Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Di Atas Pohon
Napas Serena memburu hebat, dadanya terasa sesak seolah kehabisan oksigen di tengah kegelapan malam yang pekat. Kakinya terus berlari kencang tanpa arah, menembus semak belukar yang menghalangi jalannya. Rasa panik yang teramat sangat membuatnya kehilangan fokus sepenuhnya.
Di tengah pelariannya, Serena sempat memberanikan diri menoleh sekilas ke belakang. Jantungnya hampir copot dari tempatnya ketika melihat sepasang mata merah menyala di dalam gelap ada dua ekor serigala buas yang masih setia mengejarnya dengan kecepatan penuh! Rupanya, kedua hewan itu berhasil lolos dari hadangan Calum dan kini menjadikannya target buruan utama.
Serena berlari semakin kencang, air matanya tumpah membasahi pipi. Namun, di tengah kepanikan itu, sebuah kesadaran mengerikan menghantam benaknya.
"Tunggu... Kenapa jalannya terasa semakin gelap dan sempit?!" batin Serena histeris.
Ia baru menyadari bahwa alih-alih berlari kembali ke arah mansion tempat ia datang, ia justru masuk semakin dalam ke jantung hutan belantara yang paling lebat dan asing. Otaknya yang sudah kalut tidak mampu mencerna situasinya dengan benar. Lebih buruknya lagi, tabung panah dan busurnya sudah tidak ada di punggungnya, benda-benda itu entah jatuh di mana saat ia berlari tadi karena kepanikan yang mendera.
"Gawat, aku tersesat! Dan serigala itu semakin dekat!" teriaknya dalam hati, ketakutan luar biasa melilit sekujur tubuhnya.
Suara derap kaki cakar di atas tanah dan lolongan tertahan terdengar semakin dekat di belakang. Tanpa pikir panjang lagi, naluri bertahan hidupnya berteriak kencang. Satu-satunya cara menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman hewan buas itu adalah dengan memanjat pohon besar yang berada tepat di depannya.
Anehnya, di luar kebiasaannya yang lemah dan tidak pernah berolahraga berat, ledakan adrenalin akibat rasa panik yang luar biasa membuat tubuh Serena bergerak di luar nalar. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak dan melompat, mencengkeram batang pohon yang besar dan bercabang-cabang itu, lalu menarik tubuhnya naik ke atas dengan kecepatan yang mengagumkan. Padahal, seumur hidupnya, Serena jelas-jelas tidak pernah bisa memanjat pohon tinggi!
Begitu berhasil menduduki salah satu dahan yang cukup kokoh, Serena langsung meringkuk ketakutan. Ia menunduk ke bawah dan melihat dua ekor serigala besar tadi sudah tiba di bawah pohonnya. Hewan-hewan buas itu mulai mengitari batang pohon sambil mendengus-dengus marah, sesekali melompat mencoba meraih kakinya.
"Hiks... Pergi! Jangan ganggu aku!" jerit Serena tertahan, air matanya mengalir semakin deras. Ia memeluk erat batang pohon tersebut dengan seluruh tenaganya, memejamkan mata sambil merapal doa dalam hati, berharap Calum atau siapapun segera datang menemukannya dan membawanya keluar dari tempat terkutuk ini.
Suasana di dalam hutan mendadak berubah menjadi sangat sunyi, kontras dengan teror hewan buas di bawah sana. Angin malam bertiup kencang, menggoyangkan dedaunan dan membuat suasana gelap gulita itu terasa semakin mencekam.
Di tengah isak tangisnya, indra penciuman Serena menangkap sesuatu yang sangat mengganggu. Aroma busuk yang amat pekat mendadak menusuk hidungnya dengan sangat tajam, bau anyir bercampur daging membusuk yang memekakkan penciuman. Serena awalnya tidak memperdulikan bau itu; dalam pikiran dan hatinya saat ini, satu-satunya hal yang ia inginkan hanyalah bisa segera pulang dengan selamat ke mansion.
Namun, ketika isak tangisnya mulai mereda dan ia memberanikan diri membuka mata untuk menoleh ke sekeliling dahan tempatnya berpijak, saat itu juga seluruh darah di tubuhnya mendadak berhenti mengalir.
Tubuh Serena kaku seketika. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Tepat di dahan yang sama, hanya berjarak beberapa jengkal dari tempatnya memeluk pohon, sesuatu tergantung dengan kondisi yang amat sangat mengenaskan.
Mata Serena membelalak lebar, menatap lurus sosok tersebut di tengah temaram cahaya bulan yang menembus sela-sela daun. Sesuatu yang selama ini dibilang Calum sebagai boneka manekin peraga latihan... ternyata bukanlah boneka sama sekali!
Dengan penglihatannya yang kini dibantu cahaya rembulan, Serena melihat dengan sangat jelas kondisi fisik dari sosok yang tergantung itu. Sebagian tubuhnya sudah hancur, kulitnya pucat kebiruan dengan luka-luka robekan menganga yang dipenuhi lalat, dan tali kasar melingkar erat di lehernya yang patah. Sosok itu adalah manusia sungguhan! Mayat manusia yang membusuk dalam keadaan tergantung mengerikan!
"T-Tuhan... Tidak mungkin..." bisik Serena gemetar hebat, suaranya hampir tak keluar dari tenggorokan. Seluruh tubuhnya mendadak mati rasa.
Jadi... Calum telah berbohong kepadanya selama ini?! Benda-benda yang tergantung di sepanjang hutan bukanlah manekin latihan memanah, melainkan mayat-mayat manusia!
Dan itu berarti... selama sesi latihan tadi siang, saat ia bersorak gembira karena berhasil memanah tepat di bagian kepala manekin... ia sebenarnya sedang menembakkan anak panah ke kepala mayat manusia sungguhan?!
Bayangan detik-detik saat ia tertawa riang dan memamerkan keahlian memanahnya berkelebat cepat di kepala Serena, membuatnya merasa mual luar biasa hingga ingin muntah seketika. Perutnya bergolak hebat, bukan hanya karena aroma busuk mayat di sampingnya, tapi karena kengerian psikologis yang teramat dahsyat menghantam kesadarannya.
"Calum pembohong... Mereka semua pembohong..." gumam Serena histeris dalam tangis tertahan, air matanya bercampur dengan keringat dingin yang membasahi wajah pucatnya.
Serena semakin mengeratkan pelukannya pada batang pohon, menutup matanya rapat-rapat karena tidak sanggup lagi melihat pemandangan mengerikan di sebelah kepalanya. Hatinya menjerit ketakutan, mempertanyakan realitas di sekelilingnya.
Dunia macam apa sebenarnya yang telah ia masuki ini?! Dunia pernikahan impian yang ia bayangkan dari kisah-kisah romantis ternyata hanyalah sebuah ilusi manis. Di balik kemewahan mansion dan sikap dingin suaminya, tersimpan sisi kegelapan yang sangat keji, sadis, dan mengerikan, dunia bawah tanah para mafia berdarah dingin yang penuh dengan kematian.
"Ibu... Ayah... Tolong aku..." cicit Serena lirih di tengah gelapnya malam, menggigil ketakutan di atas pohon tempat mayat tergantung, sangat ingin segera melarikan diri dan pulang dari neraka tersebut.
Bersambung...
Coba bayangin kamu lagi ketakutan dan manjat ke pohon dan tiba-tiba di pohon yang sama melihat seseorang gantung diri.😵💫🫨
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔