Apa jadinya jika pengetahuan kultivasi tingkat dewa dimiliki oleh jiwa pemuda modern
Qin Feng terbangun di dalam goa isolasi sebagai Master Legendaris Gu Tian. Namun, alih-alih bisa terbang membelah langit, musuh utamanya saat ini adalah encok, pinggang kram, dan jalur meridian yang kaku.
sang "Master Tua" berjiwa pemuda ini harus memutar otak agar tidak mati konyol untuk kedua kalinya di tengah kepungan musuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
SWOOSH!
Langkah kaki Tian Gu mendarat pelan di atas tanah pelataran bawah begitu kubah formasi Panggung Empat terbuka.
Begitu kakinya menyentuh tanah, tubuhnya mendadak sedikit terhuyung ke depan. Wajahnya diatur sedemikian rupa agar tampak agak pucat, dengan napas yang memburu halus seolah-olah seluruh cadangan Qi di dalam Dantian-nya telah terkuras habis untuk mempertahankan gerakan kilat barusan.
"Kakak Tian Gu!"
Sebuah jeritan cemas bergema. Hu Yan'er berlari kencang dari arah tribun pengawas, disusul oleh Tetua Hu Qin yang melangkah lebar. Tanpa ragu sedikit pun, gadis muda itu langsung memegang lengan Tian Gu untuk memapahnya, lalu menyodorkan sebuah botol giok berisi air murni tanaman spiritual dan pil pemulihan Qi tingkat tinggi.
"Cepat minum ini, Kakak Tian! Kau pasti sangat kelelahan menahan pengeroyokan empat orang jahat itu!" seru Yan'er dengan mata berbinar cemas bercampur haru.
Tian Gu mengambil botol giok itu dengan tangan yang dibuat sedikit bergetar. Dia meneguk air spiritual tersebut, lalu memejamkan mata sejenak berpura-pura menyerap energinya.
PLAK!
Sebuah tepukan keras namun penuh kehangatan mendarat di bahu kanan Tian Gu. Tetua Hu Qin menatap pemuda berjubah abu-abu itu dengan senyum lebar yang memancarkan rasa bangga tak terhingga.
"Luar biasa! Benar-benar luar biasa, Tian Gu!" puji Tetua Hu Qin dengan suara menggelegar tanpa memedulikan tatapan iri para murid di sekitarnya. "Teknik gerak tubuhmu, ketenanganmu di bawah tekanan, dan kecerdasanmu memanfaatkan momentum musuh... kau telah membuktikan bahwa keputusan membawa dirimu ke Sekte Awan Hijau adalah langkah paling tepat yang kubuat hari ini!"
Tian Gu perlahan membuka matanya, menyapu pandangan ke arah Tetua Hu Qin dan Hu Yan'er, lalu membungkukkan badannya secara hormat dengan raut wajah rendah hati.
"Tetua Qin terlalu memuji hamba," jawab Tian Gu dengan suara yang sengaja dibuat agak serak. "Keberhasilan hamba tadi murni karena keberuntungan dan tekad hamba yang tidak ingin mencoreng nama baik Keluarga Hu yang telah menyelamatkan dan memberi hamba kesempatan ini. Jika bukan karena motivasi itu, hamba pasti sudah tumbang di tangan mereka."
Di balik raut wajahnya yang tampak lugu dan penuh kelelahan itu, benak Gu Tian tersenyum puas.
"Ujian Panggung Empat selesai! Seluruh peserta yang lolos diberi waktu satu jam untuk memulihkan energi selagi panggung-panggung lainnya menyelesaikan babak kualifikasi!" seru suara Tetua Penguji bergema dari atas langit.
Tian Gu mengambil posisi duduk bersila di atas matras kain di bawah naungan tenda Keluarga Hu. Sementara jemarinya membentuk segel meditasi untuk berpura-pura menyerap Qi alam, matanya yang tajam memicing melintasi awan, mengamati pertempuran yang masih berlangsung di panggung-panggung melayang lainnya.
Inilah saatnya bagi Gu Tian untuk memetakan peta kekuatan sejati dari para jenius puncak generasi muda Sekte Awan Hijau.
Di Panggung Nomor Satu, gemuruh benturan keras mengguncang udara.
Sesosok pemuda bertubuh tinggi kekar dengan jubah bermotif harimau mengayunkan sebuah pedang besi raksasa yang lebarnya setara dengan pintu rumah. Dia adalah Hu Chen, jenius teratas dari Faksi Utama Keluarga Hu.
BOOOOOOM!
Tanpa menggunakan trik rumit, Hu Chen menghentakkan kakinya hingga panggung batu retak. Pedang raksasanya menebas horizontal, menciptakan gelombang angin tebal bertekanan tinggi yang langsung menyapu tiga peserta Ranah Fondasi Tingkat Menengah hingga terlempar keluar dari arena bagaikan daun kering! Gaya bertarungnya sangat dominan, brutal, dan mengandalkan kekuatan fisik yang luar biasa murni.
Di Panggung Nomor Dua, atmosfer bertolak belakang terjadi. Suasana di panggung itu terasa begitu dingin dan sunyi hingga memunculkan bulu kuduk berdiri.
Gadis bergaun hitam dari Keluarga Xi—Xi Ling—bergerak bagaikan hantu di tengah kabut malam. Tubuhnya meliuk halus, meninggalkan jejak-jejak bayangan samar setiap kali peserta lain mencoba menyerangnya. Tanpa perlu mencabut pedang di pinggangnya, Xi Ling hanya mengetuk pergelangan tangan dan leher musuh-musuhnya menggunakan dua jari yang diselimuti Qi dingin bagaikan es.
Satu per satu lawannya ambruk pingsan tanpa sempat menyentuh gaun hitamnya, bahkan tanpa meneteskan setitik darah pun! Sebuah pertunjukan keahlian pergerakan bayangan yang sangat dingin, efisien, dan penuh misteri.
Namun, perhatian seluruh pelataran paling menyengat saat melihat kejadian di Panggung Nomor Tiga.
Panggung tersebut diisi oleh jenius nomor satu dari Faksi Keluarga Ji—Ji Feng. Pemuda pemalas bertubuh jangkung itu melangkah ke tengah panggung dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jubah mewahnya. Sembilan peserta lain di panggung tersebut, termasuk dua pakar Ranah Fondasi Puncak, saling pandang lalu sepakat untuk menyerang Ji Feng secara bersamaan demi menjatuhkan sang favorit utama.
Ji Feng hanya menguap pelan, menatap sembilan orang yang meluncur ke arahnya dengan pandangan bosan.
BZZZZZT!
Ji Feng tidak menarik senjata. Dia hanya mengeluarkan tangan kanannya dari saku, lalu menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya ke udara.
BOOOOOOOOOOM!
Sebuah ledakan gelombang Qi berwarna biru pekat yang sangat masif meledak melingkar dari tubuh Ji Feng! Tekanan energi Ranah Fondasi Puncak yang begitu murni dan tebal menyapu seluruh permukaan panggung melayang. Sembilan peserta yang sedang melompat itu seketika muntah darah dan terlempar menghantam kubah formasi sebelum jatuh bebas ke pelataran bawah!
Pertarungan di Panggung Tiga selesai hanya dalam waktu satu detik!
Seluruh penonton di pelataran bersorak histeris kagum atas efisiensi kekuatan Ji Feng yang begitu menakutkan.
Gu Tian yang mengamati dari tempat duduknya mengangguk-angguk pelan di dalam batin. Gadis Keluarga Xi memiliki penguasaan elemen Es dan bayangan yang cukup rapi, bocah Keluarga Hu punya struktur tulang fisik yang kuat, dan Ji Feng itu... kepadatan Dantian-nya sudah menyentuh ambang batas untuk menerobos ke Ranah Inti Emas (Golden Core). Sekte Awan Hijau memang memiliki beberapa benih yang lumayan.
Satu jam berlalu dengan cepat.
Suara dentang lonceng perunggu raksasa bergema sembilan kali dari puncak tertinggi, menandakan bahwa babak kualifikasi panggung telah resmi berakhir.
Tetua Penguji melayang turun ke atas panggung utama, memegang sebuah gulungan kertas emas yang bercahaya.
"Ujian Kualifikasi Panggung telah selesai!" seru Tetua Penguji. "Dari ratusan peserta, telah terpilih enam belas peserta terbaik yang berhak melangkah ke Babak Final: Turnamen Eliminasi Satu Lawan Satu!"
Sorak-sorai riuh rendah meledak di seluruh arena. Enam belas pemuda-pemudi terbaik melangkah maju dan berdiri berjejer di tengah panggung utama.
Di antara enam belas peserta itu, tampak Ji Long yang berhasil lolos dari panggungnya dengan kondisi pakaian agak kusut dan wajah yang dipenuhi kemarahan yang tertahan. Begitu berdiri di panggung, mata Ji Long langsung tertuju tajam pada Tian Gu yang berdiri tenang di sudut barisan. Niat membunuh yang sangat kental terpancar jelas dari tatapannya.
"Sekarang... Pengundian Skema Pertarungan Babak Final!" panggil Tetua Penguji.
Di depan panggung, sebuah kotak batu giok berputar kencang. Dua belas bola cahaya meluncur keluar secara acak, menampilkan nama-nama peserta yang akan saling berhadapan di panggung utama.
Ji Long mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku jarinya memutih, matanya melotot menatap papan pengumuman gaib di udara. Jatuhkan nama si sampah itu padaku di putaran pertama! Biarkan aku sendiri yang meremukkan seluruh tulangnya di depan semua orang! jerit Ji Long dalam hati penuh dendam.
Satu per satu nama tercetak di udara:
Pertandingan 1: Hu Chen vs Murid Luar Faksi Xi
Pertandingan 2: Xi Ling vs Murid Elit Faksi Ji
Pertandingan 3: Ji Feng vs Murid Elit Faksi Hu...
Hingga akhirnya, dua bola cahaya terakhir meluncur keluar dan memancarkan ukiran Tinta Emas di atas papan skema pertandingan keempat!
Pertandingan 4: Tian Gu vs Ji Kang (Faksi Keluarga Ji - Ranah Fondasi Puncak)!
"Ji Kang?!" seru Hu Yan'er dari tribun luar dengan wajah kembali cemas. "Paman Qin, Ji Kang adalah sepupu kandung Ji Long! Dia adalah salah satu petarung paling gila di Faksi Ji yang terkenal sangat kejam dalam pertarungan!"
Tetua Hu Qin memicingkan matanya, raut wajahnya berubah amat serius. "Faksi Ji benar-benar tidak ingin memberi celah sedikit pun pada Tian Gu. Ji Kang menggunakan teknik pedang pembunuh yang sangat ganas."
Di panggung utama, Ji Long melihat hasil pengundian tersebut lalu tertawa dingin dengan nada ejekan yang sangat puas. Meskipun bukan dirinya yang langsung bertanding di putaran pertama ini, diadu melawan Ji Kang—pakar Ranah Fondasi Puncak yang terkenal sadis—sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan Tian Gu hingga menjadi cacat!
Ji Long melirik Tian Gu seraya berbisik sinis, "Nikmatilah sisa waktumu, Tikus Desa. Saudara Kang tidak pernah menyisakan musuhnya dalam keadaan utuh!"
Di bawah terpaan angin puncak gunung yang berhembus kencang, Tian Gu perlahan membuka kedua matanya dari meditasinya.
Binar matanya yang jernih memancarkan ketenangan mutlak—sebuah ketenangan yang bagaikan lautan dalam yang tak tergoyahkan oleh badai terhebat sekalipun. Dia menatap nama Ji Kang di papan pengumuman gaib itu tanpa sedikit pun rasa takut, lalu mengukir senyum tipis di bibirnya.
"Ji Kang, ya...?" gumam Tian Gu pelan.
Pertarungan satu lawan satu yang menentukan posisi murid dalam akan segera dimulai!
Terima kasih sudah membaca cerita ini /Smile//Smile/