Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca penginapan yang kusam dan berdebu.
Arya mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menguap lebar sambil meregangkan otot tangannya yang kaku.
"Hoamm... tidur di kasur tipis ini rasanya pinggangku mau copot lagi," keluh Arya pelan.
Ia melirik ke arah tempat tidur di seberang, mendapati Vanya sudah bangun dengan wajah masam.
"Pagi-pagi sudah mengeluh, apakah hidupmu memang isinya hanya ratapan kemiskinan?" sindir Vanya tajam.
Arya mendengus kesal sambil bangkit dari kasurnya.
"Kalau kamu kaya raya, kenapa tidak bayar sewa kamar hotel bintang lima kemarin?" balas Arya ketus.
Vanya melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi angkuh.
"Kalau kekuatanku tidak disegel aturan sistem, aku bisa menghancurkan kota ini dan mengambil semua emasnya," elak Vanya.
Arya mendengus geli mendengar ocehan sang Ratu Iblis.
"Iya deh, ratu mah bebas mau ngomong apa aja, tapi kenyataannya sekarang kita kere," sahut Arya santai.
Ia berjalan menuju meja kecil untuk mengambil tas peralatan pijit miliknya.
"Mau ke mana lagi kamu dengan tas usang itu?" tanya Vanya menyelidik.
"Tentu saja keluar cari uang, kalau kita cuma diam di kamar ini kita bakal mati kelaparan besok pagi," jawab Arya jujur.
Vanya mendengus pelan, lalu berdiri dari tepi kasur dengan gerakan malas.
"Aku ikut, aku tidak mau ditinggal sendirian di kandang tikus ini," kata Vanya ketus.
"Mau ikut? Awas jangan rewel kalau nanti kakinya pegal jalan-jalan di pasar," peringat Arya.
"Cih, dikira aku anak kecil yang gampang lelah," balas Vanya sewot.
Mereka berdua akhirnya keluar meninggalkan penginapan murah menuju pusat keramaian pasar kota seberang.
Suasana pagi hari di pasar kota itu tampak sangat padat dan bising oleh suara pedagang.
"Bawang bombay segar! Daging sapi pilihan!" teriak seorang pedagang di sudut jalan.
Arya berjalan menyusuri lorong pasar sambil mengamati orang-orang yang berlalu-lalang.
"Cari apa sebenarnya di tempat bau ini?" tanya Vanya menutup hidungnya sedikit.
"Cari mangsa, maksudku cari pelanggan yang butuh jasa pijit," ralat Arya cepat.
Vanya mendengus sinis mendengar ucapan Arya.
"Memangnya ada orang bodoh yang mau dipijit oleh buronan istana?" cibir Vanya.
"Makanya aku pakai skill penyamaran sistem supaya wajahku terlihat biasa saja," jelas Arya.
Mereka terus berjalan hingga tiba di area lapak para buruh panggul pelabuhan kota.
Banyak pekerja kasar tampak duduk istirahat sambil memegang punggung mereka yang kesakitan.
"Nah, itu target empuk kita pagi ini," bisik Arya tersenyum miring.
Arya mendekati salah satu buruh panggul berbadan besar yang sedang meringis kesakitan.
"Permisi, Bang, badannya sepertinya pegal banget habis angkat karung ya," sapa Arya ramah.
Buruh itu menoleh lalu mendengus lesu.
"Iya, anak muda, pinggangku rasanya mau patah gara-gara muatan berlebih tadi," keluh buruh itu.
"Mau kucoba pijit sebentar? Dijamin langsung enteng tanpa obat kimia," tawar Arya mempromosikan diri.
Buruh itu menatap Arya dengan sebelah alis terangkat penuh keraguan.
"Emangnya kamu tukang pijit profesional? Badanmu kecil begitu," ragu buruh tersebut.
"Coba dulu lima menit, kalau nggak sembuh nggak usah dibayar," tantang Arya percaya diri.
Vanya berdiri di dekat tumpukan karung, melipat tangan sambil mengamati dengan tatapan bosan.
"Manusia rendahan ini benar-benar tidak punya harga diri menawarkan jasa di jalanan," batin Vanya mencibir.
Buruh itu mengangguk pasrah karena rasa sakit di pinggangnya sudah tidak tertahankan.
"Ya sudah, terserah kamu, asal jangan bikin tambah parah," pasrah buruh tersebut.
Arya segera mengeluarkan botol minyak herbal kecil dari dalam tas usang miliknya.
Ia meneteskan minyak itu ke telapak tangannya lalu menggosoknya hingga hangat.
"Tahan sebentar ya, Bang, ini bakal agak ngilu di awal," ujar Arya memperingatkan.
Arya mulai menekan titik akupuntur di pinggang buruh panggul tersebut dengan presisi tinggi.
Krek...
Bunyi sendi bergeser pelan terdengar di tengah bisingnya pasar.
"Ugh... aduh sakit! Tapi kok rasanya enak?!" pekik buruh itu kaget setengah mati.
"Makanya diam jangan banyak bergerak kalau lagi dipijit," omel Arya santai.
Ia terus melanjutkan pijatannya dengan telaten tanpa henti selama beberapa menit.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi pemijatan buruh lokal.]
[Mendapatkan koin sistem: +15 koin emas kecil dan poin pengalaman bertambah!]
Suara dengungan khas sistem berputar kencang di kepala Arya.
Arya menarik kedua tangannya lalu menyuruh buruh itu berdiri perlahan.
"Nah, coba berdiri sekarang, Bang," suruh Arya tersenyum ramah. Buruh itu berdiri dengan ragu-ragu sambil meluruskan punggungnya yang tadinya bungkuk.
"Eh? Pinggangku... kok rasanya enteng banget kayak kapas?!" seru buruh itu takjub bukan main.
Ia melompat-lompat kecil di tempat, merasakan nyeri di tubuhnya hilang tanpa sisa.
"Hebat banget tanganmu, anak muda! Kamu beneran tukang pijit sakti!" puji buruh itu sumringah.
Ia langsung merogoh kantong bajunya dan menyerahkan beberapa keping perak kepada Arya.
"Nih, ambil bayarannya, kamu penyelamat hidupku hari ini!" ucap buruh itu tulus.
Arya menerima kepingan perak itu dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya.
"Terima kasih banyak, Bang, kalau pegal lagi panggil saya ya," balas Arya ramah.
Buruh itu mengangguk mantap lalu kembali pergi bekerja dengan penuh semangat.
Vanya yang melihat kejadian itu dari jauh menunjukkan ekspresi sedikit terkejut.
"Tidak kusangka metode pijitan bodoh itu benar-benar manjur buat manusia," batin Vanya kagum.
Arya mendekati Vanya sambil melempar kepingan perak di tangannya ke udara lalu menangkapnya lagi.
"Bagaimana? Lihat kan kehebatan tangan seorang tukang pijit?" pamer Arya tersenyum bangga.
Vanya mendengus pelan, berusaha menyembunyikan rasa kagum di balik wajah dinginnya.
"Cuma beruntung saja dapat buruh yang gampang dibohongi," elak Vanya gengsi.
"Iya deh yang gengsi mau ngakuin keahlianku," balas Arya terkekeh geli.
Tiba-tiba, suasana pasar di sekitar mereka mendadak berubah menjadi riuh rendah.
Woi... buronan istana! terdengar teriakan kencang dari arah ujung lorong pasar.
Arya dan Vanya langsung menoleh serentak ke arah sumber suara tersebut dengan waspada.
Beberapa orang pengawal kerajaan berzirah tampak berlari kencang menuju arah mereka.
"Sialan, mata-mata istana ternyata mengikuti kita sampai ke pasar ini!" geram Arya panik.
Vanya menyeringai lebar, kilatan merah menyala mulai terpancar di kedua mata indahnya.
"Baguslah, aku sudah bosan berlari, saatnya menghabisi mereka di sini," desis Vanya berbahaya.
"Jangan gila! Kalau kamu ngamuk di pasar, warga sipil bakal jadi korban!" larang Arya cepat.
"Lalu mau apa lagi? Kita dikepung dari dua arah!" protes Vanya kesal.
Arya melihat sekeliling, mencari jalur pelarian tercepat di antara lorong-lorong sempit pasar.
"Ikut aku lewat lorong belakang gudang rempah!" perintah Arya menarik tangan Vanya.
Vanya terkejut saat tangannya ditarik oleh Arya menerobos kerumunan orang.
"Hei, jangan menarik tanganku sembarangan!" protes Vanya meski ia tetap mengikuti langkah Arya.
Mereka berlari kencang meninggalkan area pasar utama menuju lorong sempit yang sepi.
Tap... tap... tap...
Derap kaki pengawal mengejar di belakang mereka dengan beringas.
"Tangkis mereka! Jangan biarkan buronan itu lolos lagi!" teriak komandan pengawal dari kejauhan.
Arya dan Vanya terus melaju cepat, meninggalkan awan debu tipis di jalanan pasar.