Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 — Sarapan yang Kubelikan

Maya tidak menanyakan apa-apa lagi di studio.

Ia menatap Nara sekali, lalu mengambil tasnya dari bahu dan merapatkannya ke dada.

“Pulang,” katanya kepada Adrian. “Kita bicara di rumah.”

Adrian meraih tas kerja. Ketika melewati Nara, ia berhenti sesaat, ingin memastikan perempuan itu sanggup ditinggal. Nara sudah memalingkan wajah.

Maya menunggu di pintu.

“Masih ada yang belum selesai?”

Adrian mengikutinya turun. Mereka membawa mobil masing-masing; Maya menolak saat ia menawarkan menyetir. Di jalan pulang, Adrian beberapa kali melihat mobil istrinya di depan, tetapi ia tidak mengirim pesan kepada Nara.

Ia tahu keinginan pertamanya itu akan membuat Maya semakin terluka kalau ia melihatnya.

* * *

Di rumah, Maya berjalan langsung ke kamar.

Adrian menyusul. Ia baru meletakkan tas ketika Maya berbalik, masih mengenakan pakaian kerja yang dipakainya ke studio tadi.

“Kamu tidur sama dia?”

Tidak ada kalimat pembuka. Tidak ada tangis.

Adrian menatap istrinya dan merasakan mulutnya kering.

“Iya.”

Maya memejamkan mata. Satu tangannya terangkat ke dada, lalu turun lagi seolah ia tidak tahu harus meletakkannya di mana.

“Sabtu itu?”

“Iya.”

Ia menarik kursi meja rias dan duduk. Adrian hendak mendekat, tetapi Maya menggeleng sebelum ia mengambil langkah kedua.

“Aku menelepon Minggu pagi. Dia ada di sebelahmu?”

Adrian teringat Nara berdiri dekat kulkas dengan dua telur. Ia membenci dirinya sendiri karena ingatan itu masih terasa lembut, bahkan sekarang ketika Maya menunggu di depannya.

“Dia di ruangan depan. Aku masih di tempat tidur.”

Maya mengeluarkan tawa pendek yang langsung patah.

“Aku tanya mau dibelikan kopi atau nggak. Ingat? Aku pikir kamu habis kerja semalaman.”

Adrian mengangguk, tidak sanggup membela apa pun.

“Aku sentuh punggungmu di pintu. Aku suruh duduk.” Maya menatap tangannya sendiri. “Kamu biarkan aku mengurusmu, padahal kamu baru pulang dari dia.”

“May, aku minta maaf.”

Maya bangkit tiba-tiba. Kursinya terdorong ke belakang.

“Jangan dulu. Aku belum selesai mengingat betapa bodohnya aku pagi itu.”

Ia berjalan ke ranjang, menarik selimut yang terlipat, lalu melepaskannya kembali. Adrian tahu Maya sedang berusaha tetap bicara tanpa menangis. Ia biasanya akan memeluknya pada saat seperti ini. Sekarang ia justru orang yang tidak boleh menyentuh.

“Berapa lama?” tanya Maya. “Jangan bilang baru Sabtu kalau yang kamu maksud cuma tidurnya.”

“Aku mengajak dia bertemu setelah pameran. Di kedai. Kami berciuman waktu itu.”

Maya memandangnya, seperti memeriksa apakah masih ada hal lain yang disembunyikan dalam kalimat tersebut.

“Sesudah aku minta dia menjauh.”

Adrian mengangguk.

“Aku bilang ke dia aku takut kehilangan kalian berdua.” Suara Maya mulai bergetar. “Kamu tahu dia menjawab apa? Aku berhak bertanya. Dia duduk di depanku, bilang aku berhak.”

Adrian tidak pernah mendengar percakapan itu. Sekarang ia terpaksa membayangkan Nara berada di hadapan istrinya, menyembunyikan hal yang mereka lakukan bersama.

“Kamu jangan menganggap dia yang mengejarku terus,” katanya. “Aku juga mencari dia. Aku yang mengajak pertemuan itu.”

Maya tertawa lagi, kali ini lebih keras.

“Terima kasih sudah memastikan suamiku ikut bersemangat. Aku hampir merasa sedikit lebih baik tadi.”

Adrian terdiam. Penjelasan yang ia niatkan untuk mengakui kesalahan justru terdengar seperti pembelaan terhadap Nara. Ia tidak menemukan cara membuatnya terdengar lain.

Maya mendekat dan menunjuk tas kerjanya.

“Ponselmu. Telepon dia sekarang.”

Adrian memandangnya.

“Bilang selesai. Bilang kamu memilih istrimu dan nggak akan menemuinya lagi. Aku mau dengar.”

Ia tahu Maya sedang menawarkan satu hal yang masih bisa dilakukannya. Mengambil ponsel, menekan nomor, lalu mengatakan apa yang diminta. Ia ingin istrinya berhenti memandangnya seperti ini.

Tetapi ketika membayangkan Nara mendengar kalimat itu, ia tidak bergerak.

Maya melihat keraguannya.

“Bahkan sekarang?” bisiknya. “Sesudah kamu lihat aku begini, kamu masih mikir bagaimana perasaan dia?”

“Aku nggak mau menelepon lalu berbohong lagi besok.”

Maya menatapnya lama. Kemudian ia mundur, menyeka wajahnya dengan kedua tangan.

“Jadi kamu masih mau dia.”

Adrian tidak menjawab cukup cepat.

“Keluar.”

“Maya—”

“Aku nggak mau tidur di kamar tamu lagi. Ini rumahku juga. Kali ini kamu yang keluar.”

Adrian mengambil tas dari lantai. Ia membuka lemari untuk mengambil satu set pakaian. Tangannya sempat berhenti pada kemeja yang disetrika Maya kemarin; ia memasukkannya juga, tanpa berani menoleh kepada istrinya.

Maya berdiri dekat meja rias, mengetik di ponsel.

“Kamu mau ke mana?” tanyanya tanpa melihat Adrian.

“Cari hotel malam ini.”

“Bukan ke studio?”

Adrian berhenti memasukkan kemeja ke tas.

“Bukan.”

Ia ingin mengatakan akan kembali untuk membicarakan semuanya, tetapi Maya lebih dulu mengangkat wajah.

“Dimas harus tahu.”

Adrian meletakkan tas.

“May, jangan pakai dia untuk mendatangi Nara. Kamu tahu bagaimana dia memperlakukan istrinya.”

Maya menatapnya dengan marah.

“Dia suaminya. Atau cuma aku yang pantas tahu pasangan sendiri tidur dengan orang lain?”

“Aku nggak bilang dia nggak berhak tahu. Aku khawatir kalau dia langsung ke sana sekarang.”

“Kamu bisa pikirkan itu sebelum tidur dengan istrinya!”

Adrian terdiam. Maya menghapus air mata yang kembali turun, lalu menunjukkan layar dari tempatnya berdiri.

Pesannya sudah terkirim.

Dim, aku tadi menemukan Adrian di studio Nara. Dia mengaku mereka punya hubungan. Sabtu malam dia menginap di sana. Mereka sudah tidur bersama.

Adrian membaca sampai selesai. Tidak ada kebohongan di dalamnya. Yang membuatnya takut justru ia tahu Dimas akan menggunakannya untuk membenarkan semua kecurigaan dan pemeriksaan yang selama ini dilakukan.

Maya menurunkan ponsel.

“Sekarang dia tahu juga.”

Adrian memasukkan pakaian yang tersisa, mengambil tas, lalu berjalan keluar. Maya tidak mengikutinya.

Di dekat tangga, ia mendengar istrinya mulai terisak. Ia berhenti, menoleh ke pintu kamar, ingin kembali meskipun tahu pelukannya tidak akan diterima.

Ponsel Maya berbunyi di dalam.

“Dim,” terdengar suaranya, patah dan serak.

Adrian mengeluarkan ponselnya sendiri. Ia menelepon Nara sebelum mencapai pintu depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!