mu Wushuang terdiam.
Dia tentu mengetahui racun tersebut. Persoalan Racun Man Luo pernah dipasang di dinding Paviliun Medis karena belum ada tabib yang mampu menemukan metode penyembuhannya.
“Racun Man Luo adalah persoalan yang bahkan membuat para tabib Paviliun Medis kesulitan,” jawabnya akhirnya. “Bahkan guruku mungkin tidak bisa langsung menjawabnya. Sebagai pemula, sebaiknya kau mempelajari dasar-dasar terlebih dahulu.”
Yun Luofeng tersenyum.
“Padahal metode penyembuhannya sangat sederhana.”
Dia bersandar kembali pada pintu.
“Kalau pertanyaan sesederhana itu saja tidak bisa kau jawab, dengan kemampuan apa kau ingin membimbingku?”
“Yun Luofeng!”
Gao Ling mengepalkan tangan.
“Jangan sengaja mempersulit Wushuang! Bahkan Paviliun Medis belum mampu menyelesaikan Racun Man Luo. Atas dasar apa kau mengatakan jawabannya sederhana?”
Ruangan seketika sunyi.
Gao Ling menatap Yun Luofeng dengan penuh kemarahan.
“Wushuang berniat baik mengajarimu, tetapi kau malah mempermalukannya. Orang sepertimu memang ditakdirkan tetap menjadi sampah!”
Belum sempat Yun Luofeng membalas, suara benda jatuh mendadak terdengar dari salah satu sisi ruangan.
Bruk!
Seorang lelaki tua ambruk ke lantai.
Wajahnya pucat, napasnya tersengal, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat.
“Kakek!”
Seorang gadis muda yang berada di sampingnya segera berlutut dan menyangga tubuh lelaki tua itu.
“Tolong! Siapa pun yang mampu menyelamatkan kakekku, Klan Ning akan berutang budi kepadanya!”
Tidak seorang pun bergerak.
Nama Klan Ning terasa asing bagi para bangsawan Longyuan, tetapi melihat pakaian dan sikap keduanya, jelas mereka bukan berasal dari keluarga biasa.
Melihat keadaan kakeknya semakin buruk, gadis itu menggigit bibir.
“Aku akan memberikan ginseng berusia seribu tahun kepada siapa pun yang mampu menyelamatkannya!”
Suasana langsung berubah.
“Ginseng seribu tahun?”
Beberapa orang sampai menarik napas tajam.
Bahkan Kaisar Longyuan hanya memiliki ginseng langka yang usianya masih jauh di bawah seribu tahun.
Guan Lin segera melihat kesempatan untuk kembali mengangkat Mu Wushuang.
“Nona, keberuntunganmu bagus. Di antara semua orang di sini, orang yang paling mungkin menyelamatkan kakekmu adalah Nona Mu Wushuang.”
Gadis itu langsung menoleh.
“Dia?”
“Tentu. Nona Mu adalah genius medis terbaik generasi muda Longyuan dan murid seorang tabib terkenal. Kemampuan medisnya luar biasa.”
Mata gadis Klan Ning langsung berbinar.
Dia segera menghampiri Mu Wushuang.
“Nona Mu, kumohon selamatkan kakekku. Selama beliau selamat, bukan hanya ginseng seribu tahun yang akan kuberikan. Klan Ning juga akan mengingat kebaikanmu.”
Mu Wushuang sebenarnya tidak mengetahui penyakit lelaki tua tersebut.
Namun di hadapan begitu banyak orang, dia tidak mungkin mundur.
“Aku tidak berani menjanjikan apa pun. Aku hanya bisa mencoba sebaik mungkin.”
“Nona Mu terlalu rendah hati!” Guan Lin kembali memujinya. “Kalau bahkan dirimu tidak mampu menyelamatkannya, siapa lagi yang bisa?”
Gadis Klan Ning semakin berharap.
Dia dan kakeknya sebenarnya sedang bepergian mencari tabib terkenal. Bahkan para tabib Paviliun Medis hanya mampu memperpanjang hidup sang kakek tanpa menyembuhkan penyakitnya.
Mendengar Mu Wushuang adalah murid tabib terkenal, dia mulai menduga gurunya mungkin sosok legendaris yang selama ini mereka cari.
Mu Wushuang berjalan mendekati lelaki tua tersebut.
Di belakangnya, Yun Luofeng tetap bersandar santai dengan kedua tangan terlipat.
Tatapannya jatuh pada pasien yang terbaring di lantai, kemudian berpindah kepada Mu Wushuang.
Sebuah senyum penuh arti muncul di bibirnya.
Guan Lin yang melihatnya langsung mendengus.
“Apa yang kau tertawakan? Di tempat ini, kemampuan medis Nona Mu adalah yang terbaik. Jangan bilang kau mengira dirimu mampu menyembuhkan penyakit yang bahkan tabib lain tidak sanggup tangani?”
Yun Luofeng tidak menjawab.
Senyumnya justru semakin dalam.
Sebab hanya dengan beberapa kali mengamati napas, warna kulit, dan gerakan tubuh lelaki tua itu, dia sudah mengetahui satu hal.
Jika Mu Wushuang salah mengambil langkah dalam pengobatan...
Lelaki tua tersebut bukan akan sembuh.
Nyawanya justru bisa berada dalam bahaya.
......................
Bersambung...