Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Langit Senja di Atas Menara
Cahaya matahari sore perlahan meredup, menyisakan bias jingga kemerahan yang membentang luas di atas langit ibu kota. Dari balik dinding kaca panorama setinggi tiga lantai di ruang kerja pribadi lantai paling atas menara Lu Group, pemandangan kota tampak begitu megah sekaligus menenggelamkan. Namun, keindahan gemerlap lampu gedung-gedung pencakar langit di bawah sana sama sekali tidak mampu mencuri perhatian Lu Jingyan yang berdiri terpaku di depan kaca.
Di tangannya, sebuah arloji saku bersepuh perak tua milik Chen Guowei berdetik pelan. Jarum jam kecil di dalam benda pusaka peninggalan masa lalu itu terus berputar, mengingatkannya pada satu angka mutlak yang tidak bisa ditawar oleh waktu manapun di alam semesta ini.
Tinggal 362 hari.
Waktu hidupnya dalam raga Lu Jingyan berkurang satu hari lagi. Setiap kali fajar berganti petang, ia dapat merasakan denyut asing di dalam aliran darahnya—sebuah pengingat bahwa kontrak jiwanya bersama sang takdir memiliki batas kedaluwarsa yang kejam. Namun, alih-alih merasa gentar, dadanya justru dipenuhi oleh kelegaan yang luar biasa setelah kunjungannya ke makam beberapa waktu lalu. Sisa-sisa duri di dewan direksi telah tercabut bersih, nama baik keluarganya telah dipulihkan di hadapan publik, dan yang paling penting, Lin Meiying serta putrinya kini bisa bernapas lega tanpa dihantui teror kemiskinan dan ancaman pengusiran.
Pintu kayu mahoni ruang kerja diketuk perlahan sebanyak dua kali.
"Masuk," ucap Jingyan tanpa membalikkan badan.
Sekretaris Han melangkah masuk dengan langkah mantap namun hati-hati. Di tangannya, ia membawa sebuah map dokumen tipis berlogo biru tua—laporan akhir mengenai restrukturisasi aset keluarga dan pengalihan dana amanah rahasia untuk masa depan Lin Meiying.
"Semua instruksi Anda sudah diselesaikan dengan sempurna, Tuan Muda," lapor Sekretaris Han dengan suara tertahan. "Akun perwalian independen atas nama Chen Anqi telah diaktifkan secara resmi di bank sentral. Seluruh dividen saham tahunan dari portofolio pribadi Anda akan dialirkan otomatis ke rekening tersebut setiap bulan tanpa bisa diganggu gugat oleh klaim korporasi mana pun di masa depan."
Jingyan mengangguk pelan. Ia memasukkan arloji saku perak itu kembali ke dalam saku rompinya, lalu berbalik menghadap asisten setianya. "Bagus. Pastikan tidak ada celah hukum sekecil apa pun yang bisa dimanfaatkan oleh kerabat jauh keluarga Lu atau pihak luar untuk merampas hak mereka."
"Saya sudah memastikan pengacara senior terbaik kita menyusun klausul kontrak yang paling ketat," jawab Sekretaris Han. Ia ragu-ragu sejenak sebelum kembali bersuara, "Omong-omong... apa Anda benar-benar tidak berniat menemui Nyonya Meiying secara terbuka dan mengatakan yang sebenarnya? Sekarang setelah semuanya aman, beliau berhak tahu bahwa suami yang dicintainya tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia ini."
Mendengar pertanyaan itu, Jingyan terdiam lama. Pandangannya menerawang jauh menembus kaca jendela. Ia tahu betul betapa besar keinginan hatinya untuk memeluk wanita itu, menghapus setiap sisa air matanya, dan hidup bersama sebagai sebuah keluarga utuh layaknya manusia normal.
Namun, ia juga tahu konsekuensi dari takdir yang ia jalani. Jiwanya adalah jiwa pinjaman yang suatu saat harus membayar harga setimpal. Jika Meiying terlalu dalam mengenal sosok barunya saat ini, perpisahan di akhir batas waktu nanti akan menghancurkan hati wanita itu untuk kedua kalinya dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.
"Biarkan waktu yang menyembuhkan semuanya, Han," ujar Jingyan dengan suara parau namun tegas. "Terkadang, kebenaran yang terlalu rumit justru menjadi beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh orang yang kita cintai. Cukup pastikan mereka berdiri di bawah cahaya matahari yang hangat—hanya itu tujuan utamaku kembali ke sini."
Di belahan kota yang lain, di dalam rumah kontrakan sempit di distrik utara, suasana sore terasa jauh lebih hangat daripada hari-hari biasanya.
Lin Meiying duduk di atas kursi kayu kecil di depan meja dapur darurat, sibuk merapikan beberapa buku tulis sekolah Anqi ke dalam tas ransel merah muda milik putrinya. Di atas kompor kecil di sampingnya, panci berisi sup ayam hangat mengepulkan uap harum yang memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma nasi putih yang baru saja matang.
Ibunya sudah duduk bersandar tenang di atas ranjang busa, tersenyum kecil melihat cucunya berlarian kecil membawa boneka kelinci usang ke sana kemari.
Hidup mereka memang belum berubah menjadi kaum bangsawan kaya raya. Kontrakan ini masihlah tempat yang sama, dengan dinding semen yang mengelupas dan lemari plastik yang patah engselnya. Namun, ada perbedaan besar yang meresap ke dalam udara rumah itu: ketenangan. Tidak ada lagi surat tunggakan merah terang di balik pintu, tidak ada lagi kecemasan akan ancaman pengusiran esok pagi, dan yang paling melegakan, nama baik almarhum suaminya telah dibersihkan secara terhormat dari segala fitnah keji korporasi.
Meiying merogoh saku jaketnya, mengeluarkan amplop cokelat berisi surat peninggalan terakhir Guowei serta kliping berita koran tentang kejatuhan para petinggi Lu Group. Ia menatap lembaran-lembaran itu lekat-lekat.
Satu hal masih berkelebat kuat di dalam kepalanya: bayangan pria berjas hitam dengan aroma mahoni yang selalu datang menyelamatkannya di saat-saat paling putus asa. Cara pria itu menatapnya di depan pusara makam beberapa hari lalu... sorot mata yang penuh cinta, rasa bersalah, dan kerinduan yang mendalam—sorot mata yang mustahil dimiliki oleh seorang direktur korporasi dingin tanpa alasan khusus.
Meskipun logika menolaknya, insting seorang istri tidak pernah bisa dibohongi.
Meiying menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum tipis sambil melipat surat itu dan menyimpannya kembali ke dalam laci terdalam. Ia melangkah keluar menuju teras depan kontrakan, menikmati hembusan angin senja yang menerpa wajahnya.
Di bawah langit senja ibu kota yang mulai berubah warna menjadi keunguan, ia menengadahkan wajahnya ke atas, merentangkan tangannya sedikit, seolah sedang memeluk angin yang membawa aroma harum kayu manis dan mahoni.
"Terima kasih..." bisik Meiying pelan pada angin senja, entah ditujukan pada suaminya yang telah tiada di alam sana, atau pada bayangan seseorang yang terus mengawasinya dari balik menara tinggi di pusat kota. "Di mana pun kau berada sekarang... hiduplah dengan tenang. Kami akan baik-baik saja."
Dan di puncak menara kaca yang menjulang megah, Lu Jingyan membalas bisikan angin itu dalam diam, menatap fajar baru yang bersiap menyongsong hari esok dengan sisa waktu yang terus berdetak di dalam dadanya.