Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kau Salah!
'Orang ini minta ku hajar.' Tatapannya menjadi sangat dingin. Arven hendak membuka mulut.
Namun, Mireya mengangkat satu tangannya.
Refleks Arven berhenti. Aba-aba itu seakan sengaja menghentikannya. Akhirnya Arven tak lagi bersuara.a
Mireya masih ingin menyelesaikan urusannya sendiri.
“Ternyata ada, ya…” Mireya menatap Syahzan lurus. “Orang yang membuang ludah lalu menelannya kembali?”
Wajah Syahzan berubah.
“Kau harus tahu, sepanjang hidup yang aku jalani, berpisah denganmu adalah hal yang paling membuatku lega.”
Syahzan menggeleng.
“Tidak mungkin.”
“Dulu aku memang mencintaimu.”
Suara Mireya perlahan berubah lebih lembut.
“Dulu, kau adalah duniaku. Tidak ada hal lain yang ingin kulakukan selain membuatmu bahagia.”
Mata Mireya mulai terlihat berkaca-kaca. Rasa sakit itu kembali terasa. Akan tetapi, ia tidak membiarkan air matanya jatuh, walau satetes pun.
“Namun, apa balasanmu dan keluargamu?”
Syahzan terdiam.
“Aku tahu kalian sengaja melakukan sesuatu agar aku tidak akan pergi dari rumah itu.”
Mireya menatapnya tajam.
“Kalian sengaja menambahkan ramuan penambah nafsu makan ke dalam makananku, bukan?”
Wajah Syahzan berubah. Setelah sekian lama, akhirnya rahasia yang ia pikir hanya dia dan keluarganya yang tahu, ternyata keluar dari mulut Mireya.
“Setiap malam aku terbangun, karena selalu saja merasa lapar. Aku makan sepanjang malam. Sementara pada siang hari, aku harus mengurusmu dan keluargamu.”
Mireya tertawa kecil. Ironis. “Aku tahu.”
Syahzan mengerutkan kening.
“Aku tahu apa yang kalian lakukan.”
“Lalu kenapa kau diam?” sela Syahzan tak mau terus disalahkan.
“Karena aku mencintaimu.” Mireya menatapnya.
“Aku tidak peduli jika semua orang jahat kepadaku. Selama suamiku tetap berada di pihakku, aku pikir semuanya akan baik-baik saja.”
Suaranya bergetar. “Ternyata aku salah.”
Tatapan Mireya jatuh sebentar kepada tangannya sendiri. “Ketika tubuhku berubah, matamu juga ikut berubah.”
Ia kembali menatap Syahzan. “Kau mulai menatapku dengan jijik.”
Syahzan membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar.
“Kau menghina tubuhku. Menghina keadaanku. Mengatakan beras di rumahmu habis karena aku.”
Mireya menarik napas dalam-dalam.
“Padahal kalian sendiri yang melakukannya! Tak hanya itu, kau mulai bermain di belakangku dengan wanita lain.”
Wajah Syahzan semakin pucat.
“Dengan semua perlakuan dan penghinaanmu…”
Mireya menggeleng. “Menurutmu, aku masih mau bertahan denganmu?”
Namun, hanya keheningan yang memenuhi suasana di antara mereka. Tidak ada yang menjawab.
Syahzan hanya berdiri mematung.
Sementara Arven tetap berada di samping Mireya. Diam dan memperhatikan.
Namun sorot matanya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kesabarannya hampir habis.
Mireya akhirnya menghela napas. Ia tidak ingin menghabiskan waktunya lagi untuk masa lalu.
Kemudian ia menoleh kepada Arven.
" Oh iya ... Kamu tadi bilang tak ada yang mau menikahiku? Kamu salah, tuh."
Ia merangkul lengan Arven.
“Mas, kita pulang.”
Panggilan itu, membuat raut Arven yang tadi tegang tinggal meledak, mulai sedikit berubah.
Ia segera mengangguk. “Ayo.”
Arven kemudian berjalan, mengusap rambut Elden yang sedari tadi tampak kebingungan mendengar obrolan obrolan yang jauh dari dunianya.
Elden langsung menggenggam Arven. Tangan yang satunya lagi tetap berada dalam genggaman Mireya.
Mereka bertiga berjalan meninggalkan Syahzan.
Syahzan kembali membeku. Bukan hanya karena Mireya menolaknya.
"Ja-jadi, Tuan Arven suaminya?"
Ia menatap punggung Mireya yang kini berjalan di samping pria lain.
"Ti-tidak mungkin!"
“Ayah… Ibu…”
Elden menoleh ke belakang.
“Orang itu siapa?”
Ia mengerutkan kening.
“Kenapa dia terus bilang Ibu akan kembali bersamanya?”
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?