Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Pada Waktunya

Cinta Pada Waktunya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:34.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda RH

Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.

Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siang Pertama

Hanya menyentuh tangannya saja, keduanya sudah merinding disko. Bahkan tangan Tiyas terasa dingin.

"K-kenapa, mas?"

"Memang tidak boleh aku pegang tanganmu?"

"Hem... boleh saja." Jawabnya dengan suara bergetar.

Zain tahu istrinya saat ini sedang salah tingkah. Zain semakin menggenggam tangan istrinya. Ia juga mengandalkan kepalanya pada bahu istrinya. Hal tersebut semakin membuat jantung Tiyas berdebar sangat kencang.

"Tenang saja, kalau kamu belum siap aku tidak akan meminta hakku. Biarkan aku begini dulu."

Perkataan Zain membuat Tiyas dilema. Di sisi lain iia memang belum siap untuk nafkah batin itu, di sisi lain ia ingin memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri yang seutuhnya. Apa lagi saat ini ia seakan melihat Zain tengah menahan hasratnya.

"Apa iya aku harus menunggu sampai aku mencintainya?" Batin Tiyas.

"Jangan terlalu dipikirkan, aku akan sabar menunggumu. Ayo tidur lagi, ini sudah malam."

Zain mengangkat kepalanya lalu bersandar ke tempat tidur.

Tiyas mengangguk.

Ia kembali naik ke tempatnya.

Zain pun kembali meluruskan badannya. Mereka berdua sama-sama mencoba untuk memejamkan mata lagi sampai akhirnya mereka benar-benar terlelap.

Keesokan harinya.

Pagi-pagi sekali, Tiyas memastikan keadaan kaki Zain. Untungnya kaki Zain tidak terlalu parah, jadi sudah enak dibawa jalan.

Semalam benar-benar tidak terjadi apa-apa. Keduanya sama-sama tidur nyenyak sampai waktu Shubuh. Zain bahkan melewatkan shalat tahajudnya karena ngantuk.

Zain dan Tiyas turun untuk sarapan. Zain langsung menuju meja makan, sedangkan Tiyas ke dapur membantu bibi' menyiapkan makanan ke meja makan.

"Kenapa kakimu, bang?" Tanya ummi saat melihat langkah Zain yang sedikit berbeda.

"Kesandung, ummi ke tempat tidur ummi."

"Sakit banget?"

"Ya lumayan, ummi. Tapi semalam sudah dikasih salep sama istriku. Lumayan sudah enakan."

"Beneran kesandung, bang? " Sahut abi.

"Iya, abi. Kalau nggak percaya tanya saja istriku."

"Abi kira karena Los kontrol, haha... "

"Abi... " Tegur ummi.

"Bercanda, mi."

Zain mengerti maksud abinya.

"Bang... bang, belum apa-apa sudah cidera. " Gumam abi. Namun masih didengar oleh ummi dan yang lainnya.

Ummi kembali menyenggol lengan abi. Untungnya Zean baru datang bergabung.

Hari ini Zain tidak ikut kerja karena ingin memulihkan kakinya. Abi dan Zean sudah berangkat. Ummi meminta agar Zain istirahat saja.

"Apa perlu ummi panggilkan tukang urut, bang?"

"Ah tidak perlu, ummi. Nanti juga sembuh kalau rutin pakai salepnya."

"Ya sudah sana istirahat."

"Iya, ummi."

Tiyas baru saja selesai mengambil baju-baju yang sudah di setrika. Ia mengangkatnya sendiri dan membawanya ke kamar. Sebenarnya bibi' sudah melarangnya. Tapi Tiyas tetap ingin melakukannya sendiri.

Sampai di kamar, Ia melihat Zain sedang tiduran di atas tempat tidur sambil nonton TV. Tiyas masuk ke walk in closed dan menata baju ke dalam lemari. Setelah selesai, ia keluar.

"Mas, kamu ingin sesuatu?"

"Ingin sekali... "

"Hah?"

"Eh maksudku aku ingin dipijat. Iya dipijat."

"Perasaan tadi dia nolak ditawari ummi buat dipanggil kan tukang pijat." Batinnya.

"Kenapa, nggak bisa ya?"

"Eh bisa kok, kalau sekedar pijat ringan."

Zain pun bangun dan duduk selonjoran di atas tempat tidur. Tiyas mengambil minyak gosok di kotak obat lalu duduk di pinggir tempat tidur. Ia mulai memijat kaki Zain dengan lembut.

"Sakit, mas?"

"Lumayan."

Tiyas melanjutkannya sampai ke betis Zain. Zain menikmati pijatan istrinya.

"Kamu pintar juga."

"Aku biasanya mijati ayah, mas."

Lagi-lagi hal yang dilakukannya mengingatkannya pada sosok yang sangat berharga dalam hidupnya. Namun kali ini Tiyas nampak lebih tegar. Meski begitu Zain tetap tidak enak hati.

"Maaf ya."

"Maaf untuk apa, mas?"

"Karena insiden malam itu kamu harus berpisah dengan bapak."

"Subhanallah... aku sudah ikhlas kok, mas. Mas tidak perlu meminta maaf terus.

Setelah selesai memijat Zain, Tiyas mengembalikan minyak gosok ke tempatnya. Lalu ia pamit pergi ke dapur untuk membantu bibi' memasak. Zain tidak bisa melarangnya. Ia takut Tiyas bosan di kamar.

Sekitar jam 11, Tiyas kembali ke kamar. Saat masuk ke dalam kamar, ternyata Zain sedang tidur. Tiyas mengulum senyum melihat suaminya yang sedang tidur miring memeluk guling. Wajah teduh suaminya membuatnya ingin mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur. Ia dapat melihat wajah teduh itu lebih jelas lagi. Ia ingin menyentuh wajah itu, namun tangannya ia turunkan kembali.

"Mas, sekarang kamu adalah tumpuan hidupku. Hanya kamu dan keluargamu yang aku miliki di dunia ini. Aku tidak tahu bagaimana nasibku seandainya tidak ada kalian. Semua ini masih bagaikan mimpi bagiku. Kadang aku berpikir kebaikan apa yang telah ibu dan bapakku lakukan selama hidupnya sehingga nasib baik datang padaku." Gumam Tiyas dalam hati sambil memandang wajah suaminya.

Beberapa saat kemudian, Tiyas beranjak. Namun alangkah terkejutnya dia saat tangannya ada yang menahan.

Tiyas pun menoleh ke samping. Ternyata tangan Zain yang menahannya.

"M-mas... "

"Eh itu, mau ganti baju. Bajuku bau bawang."

"Mana sini, coba aku cium."

"Jangan, mas."

Zain tidak mengindahkan perkataan Tiyas. Ia justru menarik tangan Tiyas sehingga tubuh Tiyas terjatuh ke kasur dan menindih tubuh Zain.

"Maaf maaf." Ujarnya.

Tatapan mereka bertemu. Keduanya seperti terhipnotis. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Jantung keduanya berdetak sangat kencang.

"Duh lama-lama jantungan aku." Batin Tiyas.

"Mas... "

"Sssttt... " Zain meletakkan jari telunjuknya di bibir Tiyas.

Tiyas pun merapatkan bibirnya. Jari tangan Zain tidak sekedar menyentuh. Jari itu kini mulai meraba. Hati Tiyas semakin tak karuan.

"Boleh kah?" Zain meminta persetujuan.

Tiyas hanya bisa mengangguk. Ia tidak mungkin menolaknya. Zain memajukan wajahnya mendekat ke wajah Tiyas.

Dag dig dug.

Awalnya Zain mengecup bibir itu dengan satu kecupan. Darah Tiyas berdesir sekujur tubuh menerima sentuhan itu. Zain kembali memiringkan wajahnya dan mengecup lebih lama. Kecupan berubah menjadi lumat*n. Zain mengikuti kata hatinya. Tiyas hanya diam menerimanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya Zain melepaskan pagutannya. Nafas keduanya tersenggal-senggal. Tiyas menunduk malu. Zain tidak bisa berhenti di situ saja. Rasanya sudah kepalang tanggung. Zain menyentuh dagu Tiyas hingga Tiyas pun mendongak.

"Kamu menyesal?"

Tiyas menggelengkan kepala.

Tangan Zain pun kembali beraksi. Ia menidurkan tubuh Tiyas secara perlahan. Tiyas pun tidak menolak. Dirinya seakan-akan terhipnotis. Zain bahkan sudah membuka kancing baju Tiyas.

"Kamu ikhlas?"

Tiyas pun mengangguk.

Zain mulai membaca do'a. Setelah itu ia membuka bajunya sendiri lalu mulai mencumbu istrinya. Ini adalah pengalaman pertama bagi Zain dan Tiyas. Zain ingin memberi kesan yang baik agar Tiyas tidak trauma. Ia memperlakukan Tiyas dengan sangat lembut hingga akhirnya sampai pada intinya. Zain cukup kesulitan untuk membobol gerbang surga dunia. Tiyas sempat meringis kesakitan, sehingga Zain sempat menjedanya karena tidak tega.

Bersambung....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Maaf othor lagi kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan penyatuan mereka. Jadi readers karang sendiri saja ya 😄

1
Sri Supriatin
tks upnya thor 😍😍😍
Novita Sari
otw zain junior.lanjut thor
dewi rofiqoh
Zean, belum ketemu gk boleh kasih penilaian dulu.
Sri Supriatin
Cepet dapat momongan Zain nTriyas 🙏🙏
Teh Euis Tea
pasti ini penganten baru ngadon lg, mumpung sepi 🤭
Novita Sari
lanjut thor..
dewi rofiqoh
🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 Malu malu meong sampe sakit pinggang
Novita Sari
otw zain junior
Bunda RH: aamiin... 😇
total 1 replies
Bunda Idza
typo terus Thor....jamu nya jadi kamu 😅😅😅😅
Bunda RH: owalah, iya kak maklum matanya sudah min 😂
total 1 replies
Sri Supriatin
Ha ha malu2 meong... Semoga jadi yah mbok calon cucu umi, jangan di gempur terus Zain... Yg malu2 doyan banget 👍👍🤣🤣🤣🤣
Bunda RH: wkwkwkkk nagih katanya
total 1 replies
Tri Hastuti
lah.... nanggung amat yak udh abis
Bunda RH: yang nanggung bikin nagih kak 😄
total 1 replies
Tri Hastuti
siang panas2 makin panas kak
dewi rofiqoh
Zain udah ketagihan 🤭🤭
Bunda RH: ketagihan kue serabi 😂
total 1 replies
Teh Euis Tea
zain kejar setoran biar cepat kasih cucu buat umi dan abi makanya lembur trs🤭
Bunda RH: iya kak 😄
total 1 replies
rizky tria
lembur terus ya Zain 😁
rizky tria: gaspol terus 😂😂
total 2 replies
rizky tria
tidur siang aja ya bang 🤭
secret
duuhhh lnjuutt teruss pokoknyaaa🤭 lanjutt jg thorr upnya, semangaatt😍
Bunda RH: nggak ada bosannya ya 😂
total 1 replies
Sri Supriatin
Lanjuuut thor... Pasti bakal cepet nambah cucu 👍👍😍😍
Bunda RH: aamiin 😇
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf🅰ყ🅤⁴꧂🍊⃟𝐒𝐓𝐉
Waah Kesukaan Warna Merah Maroon 😘🥰❤
❤️⃟Wᵃf🅰ყ🅤⁴꧂🍊⃟𝐒𝐓𝐉
Zain ...Bukan Zean /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!