Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni Keluarga Paling Disfungsi Sedunia dan Klaim Asuransi yang Tertunda

Suara es batu yang bergemerisik di dalam gelas martini Madam Elena terdengar sangat kontras dengan dengungan baling-baling belasan drone tempur yang melayang rendah di atas kepala mereka. Wanita berambut perak itu melangkah masuk dengan anggun, sepatu hak tingginya berketukan tajam di atas lantai kuarsa yang basah oleh tumpukan kopi hitam Pak Joko.

Ia berhenti tepat dua meter dari konsol utama, menatap ke bawah pada Pak Joko yang masih tertindih di bawah lutut Siska dengan pecahan kaca mengancam lehernya.

“Joko, Joko…” Madam Elena menggelengkan kepalanya pelan sambil menyesap martininya. “Sudah kubilang, menjadi Pemimpin Redaksi tabloid murahan membuat insting taktismu tumpul. Mengandalkan password yang ditulis di balik kalender meja adalah kesalahan paling fatal dalam sejarah organisasi kriminal global.”

Pak Joko mendengus kesal dari lantai, mencoba membetulkan letak kacamata minusnya yang melorot. “Hei, Elena! Jangan sok tahu! Menulis password di balik kalender itu metode pengamanan tingkat tinggi karena tidak ada hacker di dunia ini yang mau baca rubrik resep masakan dan zodiak mingguan!”

Siska menekan pecahan kaca sedikit lebih dalam ke kulit leher bos redaksinya itu. “Diam, Pak Joko. Kalian berdua berhenti berdebat seperti pasangan suami-istri yang meributkan cicilan kulkas. Jelaskan apa arti semua ini, Elena. Kenapa kau tiba-tiba muncul di sini bersama pasukan drone militer?”

Madam Elena tersenyum tipis. Ia meletakkan gelas martininya di atas meja server terdekat, lalu melangkah maju mendekati putrinya sendiri. Tatapan matanya memancarkan campuran antara kebanggaan seorang ibu dan kekejaman seorang komandan agung.

“Karena, Siska sayang… Proyek Omega dan satelit Othelo tidak pernah dirancang untuk dikuasai oleh pria pelit seperti Joko, maupun oleh mantan suamiku yang sentimental, Broto,” ujar Elena lembut. Ia menunjuk ke arah layar utama yang kini menampilkan grafik aktivasi satelit global. “Othelo adalah sistem pembersihan total. Dan aku adalah satu-satunya orang yang memegang kunci dekripsi master yang sebenarnya.”

Gala, yang masih terikat di kursi kantor Herman Miller beroda, tiba-tiba mengangkat tangannya dengan sopan di tengah-tengah kepungan drone bersenjata laser.

“Maaf, Bu... Madam Elena yang terhormat,” interupsi Gala dengan nada paling formal yang ia punya. “Sebelum kalian lanjut drama keluarga ala sinetron kolosal ini, boleh nggak saya minta kejelasan soal status kepegawaian saya? Apakah kalau dunia kiamat hari ini, uang lembur malam Minggu saya tetap dibayarkan? Dan satu lagi... klaim bensin Honda Revo saya bulan lalu statusnya approved apa rejected?”

Semua orang di ruangan itu—termasuk Madam Elena dan pasukan drone tempur yang sedang siaga—mendadak menoleh menatap Gala dengan tatapan kosong penuh kebingungan.

Siska memejamkan matanya rapat-rapat, merasa malu luar biasa memiliki suami sejenis Gala di tengah situasi krisis sandera global. “Gala, tutup mulutmu atau aku sendiri yang akan membuangmu ke kandang buaya setelah ini.”

“Lho, kan, wajar nanya, Sis! Masa mati kelaparan gara-gara kiamat tapi hak-hak buruh diabaikan?” protes Gala tidak terima.

Madam Elena tertawa kecil, suara tawa yang elegan namun dingin. Ia mengabaikan Gala, lalu melangkah ke konsol utama. Ia menendang tubuh Pak Joko hingga bos redaksi itu tergeser menjauh, lalu berdiri tepat di hadapan panel biometrik master.

“Permainan sudah selesai, Joko. Berikan aku akses kode genetik turunan itu, dan dunia akan tunduk di bawah kendali kita,” kata Elena penuh kemenangan.

Elena menempelkan telapak tangannya ke pemindai DNA, lalu memasukkan kombinasi angka sandi master.

BIP-BIP-BIP!

Layar terminal utama mendadak berubah menjadi warna merah berkedip kencang. Suara alarm peringatan bernada rendah bergemuruh dari dalam sistem server:

PERINGATAN! KODE MASTER TIDAK VALID.

TERDETEKSI UPAYA PEMALSUAN BIOMETRIK LEVEL 3.

MENGAKTIFKAN: PROTOKOL PENGUNCIAN PERMANEN OTHELO.

Madam Elena mengernyitkan dahi. Wajah anggunnya mendadak menegang. “Apa-apaan ini?! Kode ini asli! Aku mengambilnya langsung dari arsip pusat Berlin!”

Pak Joko, yang terduduk di lantai sambil membersihkan tumpukan kopi dari kemeja batik miliknya, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak—tawa serak khas perokok berat yang makin lama makin kencang hingga membuat batuk-batuk.

“Ukh… Uhuk! Makanya, Elena, jangan mentang-mentang pensiun jadi influencer kripto jadi kudet soal teknologi!” ejek Pak Joko di sela tawanya. “Kamu kira arsip Berlin itu up-to-date? Sersan Broto sudah merombak seluruh enkripsi inti satelit Othelo sebelum dia mati di Bunker Alpha-Zero!”

Senja, yang mendengar nama ayahnya disebut, langsung menajamkan pandangannya. “Maksud bapak… apa?”

Pak Joko bangkit berdiri dengan susah payah, merapikan kemeja batiknya yang basah. Dengan senyuman licik seorang bos tua yang memegang kartu as di tangan terakhirnya, ia menunjuk ke arah layar terminal.

“Broto tahu cepat atau lambat kalian berdua—Elena dan aku—pasti akan mencoba merebut satelit Othelo,” jelas Pak Joko. “Jadi, sebelum dia pergi ke Gunung Salak, dia menanamkan kode kunci pemusnah di dalam memori bawah sadar seseorang yang paling tidak disangka-sangka oleh sistem pencari jejak Vanguard.”

Semua mata di ruangan itu sontak berputar menatap satu orang yang paling tidak masuk akal di ruangan tersebut.

Gala.

Jurnalis itu mengerjap-nerjap bingung, menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuk yang terborgol. “Hah? Saya? Jangan ngadi-ngadi, Pak! Saya ngafalin tabel perkalian aja waktu SD remedial tiga kali, kok ya disuruh jadi kunci satelit pemusnah global?!”

“Bukan karena kamu pintar, Gala,” desis Pak Joko santai. “Tapi karena Broto tahu, dari semua orang di dunia ini, hanya otak jurnalis bodoh sepertimu yang tidak akan pernah bisa di-hack oleh algoritma kecerdasan buatan mana pun di muka bumi karena isinya cuma gosip artis, tagihan cicilan motor, dan resep seblak!”

KLIK!

Tiba-tiba, kalung dog tag peninggalan almarhum Sersan Broto yang sejak tadi tergantung di leher Senja, berpendar memancarkan cahaya biru terang. Kalung itu terhubung secara nirkabel dengan mikro-chip yang pernah diselipkan Pak Broto tanpa sengaja ke saku jaket Gala saat mereka makan bakso urat di pinggir jalan tiga bulan lalu!

Layar utama terminal berubah warna menjadi hijau terang. Sebuah pesan teks dari almarhum Sersan Broto muncul memenuhi seluruh monitor:

“Jika pesan ini terbuka, artinya kalian bertiga berhasil bertahan hidup sampai akhir. Maaf ya, Gal, kemeja batik bosmu bau gosong. Tolong matikan satelit ini, dan mulailah hidup normal tanpa utang invoice ke Siska. TTD: Broto.”

SISTEM OTHELO: DINONAKTIFKAN PERMANEN.

SELURUH SATELIT PENGINTAI DIHAPUS DARI ORBIT.

Seketika, dengungan baling-baling seluruh drone tempur di ruangan itu melemah, lalu mati total secara bersamaan. Puluhan mesin canggih berharga jutaan dolar itu jatuh bergemerlapan menghantam lantai laboratorium, tidak lebih berguna dari sekadar rongsokan besi tua.

Madam Elena membelalakkan matanya dalam kemarahan yang luar biasa. Ia merogoh pistol kecil dari balik jas putihnya, mengarahkannya langsung ke kepala Gala. “Keparat kau, Broto! Kalau aku tidak bisa memiliki sistem itu, maka jurnalis bodoh ini akan mati duluan!”

Namun, sebelum jari Elena sempat menarik pelatuknya, Siska bergerak dengan kecepatan kilat yang tak tertandingi. Menggunakan potongan kabel server di dekatnya, Siska melenting dan melilit pergelangan tangan ibunya, memutar sendi tangan Elena dalam satu gerakan patah yang taktis.

CLARCK!

Pistol di tangan Madam Elena terlepas, meluncur jatuh dan berpental jauh ke sudut ruangan. Siska menahan tubuh ibunya dalam kuncian total, menatap wanita yang melahirkannya itu dengan dingin tanpa setitik pun keraguan.

“Permainan sudah berakhir, Ibu,” bisik Siska tajam. “Organisasi Vanguard sudah mati. Dan era kalian telah usai.”

Pak Joko, melihat situasi sudah sepenuhnya berbalik arah, dengan tenang merapikan kacamata selotip hitamnya, mengambil sisa cangkir kopi yang belum tumpah, lalu berjalan melangkah mundur menuju pintu keluar darurat rahasia.

“Yah… Berhubung internet kantor mati dan satelitnya sudah hancur, saya anggap rapat hari ini selesai, ya,” kata Pak Joko santai sambil melambaikan tangan. “Gala, besok pagi silakan masuk kerja seperti biasa. Dan soal klaim bensin Honda Revo kamu… nanti saya pertimbangkan lagi kalau tiras koran kita naik sepuluh persen.”

“PAKKK JOKOOO JANGAN KABUUUR!!” teriak Gala emosi luar biasa, meronta-ronta di kursi Hermannya sementara Senja dan Siska hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis di tengah reruntuhan markas rahasia bawah tanah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!